Category: Thinker
Prepare the Self-Generation!
oleh Bayu Tara Wijaya
Sering saya temui iklan-iklan sekolah/kampus yang mempromosikan lembaga dengan menjanjikan setelah lulus langsung kerja atau kalimat lain sejenisnya. Kita simak para siswa-siswa di SMK, mereka disiapkan menjadi lulusanan yang siap kerja. Namun kenyataan tidak menyiapkan lapangan pekerjaan yang cukup. Berapa persen siswa atau mahasiswa yang masuk lembaga pendidikan lulus langsung mendapat pekerjaan dengan yang tidak? Pertanyaan tersebut tidak perlu kita jawab, mesti jawabanya rata-rata tidak memuaskan. Oleh karena itu, menyiapkan lulusan yang siap kerja adalah urutan kedua setelah menyiapkan lulusan yang siap mandiri dan berjiwa entrepreneurship. Sehingga ketika lulus dari sekolah atau kampus, mereka akan berpikir membuat usaha apa setelah lulus, bukan berpikir bekerja apa dan di mana setelah lulus. Tak dapat dipungkiri, orang berpikir bekerja apa dan di mana. Namun, ketika mereka tidak siap mental maka, pilihannya adalah hanya menjadi pengangguran. Untuk itu, menyiapkan generasi atau sebagai generasi yang mandiri dan berjiwa entrepreneurship mulai harus dipikirkan oleh kita semua termasuk stakeholder sekolah/kampus, khususnya mereka yang siswa atau mahasiswa.[]
Realize the Education Independently
Oleh Bayu Tara Wijaya
Pengangguran merupakan persoalan fundamental di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang. Hampir setiap tahun angka pengangguran tidak bisa mendapati angka statis turun secara perhitungan grafik melainkan dinamis (tidak tetap) perubahannya bahkan hampir rata-rata mengalami pernambahan jumlah pengangguran.
Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, masa depan bangsa Indonesia akan semakin dihantui dengan aksi-aksi tak bertanggung jawab yang diakibatkan dari efek masalah ekonomi pribadi (berpengangguran).
Gubenur Jatim Sooekarwo pada Upacara Hari Ulang Tahun ke-65 Pemrov Jatim di Gedung Grahadi sempat mengungkapkan bahwa invertasi dengan teknologi tingkat tinggi hampir tak menyerap tenaga kerja. Karena itu, tahun 2011 Pemrov Jatim akan memperbaiki tempat praktik dan latihan 50 sekolah menengah kejuruan (SMK) yang kurang berkembang.
Sikap arif yang diungkapkan Soekarwo patut kita renungkan kembali. Mengingat jumlah SMK baik status negeri maupun swasta tidak sedikit. Sekitar 1141 SMK di Jatim meluluskan para siswa yang siap untuk dipekerjakan dan didistribusikan di lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan lulusan.
Sayangnya, jumlah lapangan pekerjaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah lulusannya. Meskipun ada peluang kerja, namun sinergis antara profesional lulusan dengan tempat kerja yang akan ditempati tidak sesuai. Artinya, para lulusan khususnya dari kejuruan dinilai belum cukup bekal supaya siap kerja.
Berdasarkan hasil prediksi pakar statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kresnayana Yahya, bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Jatim pada 20111 berkisar 6,5-6,7 persen. Dengan tingkat pertumbuhan itu, diperlukan sekitar 300.000-400.000 tenaga kerja yang dua pertiganya adalah lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Sementara dari data di Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jatim pada bulan Februari 2010 mencapai 1.011.950 orang atau sebesar 4,91 persen. Jumlah ini turun 0,96 persen dibanding TPT di Jatim Agustus 2009 sebanyak 1.033.512 orang atau sebesar 5,08 persen. Angka ini menunjukkan secara statistik pengangguran menurun, namun apabila kita lihat di masyarakat, berapa banyak orang yang dalam usia kerja masih menganggur?
Sehingga, perlu dipikirkan ulang atas rencana Pemprov Jatim untuk perbaikan tempat praktik 50 SMK yang rencananya setiap sekolah mendapat bantuan sebesar 1 milyar. Bentul, fasilitas atau kecangihan teknologi sebagai praktik siswa SMK menjadi pendukung utama dalam profesionalitas para lulusan nanti.
Tak dapat dimungkiri, setiap stakeholder SMK memiliki keinginan untuk mengedepankan profesionalitas para lulusan. Namun yang harus diperhatikan, profesionalitas lulusan saat ini hanya sampai pada profesionalitas kerja. Masih ada aspek-aspek lain yang harus digarap oleh stakeholder SMK, yakni kemandirian para lulusan.
Kemadirian Lulusan
Sebenarnya, tidak perlu memperdebatkan atas adanya perbaikan fasilitas SMK atau rencana Pemrov untuk mengurangi angka pengangguran. Sebab, ini sudah menjadi kewajaran yang harus menjadi standar Pemrov yang sukses dan stakeholder SMK untuk tempat belajar (praktik) siswa yang sesuai.
Di sinilah peran sekolah sangat menentukan profesionalitas lulusan. Siswa yang belajar di SMK harus dituntut untuk bisa mandiri setelah lulus. Agar, lulusan tidak selalu mengantungkan adanya lapangan pekerjaan. Sehingga, setiap SMK tugas utamanya bukan saja mempersiapkan lulusan yang siap kerja, melainkan lulusan yang siap membuat lapangan pekerjaan secara mandiri (berwirausaha).
Sebut saja, jiwa entrepreneurship, ini yang nantinya siswa akan berpikir usaha apa yang bisa saya lakukan setelah lulus, bukan berpikir saya bekerja di mana setelah lulus nanti. Sehingga kita patut berbangga diri dengan para lulusan kita yang sudah siap terjun di dunia wiraswasta dan berwirausaha secara mandiri.
Inilah maksud dari gagasan ini, seyogyanya para stakeholder sekolah khususnya SMK membuat rancangan kurikulum lokal yang mendidik siswa agar semuanya bisa menjadi orang yang mandiri untuk berwirausaha. Meski tidak bisa dipungkiri, bekerja di suatu tempat kerja sesuai dengan profesinya selalu didambakan oleh setiap orang.
Sekadar, “sedia paying sebelum hujan”. Bisa jadi sebuah mimpi untuk menjadi orang sukses tidak selalu ditempuh dengan jalan yang sudah direncanakan. Untuk itulah, menyiapkan siswa yang mandiri dalam berwirausaha menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pengangguran.
Kita lihat, banyak orang yang menganggur bukan berarti tidak adanya lapangan pekerjaan, namun karena tidak punya skill dalam bidang tersebut. Atau bahkan, kemampuan tak linier dengan pendidikan yang pernah mereka dapat hanya setengah matang. Bilangnya, lulusan kejuruan dengan konsentrasi programer, tetapi ketika diuji untuk membuat sebuah program tidak mampu.
Sebab itu, kemampuan di luar bidang konsentrasi, harus juga diimbangi oleh para lulusan. Kemampuan untuk mengasah kreativitas berpikir dalam survive tentunya tidak muncul begitu saja. Nah, lembaga pendidikan adalah salah satu medianya. Maka dari itu, SMK yang menjadi simbol lembaga pendidikan yang mengedepankan “lulus langsung siap kerja,” tentunya membuat bimbingan-bimbingan di luar materi pelajaran formal selain membekali siswa supaya siap kerja, seperti berwirausaha.
Sebuah contoh SMA NU 1 Model Lamongan, para siswa dikenalkan dengan materi dengan kurikulum lokal. Seperti, matapelajaran live skill, siswa yang mengikuti matapelajaran ini, diajak untuk belajar berbagai kerajinan lokal setempat. Dalam pelajaran ini, biasanya siswa putri diajarkan belajar membuat kue, untuk siswa putra diajarkan membuat paving. Selain itu, siswa diajarkan untuk menjadi siswa yang kreatif, bukan sekadar pandai dalam bidang pengetahuan, namun skill yang ada di masyarakat harus dikuasai sebagai bekal berwirausaha dengan jiwa entrepreneurship yang mandiri.
Maksudnya, jiwa-jiwa mandiri untuk menjadi entrepreneurship ini yang harus ditanamkan pada setiap siswa. Sehingga, nantinya para lulusan akan menjadi orang yang mandiri. Sehingga, tidak akan ada yang menyalakan, bahwa sekolah gagal dalam pendidikan karena banyaknya lulusan yang menganggur.
Cukup dengan mandirinya–berwirausaha dan berjiwa entrepreneurship–para lulusan dari lembaga pendidikan, angka pengangguran dapat menurun. Dengan maksud, kota dapat dikatakan sebagai kota sejahtera adalah kota yang sudah mandiri. Kota mandiri akan terwujud apabila angka pengangguran menurun dan angka pengangguran menurun akan bisa dicapai apabila para lulusan (pemuda) dari sebuah lembaga dapat menjadi siswa yang mandiri dalam berwirausaha. Sehingga, sinergitas kota yang mandiri dapat dipandang dari para pemuda yang penuh dengan kemandirian.
Alhasil, dalam rangka mewujudkan sebuah kota yang mandiri, maka tidak luput dari peran sebuah pendidikan yang mewacanakan dan mempraktikkan pendidikan adalah sebuah tempat memandirikan manusia.[]
Spiritual or Intellectual?
Berbagai teori tentang manusia, dari teori yang berasal dari bangsa Barat—manusia yang diterjemahkan tokoh-tokoh Barat, seperti teori Darwin, dan lainnya—hingga teori yang berasal dari bangsa Timur atau yang terkenal teorinya bersumber dari ajaran Islam. Secara sekunder, teori-teori orang Barat kebanyakan dilandasi oleh nalar-rasional sedangkan teori-teori Timur dilandasi oleh nalar-spiritual (agama). Sehingga, dari dua perspektif dan sumber yang berbeda, tentu cara mendefinisikan manusia jelas berbeda, bahkan tidak bisa dibedakan.
Manusia purba (homo sapiens, dan sebagainya) yang mengalami evolusi sehingga berwujud seperti manusia menjadi sumber gagasan tokoh Barat dalam mendefinisikan asal-usul manusia yang dilandasi nalar-rasional (sumber ilmiah, data, dan uji data). Nabi Adam yang dalam ajaran Islam diceritakan berasal dari sari patih tanah pula menjadi gagasan tokoh Timur dalam mendefinisikan manusia yang dilandasai nalar spiritual (agama: al-Qur’an dan al-Hadis).
Pasalnya, perdebatan “manusia” dari sepanjang zaman masih belum menuai titik nadir, bahkan semakin berbeda peradaban dan zaman, berbeda pula cara menterjemahkan “manusia”, siapakah? Perkembangan telah membuat perubahan pula, arti menusia memiliki banyak makna dari aspek-aspek yang berbeda dan tergantung siapa serta darimana yang memaknainya.
Manusia sebagai animal rasional ketika dilihat dari kemampuan berpikir manusia. Sedangkan bila kita simak dalam QS. al-Mu’minum ayat 115 yang artinya: “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” Hal ini mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan sebagaimana surat tersebut. Hal lagi dalam al-Quran surat al-Imron ayat 190-191 yang artinya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Bahwa dalam surat di atas, manusia adalah orang-orang yang berakal (ulul albab). Sebab sejatinya, manusia sebagai pribadi dari satu kesatuan tiga unsur: perasaan, akal, dan jasmani. Ketiga unsur tersebut merupakan kemampuan dasar manusia yang dimiliki untuk survival. Namun, dari ketiga unsur tersebut akal menjadi pengendali atas perjalanan matang manusia. Kualitas manusia atau kematangan manusia tetap ditetukan oleh cara berpikir atau cara mengimplementasikan akal. Tidak lain, rendahnya berpikir atau berakal manusia dilatarbelakangi oleh lingkungan dan pengetahuannya (masyarakat, agama, dan pendidikan).
Masyarakat misal, manusia berstatus sebagai makhluk sosial hingga saat ini. Mereka harus bersosialis dengan masyarakat lain untuk mematangkan akalnya, tegasnya ukuran dari keberhasilan manusia adalah produktivitas peradaban pribadi dan masyarakat (sosial). Rendahnya produktivitas sosial sebab karena cara berpikir lama, yang bertitik tolak pada cara pandang tradisional yang mengandalkan spiritual semata. Dalam hal ini, agama dan pendidikan turut berperan dalam produktivitas. Masyarakat, agama, dan pendidikan menjadi kesatuan dalam membentuk manusia, siapa?
Terdapat dua hierarki kemasyarakat berbeda yang masih berkembang dipengaruhi lingkungan dan pengetahuan, yakni masyarakat tradisional dan modernitas. Masyarakat tradisional, merupakan penilaian manusia dari aspek spiritualitasnya. Sebab, spiritualitas bagi sebagian masyarakat tradisional, mengalami ketumpulan makna dalam menghadapi perkembangan kehidupan yang kompetitif dan prediktif. Karena cara pandang masyarakt tradisional terhadap kehidupan hanya mengandalkan pada sikap pasrah dan menerima perubahan hidup apa adanya. Sedangkan modernitas, sebagaimana dipahami oleh masyarakat modern, sebagai cara berpikir mengedepankan prakmatis, logis dan praktis. Di satu sisi mendorong terjadinya percepatan dalam peningkatan produktivitas kerja ditandai dengan perubahan sosial. Tapi sisi lain, peningkatan jumlah masyarakat terpelajar tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Karena masyarakat modern sifat indvdualistk dan fungsionalistik telah mengaburkn nilai kebersamaan dan kepedulian kelompok. Masing-masing bertanggung jawab atas diri dan lingkungannya sendiri.
Itulah dua aspek hirarkis yang berbeda, sehingga ketika kita akan menjadi manusia yang kolot untuk memilih salah satu, menjadi masyarakat tradisional saja atau medernitas saja. Maka, yang akan terjadi fanatisisme yang menyekat kita bersosialis. Padahal dengan bersosialis kita menjadi manusia yang bermanfaat, tahu kenapa menjadi manusia. Untuk itulah, dua hirarkis tersebut harus dimiliki setiap insan yang kamil.
Konteks lain, dari hasil sarasehan HUT XXV Kompas (1990) merumuskan, bahwa gambaran normatif-ideal Manusia Baru Indonesia memuat tiga ciri utama, yaitu manusia yang sadar IPTEK dan serba tahu (well informed); manusia kreatif yang mempu mengantisipasi perkembangan zaman; dan manusia yang bermoral serta peka terhadap keadilan dan solidaritas sosial. Pada dasarnya, rumusan tersebut sepadu dengan dua faktor, lingkungan dan pengetahuan, yang dijelaskan di atas.
Dari sinilah, manusia berakal dan berpikir (ulul albab), harus mencakup aspek-aspek lingkungan dan pengetahuan, atau berspiritual dan bermodern (intelektual). Berspiritual berarti harus memiliki dua landasan, yakni sosial-religius. Dengan landasan religius, akan menguak sisi batin seseorang untuk menatap Tuhannya. Sedangkan landasan sosial, membuat seseorang untuk menengok dirinya sendiri kemudian menatap dirinya di atas kanvas sosial. Dua pilihan, berspiritual atau berintelektual, namun ketika kita menjadi manusia ulul albab tentu akan memilih kedua-duanya. Tidak berintelektual saja atau berspiritual saja. Sebab, ketika manusia hanya menandalakan spiritualnya saja, maka yang terjadi adalah memunafikkan perkembangan, terlebih perkembangan yang berasal dari Barat, seperti pekembangan teknologi. Nan, ketika manusia hanya berintelektual saja, maka ketegangan dan individualistik akan membawanya menjadi stress.
Kembali ke surat al-Imron ayat 190-191 terdapat makna manusia ulul albab adalah yang berkarakter dzikir, pikir, dan amal saleh. Ketiga karakter tersebut engan, bahkan sulit dimiliki manusia. Namun, sebagai manusia yang berbudi mau tidak mau harus berusaha merebut untuk menuai gelar sarjana ulul albab. Tentunya, dengan bekal yang diberikan oleh Tuhan, yakni kecerdasan spiritual (SQ) adalah inti kesadaran kita. Kecerdasan spiritual ini membuat kita mampu menyadari siapa kita sesungguhnya dan bagaimana kita member makna terhadap hidup kita dan seluruh dunia kita. Selain SQ, ada kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam kaitannya dengan hubungan social dan pemenuhan kebutuhan psikofisik. Serta, kecerdasan IQ adalah kemampuan untuk mengerjakan persoalan yang sesuai dengan usia mental (mental age) dan usia kronologis (chronological age).
Inilah atau inikah manusia bersarjana ulul albab, paling tidak jika mengutip pilar UIN Maliki Malang bahwa sarjana ulul albab adalah ia harus bias menjadi “ulama’ yang intelek profesional dan intelek yang ulama’ profesional”. Namun, selama ini problema dari istilah Ulul albab masih belum dapat disentuh secara keseluruhan. Dalam hal ini, manusia yang menjadi pemerannya (tokoh utama ulul albab). Sehingga, dalam rangka mencapai cita-cita sarjana yang berspirit atau berkarakter Ulul Albab, maka harus dibentuklah usaha-usaha untuk mencapai hal itu. Tak lain, inilah harapan dari jurnal ilmiah mahasiswa ini, Jurnal LoroNG (journal of social cultural studies) kali ini.
Sebagaimana dalam tema besarnya adalah “manusia dalam kulitas ulul alab”. Untuk itu, sebagai manuskrip dalam pembahasannya, Angga Teguh P, menyuguhkan topik “Tarbiyatul Ulul Albab sebagai Spektrum Peradaban dan Eksistensi Manusia”, dalam kajian penulis mengkaji konsep Tarbiyatul Ulul Albab dalam rangka menelisih gagasan besar yang selama ini masih diwacanakan di sivitas akademik kampus Islam. Akhirnya nanti, ide insan Ulul Albab yang berwajah kontemporer di zaman sekarang saat ini dapat muncul dari memahami ego kekhalifaannya, dari ego perlu belajar (need to study) menjadi ego harus belajar (have to study). Selanjutnya disusul gagasan dari Abdul Aziz Dhamanhuri tentang “Argumentasi Keluhuran Pencitaan Manusia; sebuah telaah Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis terhadap al-Qur’an”, ia berusaha mencari hakikat manusia sebagai pelaku sejarah tak pernah menemukan ujung klimaks. sehingga konsep manusia tersebut perlu dicermati dari al-Qur’an yang menceritakan manusia sebagai al-basyar dan al-insan. Kemudian dari kajian dasar tersebut penulis akan membacakan fungsi dan peran manusia terhadap ekosistem yang digalih dari aspek manusia sebagai Abdullah dan manusia sebagai Khalifatullah. Sehingga nantinya ontologis, epistemologi dan aksiologi manusia dapat dipahami dari perspektif al-Qur’an. Kemudian sebagai kelengkapan tema besar LoroNG, Babur Rahman menambahkan kajian terkait “Manusia Ulul Albab; dari Epistemologi Intelektualitas menuju Spiritualitas Etis”.
Selain manuskrip di atas, LoroNG menerima tamu dari Universitas Negeri Malang, Abdul Halim Fathani yang mendiskusikan “Matematikawan Integratif: Membumikan Matematika dalam Dimensi Spiritual, Teoretis, dan Aplikatif”, dalam diskusinya sejarah ilmu pengetahuan menempatkan matematika pada bagian puncak hierarki ilmu pengetahuan. Seperti pada masa kejayaan Islam, ditemui banyak tokoh muslim yang berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk matematika. Selain itu pula, ia juga mengdiskusikan matematika al-Qur’an. Dengan harapan, matematika secara utuh sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, akan dapat mengantarkan seseorang mencapai derajat matematikawan ulul albab, yakni seorang matematikawan integratif, yang selalu memadukan matematika dalam tiga dimensi: spiritual, teoretis, dan aplikatif. Munif Ibnu adalah Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, aktif di LPM Justisia juga mendiskusikan tentang “Menakar Islam Tanpa Identitas” di dalamnya penulis berusaha mengunkap tergusurnya kesadaran akan subtansi beragama, nampaknya menjadi mainstream umat beragama dalam euforia dunia modern saat ini untuk kembali menyadari dan memahami arti sebenarnya beragama menjadi keniscayaan, jika tidak, tak ubahnya beragama tanpa nilai agama.
Topik lain yang disajikan LoroNG juga berkat Ahmad Dini Hidayatullah yang menyuguhkan perdebatan tentang “Harapan Indonesia Masa Depan”, ia mencoba membaca peluang dan harapan Indonesia pada masa yang akan datang, adalah hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Ia berangkat dari narasi-narasi ilmiah dan sejarah dunia yang sempat menjadi perhatian publik. Semisal buku karangan Michael Backman “Asia Future Shock” yang menceritakan prediksi-prediksi masa yang akan datang dan beberapa futurolog para pakar dunia yang lain juga memprediksi-prediksi dunia. Dari narasi ilmiah dan sejarah dunia, pada kajian ini mencoba memberikan harapan terhadap Indonesia melalui sejarah perkembangan Indonesia dari aspek gerakan sosial dan politik, kondisi bangsa Indonesia pada saat ini. Selanjutnya, Husen Arifin, yang mencoba memberikan motivasi melalui karyanya “Spirit Kewirausahaan Mahasiswa PTAI: Menuju SDM Berbasis Syari’ah dalam Menghadapi Tantangan Global”, ia berusaha mendeskripsikan spirit kewirausahaan (entrepreneurship) mahasiswa PTAI berbasis syari’ah, Membudayakan spirit kewirausahaan (entrepreneurship) mahasiswa PTAI berbasis syari’ah. Juga, meningkatkan strategi sumber daya manusia (SDM) berbasis syari’ah dalam menghadapi era globalisasi. Selain itu, Muhklis Fahruddin juga mengagas pemikirannya tentang “Orientasi Humanis Pendidikan Islam dan Masa Depan Kemanusiaan”, dan Abdul Qodir Muslim tentanng “Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Islam: sebuah Harapan dan Tawaran”. Dalam karya mereka mencoba memberikan tawaran atas masa depan pendidikan Islam.
LoroNG kali ini, menyajikan pula studi hasil penelitian tentang “Studi Morfologi dan Analisis Populasi Kodok Batu (Limnonectes macrodon) di Lingkungan UIN Maliki Malang”, yang merupakan karya Fitroh Sani. Dari hasil penelitiannya kodok batu di lingkungan UIN Maliki Malang mengalami cacat fisik dan populasi yang jauh di bawah kategori untuk dikatakan sebagai lingkungan yang alami. Solusi yang dapat diupayakan adalah penghijauan lingkungan UIN Maliki Malang sebagai langkah penyeimbangan ekosistem. Selanjutnya, tentang “Poligami dalam Pandangan Agamawan dan Budayawan; sebuah Analisis Deskriptif Pemikiran Aa Gym dan Cak Nun” karya hasil penelitian Liza Wahyuninto dan Siti Zulaikha, pada penelitiannya, mereka bermaksud melakukan library research pemikiran Abdullah Gymnastiar dan Emha Ainun Nadjib melalui karya mereka sebagai sumber primernya. “Aa Gym Apa Adanya: sebuah Qolbugrafi”, karya dari Abdullah Gymnastiar dan “Istriku Seribu: Polimonogami, Monopologami…”, karya dari Emha Ainun Nadjib. Selain topik yang diperbincangkan di atas, Indah Rahmawati menambahkan book review dengan judul “Menanamkan Karakter Ulul Albab dalam Jiwa Sivitas Akademik” dari buku Tarbiyah Ulul Albab: Melacak Tradisi Membentuk Pribadi. Ia mencoba memberikan referensi karakter ulul albab, sehingga kita bias menamamkannya pada jiwa kita.
Cukup lengkap jika membicarakan manusia Ulul Albab, berspiritual atau berintelektual menjadi pilihan yang harus dipilih keduanya untuk memperoleh gelar sarjana ulul albab. Kiranya, LoroNG kali dapat memberikan kontribusi dalam mencapainya. Demikian, maksud kami, semoga bermanfaat. Selamat membaca jurnal LoroNG LKP2M[]
Pemimpin Redaksi LoroNG
Bayu Tara Wijaya
Look for the Truth (1)
Oleh Bayu Tara Wijaya
Kewajiban ber-Ramadhan salah satunya adalah puasa. Berpuasa di bulan Ramadhan haruskan dijalani sesuai prosedur yang sudah ditentukan ulama’ ahli fikih? Ini yang sering muncul dalam otak kecil yang penuh dengan pernak-pernik kenakalan olah otak. Bahkan bukan hanya berpuasa saja, termasuk salat, bersedekah, dan lain sebagainya juga selalu terpikir kenapa demikian.
Kebosanan atas aktivitas yang stagnan, tidak ada inovasi atau model terbaru, lemahnya kemampuan untuk berpikir ke arah pembaharuan menjadi alasan kenakalan berpikir tersebut. Usaha-usaha untuk tidak selalu penat dengan yang namanya ubudiyah sudah banyak dilakukan. Namun, tak semudah menemukan ide-ide kreatif dalam menjalankan sebuah organisasi.
Anggap, urusan ubudiyah yang biasa kita jalani adalah sebuah organisasi. Mestinya, ia harus memiliki visi, misi, tujuan, sekaligus aksi. Program kerja yang terstruktur rapi, sebuah plan B dalam mengatasi problematika berorganisasi menjadi suatu keharusan untuk dimiliki.
Benarkah demikian, jika memang kita berorganisasi dengan Tuhan, lantas jawaban apa yang pantas untuk menjawab, apa visi, misi, tujuan sekaligus aksi Tuhan dalam organisasinya. Kita sebagai manusia, termasuk dalam struktural manakah?
Semakin tidak jelas bukan, kita siapa, dan Tuhan itu siapa? Katanya, Tuhan adalah orang kita sembah karena menciptakan kita, dan kita (manusia) adalah orang yang menyembah pencipta (Tuhan). Sama seperti bulan Ramadhan, kenapa kita harus berpuasa, harus begini, begitu, dan lain sebagainya. Adakah program kerja baru yang dibuat Tuhan. Tidakkan Tuhan mengikuti perkembangan zaman.
Sudahlah, dengan keterpaksaan karena tidak tahu penjelasan detil atas semua. Sebuah kitab (Quran) yang sakral pun malah menjadi ajang berkreasi manusia untuk berpikir kreatif, katanya. Betulkah berpikir kreatif, apa bukan malah berpikir nakal?
Hanya petunjuk nurani diri kitalah yang berkata benar. Semuanya tidak benar, semuanya adalah benar. Terserah ke mana hati kita mengarah, meskipun tidak tahu siapa operator hati kita dan bagaimana cara mengoperasikannya.
oleh Bayu Tara Wijaya
Alhamdulillah, biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2010 sudah disepakati pemerintah dan DPR sebesar USD 3.342. Nasib para warga yang berniat untuk menjadi “pak kaji” atau “bu kaji” sudah sedikit lega, tinggal nasib warga yang menunggu jadwal kapan keberangkatan hajinya tiba?
Para muslim Indonesia—calon “pak kaji” atau “bu kaji”—tiap tahun harus disuruh lebih sabar. Entah ujian menunggu keberangkatan haji atau apapun. Namun ada sedikit yang miris, bahwa warga yang menunggu keberangkatan haji sekitar 5-7 tahun lamanya hanya diperuntukkan bagi warga kalangan bawah (wong ndeso), tidak bagi warga kalangan atas (dosen, anggota DPR, kepala perusahaan kaya, dan lainnya).
Ketidakadilan atau kebijaksanaan (kebijakan) yang membedakan antara kalangan bawah dan kalangan atas. Lagi-lagi, bersabarlah orang kalangan bawah karena harus selalu di bawah (khususnya atrian haji). Tidak seperti kalangan atas, sekarang daftar haji tahun ini berangkat hati jarang yang menunggu 5-7 tahun lagi, bahkan ada yang berhaji setiap tahun tanpa antri. Tetapi, bagaimana lagi uang tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kekuasaan. Ya nasib…!
Guarding the Circulation of LPG 3 Kg
Oleh Bayu Tara Wijaya
Tidak sekali ataupun dua kali, namun berkali-kali, yakni meledaknya tabung LPG berat 3 kg yang mengakibatkan meninggalkan beberapa wagra. Banyak praduga yang bermunculan, mulai dari adanya tabung LPG bajakan, hingga ketidakmutunya tabung LPG yang diproduksi pabrik.
Cukup menjadi sebuah koreksi bagi kita semua atas tindakan-tindakan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut. Namun yang aneh, semua LPG berat 3 kg yang beredar di masyarakat adalah tabung LPG produksi PT Pertamina. Kemudian, pendistribusian tabung isi ulang dilakukan oleh agen-agen resmi dan mendapat izin dari PT Pertamina, tentunya.
Inilah realita, modus apa yang menjadi latar belakang dari peristiwa-peristiwa kecelakaan meledaknya tabung LPG 3 kg. Jika memang dari pihak pembuat LPG bajakan adalah pelakunya, maka PT Pertamina harus lebih membuat sistem kontrol dan evaluator tabung LPG dalam rangka pengawalan peredaran LPG. Berbeda ketika dari pihak produksi penyebab utamanya, maka PT Pertamina berhak melakukan penarikan dan pengantian tabung LPG 3 kg yang beredar, pengantian biaya berobat bagi korban kecelakaan dari ledakan tabung LPG dan lain-lain.
Meskipun sikap bijak itu sudah dilakukan PT Pertamina, nyatanya akan masih banyak warga yang tidak tercover atas sikap PT Pertamina. Sehingga, alangkah baiknya dilakukan sosialisasi secara masal. Sebab, kasus ini bukan kepentingan hidup sepihak, tetapi keselamatan hidup bersama.[]
Becoming Angel Anti-Corruptor
oleh Bayu Tara Wijaya
Pasca pemberhentian Antasari Azhar dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga saat ini banyak yang melakukan perdebatan terhadap kriteria para calon pimpinan KPK. Seperti, Sabtu (29/5) di Jakarta digelar diskusi mengenai seleksi pimpinan KPK di Trijaya Network yang dihadiri Panitia Seleksi Pimpinan KPK Rhenald Kasali; Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana; dan Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi Fadjroel Rachman.
Sempat besar, KPK dijuluki sebagai malaikat maut bagi para koruptor di Indonesia ini. Akankah KPK akan selalu menjadi malaikat dalam mengadili para koruptor setelah beberapa kasus-kasus miris di tubuh KPK kemarin.
Meski demikian, KPK sebagai malaikat yang mengadili para koruptor hendaknya kembali konsisten dan keeksistensinya tetap terjaga. Memang benar, sebagai wakil orang yang membela keadilan tidaklah mudah. Sebab, setiap orang yang benar akan dimusuhi oleh orang yang tidak benar, dan orang benar lebih sedikit daripada orang tidak benar. Benarkah? Semoga pimpinan yang datang lebih baik.(bersambung…)
Oleh Bayu Tara Wijaya
Ada sebuah perbincangan di media massa pada beberapa minggu lalu yang membincangkan topik “Pembelajaran dari Konkret ke Abstrak” yang diusung dari pakar pendidikan Jean Piaget dan Montessori. Seperti yang dicontohkan pada kasus pembelajaran Matematika pada anak usia dini, yakni menggunakan alat peraga untuk mengenalkan berhitung. Layaknya perlu dikaji kembali, mengingat pentingnya penanaman konsep pada anak didik seusia dini.
Merujuk tentang anak usia dini pada pasal 28 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 ayat 1, yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam rentang usia 0–6 tahun. Pada umur ini, anak memasuki tahap pra pendidikan dasar. Usia dini ini adalah rentang penentu anak didik, ketika penanaman konsep diri anak didik sejak awal (input) sudah tidak bagus, selanjutnya dipastikan menghasilkan hasil (output) kemungkinan tidak bagus pula, dan begitu sebaliknya.
Fase usia dini, anak didik dapat ibaratkan sebuah kertas putih yang akan digambarkan dan dirumuskan mental dan karakter kedewasaan anak didik ke depan. Sejak lahir, orangtua menjadi peran pertama atas tangungan dan hak untuk membentuk mental dan karakter anak didiknya. Seperti, sifat traumatis yang berkelanjutan adalah sifat normal anak usia dini. Tatkala anak didik mengalami traumatis, misalnya salah satu yang terceritakan dibeberapa isu-isu tentang gagalnya siswa-siswi dalam ulangan Matematika atau kekerasan fisik yang mengakibatkan kerusakan mental dan karakter.
Bukan salah anak didik untuk tidak gagal dalam belajar, namun pembelajarannyalah yang perlu kita runtun kembali, apakah sudah sesuai dengan penanaman konsep anak usia dini? Sebuah referensi, anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur dan perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Sebagai makhluk sosio-kultural, ia perlu tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan sosial tempat ia hidup dan perlu diasuh dan dididik sesuai dengan nilai-nilai sosio-kultural yang sesuai dengan harapan masyarakatnya (orangtua nomor satunya).
Dalam pembelajaran anak didik seusia dini, pemberian motivasi menjadi bagian terpenting dalam pengembangan mental anak didik. Pasalnya, ketika seorang pendidik (orangtua) memberikan sebuah penghargaan sebagai apresiasi dari kreativitas anak didiknya, hal ini akan membuat anak didik lebih bersemangat dan percaya diri dalam mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Namun berbeda, ketika anak didik melakukan kesalahan dan pendidik seketika langsung melakukan tindakan bersifat tidak humanis (membentak, memarahi dan sebagainya) yang malah akan memberi efek pada kegagalan membangun mental dan karakter anak didik seusia dini.
Usia dini menjadi usia bermain bagi anak didik, jadi seluruh kegiatan pembelajaran harusnya bersifat menyenangkan dan harus dihindarkan dari sifat tidak humanis, apalagi sampai pada kekerasan fisik dan nonfisik. Sebab, anak dalam rentang usia dini cara berpikirnya sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Kecenderungan anak usia dini selalu berpikir convergent dalam menghadapi suatu problem. Jauh sekali dengan orang dewasa yang nalar pikirnya divergent. Ketika anak menghadapi suatu masalah, misalnya anak usia dini sedi ditandakan menangis, anak usia dini ketika senang maka tertawa, dimarahi maka menangis, dan seterusnya.
Kekerasan di Usia Dini
Dalam masa-masa dini seperti ini, pendidik atau orangtua harus menghindari beberapa kekerasan terhadap anak. Kekerasan di sini, bukan hanya kekerasan fisik, tetapi nonfisik yang paling berbahaya daripada kekerasan fisik. Kekerasan fisik akan membekas luka kecil dan dibawa ke doctor masih bias disembuhkan asalkan tidak keterlaluan. Namun, apabila kekerasan nonfisik, seperti menjatuhkan mental anak didik, mentraumatiskan anak didik dengan sesuatu hal, dan contoh lainnya akan memberikan bekas yang sangat susah disembuhkan. Sebab, kekerasan nonfisik menyerang karakter dan mental anak didik bukan fisik yang mudah terobati.
Andaikata mau mencermati pola pikir anak usia dini yang convergent, pendidik atau orangtua perlu hati-hati dalam penanaman konsep pada anak didik seusia dini. Praktik yang menjalar di penghujung tahun 2009 berdasarkan data yang dihimpun oleh Samitra Abhaya Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Jatim, terdapat 224 kasus kekerasan terhadap anak, dan untuk Kota Surabaya terdapat 163 kasus yang terhitung kota terbanyak terjadinya kekerasan anak.
Kegagalan membangun konsep pada anak usia dini adalah sama halnya kegagalan pembangunan nasional bangsa, khususnya di dunia pendidikan yang menjadi media penanaman konsep pada anak didik seusia dini. Dari sumber yang sama, KPPD Jatim memberikan data kekerasan anak di lingkungan pendidikan, yakni pendidikan formal 24 kasus dan pendidikan informal 2 kasus pada tahun 2009.
Singkatnya, pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini, masih belum bisa dikatakan berhasil. Meskipun dalam informasi Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini tercatat sekitar 1528 Satuan PAUD Sejenis (SPS) di Jatim. Dari segi ketenagaan pendidik, sebagaimana KPPD Jatim kekerasan lebih banyak terjadi lingkungan formal ketimbang di lingkungan informal. Sebagai pendidik atau calon pendidik, tidak lain orangtua menjadi bagian dari pendidikan informal anak didik perlu melakukan transformasi sikap dalam mendidik anak khususnya mereka yang di usia dini.
Kesalahan penanaman konsep anak usia dini menjadi poin terpenting dalam pengawasan pendidik untuk menuju kematangan anak didik ke tahap berikutnya. Setelah tahap ini, juga sangat penting bagi para pendidik untuk tidak melalaikan tahap setelah anak keluar dari fase usia dini. Tugas pendidik bukan sekadar pada usia dini saja, melainkan hingga akhir hayat anak didik. Salah konsep bisa berakibat fatal di masa datang mengingat masa depan anak didik adalah masa depan orangtua, nusa, dan bangsa.
Oleh Bayu Tara Wijaya
Pada akhir tahun 2009 ini, Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Maliki Malang kembali menyempatkan untuk mengadakan kegiatan Studi Aplikatif dan Komparatif. Pada kegiatan Aplikatif, sengaja bertempat di Parbik Gula Toelangan Sidoarjo. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa mahasiswa matematika, dengan tujuan dari studi Aplikatif ini, yakni guna melihat peluang kerja matematika di dunia nyata. Sebab selama ini, banyak para mahasiswa yang hanya berpikiran bagaimana peran matematika di dunia kerja?
Selain studi aplikatif, pula diruntut kegiatan Studi Komparatif yang bertempat di Kampus Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Kegiatan ini merupakan studi keorganisasian oleh HMJ Matematika UIN Maliki Malang dengan Himpunan Mahasiswa Matematika ITS, dengan harapan didapatkan literatur untuk memanajemen kemajuan kepengurusan HMJ Matematika UIN Maliki Malang ke depan.
Pada studi aplikatif kali ini, diupayakan memberikan sedikit gambaran matematika di dunia kerja khususnya di pabrik gula yang diadakan HMJ Matematika UIN Maliki Malang pada tanggal 12 Desember 2009 lalu. Dari hasil analisis penulis, memang matematika meliki peran terpenting disegala bidang. Namun, peran matematika terlalu samar, tidak spesifik ke satu bidang keilmuan, sebagaimana yang disampaikan salah satu bagian pengelolaan PG Toelangan Sidoarjo, bahwa banyak matematika yang sering diaplikasikan para karyawan khususnya pada sistem kontrol pengelolaan guna.
Sayangnya, PG Toelangan tidak ada pegawai ahli yang lulusan dari Sarjana Matematika. Realitanya demikian, lebih banyak pegawai yang lulusan Teknik Industri, Pertanian, Ekonomi, juga Psikologi. Padahal hampir diseluruh pengelolaan gula di PG Toelangan Sidoarjo mengandung unsur matematika.
Matematika adalah Mother of Science, sepertinya mengalami nasib buruk di Indonesia, khususnya sempit dalam mendapatkan ruang aplikasi di dunia kerja. Sehingga wajar, lulusan matematika bekerja yang tak linier dengan lulusannya. Umumnya, lulusan matematika ruang kerja sebagai dosen saja. Seyogyanya, lulusan matematika bisa menjadi matematikawan, yakni sebagai ilmuan yang kerjanya mengembangkan ilmu matematika, tentunya disebuah laboratorium penelitian.
Untuk itu, tugas kita sebagai calon cendikiawan Indonesia, harusnya berusaha mengembangkan keilmuan masing-masing secara linier, meskipun kita juga ahli dibidang lain yang tak linier. Sebab, ilmu yang kita miliki adalah identitas kita sebagai bangsa yang maju. Marilah kita mencari dan mengaplikasikan peran kita (keilmuan kita) baik di masyarakat, di dunia kerja maupun yang lainnya guna meningkatkan keutuhan bangsa dan negara kita. Usaha yang baik menghasilkan hal yang baik pula. Semoga!!!

