Categories
Uncategorized

HARDNESS OF RIGHTS

Keinginan antara sesama yang se-identik masih juga berbeda. Berbagai kepentingan menjadi andalan dalam mengalahkan hak sesama. Cuplikan dalam akademika Islam yang beriringan dengan perkembangan sains menjadi simbol perjuangan masa kini. Berbagai model efek yang ditimbulkan dari stigma yang ingin mencapai kepentingan yang berimpliksi terhadap kekerasan hak sesama.

Tengoklah sebelah kanan-kiri kita. Kepentingan mengintegrasikan Islam dan Sains dijejalkan dalam proses berfikir independent kita saat ini. Terpenjaranya dan free thinking terbatasi oleh rambu-rambu visi dan misi pilar kebanggaan kurikulum.

Hak dalam proses pendewasaan semestinya tidak terpaku pada suatu sistem aturan. Sebagai pejuang calon cendikiawan, berhak mengaktualisasikan diri dalam proses berpikir statis, tidak terpaku pada kurikulum yang cuma dirancang. Pengekangan berpikir adalah wujud dari kekerasan hak, penindasan hak, dan pentidakhormatan hak.

Selama ini, kita dibungkan degan fasilitas modern yang memcoba kita diam dalam sangkar penindasan. Hak suara berpuisi hampir terpatahkan dengan ilusi rayuan. Semuanya hanyalah akan membawa kita untuk diam dan diam dalam menerima penindasan secara halus. Di rasa tidak ada yang dirugikan, jika kita hanya berpandangan terlalu Jabariyah atau terlalu pasrah. Maka yang muncul adalah kita terbodohi oleh rayuan.

Jika kita lebih fleksibel dalam berfikir, tentunya kita merasakan kerasnya hak orang lain yang menindas hak kita. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita terbelenggu dalam syari’at.

Berbagai contoh mengenahi konflik-konflik yang bermunculan dalam lingkup akademika kita. Sebagai calon cendikiwan, hak berpikir kritis, hak berpikir kritik tentunya tidak disalahkah. Awal dari kebenaran adalah adanya suatu kesenjangan. Tidak akan ada hal baru atau ilmu baru jika tidak diwarnai dengan warna hitam sebelumnya.

Untuk itu sebagai refleksi para penggemar otak-atik otak, kesempatan dalam menaktualisasikan diri sangat bebas sekali. Tapi perlu juga diingat, sebagai kaum terpelajar tentunya juga harus tahu tata cara bahkan tata krama menuangkan otak-atik otak tersebut. Jalan ilmiah dan rasionalis sementara ini menjadi jalan untuk wadah aspirasi. Boleh saja dikatan, tidak semuanya hal iu bersifat empirik tapi minimal kebesaran jiwa yang prophertic ada dalam diri kita.

Kiranya, hak yang terbungkam bukan berarti patent dalam kebadian. Selama ada cara yang baik, kenapa tidak hal itu bisa ditempuh. Umat yang menerima akan memberi, umat yang memberi akan menerima. Suatu mutiara pendingin hati perlu ditanamkan, bukan mutiara pemanas hati yang dikobarkan. Untuk itu, perenungan tidak cukup jika tanpa aksi.

Oleh Bayu Tara Wijaya, dimuat di Dentang LKP2M edisi Juli 2008

Categories
Thinker

RENAISAN MERAH PUTIH

Refleksitas ke-Nasional-an Boedi Oetomo (BO)

Dewasa ini, negara Indonesia mengalami krisis nasionalismenya. Di mana nasionalisme merupakan tongkat menuju Indoensia berkibar sejahtera. Di sisi lain, kini dirasa sudah se-abad. Sisa-sisa perjuangan para penjuang muda Indonesia yang gigihnya terhadap bangsa ini. Tepat sekali, pada 20 Mei 1908 beberapa pelajar bangsa Indonesia antusias mendeklarasikan semangatnya dengan sebuah organisasi Boedi Oetomo (BO).

Jiwa nasionalisme telah terkobar pada diri pemuda pada saat itu. Para pemuda berkeinginan memulai Indonesia untuk maju selangkah pada kemerdekaan. Pada zaman itu, para pemuda berada pada kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Tepatnya bernama Stovia adalah bangunan yang berfungsi sebagai sekolah kedokteran yang sekarang merupakan museum megah di jalan Abdurrahman Saleh-Jakarta. Di tempat ini pula, beberapa pelajar yang umumnya dari kalangan priyayi Jawa dan Madura mendeklarasikan sebuah organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo itu. Dengan prioritas utamanya meningkatkan kesehatan dan memberikan pendidikan bagi seluruh rakyat di Jawa dan Madura karena ketika itu mereka masih belum mengetahui keberadaan bangsa di nusantara ini.

Peristiwa Boedi Oetomo itu kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada 20 Mei 2008 tahun ini, deklarasi pemuda telah mencapai usia satu abad. Pertanyaannya, bagaimanakah wujud dari rasa kebangkitan nasional kita terhadap bangsa ini? Sementara gejala Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei sudah tidak lagi diperingati secara khidmat atau selayaknya sebagai peristiwa yang penting dalam sejarah bangsa.

Sang Merah Putih

Kata yang tepat pada saat ini adalah “Kibarkan Sang Merah Putih”. Kiat terasa berat bahwa implikasi yang terjadi saat ini seharusnya setara dengan kondisi Hari Kebangkitan Nasional terdahulu. Kibaran Merah Putih sebagai lambang bangkitnya penjuangan kita atas kepedulian dan tanggungjawab kita terhadap warisan yang berupa Kebangkitan Nasional ini. Keserupaan tidak akan bisa kita jalani sama persis dengan apa yang dilakukan oleh para patriot kebangkitan nasional terdahulu.

Hal yang bisa kita perbuat pada saat ini sebagai balasan atas perwujudan kita terhadap kebangkitan nasional adalah dengan semangat jiwa, semangat kepatriotan sang merah putih yang berupa kepedulian atas nusantara ini.

Sangat jelas sekali Indentitas Nasional yang kita miliki, tetapi benarkah Identitas tersebut yang dianggap sebagai buah hasil kebangkitan nasional, telah membesar sebagaimana hitungan umur hari kebangkitannya. Jika dijawab kebesaran bangsa dan bertambahnya umur kebangkitan nasional jelas tidak sebanding dengan cita-cita bangsa sebab nasionalisme kita telah dirampas oleh egoistisme kita sendiri.

Oleh karena itu, sebagai penerus harapan bangsa seharusnya mempunyai semangat yang sama pula dengan cita-cita pejuang terdahulu. Walaupun perjuangan kita saat ini berbeda sekali dalam hal perwujudannya. Paling tidak kibaran sang merah putih ada pada jiwa kita. Bangsa ini tidak membutuhkan semangat lambang merah putih yang hanya ada di depan mata, semestinya selalu tertancap pada semangat jiwa kita.

Mari kita teliti bersama, pada saat ini sang merah putih telah kalah kibarannya dengan bendera-bendera partai politik yang egoistisme. Partai politik bertujuan sebagai semangat kebangkitan nasional “katanya”, sementara itu konflik semakin hari semakin bertambah pemecahan masalah semakin sulit. Introspeksi diri perlu kita lakukan dalam rangka pembenahan jiwa kita agar terarah pada ‘Kibarlah di jiwa bukan Kibarlah di mata’.

Pesan yang tereduksi oleh sang merah putih adalah semangat juang. Untuk itu pada kesempatan terakhir kita ini adalah memikirkan nasionalisme kita dalam kanca Hari Kebangkitan Nasionasional. Patut sekali perwujudan semangat kita pada abad kebangkitan yang terkobar di hati dengan itu kita akan diakui kepedulian kita pada bangsa ini. –Kibarkan Sang Merah Putih di Hatimu– sebagai awal juang kita.

TERBIT DI- MALANG POST MINGGU 25 MEI 2007

Categories
Uncategorized

KEPENTINGAN RAKYAT ATAU PEMERINTAH

Pasca harga BBM naik, bukan menentramkan rakyat, tapi justru terjadi adu panco antar aparat pemerintah dengan rakyat. Itulah realita dari harapan pemerintahan pak Susilo Bambang Yudhoyono yang ingin kesejahteraan justru timbul kekerasaan.

Apa yang memicu kekerasaan tersebut? Tentunya dijawab dengan suara, “Turunkan harga BBM”. Kebijakan pemerintah yang katanya, “Tidak mau kalah dengan rakyat”. Apa daya rakyat untuk menentang pemerintahan? Kita tenggok, siapa yang merasakan kesejahteraan dan kesengsaraan “Pemerintah atau rakyat?”. Tentunya dijawab dengan suara “Rakyatlah yang merasakannya”.

Dalam jumpa pers, 2 Juni lalu di Kantor Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pesannya bahwa rakyat diharapkan berdamai dengan pemerintah, bukan aksi kekerasan yang semestinya ditampakkan tapi kedamaian. Kata Yudhoyono, “Negara jangan mau kalah dengan pelaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan untuk kepentingan rakyat Indonesia”. Inilah sapaan Yudhoyono terhadap rakyat.

Renungilah, masalah apa ini? Tatanan baru seperti apa yang berimplikasi pada kesejahteraan rakyat? Siapakah yang seharusnya memulai berdamai? Bukankah yang berbuat harus bertanggung jawab? Tentu jawabnya sangat jelas ada di depan mata.

DIMUAT DI JAWA POS, RABU 4 JUNI 2008

Categories
Buku

MEMASUKI DUNIA MODERN BERSAMA TASAWUF

Judul : Sekularitas Tasawuf; Membumikan Tasawuf

Dalam Dunia Modern

Penulis : H. Moh. Toriquddin, Lc., M.Hi.

Penerbit : UIN Malang Press

Cetakan : I, April 2008

Tebal : xii + 276 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Abad yang berkembang telah tiba, teknologi yang modern semakin berkembang. Perkembangannya seiring detikan waktu. Siapa yang tidak bisa mengejar perkembangan berarti ketinggalan zaman. Inilah perkataan yang memancing kita terjerumus terjun ke dalam tawaran kemodernismean.

Modernisme merupakan tanda kemajuan dan moderniame juga merupakan tanda kemunduran suatu bangsa. Perkembangan dalam berbagai bidang, dari bidang ekonomi sampai bidang teknologi. Hal telah banyak membuat kita lupa akan daratan kita –tujuan awal– yang sejak awal kita bangun. Kenyataannya, modernisme makin hari membawa diri kta terselubungi dengan perkembangan teknologi.

Efeknya, penghayatan terhadap Islam mulai digantikan dengan penghayatan duniawi yang serba ingin modern. Prinsip materiaistik memenuhi otak pikiran, yang melepaskan kontrol agama dan kebebasan bertindak demi memenuhi modernisme telah berkuasa untuk mengalahkan terapi sufisme atau tasawuf.

Masyarakat modern semakin mendewakan keberadaan ilmu pengetahuan, maka seakan-akan kita berada pada wilayah pinggiran yang bermadzab ke-barat-an dan bahkan kita hampir-hampir kehilangan visi kailahian. Hal inilah yang membuat kita makin stress dan gersang hati kita dengan dunia, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.

Dalam teori kesuksesan yang diterapkan oleh Ary Gynanjar yang mengilustrasikan keberadaan diri kita sudah dan telah memiliki kekuatan atau kemampuan yang berupa IQ, EQ dan SQ. Yang mana, ketika kemampuan itu membentengi manusia dalam hariannya untuk menjadi manusia yang sukses atau manusia yang kamil. Untuk itulah, teori yang diterapkan oleh Ary Gynanjar harus diseimbangkan dalam diri personal. Sebab, akibat yang ditimbulkan dari ketidakseimbangan tersebut akan merubah diri seorang hidup tanpa peganggan yang lari sana dan lari sini, ikut sana dan ikut, tidak punya prinsip yang diandalkan.

Wujud dari kemampuan manusia, umunnya berupa kekuatan ekonomi, teknologi, dan kekuatan ibadiyah. Wajar sekali, kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri. Hal ini disebabkan maraknya perkembangan dan kebutuhan duniawi yang marak juga. Maka dari itu, keselamatan seseorang ditentukan oleh pribadi masing-masing, di mana ia semakin menjaga martabat Islam, semakin pula dirinya terjaga dari arus besarnya kemodernismean.

Keseimbangan memang dibutuhkan, tapi realita yang terjadi ketika insan bertaqorub ilahirobbi yang mana mereka menjalani hidup penuh dengan nuasa tasawuf tidak disertai yang namanya EQ. Sehinga yang terjadi, mereka hanya bisa dekat dengan Tuhannya tapi tidak dekat dengan lingkungannya yakni masyarakat sekitarnya.

Sebagai muslim yang beritikad shaleh untuk agama, berkeyakinan baik dengan adanya perkembangan zaman, hendaknya menyeimbangi pekembangan tersebut bukan mengikuti bahkan terpengaruh perkembangan zaman. Untuk itu, pertebal kekuatan keilmuan untuk menyeimbangi perkembangan zaman. Perlu kita ingat sejenak dalam surat al-Fajr ayat 27-30 yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan puas dan diridhoi Allah, masuklah ke dalam golonganku (yang beramal shaleh), dan masuklah ke dalam surgaku”. Ayat ini bisa kita renunggi, tatkala kita terbawa arus modernisme, hendaklah dan segerahlah kembali ke jalan Allah.

Sekularitas Tasawuf menjadi jawaban ini semua, harapan terbesar dengan keberadaan buku ini, menjadikan manusia berpaling sejenak untuk mangapai lagi sifat keilahiannya yang sering kali pudar dengan modernisme. Ajakan dan rayuan semata, telah membutakan sekilas perjuangan yang selama ini kita rintis. Seyogyanya kemampuan mengeksistensikan kembali tasawuf-lah yang bisa menyayat sedikit gemerlap hujatan hitam di dunia modern ini.

Mari kita buka, lembar per lembar simbol-simbol Islam telah dipakai untuk menutupi kekhilafan mereka. Tameng Islam yang suci menjadi korban simbolistik mereka. Memang bentul, Islam sangat demokrasi pada umatnya tapi sudahkah kita adil dalam meninteraksikan konsep kebangsaan dalam keagamaan. Sehingga terciptalah konsep baru yang lebih moderat terhadap lingkungan masyarakkat kita.

Penjelasan yang sama, berintikan pada keseimbangan tercakup dalam teori ESQ tersebut menjadikan interaksi dengan sesama manusia bisa terjalin damai. Sebagaimana tasawuf merupakan bagian dari agama Islam yang mana merupakan jalan menuju pendekatan kepada Allah swt.

Selama ini, tasawuf dipandang sebelah mata oleh sebagian umat Islam sendiri. Mereka beranggapan, seorang yang bertasawuf malah tidak kenal dengan dunia, tidak kenal toleransi, dan lainnya. Sebenarnya, jika diamati secara seksama justru dengan bertasawuf semakin banyak nilai, kesusilaan dan norma yang dilahirkan dari tubuh tasawuf.

Realitanya, yang dikatakan modernisme malah berpaling pada kemunduran. Hal ini disebabkan oleh krisis peradapan modern bersumber dari penolakan terhadap hakikat ruh dan peyingkiran ma’nawiyah secara grandual alam kehidupan manusia. Manusia modern mencoba hidup dengan roti semata, meraka bahkan berupaya “membunuh” Tuhan dan menyatakan kebebasan dari kehidupan akhirat.

Dari sinilah, hanya kita yang tahu mana yang lebih panting dari beberapa kebutuhan kita, kedewasaan semakin bertambah manakalah kita semakin dewasa dengan keberadaan Allah swt.

DIMUAT DI MALANG POST, EDISI MINGGU 29 JUNI 2008

Categories
Buku

KONSEPSI MATEMATIKA DALAM AL-QURAN

Judul Buku : Al-Qur’an 4-Dimensi; Matematika Islam 2

Penulis : K.H. Fahmi Basya

Penerbit : Republika, Jakarta Selatan

Cetakan : I, Maret 2008

Halaman : v + 150 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Tahukah anda bahwa jumlah huruf dalam al-Qur’an ada sebanyak 330.733. Dan, ternyata bilangan ini sama dengan 17.040 dikalikan dengan 19. bilangan 19 adalah sama degan jumlah huruf dalam kata Bismillahhirrahmaanirrahiim.

Eksistensi al-Qur’an

Dalam keberadaanya, al-Qur’an bisa dikatakan kitab yang pasif. Ia tidak bisa menjadi apa-apa seakan hanya kitab bacaan biasa adanya. Kepasifan al-Qur’an akan terjadi selamanya, bilamana kita sendiri pasif dengan keeksistensiannya dan kita pasif dalam menguraikan al-Qur’an, dalam artian kita yang pasif untuk mengkajinya. Selama ini, al-Qur’an juga dikatakan sebagai kitab yang aktif. Ia bisa memberikan berbagai landasan-landasan sebagai dasar sumber adanya ilmu pengetahuan lainnya. Dalam keaktifannya, kita semakin aktif dalam mengupas rahasia-rahasia yang disampaikannya, semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang dapat kita temukan.

Tidak luput pula, matematika yang memandang al-Qur’an merupakan induk dari disiplin ilmu pengetahuan. Untuk itulah dalam hal ini al-Qur’an, jika dikaji menurut metode matematika akan diperoleh dimensi-dimensi ruang al-Quran. Dimensi-dimensi tersebut, berupa empat dimensi, yakni dimensi Tulisan, dimensi Bacaan, dimensi Makna dan dimensi Fakta. Keempat dimensi tersebut, sebagai satu kesatuan yang harus ada.

Sangat perlu sekali, untuk menelusuri keberadaan al-Quran, terlebih khususnya empat dimensi yang ada di dalamnya. Seseorang akan terpecah-pecah pemikirannya, jika hanya mempelajari dan memahami sebagian dari keempat dimensi. Karena keempat tersebut merupakan satu kesatuan kandungan al-Qur’an itu sendiri.

Dimensi al-Qur’an

Dari paparan yang dijelaskan oleh K.H. Fahmi Basya, yang menjelaskan secara gamblang dari keempat dimensi al-Qur’an. Pertama, alam dimensi Tulisan, yang kelihatan ketelitiannya di alam bebas. Dengan demikian al-Qur’an dapat dijadikan data ilmiah yang handal. Ini menarik dalam dunia penelitian. Betapa berat hal yang akan kita pikul kalau kita hanya meneliti Alam Semesta, kita hanya meneliti suatu bukti-bukti teorema semisal penulisan teorema-teorema matematika. Dengan adanya tulisan, khususnya Tulisan tersebut merupakan bagian dari dimensi al-Quran.

Sebagai telaah, ada sebuah grafik asli tulisan Bismillahirrahmanirrahim pada tahun 1982, diperkenalkan Grafik Asli tulisan tersebut. Di mana tulisan ini merupakan tulisan eksakta, karena dalam penulisannya berbentuk grafik. Tinggi rendahnya tulisan tersebut dipertanggungjawabkan oleh suatu bilangan matematika. Bilangan terebut mengikuti ‘semesta’ jam-19-an dan ‘semesta’ jam-10-an, dan hal ini hanya bisa dilakukan hanya seseorang yang paham dengan matematika khususnya tentang grafik.

Kedua, alam dimensi Bacaan, di mana bacaan merupakan dimensi kedua setelah adanya dimensi Tulisan. Artinya jika kita memiliki tulisan dari al-Qur’an dan kita tidak pernah membaca bacaan al-Qur’an berarti kita hanya punya satu dimensi saja. Keutuhan al-Qur’an tidak sempurna, tapi itu sudah lumayan dari pada yang tidak mempunyai satu pun dimensi dari al-Qur’an.

Selain itu juga dijelaskan dalam dimensi ini, bahwa dimensi Bacaan juga telah disebutkan Nabi dengan kejeniusan beliau, Nabi menambahkan 7 dan 5 takbir pada shalat ‘Ied sebagai takbir yang resmi bilangannya. Sehingga pada shalat ‘Ied ada 11+7+5 = 23 kali ucapan Allahu Akbar-nya. Dua shalat ‘Ied =23+23= 46 kali ucapan Allahu Akbar-nya. Jadi shalat Tarawih-Witir dalam satu bulan Ramadhan dan dua shalat ‘Ied: 1740 + 46 = 1786 kali ucapan Allahu Akbar-nya dan billa dibagi 19, hasilnya tepat 94.

Ketiga, alam dimensi Makna, bahwa al-Qur’an memiliki keberagaman Makna. Al-Qur’an sendiri bisa memiliki makna yang tekstual dan kontekstual. Makna tekstual merupakan makna dasar yang muncul dari arti setiap kalimat al-Qur’an. Sedangkan al-Qur’an dalam kajian kontekstual, memiliki sifat aktif jika dikaji. Di mana, yang semakin kretif maka semakin berpeluang untuk sukses.

Dalam kaitannya di dunia matematika sendiri, dimensi Makna telah memberikan sumbangsihnya dalam kematematikaan. Di mana matematika adalah wujud dari hasil kajian Makna al-Qur’an. Jika kita telusuri lebih dalam lagi, bahwa al-Qur’an juga sering memberikan tanda-tanda atau simbol-simbol dan simbol inilah menjadi bukti adanya susunan alam yang diatur secara matematis.

Keempat, alam dimensi Fakta, berisikan fakta-fakta penjelasan dari isi al-Qur’an, sebab biasanya al-Qur’an itu ada sebelum kejadian itu ada. Al-Qur’an bisa dikatakan peringatan untuk alam semesta. Maka jelas, kejadian-kejadian yang keluar dari alam adalah sebagai kode-kode dari bukti penjelasan al-Qur’an.

Dari sini jelas, bahwa ke-4 dimensi tersebut merupakan bagian-bagian penting yang koheren. Sebagaimana kode-kode pembuktian al-Qur’an dalam dunia nyata. Jelas dalam pemaparan karya ini, tidak sebegitu ramai dengan dengan huruf-huruf matematika. Karena dikhawatirkan bagi penulis, pembaca akan lebih jenuh dalam membacanya, apa lagi memahaminya. Berbagai contoh-contoh bukti yang diuraikan dari sepenggal-sepenggal ayat, adalah contoh untuk kita bisa memahami al-Qur’an lebih muda, sehingga KH Fahmi Basya tidak mengajak pembaca bercenderung untuk menghitung dan menghitung angka matematika.

Namun setidaknya, kehadiran buku ini memberikan pencerahan penting bagi semua umat, khususnya matematikawan muslim. Perlu sekali dipahami, bahwa al-Qur’an juga merupakan disiplin ilmu yang harus dipahami sebagai landasan berfilsafat manusia ke arah haq. Ataupun dengan kehadiran ini sebagai referensi bagi jalannya ilmu ke depan. Sukses bukan karena adanya sesuatu tapi karena adanya ke-kreatif-an.

Categories
Buku

MENGAGAS SISTEM PERBURUAN BARU

Judul : Teologi Buruh

Penulis : Abdul Jalil

Penerbit : LkiS, Yogyakarta

Cetakan : I, April 2008

Tebal : xviii + 280 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya

Dalam hubungan industrial yang menganut sistem kapitalisme seperti halnya sistem perburuhan yang ada di Indonesia. Kaum buruh sering di-set up sebagai bagian dari sistem produksi dengan menyamaartikan dengan buruh adalah mesin. Sehingga hal tersebut melahirkan persepsi bahwa perusahaan adalah “mesin pencetak uang” dengan bahan akar “keringat buruh”.

Sejak zaman dahulu (sejarah) mulai Indonesia dikuasai oleh pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1817 hingga era Reformasi tahun 1998 kemarin, tetap tidak jarang kaum buruh merasakan kekerasan yang dilakukan majikan. Kita baca paradigma problematika sistem perburuhan di Indonesia kaum buruh dihantui dan khawatir akan diberhentikan yang berimplikasi pada kebutuhan hidup. Pada akhirnya, kaum buruh tetap dan terpaksa menjadi kaum yang termarjinalkan. Rentetan dari sejarah tetap berlanjut dalam kondisi negara seperti masa sekarang, yakni kaum buruh makin terlindas oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berdesain kesejahteraan menyeluruh. Mereka para pembuat regulasi tidak tahu bagaimana nasib kaum buruh yang terkalahkan oleh alasan pengentasan kemiskinannya, dan kaum buruh sendiri telah kehabisan cara untuk kesejahteraannya.

Di bidang perdagangan dan industrial, tentunya ada istilah faktor-faktor produksi. Faktor produksi yang tersedia adalah sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan manajeman. Artinya kaum buruh menjadi bagian dari faktor produksi yang juga sangat berpengaruh pada perkembangan suatu produksi. Kenyataannya dalam prakteknya, kaum buruh masih banyak yang termakan oleh aksi-aksi dehumanisme. Sementara dalam tatanan global akan ada kesepakatan tentang pasar bebas yang berefek pada kaum buruh lagi.

Oleh karena itu, Teologi Buruh mencoba memberikan wacana untuk menelusuri problem perburuan khusunya di Indonesia. Wacana yang kita pahami diharapkan bisa menawarkan konsep buruh yang lebih humanisame dan berlandaskan pada nilai dan norma agama. Sebagaimana, seorang buruh seakan merdeka hidupnya dengan semangat kebangkitan nasional dan semangat hari buruh internasional. Walaupun hari-hari istimewa tersebut telah lewat, manakalah jika semangat dan patriot tetap ada dan selamanya.

Kita ketahui bahwa buruh baik yang individual maupun komunitas, memainkan peran penting dalam sistem perekonomian nasional, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta. Kehadiran mereka cukup memberikan sumbangsi yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Meski demikian, nasib mereka hampir selalu mengelinding ke tanah.

Di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, semestinya paham akan adanya hak-hak sosial kemanusiaan. Pemerintahan berupaya menyejahterakan rakyatnya juga belum bisa dikatakan berhasil. Sebab realita yang ada, kaum buruh sendiri mengalami kegagalan untuk memperoleh hak kesejahteraan. Padahal upaya buruh untuk mengeluarkan keringat sudah hampir-hampir kehabisan.

Indonesia sebagai negara yang beragama dan mayoritas beragama Islam yang komprehensif dan universal dipandang mempunyai konsep dasar tentang sistem perekonomian yang bisa menjadi alternatif di luar dua ideologi besar, kapitalisme dan sosialisme. Islam yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk Hukum Islam yang bersifat normatif-operasional diharapkan mampu mengaktualisasikan diri untuk mengawal realita perburuhan kontemporer.

Akan tetapi dalam benak Abdul Jalil, yang pada awalnya Hukum Islam diharapkan mempunyai konsep yang utuh khususnya tentang sistem perburuhan, tidaklah sebijaksana yang ada dalam Hukum Islam. Persoalanya hanya pada waktu dan aspek lokalitas saja, yang mengharuskan kita menempatkan Hukum Islam secara proporsionalitas yakni sebagai sebuah produk pemahaman yang selalu terikat oleh konteks ruang dan waktu.

Dari paparan Teologi Buruh akan tampak jelas interaksi relasional terhadap hak buruh dengan majikan buruh sendiri. Kita ketahui, manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, ia juga punya daya responsibilitas terhadap lingkungan psiko-sosialnya. Sehingga selalu ada perubahan besar dalam dirinya. Dari kepentingan manusia tersebut membutuhkan kebebasan individu yang menimbulkan kreativitas baru. Oleh karena itu, Islam menghargai kebebasan individual, walaupun tentunya dengan sejumlah batasan.

Dalam interaksi relasional, kaum buruh juga memiliki hak atas perusahaan. Kendatipun, hak yang didapati tidak sebesar hak majikan. Sehingga dengan itu, tidak ada lagi hipotesis bahwa perusahaan hanya milik personal majikan dan majikan berkebebasan melakukan apa saja, termasuk memecat buruh ataupun menutup perusahaan jika buruh mogok kerja. Interaksi dalam hubungan industrial, biasanya berupa kontrak kerja dan perjanjian perburuhan. Dengan adanya kontrak tersebut kaum buruh bisa mendapatkan kesejakteraan dengan regulasi yang telah mereka sepakati. Sebab, disitulah seorang majikan dan buruh ijarah tentang kewajiban yang harus dilaksanakan dan juga hak yang akan diterima sebagai imbalan dari kewajiban yang telah dikerjakan.

Namun, setidaknya, karena peradaban Islam dengan perkembangan modern yang sangat ketat dan untuk itulah karya ini hadir di kanca publik sebagai media acuan, pemahaman dan juga sebagai instrument pengontrol perjalanan problem perburuhan kontemporer yang berlangsung dan berkelanjutan pada kehidupan yang mengarah pada pembenahan kesejahteraan. Secara halus, Teologi Buruh karangan Abdul Jalil ini merebahkan nurani-humanisme kita untuk intropeksi pribadi maupun umumnya adalah majikan dari buruh.

Akhirnya, dengan pendekatan ke-Islam-an, penulis berusaha memberi konstribusi terhadap kondisi keterpurukan kaum buruh yang sudah se-abad, mungkin dengan ini akan ada sedikit harapan kedamaian untuk kaum buruh. Kedamaian tersebut timbul dari adanya pangilan kesadaran khusunya terhadap majikan maupun peninggi majikan yakni pemerintah, untuk lebih simpati terhadap kaum buruh. Sebab adanya buruh juga menjadikan masalah umum yang mencakup persoalan sistem ekonomi dan politik dari negara.

Categories
Buku

KONSEPSI PENDIDIKAN MENURUT AL-QURAN

Judul Buku : Interaksi Pendidikan; 10 Cara Qur’an Mendidik Anak

Penulis : Dr. Miftahul Huda, M.Ag.

Tebal : xi + 378 halaman

Cetakan : I, Maret 2008

Penerbit : UIN Press Malang

Peresensi : Bayu Tara Wijaya

Model pendidikan seperti apa yang bisa membentuk anak didik yang mempunyai nilai plus bukan dari hasil tes ujiannya saja, melainkan juga moralitas dan spiritualitas mereka. Tentunya ini dibutuhkan penyangga yang kuat untuk mencapai visi dan misi pendidikan tersebut dan hal ini bisa dilakukan dengan mengali model pendidikan yang ada dalam kisah-kisah yang diceritakan al-Qur’an.

Pola pembelajaran yang berkembang di dunia pendidikan saat ini telah membuka khazanah nalar kita. Khazanah tersebut mengalir pada pikiran kita tentang pendoktrinan dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh sebuah instansi pengelolah pendidikan –sekolah– yang berupa kurikulum. Dirasa adanya timpang tindih, model kurikulum saat ini mengakibatkan para anak didik mengalami tekanan psikologisnya.

Perjalanan kurikulum yang bersifat otoriter terhadap anak didik, menjadikan mereka terpenjara dalam pengembangan kreativitas dan dalam menemukan jati diri anak didiknya. Tentunya untuk mencapai nilai plus –biasanya berupa hasil ujian akhir– menjadi ukuran keberhasilan suatu proses pendidikan untuk saat ini. Sehingga dari evalusi yang kurang menyeluruh ini mengakibatkan tingkat keberhasilan hanya terlihat pada angka, bukan pada aktualisasinya.

Inilah yang juga terjadi di Indonesia, yang mana anak didik dituntut untuk mencapai nilai standar yang artinya kalau dalam Ujian Nasional (UN) nilai rata-rata harus mencapai nilai yang dibilang sudah sesuai dengan ketentuan Badan Standar Kelulusan Nasional pusat. Apakah ini sebuah tuntutan ataukah tekanan bagi anak didik? Untuk itu perlu sekali ditelusuri, apa benar interaksi pendidikan yang berjalan di Indonesia juga sudah sesuai dengan ketentuan Badan Standar Nasional untuk ukuran keberhasilan pendidikan.

Untuk itu, perlunya flashback mengenai pendidikan yang bertujuan mendidik (educatif), membimbing, dan mengajar (transfer of knowledge) yang mengacu pada pengembangan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan acuan tersebut tentunya diperlukan sebuah pemodelan yang dibilang sebagai interaksi antara pendidik dan anak didik yang membawa sistem pendidikan ke arah pembagunan nasional secara menyeluruh.

Buku ini merupakan salah satu cara untuk memberikan terapi baru yang dikaji dari kisah-kisah para nabi dengan mengambil model interaksi pendidikan yang diterapkan dalam perjalan kisah didik-mendidik para nabi. Selain itu juga ‘postulat’ yang menjadi landasan kajiannya, yakni al-Qur’an yang di dalamnya mempunyai kandungan kontekstual yang perlu dikaji rahasianya. Al-Qur’an bukan menjadi sesuatu yang pasif tetapi yang pasif adalah yang tidak menkajinya.

Interaksi pendidikan anak dalam al-Qur’an diformulasikan dari muatan materi yang diajarkan oleh masing-masing pelaku pendidikan dalam interaksinya dengan anak didiknya. Setidaknya, dari khazanah yang dipaparkan melalui contoh interaksi pendidikan yang dilakukan oleh para nabi menjadi suri tauladan bagi pendidik dan anak didiknya itu sendiri. Karena pendidikan itu sendiri telah berusaha membantu hakikat manusia untuk meraih kedewasaannya, yakni menjadi manusia yang memiliki integritas emosi, intelek, dan perbuatan.

Ditinjau dari sudut pandang materi, buku Interaksi Pendidikan 10 cara Qur’an Mendidik Anak mengandung tiga aspek, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga aspek itu akan menimbulkan sifat-sifat dasar (kompetensi) pendidik anak mengenai jiwa yang berkepribadian, bijak, sabar, demokratis, psikolog, intuitif terhadap anak didiknya. Dalam perspektif pendidikan, kompetensi-kompetensi di atas ini berawal dari pemahaman yang muncul dari eksplorasi pemaknaan terhadap interaksi pendidikan anak yang dilakukan oleh Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ya’qub, Luqman, Zakariyah, Hannah (ibu Maryam), A Yarkha (ibu Musa) dan Maryam sesuai hasil analisa dan pemaparan data penulis buku ini.

Eksplorasi dari kisah-kisah nabi dalam al-Qur’an ini, penulis memberikan dua materi yang menjadi faktor penentu lain untuk keberhasilan pendidikan terhadap anak didik, yakni materi pendidikan prenatal dan postnatal. Materi pendidikan prenatal meliputi doa dan nazar meminta anak saleh. Sedangkan materi pendidikan postnatal terdiri dari penamaan anak dan mendoakan anak dari ganguang sistem. Dan untuk pendidik anak lebih dikedepankan memiliki sifat-sifat kompentensi yang digambarkan dengan assosiatif, patuh, komunikatif, dan kritis sehingga mendukung keberhasilan suatu pendidikan.

Analisa dan pemaparan data yang dilakukan penulis dalam buku ini sangat koheren, yang mengunakan gaya bahasa fenomenologi yang dipadukan dengan mengupas sebuah kisah-kisah dalam al-Qur’an. Rujuknya interaksi pendidikan dalam al-Qur’an mengambarkan aksi dam reaksi antara pendidik dan peserta didik. Dalam perspektif ini ditemukan pola etis dan non etis. Pola etis dipahami dengan etika yang berimplikasi pada pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan pola non etis memiliki relevasi terhadap kegagalan misi pendidikan.

Buku karya ini merupakan hasil disertasi penulis untuk menyelesaikan program doktor di IAIN Sunan Ampel, sehingga dalam mengkaji buku ini akan terispirasikan pada pola-pola penulisan yang kualitatif dan kuantitatif berdasarkan hasil eksplorasi analisa dan pemaparan data. Untuk itulah, penulis sendiri sedikit membatasi pembahasannya tidak melebihi seluruh sample yang ada di dalam al-Qur’an itu sendiri. Karena ini dikawatirkan menjebak para pembaca ke arah yang tidak sesuai dengan harapan penulis sendiri yakni keberhasilan pendidikan.

Relevasinya, landasan filosofis pendidikan anak yang digali dari sumber Islam –utamanya al-Qur’an– menjadi konstribusi dalam interaksi pendidikan. Itu memberikan pencerahan melalui pemberdayaan spiritual peserta didik dan juga moralitasnya, baik personal maupun sosial. Yang lebih penting adalah membentuk anak didik menjadi insan kamil.

*) Bayu Tara Wijaya

Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Islam Negeri Malang, aktif pada Institute of Studies Research & Development For Student (LKP2M) UIN Malang.

TERBIT DI KORAN PENDIDIKAN 211 /I/2-9 JUNI 2008