Categories
Uncategorized

Kompetisi Matematika se-Jawa dan Bali 2009

KOMPETISI MATEMATIKA (KOMET) IX 2009

Ikutilah Kompetisi Matematika Tingkat SMA dan sederajat, se-Jawa Timur dan Bali yang diselenggarakan oleh HMJ Matematika Universitas Islam Negeri Malang. Komet akan dilaksanakan serentak di 12 Distrik pada tanggal 1 November 2009.

Informasi lebih lanjut silahkan donwload Panduan Komet IX 2009 berikut:

PANDUAN KOMPETISI MATEMATIKA (KOMET) IX 2009 HMJ MATEMATIKA UIN MALIKI MALANG __ DOWNLOAD

Categories
Uncategorized

(Perlu) Animisme dalam Berpolitik

Mendengar kata “politik” sama halnya mendengar permainan di arena pertandingan sepak bola. Ada yang menang dan ada yang kalah. Misi kemenangan untuk sebuah pertandingan adalah wajar dimiliki oleh pemain pertandingan. Maka, sebut politik kita juga merupakan permainan di sebuah arena perpolitikan. Indonesia, penduduk terbesarnya ada di pulau Jawa, dan Jawa terkenal dengan masyarakat yang kental untuk percaya kekuatan alam yang memiliki kekuatan roh atau jiwa. Kepercayaan ini kita sebut dengan kekuatan “animisme”.

Tidak panjang lebar, tentunya kekuatan “animisme”, umum di pulau Jawa sering menggunakan mantera sebagai tameng supporter dalam pertandingan-pertandingan. Mantera yang sering muncul di masyarakat adalah pada pertandingan sepak bola, kadang juga pada pemilihan kepala desa, dan pertandingan-pertandingan yang lainnya. Sehingga, pertandingan-pertandingan itu bukanlah pertandingan antar lawan politik atau antar lawan calon kepala desa atau yang lainnya, tetapi antar lawan dukun (paranormal) sebagai pelaku dibalik layar. Jadi, dukun (paranormal) terhebat adalah pemenang pertandingannya.

Hemat dari Van Peurson (1993), kajian ontologis manusia telah dirasakan tak lagi rekat dengan kekuatan gaib (animisme) dan mulai melakukan telaah logis sesuai kerangka ilmiah. Khususnya di pulau Jawa, sebenarnya masyarakat telah berusaha menjauhkan diri dari ketakrasionalan atau dari kekuatan gaib, namun sampai saat ini masih belum bisa lepas sepenuhnya. Animisme yang mengakar pada nenek moyang bangsa Indonesia tampaknya tetap digantungi masyarakat.

Cermat kita, bahwa animisme saat ini dimainkan oleh para pakar politik dalam menyabet kursi pada pemilu 2009 yang dimulai dengan pemilihan calon legislatif pada tanggal 9 April 2009. Politik yang mulanya kita anggap sama dengan permainan pertandingan, kini sama persis, yakni terjadi permainan dukun (paranormal) sebagai pahlawan penggiring pemilik hak suara.

Betul, bahwa masyarakat kita pada saat ini masih tidak bisa jauh dari animisme, terlebih dalam berpolitik. Alasan mereka, bahwa dalam urusan kecil saja masih enggan mengundang dukun (paranormal), apalagi dalam urusan besar, yakni urusan memimpin negara, tentu dukungan dari dukun (paranormal) boleh-boleh saja, demi kepentingan negara. Namun, benarkah para pemimpin kita benar-benar memperjuangkan dirinya untuk negara? Mungkin pertanyaan yang sangat sulit dijawab, orang yang dekat dengan kita saja sering melakukan kebohongan. Tak beda dengan calon pemimpin yang hanya kita kenal lewat stiker, pamflet, baliho, spanduk dan mass media lainnya.

Politisi Tak Bermoral

Perjalanan politik di Indonesia semakin hari, tidak semakin bermoral. Gaya-gaya berpolitik yang semakin melanggar etika, semisal pada sebagian kampanye yang awut-awutan melanggar tata tertib lalu-lintas, menganggu pengguna jalan umum, baliho dan spanduk yang menutupi ruang terbuka hijau, hingga tempelan-tempelan stiker di dinding-dinding sekolah. Padahal menurut UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik pasal 31 ayat (2) bahwa pendidikan politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politik sesuai dengan Pancasila. Ini artinya, para anggota pendukung partai tidak menyuarakan pendidikan politik dengan baik.

Kembali pada masalah politik tak bermoral, pada sebagian partai ataupun anggota partai politik yang masih gemar dengan animisme, kini semakin rakus akan menyabet kursi kepemimpinan. Selain kepercayaan mereka pada dukun (paranormal) sebagai pahlawan dibalik layar, mereka juga memakai mass media yang dipakai sebagai alat penarik suara, sebut saja animisme modern. Dari kekuatan gaib dari seorang dukun (paranormal), juga dikerakan kekuatan mass media (dukun modern).

Memang, antara dukun (paranormal) dan mass media, keduanya sama-sama berusaha menggiring pemilik hak suara. Kelihatannya, hanya cara inilah yang masih dipercayai kebanyakkan masyarakat kita yang lebih ampuh. Jadi, dapat dikatakan bahwa, mass media juga menjadi stimulus terbaik dalam menarik para pemilik hak suara untuk mendukung mereka.
Spanduk, baliho, stiker, iklan majalah, iklan televisi, iklan website dan iklan lainnya menjadi dukun modern yang dipergunakan dalam berpolitik. Sebab, menurut teori komunikasi sendiri, iklan pada prinsipnya memiliki kekuatan yang mampu menyugesti persepsi dan emosi para penglihat iklan, hingga dengan sendirinya iklan dapat langsung memberi efek stimulatif bagi penglihat iklan. Oleh karenanya, para pemilih publisher, kini saatnya mengeruk keuntungan dari moment pemilu 2009 dan desain terbaik dari sebuah iklan, akan memberikan harga yang lebih tinggi pada produk periklanan.

Hal ini sepadanan dengan iklan politik yang mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tentu dengan desain tokoh yang mampu menyulap tanah menjadi emas dalam waktu sekejab. Kita perhatikan iklan televisi, semuanya berkampanye menjadi dan memiliki pahlawan yang ahli sulap. Kita renung kembali, sejak negara kita merdeka tahun 1945 hingga saat ini, masih belum bisa dikatakan stabil dalam hal perekonomiannya. Mungkin hanya pada waktu kepemimpinan Soeharto yang lumayan stabil dan itu pantas, karena Soeharto memimpin negara lebih lama, tetapi setelah Soeharto perekonomian kembali step down.

Dengan demikian, semua desain kampanye yang diiklankan juga belum tentu bisa menyulap tanah menjadi emas hanya dalam waktu 5 tahun. Namun, hal ini sah-sah saja dalam periklanan, karena tidak ada yang tahu kita semua hanya berusaha. Dengan kata lain, segala animisme, baik dari dukun (paranormal) atau dari mass media (dukun modern) semuanya sama.

Mengingat iklan dan sejenisnya adalah dukun modern kedua dari paranormal, maka dapat dimungkinkan bahwa kesuksesan hasil pemilu akan sama seperti hasil pemilu 2004 dan sebelumnya. Sebagai warga yang tidak tahu-menahu masalah birokrasi, hanya doa dan partisipasi dalam pemilu yang hanya dapat kita sumbangkan dalam ikut serta membangun bangsa.

Oleh Bayu Tara Wijaya
staf peneliti pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang

Categories
Uncategorized

Pemimpin Berbasis Iklan

Pada 9 April 2009 merupakan agenda besar Indonesia, yakni Pemilihan Umum. Sayangnya, para calon dari legislatif maupun calon presiden sekalipun masih banyak yang belum di kenal warga. Paling yang mengenal mereka adalah orang-orang yang duduk di bangku kelas menengah beda dengan kelas ke bawah yang cuma tahu sawah dan hewan peliaraan saja.
Tetapi, cukup cerdik para calon pemimpin Indonesia. Karena mereka tidak dikenal menyeluruh oleh masyarakat, maka mereka pun mengiklankan wajah mereka mulai dari spanduk, baliho, pamflet, mess madia dan lain sebagainya. Sehingga pemimpin hanya dikenal seperti iklan-iklan produk kosmetik wanita.
Seperti inilah realita masyarakat kita, sampai calon pemimpin pun tidak kenal bagaimana karakter calon pemimpin mereka. Sebatas suara kampanye, penjelasan interventif dari orang lain, dan papan iklan untuk mereka kenal siapa calon pemimpin mereka? Mungkin saja, negara kita lebih pantasnya dipimpin oleh pemenang nobel iklan terbanyak.[]
Oleh Bayu Tara Wijaya (telah dipublikasikan di JawaPos edisi 10 Maret 2009)
Categories
Uncategorized

Buku Matematika

BUKU-BUKU MATEMATIKA GRATIS DOWNLOAD

1. Pengantar Analisis Real I __ DOWNLOAD

2. Pengantar Aljabar Linier dan Geometri Analitik __ DOWNLOAD


3. Pengantar Statistik __ DOWNLOAD


4. Pengantar Struktur Diskrit __ DOWNLOAD


5. Teori Graf Dasar __ DOWNLOAD


6. Teknik Penulisan Usulan Penelitian dan Skripsi __ DOWNLOAD


7. Statistik dan Probabilitas __ DOWNLOAD


8. Metodologi Penelitian __ DOWNLOAD


9. Aljabar dan Logika Himpunan __ DOWNLOAD

——NOVEL——-

1. Ketika Cinta Bertasbih 1 __ DOWNLOAD

2. Ketika Cinta Bertasbih 2 __ DOWNLOAD

Categories
Uncategorized

HARDNESS OF RIGHTS

Keinginan antara sesama yang se-identik masih juga berbeda. Berbagai kepentingan menjadi andalan dalam mengalahkan hak sesama. Cuplikan dalam akademika Islam yang beriringan dengan perkembangan sains menjadi simbol perjuangan masa kini. Berbagai model efek yang ditimbulkan dari stigma yang ingin mencapai kepentingan yang berimpliksi terhadap kekerasan hak sesama.

Tengoklah sebelah kanan-kiri kita. Kepentingan mengintegrasikan Islam dan Sains dijejalkan dalam proses berfikir independent kita saat ini. Terpenjaranya dan free thinking terbatasi oleh rambu-rambu visi dan misi pilar kebanggaan kurikulum.

Hak dalam proses pendewasaan semestinya tidak terpaku pada suatu sistem aturan. Sebagai pejuang calon cendikiawan, berhak mengaktualisasikan diri dalam proses berpikir statis, tidak terpaku pada kurikulum yang cuma dirancang. Pengekangan berpikir adalah wujud dari kekerasan hak, penindasan hak, dan pentidakhormatan hak.

Selama ini, kita dibungkan degan fasilitas modern yang memcoba kita diam dalam sangkar penindasan. Hak suara berpuisi hampir terpatahkan dengan ilusi rayuan. Semuanya hanyalah akan membawa kita untuk diam dan diam dalam menerima penindasan secara halus. Di rasa tidak ada yang dirugikan, jika kita hanya berpandangan terlalu Jabariyah atau terlalu pasrah. Maka yang muncul adalah kita terbodohi oleh rayuan.

Jika kita lebih fleksibel dalam berfikir, tentunya kita merasakan kerasnya hak orang lain yang menindas hak kita. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita terbelenggu dalam syari’at.

Berbagai contoh mengenahi konflik-konflik yang bermunculan dalam lingkup akademika kita. Sebagai calon cendikiwan, hak berpikir kritis, hak berpikir kritik tentunya tidak disalahkah. Awal dari kebenaran adalah adanya suatu kesenjangan. Tidak akan ada hal baru atau ilmu baru jika tidak diwarnai dengan warna hitam sebelumnya.

Untuk itu sebagai refleksi para penggemar otak-atik otak, kesempatan dalam menaktualisasikan diri sangat bebas sekali. Tapi perlu juga diingat, sebagai kaum terpelajar tentunya juga harus tahu tata cara bahkan tata krama menuangkan otak-atik otak tersebut. Jalan ilmiah dan rasionalis sementara ini menjadi jalan untuk wadah aspirasi. Boleh saja dikatan, tidak semuanya hal iu bersifat empirik tapi minimal kebesaran jiwa yang prophertic ada dalam diri kita.

Kiranya, hak yang terbungkam bukan berarti patent dalam kebadian. Selama ada cara yang baik, kenapa tidak hal itu bisa ditempuh. Umat yang menerima akan memberi, umat yang memberi akan menerima. Suatu mutiara pendingin hati perlu ditanamkan, bukan mutiara pemanas hati yang dikobarkan. Untuk itu, perenungan tidak cukup jika tanpa aksi.

Oleh Bayu Tara Wijaya, dimuat di Dentang LKP2M edisi Juli 2008

Categories
Uncategorized

KEPENTINGAN RAKYAT ATAU PEMERINTAH

Pasca harga BBM naik, bukan menentramkan rakyat, tapi justru terjadi adu panco antar aparat pemerintah dengan rakyat. Itulah realita dari harapan pemerintahan pak Susilo Bambang Yudhoyono yang ingin kesejahteraan justru timbul kekerasaan.

Apa yang memicu kekerasaan tersebut? Tentunya dijawab dengan suara, “Turunkan harga BBM”. Kebijakan pemerintah yang katanya, “Tidak mau kalah dengan rakyat”. Apa daya rakyat untuk menentang pemerintahan? Kita tenggok, siapa yang merasakan kesejahteraan dan kesengsaraan “Pemerintah atau rakyat?”. Tentunya dijawab dengan suara “Rakyatlah yang merasakannya”.

Dalam jumpa pers, 2 Juni lalu di Kantor Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pesannya bahwa rakyat diharapkan berdamai dengan pemerintah, bukan aksi kekerasan yang semestinya ditampakkan tapi kedamaian. Kata Yudhoyono, “Negara jangan mau kalah dengan pelaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan untuk kepentingan rakyat Indonesia”. Inilah sapaan Yudhoyono terhadap rakyat.

Renungilah, masalah apa ini? Tatanan baru seperti apa yang berimplikasi pada kesejahteraan rakyat? Siapakah yang seharusnya memulai berdamai? Bukankah yang berbuat harus bertanggung jawab? Tentu jawabnya sangat jelas ada di depan mata.

DIMUAT DI JAWA POS, RABU 4 JUNI 2008

Categories
Uncategorized

MENUJU LEADERSHIP MASA KINI

Judul : Prophetic Leadership
Penulis : Rachmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : 406 halaman

Tak banyak, karya tulis yang mengkaji secara komprehensif tentang leadership bangsa Indonesia. Berbagai tipe-tipe pemimpin telah banyak yang berbeda dengan bayangan para masyarakat. Negara ini membutuhkan pemimpin yang berjiwa sempurna, yakni yang amanah, tanggung jawab, profesional, dan adil sebagaimana yang dicirikan oleh basis utama figur pilar kenabian.

Sementara dari sekian karya yang ada, kebanyakan berbau politik atau yang berbau perebutan kepemimpinan, tidak yang berbau bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana. Sikap yang nampak pada negara ini adalah bendera-bendera perebutan kekuasaan, tidak bendera kedamaian yang bijak. Lambang kepemimpinan yang diajukan tidak dibina sebagaimana membina suara dukungan terbanyak untuk memenangkan suara rakyat.

Karya Prophetic Leadership mengajarkan para calon pemimpin negeri ini menuju leadership masa kini, dengan penuh ciri khas kepribadian para pemimpin berbasis spiritualitas dan berpotensi yang karismatik sebagai pemimpin yang dibangggakan bangsa Indonesia. Penjelasan tentang potensi yang menghadirkan kepemimpinan partisipatik, karismatik dan prophetic menghadirkan model tatanan negara yang bernuasa kesejahteraan, inilah suatu harapan.

Semestinya, jika memang seorang atau kelompok dari partai politik, tidak bisa memenuhi kriteria pemimpin yang partisipatik, karismatik dan prophetic. Hendaklah intropeksi diri, kepemimpinan bukanlah suatu hal muda, amanah yang terkandung di dalamnya menjadi kewajiban seorang pemimpin. Perilaku dari segala perbuatan di alam ketika periode kekhalifaannya, akan diabadikan dalam buku sang Kuasa.

Pada saat ini, Indonesia dihinggapi krisis multidimensi, salah satunya adalah kekurangan pemimpin yang partisipatik, karismatik dan prophetic. Banyak kalangan yang menawarkan pendapat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa ini. Secara progresif, berdasarkan paradigma ke-Islam-an, kenabian dan ketuhanan serta berfalsafah ke-pancasila-an diperoleh berbagai tipologi pemimpin partisipatik, karismatik dan prophetic. Dengan demikian, diharapkan dapat tumbuh kepribadian para pemimpin keluarga, organisasi, lembaga, masyarakat, umat, bangsa dan negara yang bertanggung jawab, profesional, berakhlak ketuhanan, dan berkarisma kenabian dalam dirinya yang sempurna.

Bernegoisasi-lah dalam diri, ketika seorang terjun dalam dunia politik atau organisasi, ada kemungkinan dirinya akan dibayangi kecintaan untuk memperoleh kedudukan dan jabatan duniawi. Dari bayangan ini membawa seseorang melanggar norma-norma agama, norma-norma susila, kecurangan dan tipu muslihat akan dilakukannya demi tercapai kedudukan. Seperti terasa paling semarak di periode pemilihan kepemimpinan saat ini, orang yang cenderung saperti itu, akan kehilangan sifat dan sikap tulus pada diri maupun lingkungannya. Itu hanya demi kepentingan pribadinya semata.

Ciri karismatik yang mengikat pola pikir keyakinan orang lain terhadap pemimpin pantas dimiliki oleh setiap pemimpin. Terlebih etika, moral dan norma dalam bertindak dalam hariannya. Sehingga di sepanjang sejarah, pemimpin akan dapat merasakan pancaran karismatik dan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan. Tidak arogan yang dipancarkan dari dirinya, karena dengan arogan orang akan kehilangan ciri kekarismatikkan seseorang.

Karismatik, menurut teori kepemimpinan ada yang diperoleh secara tradisional yakni diperoleh dari warisan atau keturunan seperti raja-raja, rasional yakni diperoleh berdasarkan ilmu pengetahuan dan akal pikiran seperti kepemimpinan seorang sarjana, dan spiritual yang diperoleh dari kehebatan jiwa, keberanian, ketekunan dan kebesaran spiritualitas pada Tuhannya. Semua ini wakil dari Prophetic Leadership yang bisa dicapai seorang pemimpin.

Tetapi perlu diingat, dalam kehidupan ini setiap insan diberi cobaan atau ujian serta godaan-godaan berupa hawa nafsu. Orang sering kali tersesat dari jalan kebenaran disebabkan terpedayanya oleh godaan. Untuk itu, hanya orang yang memiliki katabahan dan kesabaranlah yang dapat lulus dan sukses dalam menghadapi ujian itu. Tentunya dengan ridha dari sang Pengusa Alam, sehingga sumber daya insasi bisa tumbuh kembang berkualitas di negeri ini.

Dengan adanya kemampuan mengembangkan sumber daya insani yang berkualitas (ketuhanan dan kenabian), maka akan lahirlah kader-kader bangsa yang cerdas, memilki kapabilitas, skill yang teruji, integritas diri yang kuat dan harmonis, eksistensi diri yang baik, dan kapribadian yang terbuka dan sadar sosial. Pengembangan sumber daya insani ini penting dilakukan oleh para pemimpin agar mereka tidak mengalami krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan, krisis multidimensi atau krisis-krisis lainya yang diketahui maupun yang tidak diketahui sewaktu-waktu dapat menyebabkam ketidakteraturan dan kekacauan, sehingga jati diri bangsa di ambang chaos.

Sebagai kaum beragama yang bertabiat universal, hendaklah membebaskan diri dari pola berkeyakinan yang lemah, pola berpikir yang negatif, pola berimajinasi yang buruk, pola berpenampilan yang urakan, dan pola berkarya yang asal-asalan. Jadi, hendaknya amanah hidup bukan dijadikan bahan rebutan kepentingan, tapi bahan rebutan amanah.

Idealnya sang pemimpin minimal tahu ke-karakteristik-an pemimpin yang dicontohkan dalam catatan Prophetic Leadership. Penataan kehidupan diri perlu dibina sebelum menjelang purnabakti, amanah yang dipikul, sementara untuk menjaga, dan merawat diri agar ia tetap selalu dalam kesucian, keindahan, keagungan, kemuliaan baik kesejahteraan.

Walhasil, karya bukan sekedar untuk perenungan dan evaluator leadership, tapi untuk mencapai leadership yang berprophetic dalam menyongsong masa kini yang cemerlang. Bukan suatu visi dan misi yang ada, tapi aksi yang perlu ada itulah sebagai bukti.

*) Bayu Tara Wijaya
Staff pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang

dimuat di Duta Masyarakat, Minggu 13 Juli 2008