Categories
Matematika Pendidikan

Learning of Mathematics from the Early Age

BELAJAR MATEMATIKA DARI USIA DINI

Oleh Bayu Tara Wijaya

Usia dini adalah usia yang sangat pas untuk ditanamami pengetahuan, sehingga pada usia-usia saat ini sangat perlu sekali memetakan atau dikenal dengan istilah mengkonstruk masa depan anak. Salah satunya ialah mengenalkan dan menanamkan konsep-konsep dasar matematika. Kita lihat pendampingan anak ketika berada di Taman Kanak-Kanak (TK), guru di sini sangat menjadi penentu utama saat di sekolah, dan orangtua menjadi penentu utama saat di keluarga, serta orang-orang di sekitar menjadi penentu utama saat di masyarakat. Artinya apa? Ketika seorang anak kecil ia mendapatkan pengalaman hidup dari mereka semua. Jadi, rasanya tidak sempurna apabila seorang anak tidak melampaui masa kanak-kanaknya di ketiga tempat tadi.
Khususnya dalam belajar matematika, seorang anak kecil ia bisa paham dengan konsep-konsep matematika ketika kondisi sekitarnya mendukung untuk paham tentang matematika. Coba kita ingat saat masih TK, guru mendampingi penuh dalam belajar kita. Setiap anak dalam satu kelas permintaanya berbeda-beda, pertanyaannya yang muncul dari setiap anak pun berbeda-beda. Satu sisi rasa keingintahuan anak tinggi dan guru menfasilitasi keingintahuan tadi. Andaikan anak kecil yang punya banyak keinginan tidak ada yang mengarahkan tentu akan membahayakan masa depannya sendiri (bisa salah kaprah). 
Baru anak kecil, untuk memahamkan satu pengetahuan belum satu rumpun keilmuan sudah sangat berat. Pendampingan oleh guru-guru TK dilakukan setiap saat, saat guru menjelaskan matapelajaran berhitung, setiap anak pasti satu-satu mereka minta diperhatikan melalui beberapa pertanyaan dari setiap anak, atau dari setiap tingka laku anak. Sehingga, guru TK memang harus benar-benar pandai untuk mengambil hati setiap anak dalam satu kelas. Makanya, rata-rata guru sekolah TK lebih dari satu. Tidak lain ini semua dilakukan adalah demi anak-anak agar mudah menyerap pengetahuan untuk kecerdasan kehidupan bangsa. 

Belajar dari TK 
Ada hal penting yang harus diperhatikan, bahwa guru TK mereka mengajar dan mendidik anak-anaknya dengan rasa tulus, mereka harus mengabdikan diri kapanpun saat siswa butuh sesuatu. Nah, ini yang semestinya kita garis bawahi untuk metode menanaman pengetahuan (sekolah). Kasus saat belajar matematika, berapa banyak guru-guru kita yang sukanya menyamaratakan kemampuan siswanya? Berapa banyak guru-guru kita yang mau mendampingi sepenuh hati ke semua siswa? Kalaupun ada itu pasti hanya beberapa siswa saja yang mampu untuk didampingi oleh gurunya. Nahasnya, yang paling sering terjadi adalah guru lebih suka mendampingi anak-anak yang sudah lumayan memahami matematika, anak-anak yang sudah dapat dikatakan pintar, dan lain sebagainya. Sehingga anak-anak yang tidak memiliki kemampuan matematika yang lumayan, dan pintar tentu guru-guru pun banyak yang malas untuk memerhatikan anak yang seperti ini. Jadinya, yang bodoh semakin tertindih, dan yang pintar semakin terangkat. 
Seharusnya, guru-guru matematika atau guru-guru matapelajaran lainnya mungkin, juga harus menerapkan beberapa gaya mengajar guru TK. Tidak semua metode, tetapi sisi pendampingan inilah yang sangat perlu. Maksudnya, setiap guru harus mengetahui kesulitan siswanya satu persatu, dan memberikan penjelasan satu persatu kepada siswanya. Sungguh akan butuh waktu lama, namun apabila diatur waktunya dengan baik tidak ada yang sulit. Salah satu contoh, ketika guru selesai menerangkan pelajaran, beberapa saat kemudian guru memberikan post-test dari pelajaran yang mereka sampaikan, kemudian guru tersebut sambil menyisiri satu persatu siswanya yang mengerjakan post-test yang ia kerjakan, dari sini guru akan mulai menemukan beberapa kebinggungan-kebinggungan yang berbeda-beda dari siswanya. Inilah saatnya peran guru sangat diperlukan untuk membantu menyelesaikan kesulitan siswa. Jadi selama guru ketika hanya mengajar saja, tidak mendidik dan mendampingi satu persatu siswanya, tidak memahami kemampuan satu persatu siswanya, tidak memahami karakter satu persatu siswanya, bisa dipastikan penyampaian materi dari guru tidak akan diserap secara maksimal oleh siswanya. 
Ini realita yang sering terjadi di dunia pendidikan kita. Padahal kalau seorang pengembala kambing, ketika mau meng-giring kambing-kambing ke dalam kandang saja membutuhkan kemampuan yang luar biasa agar satu kambing dengan kambing lainnya dapat berjalan serentak menuju kandang, apalagi manusia, tentu butuh. Jangan sampai ini terjadi, ini baru masalah pengertian belum pemahaman. Baru tahap agar anak mengerti apa yang disampaikan oleh guru, belum agar anak memahami yang disampaikan oleh guru, berbeda sekali dua kasus tersebut. Paling tidak guru dalam hal ini harus bisa tahu posisinya adalah bukan saja sebagai penyampai materi (pengajar) saja melainkan lebih dari itu (hal-hal positif). 
Apalagi saat belajar matematika, beragam kecerdasan yang dimiliki anak akan menimbulkan beragam cara anak mengerti dan memahami matematika. Sehingga perlunya pendampingan satu persatu terhadap siswanya saat mengajar harus dilakukan. Kesuksesan guru mengajar bukan diukur dari berapa lamanya ia mengajar, namun berapa banyak siswa yang mengerti dan memahami apa yang mereka sampaikan. Banyak guru yang bilang, “saya mas, sudah 25 tahun menjadi guru, jadi jangan diragukan lagi kemampuan saya mengajar.” Inilah yang sering penulis dengar saat awal bertemu dengan guru atau bahkan dosen yang baru masuk (pertama kali bertemu dengan anak didik yang baru). Padahal cara mengajarnya sangat tidak manusiawi, tidak pernah mengerti anak didiknya paham atau tidak. Jadi kalau siswa juga dilakukan evaluasi, guru pun harus dilakukan evaluasi, boleh saja evaluasi guru dilakukan dari melihat berapa persen siswa yang dapat menyelesaikan soal evaluasi dari gurunya, atau bahkan perlu dibuatkan lembar evaluasi tersendiri dari sekolah untuk guru-gurunya. Agar tidak terjadi, 25 tahun mengajar tapi masih saja sama kolot tak manusiawi dan keras kepala. 
Itulah yang harus kita perjuangkan, rata-rata pendampingan di dalam pendidikan hanya madek di jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) saja, jarang yang dapat melebihi dari itu. Ada contoh sekolah yang sudah berusaha untuk mengembangan metode pendampingan saat pelajaran disampaikan, yakni di Yayasan Masjidil ‘Ilm Bani Hasyim Singosari-Malang yang memiki dua lembaga, SD dan SMP, setiap ruangan dalam pelajaran apapun ada dua guru yang mengajar, satu guru sebagai fasilitator pelajaran, satunya sebagai fasilitator siswa. Jadi guru satunya menerangkan, satunya mendampingi siswa lainnya. Meskipun tidak semua ruangan mengunakan metode ini, minimal inilah contoh yang patut dikembangkan oleh sekolah-sekolah lainnya. 
Sebab, masa depan anak paham atau tidak terhadap matematika tergantung pada gurunya juga, siswa butuh belajar memahami pelajaran, guru pun butuh belajar memahami hakikat mengajar. Perilaku kambing dengan kambing yang lainnya saja berbeda-beda, apalagi manusia yang memiliki tingkat variatif lebih banyak. Jadi, pelajaran di TK juga masih perlu kita kembangkan kembali, banyak hal positif yang masih terlupakan ketika kita naik ke jenjang pendidikan berikutnya. Alhasil, kemampuan satu orang dengan orang yang lainnya berbeda-beda, namun akan dapat menjadi kekuatan yang sama-sama besar apabila mendapat perlaku yang seimbang (bukan sama rata). Semoga anak penerus bangsa semakin mengerti dan memahami apa yang disampaikan gurunya.[] 

Malang, 1 Juli 2011
Categories
Matematika

Spiritual of Mathematics: Spirit Mathematicians Muslim of fikr, dzikr, and akmal

–>

Matematika Spiritual:
Semangat fikr, dzikr dan akmal Matematikawan Muslim

  Oleh Bayu Tara Wijaya

Amal saleh (ibadah) tidak selalu berupa ibadah syari’i—yang termanifestasikan dalam rukum Islam, tetapi juga dapat berupa ibadah amaliyah—sadaqah. Hal serupa ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan bahwa ibadah berupa tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati disebut ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati).

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]

Dari pengalan surat di atas, Allah telah menciptakan manusia tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Konteks ibadah sangat universal sekali, secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu yakni: 1) Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya; 2) Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi; 3) Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Pada bagian ketiga dari definisi ibadah secara terminologi dijelas bahwa seluruh apa saja yang dicintai dan diridhai Allah adalah ibadah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk berkesempatan menjalankan perintah yang berupa ibadah. Salah satunya, sebagai seorang pelajar maka bentuk ibadahnya adalah belajar, sebagai seorang ilmuwan —orang yang memiliki ilmu banyak atau sedikit pun dan tidak harus orang yang sudah bergelar— bentuk ibadahnya adalah menularkan ilmu atau menyebarkan ilmunya. Bahkan seorang matematikawan pun harus menjalankan tugasnya sebagai ahli matematika.
Jadi di sini, dapat dikatakan bahwa beribadah adalah melakukan amalan-amalan yang disukai dan diridhai Allah sesuai kapasitas seseorang yang melakukannya. Tidak memaksakan untuk sama dengan kapasitas yang lainnya. Berbeda ketika seseorang sebagai kyai dan ilmuwan, maka bentuk ibadahnya pun berbeda. Ilmuwan tidak harus mengikuti bentuk ibadahnya seorang kyai dan begitu sebaliknya, namun apabila masih bisa tidak ada masalah.

Matematika adalah Tasbihku
Kita tenggok aktivitas seorang satpam, ketika ia disuruh memilih antara sholat jumat dan jaga keamanan. Apa yang dipilih seorang satpam? Ketika satpam memilih mengikuti sholat jumat berarti ia meninggalkan tugas untuk menjaga keamanan, dan ketika satpam memilih untuk menjaga keamanan maka pada saat itu juga ia meninggalkan kewajiban shalat jumat. Menurut saya, seorang satpam harusnya menomorsatukan tugasnya untuk menjaga keamanan selama ia tidak mendapatkan kesempatan untuk shalat jumat. Jadi, tasbih dari seorang satpam adalah tugasnya sebagai keamanan. Selama ia menjalankan tugasnya, selama itu pula ia memutas tasbihnya, dan selama itu pula ia melakukan ibadah.

Analogi di atas pun sama, seorang matematika pasti sangat kebingungan ketika orang bilang “matematika itu bukan ilmu akhirat, tidak akan menjadi pertanyaan kubur! dan juga matematika tidak ada manfaatnya buat keselamatan di akhirat nanti”. Pernyataan tersebut memang bisa benar bagi orang-orang yang tidak memahami terminologi agamanya. Orang-orang seperti inilah yang malah merusak agama (penyesatan agama). Sebab, ketidakpahaman mereka yang menjadikan salah kaprah dalam menjalankan perintah dan larangan Allah dan rasul. 


Memang sekilas matematika bukan ilmu akhirat, tapi matematika sebenarnya adalah bisa dikatakan sebagai ilmu akhirat dan ilmu dunia. Maksudnya, matematika atau ilmu-ilmu lainnya tidak mengenal yang namanya “ini ilmu akhirat atau ilmu dunia”. Tetapi yang paling penting adalah amaliah dari orang yang menggunakan ilmu tersebut untuk kepentingan dunia atau kepentingan akhiratnya. Contoh seorang ahli komputer ketika belajar bukan pelajaran agama yang ia pelajari, bahkan ilmu-ilmu yang diserap dalam mengembangkan ilmu komputernya berasal dari orang Barat, namun ia menggunakan ilmu komputernya untuk membuat software al-quran dan terjemah dan software tersebut digunakan oleh banyak umat Islam. Jadi kesimpulannya, apapun dan dari manapun awalnya, yang terpenting adalah manfaatnya. Apabila manfaatnya untuk kebaikan berarti ilmu tersebut dikatakan ilmu yang melancarkan kita di akhirat dan sebaliknya apabila manfaatnnya untuk keburukan berarti ilmu tersebut dikatakan ilmu yang tidak melancarkan kita di akhirat.


Kembali dengan masalah matematika, berarti ilmu matematika juga dapat menjadi tasbih kita dalam beribadah. Pahala-pahala dapat didapatkan dengan memutar asas manfaat matematika kepada kepentingan kebaiakan. Seorang matematika, tidak harus pusing kapan belajar ilmu agamanya, sebab selama ini belajar ilmu umum. Jadi yang harus dipikirkan adalah bagaimana seorang matematika dapat masuk surga dengan matematikanya. Karena matematika adalah media utamanya seorang matematika sendiri. 


Matematika dan Spiritualualitas
Pilar yang harus dikembangkan oleh seorang matematikawan muslim, yakni pertama, fikr atau berpikir, dalam hal ini seorang matematikawan tugasnya adalah belajar ilmu matematika secara teoritis. Kedua, dzikr atau mengingat nama Allah, pada tataran ini, seorang matematikawan seharusnya dapat mendekatkan dirinya kepada Allah dengan media matematika. Tidak lain, pada posisi inilah matematika dapat disebut sebagai tasbih manusia dalam beribadah, sebab kapasitasnya adalah matematikawan. Ketiga, akmal atau perbuatan baik, dimana seorang matematika berkewajiban pula sebagaimana kyai, yakni meamalkan ilmu atau pengabdian masyarakat, maksudnya bagaimana yang ia pelajari dapat memberikan manfaat bagi orang-orang disekitarnya. 


Kita periksa diri sendiri, mungkin Anda sekali dan bahkan saya sendiri merasakan bahwa selama ini hanya bisa menjalankan dua pilar, yakni fikr dan akmal, itu artinya kesempurnaan untuk menjadi seorang muslim dalam kapasitas seorang matematikawan belum tuntas. Untuk itu, matematika spiritual adalah ide dan tugas besar yang harus diusung dan diemban seorang matematikawan muslim saat ini.


Kisah seorang matematikawan muslim Khawarizmi, beliau menemukan angka “nol” dan hingga saat ini angka tersebut menjadi manfaat umat sedunia. Bahwa Khawarismi dikenal sebagai ulama muslim. Penemu teori Phytagotas yang karena teori tersebut kita dapat digunakan dalam dunia ilmu perbintangan, dan ilmu tersebut sangat bermanfaat bagi orang Islam ketika menentukan awal waktu shalat dan lain sebagainya. Ibnu Sina dengan ilmu kedokteran yang beliau kusai dan sekaligus belaiu adalah ulama muslim terdahulu.


Untuk menembus pilar dzikr, fikr, dan akmal khususnya pada pilar dzikr semestinya dapat kita renungkan dari kisah tokoh muslim atau non muslim di atas. Cerita teman saya, ketika dia membuat sebuah program matematika yang ia kembangkan dari konsep matematika, dan ketika ia memasukkan rumus-rumus ke dalam program yang ia buat, dia sempat berkata “subhanallah” begitu indahnya kedahsyatan Allah yang Dia sembunyikan di dalam teori matematika. Cerita lain, ketika teman-teman saya mengerjakan soal-soal matematika dan mereka menemukan jawabannya setelah berhari-hari mengerjakan mereka berkata “alhamdulillah ya allah, akhirnya saya diberi kekuatan untuk dapat menyelesaikan”. 


Perkataan-perkataan di atas, secara tidak sadar membawa mereka untuk berdzikir karena matematika. Rasa syukur dan tahjub atas kekuasaan Allah dan kebesaran Allah adalah bagian dari drikr. Jadi dengan matematika pun kita dapat menemukan Allah Yang Maha Agung. 


Harapannya, dengan bermatematika spiritual saya sangat berharap nantinya sebagai seorang matematikawa musllim harus berusaha mengembangkan pilar fikr, dzikr, dan akmal. Terserah mana yang lebih dahulu antara ketiga pilar tersebut, yang pasti adalah saling melegkapi. Tidak lain, dengan berbekal ilmu matematika atau bahkan ilmu lainnya tujuan kita yang utama adalah bagaimana dengan matematika atau ilmu lainnya kita dapat semakin tinggi tingkat kuantitas dan kualitas keyakinan kita kepada Allah swt. Semoga renungan ini bermanfaat untuk dibaca dan diamalkan. Amin…!

Malang, 04 Mei 2011

Categories
Matematika

Why do We Learn Mathematics?

Kenapa Kita Belajar Matematika?
Oleh Bayu Tara Wijaya

Awal orang suka dengan yang namanya matematika, biasa dimulai sejak masa sekolah baik dari tingkat SD, SMP, maupun SMA. Bisa juga, orang akan benci dengan matematika dari tingakat SD, SMP, SMA, hingga di bangku kuliah. Bahkan orang yang kuliah di jurusan matematika sendiri pun masih ada yang belum ramah dengan matematika.

Salah satu penyebab orang yang suka matematika bisa dilandasi oleh faktor guru. Wajah matematika di jenjang sekolah maupun di jenjang perkuliahan sangat bergantung dengan pengajar, matematika berwajah buruk ataupun bagus/baik. Dari pengalaman penulis, telah merasakan kesukaanya matematika berawal dari kelas 3 SMP dan berlenjut hingga sekarang. Itupun tidak lain disebabkan karena pengajar/guru matematika. Ketika mengajar, seorang guru mengerti sekali posisi anak didiknya, mana yang membutuhkan motivasi, pendampingan, arahan, dan perhatian atas pribadi setiap anak didiknya. Kenyataannya, jarang pengajar dapat seperti itu, dan yang sering adalah sebaliknya guru tidak menghiraukan anak didiknya bahkan sering kali menjatuhkan mental didikkannya.

Oleh karena itu, perbaikkan atas tingkah laku seorang pengajar perlu dilakukan. Bahkan kalau perlu, seorang pengajar matematika diberi materi tentang kependidikan lebih dibandingkan dengan materi-materi lainnya. Sebab, anak kecil hingga ABG cara berpikir mereka masih dinamis-tak beraturan, sedangkan materi matematika menuntut mereka untuk berpikir statis-formal. Sehingga, sebenarnya matematika di sini memberika peran untuk menata cara berpikir manusia, tidak lain cara berlogika.


Kita semua menyadari dan sempat binggung, bahkan kenapa matematika harus dipelajari di sekolah maupun di perkulihan. Kelihatanya juga, manfaat dari matematika sendiri tidak begitu nampak di kehidupan kita, hingga kadang-kadang hati kecil kita bilang matematika tidak penting.


Pelajaran yang kita dapat dari matematika sebenarnya sangat abstrak sesuai identiknya. Terlebih peran matematika yang paling utama adalah membentuk, menata cara berpikir dari labil manjadi stabil. Hal ini dapat terjadi, sebab ketika seseorang mengerjakan soal matematika, maka yang terlintas pada seseorang adalah memikirkan cara menyelesaikan soal. “Bagaimana ya menyelesaikan ini, darimana ya sebabnya kok bisa begini dan begitu,” kata-kata yang sering muncul pada seseorang yang mengerjakan soal/masalah matematika.
Dari keseringan seseorang mengerjakan soal tersebut, seseorang lambat laun ia akan tidak sadar dilatih dan semakin terlatih menentukan solusi dan mencari sebab “kenapa solusinya seperti demikian”. Hingga seseorang akan tidak sadar pula ketika menghadapi masalah lain (non soal matematika) ia akan dengan terbiasa berlogika dengan konsep menyelesaikan soal matematika. Namun, sifat keabstrakkan matematika hingga seseorang tidak menyadari bahwa dirinya terlatih karena sering menyelesaikan soal, khususnya soal matematika.


Kenapa soal matematika? Sebab soal matematika atau soal yang berbau matematika lebih memiliki tingkat kesulitan tinggi dibandingkan dengan soal-soal lainnya. Dan, semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin tinggi pula manfaat pada berlogika seseorang. Karena tingginya manfaatnya tadi, banyak orang yang lebih memilih “tidak” alias tidak mau belajar apalagi menyelesaikan soal matematika.


Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang semakin sedikit menyelesaikan soal (masalah apapun), berarti semakin sedikit pula logikanya rendah (cara berpikirnya buruk), tidak lain orang yang cara berpikirnya buruk berarti orang tersebut kurang “kedewasaannya”. Apalagi ketika menyelesaikan soal dengan tingkat yang tinggi, ia akan lebih memilih menjauh dari soal/masalah, bukan?


Malang, 26 April 2011

Categories
Matematika

Zeros Become Victims of non-Math

Angka Nol Menjadi Korban Non-Matematikawan
oleh Bayu Tara Wijaya

Telaah Angka
Singkat dari sebuah cerita munculnya angka yang dimulai dengan munculnya angka satu. Angka satu ini muncul dari bangsa Barat, yang konon ceritanya dalam perhitungan jumlah hanya ada dua pilihan, yakni jumlah sesuatu dengan jumlah satu atau jumlah sesuatu dengan jumlah banyak. Jadi, dahulu ketika sesuatu itu lebih dari satu, maka dikatakan berjumlah banyak.

Seiring perkembangan, muncullah angka dua. Dalam praktiknya, penjumlahan dengan angka dua ini sedikit memelik kejelasan. Misalkan, ketika seseorang memiliki barang yang berjumlah lima, maka cara menyebutkannya yakni dengan faktor kelipan dua, sehingan untuk jumlah lima cara mengucapkannya dua, dua, dan satu.

Terus berkembang di dunia Barat, dari angka satu hingga angka 9. Historisnya, ada satu angka yang muncul dari dunia Timur, yakni angka nol. Kebetulan angka ini di-release oleh tokoh Islam, yakni al-Khawarizmi. Berkat beliau, bangsa Barat yang awalnya benar-benar jaim dengan orang timur, akhirnya secara terpaksa angka nol pun diterima oleh mereka. Sebab, angka ini memiliki keunikan. Salah satunya, berkat angka nol dapat mempermudah perhitungan dalam jumlah banyak.

Angka pada Realita
Terusalah berkembang, angka-angka berkembang sesuai strukstur social budaya negara masing-masing. Sehingga muncullah banyak gaya penulisan angka-angka, seperti angka romawi, angka arab, dan lain sebagainya.

Pada abad kini, penulisan angka yang sering kali kita gunakan adalah angka arab (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0). Angka ini sangat akrab dengan masyarakat. Tetapi perlu kita cermati, pertama, dari susunan angka arab tersebut, semisal dalam keyboard sebuah komputer, kalkulator, atau dalam mesin-mesin apapun. Angka nol berada diurutan terakhir. Padahal kenyataanya, dalam urutan yang sebenarnya angka nol ada di depan. Tugas kita untuk mencermati kenapa hal itu terjadi?

Kedua, dalam pengucapan angka nol, kebanyakan masyarakat Indonesia (khususnya), sehingga mengucapkan dengan sebutan ‘nol’ dengan ‘kosong’. Padahal perlu digarisbawahi, ‘kosong’ tidak mempunyai nilai. Berbeda dengan nol, ia masih ada nilai. Macopat dari penulis, jangan-jangan masyarakat kita terkonstruk dengan teori Tong Sam Cong dalam film Kera Sakti, “Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.” Sehingga kita mengartikan kosong itu ada nilainya.

Sedikit perlu saya sampaikan pada para pembaca tulisan ini, untuk memulai meluruskan kesalahan publik ini, biar kita tidak ditertawakan oleh orang luar. Walaupun kita bukanlah sarjana Matematika yang tidak menengal teori bilangan, tetapi minimal kita tidak salah kaprah yang terus-menerus.

Mungkin inilah budaya, sehingga nasib angka nol menjadi korban oleh orang-orang non-matematika, dan bahkan juga masih ada orang matematika yang juga salah. Cerita ini sama halnya dengan teori bahasa Indonesia. Banyak contoh kata yang tidak baku, tetapi masih dianggap benar, dan lebih parahnya ditingkat pendidikan pula, juga masih salah kaprah dalam mengunakan kebakuan bahasa dalam tulisan maupun perkataan.

Sebagai para pemerhati, atau orang pengangguran sekalipun. Usaha melakukan hal baik dengan cara yang baik, untuk kepentingan baik, perlu diperjuangkan dan wajib dilakukan. Terima Kasih…!

Categories
Matematika

Fuzzy: Wise Logic Mathematics

Fuzzy: Logika Bijak Matematika
Oleh Bayu Tara Wijaya*

Ruang yang terbuka klaim abstrak menjadi karakter utama pandangan orang kaum awwam terkait hakekat matematika. Lahirnya para pakar matematika yang memberikan sumbangsi ilmu matematika di mulai sejak masa Archimedes (287 SM) hingga matematikawan asal Indonesia Andi Hakim Nasution yang dilahirkan di jakarta 30 Maret 1932 M masih saja misterius di muka publik. Sifat logika matematika yang hanya dikenal dengan sebutan masuk akal atau rasional dan menjadi tidak masuk akal disalahgunakan orang nonmatematika.

Banyak pemikiran beralasan bahwa mereka yang berpikir matematik adalah sebagaimana ukuran logika matemtis yang memiliki kaedah benar atau salah dan tidak keduanya. Ini memang sebuah kelemahan matematika yang tidak bisa melindunggi keilmuannya, sekaligus keistimewaan matematika yang dapat koheren dengan semua apa yang mendekatinya. Sehingga tidak ada salahnya jika ada beberapa orang hanya berkata sebagaimana logika matematis yang mereka kenal.

Realita umum, logika matematika mengarahkan kita pada kemanfaatan matematika. Sebab, dengan berpikir logika, kita dapat memutuskan beberapa perkara. Hemat kata, hanya cabang matematika yang berupa logika matematika menjadi anggapan salah satu cabang matematika yang dapat teruji dikehidupan sehari-hari. Terkait dalam berpikir logis.

Fuzzy dan Matematika
Pengenalan mereka –yang tidak memahami dan mempelajari matematika pada hakekat– sebatas knowledge yang tidak memiliki intusi berpikiran memperdalam matematika dalam rangka mengembangkan ilmu. Pada akhirnya, sebuah pengetahuan hanya sebatas pada umumnya. Sehingga pengenalan logika matematika yang hanya berpikir bahwa matematika sangat “egois”. Artinya kebenaran matematika hanya kebenaran stagnan –benar atau salah dan tidak keduanya– tidak berkembang sebab lemahnya pengajian mendalam terhadap matematika.

Sebenarnya, matematika bukanlah sebuah ilmu yang paten. Matematika hidup memiliki nilai yang sepadanan dengan objeknya. Maka ketika seorang anak SD ditanya berapa nilai “3 x 4”? dan dijawabnya dengan 12. Sedangkan berbeda dengan seorang tukang cetak foto ketika ditanya berapa “3 x 4”? dan tukang tersebut menjawab pula dengan sebutan Rp.1.000,-. Masih banyak contoh lainya yang mengaburkan ketidakpastian dalam matematika dan membantahkan teori matematika ilmu paten.

Terkait dengan logika, di dalam matematika bukan hanya mengenal matematika yang bermakna benar atau salah dan tidak keduanya. Tetapi dalam matematika ada logika yang mengenalkan antara benar dan salah, artinya logika ini masih menghargai sebuah nilai yang berada di antara benar atau salah baik dalam nilai numerik ataupun nilai sosial. Umumnya, logika seperti ini dikenalkan dengan logika fuzzy. Fuzzy sangat jarang dipelajari orang, dan fuzzy jarang disadari orang, serta fuzzy jarang dianggap logika bagi orang. Pada akhirnya fuzzy yang tak dikenal orang menjadikan salah makna pada orang yang tak memahami logika.

Contoh lain, sebagaimana yang dilontarkan oleh Abdul Halim Fathani penulis buku al-Quran dalam Fuzzy Clustering menyatakan bahwa hukum Islam pada umumnya memakai logika fuzzy. Termaktup pada sebuah hukum Islam yang terkenal yakni hukum haram dan halal, dan di antara halal dan haram ada hukum makruh –mendekati halal dan mendekati haram. Jelas bahwa hukum ini memakai logika fuzzy. Sebab fuzzy, bersifat menghargai nilai antara benar atau salah.

Mungkin saja, logika fuzzy adalah logika bijak matematika yang umum dikatakan matemtika bersifat egois yang tidak kenal dengan perasaan. Tetapi, pernyataan tersebut hanya pantas dipukulkan pada mereka yang tidak mengenali perkembangan matematika.

Hal “tolol” sekali ketika sebagai calon matematikawan menerima penghinaan terhadap matematika. Hinaan yang dilontarkan kaum buta hakekat metamatika yang berkata beda dari satu orang dengan orang yang lain. Kaum buta yang hanya kenal bahwa matematika tidak lain ilmu abstak, ilmu pasti, ilmu logika, ilmu hitung, ilmu simbol, dan lainya. Memang semua sebutan itu benar, tetapi mereka tidak tahun bahwa matematika juga memiliki karakter etnomatematika. Sebagaimana salah satu contoh pada logika fuzzy.

Dari adanya etnomatematika, dan pemahaman terhadap etnomatematika dapat membuka tabir kesalahpahaman yang digagas para awwam buta hakekat matematika. Coba Anda pahami, matematika begitu indah. Adanya bisa tumbuh dimana saja terinterprestasikan pada sebuah pohon kelapa yang dipakai simbol atau lambang dalam kepramukaan.

Kiranya, berpikir yang bijak bukan saja berpikir matematika. Tetapi sebenarnya berpikir matematika berarti berpiir bijak. Sehingga tidak ada ilmu yang diciptakan tidak ada manfaatnya. Betulnya, kita yang masih rendah dengan pengetahuan. Apapun yang kita pelajari belum tentu kita mendapatkan hal itu, tetapi bisa jadi Anda mendapatkan hal lain karena mempelajari hal itu. Maka, apapun usaha kita, tetaplah sebuah usaha.[]

Categories
Matematika

Selayang Perkembangan Angka Nol

Nol sebagai wakil dari kosong terutama dalam kalender yang berkembang di Meksiko tengah bagian selatan. Selain itu juga, nol dipakai dalam sistem bilangan vigesimal atau 20-angka di meksiko. Di Eropa, perkembangan nol menjadi bagian integral dari angka Maya, tetapi tidak mempengaruhi sistem angka Eropa. Sedangkan di Cina, perkembangan nol bermula dari berhitung menggunakan tongkat sejak abad ke-4 SM, namun mereka memahami perhitungan negatif dan perhitungan nol, namun tidak dapat menyimbolkan.

The Nine Chapters on the Mathematical Art Cina adalah buku matematika pada abad ke-1 M, yang kemudian disalin dalam teks Cina. Yang isinya, bahwa Ptolemy dipengaruhi Hipparcrus dan Babilon, dalam menggunakan simbol untuk nol (lingkaran kecil dengan panjang overbar) dalam sistem angka sexagesimal pada abjad angka Yunani.Nol juga pernah digunakan dalam tabel angka Romawi oleh Dionysius Exiguus. Yang awalnya angka Romawi tersebut berasal dari sistem Roma Kuno, yang diadaptasi dari angka Etruscan.

India yang menggunakan angka desimal dalam hitungan, termasuk nol, merupakan teks Jain, yang dijelaskan dalam buku berjudul Lokavibhâga pada 458 AD, yang menggunakan bahasa Sanskrit (angka untuk angka). Dalam teks tersebut diperkenalkan penggunaan khusus Glyphs pada tampilan simbol angka nol yakni lingkaran kecil yang ditemukan di prasasti Candi Chaturbhuja di Gwalior India pada 876 TM. Angka India dan posisi sistem bilangan diperkenalkan kepada peradaban Islam oleh al-Khawarizmi sebagai konstribusi pemikiran matematika. Karya terkenalnya adalah Al-Jabr wa-al-Muqabilah. Ia menjelaskan penggunaan nol, sebuah angka penting untuk dikembangkan orang India.

Kemudian, pada abad ke-12, sistem angka India pada Aritmatika diperkenalkan ke dunia Barat melalui terjemahan bahasa Latin. []

Categories
Matematika

Pahlawan Matematika yang Terlupakan*

SAAT ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno.

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat Islam) terhadap perkembangan matematika?
Kisah angka nol
Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil- hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu.

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal.

Zaman Kegelapan
Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu.

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani.

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq.

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya.

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F. Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya.

Kontribusi Matematikawan Muslim
Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al- Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al- Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. Penelitian-peneliti an Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-peneliti an Al- Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek aljabar”.

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi- aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-peneliti an ini mendasari penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,…dan 1/x, 1/x2, 1/x3,…dan memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al- Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui (variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang diketahui. Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang algebraic geometry.

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra (lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing- masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir tahun 980).

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p.

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al- Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik.

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner.

Bidang Astronomi
Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910- an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada bidang.

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet.

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) dan. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari pengaruh para matematikawan Muslim.

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan- pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan.

*) ditulis Oleh Prasetyo Bawono

Categories
Matematika

Bukti Adanya Matematika

Mari bermain di dunia matematika, secara tidak sadar kita sudah sering bergaul dengannya. Dunia yang tertata secara matematis, merupa bukti pentingnya ada metamtika. Simbol-simbol matematis juga sering kita jumpai di sekeliling kita. Ketika sedang berjalan saja, berapa banyak simbol-simbol yang kita temui. Inilah bagian kecil dan simpel bukti adanya matematika.

Matematika adalah bahasa yang universal, mempunyai kebenaran ilmiah yang tidak terbantahkan. Jadi apakah geosentris, atau heliosentris, maka, itu semua hanya menjadi perkara titik pangkal koordinat. Demikian pula dengan pemikir-pemikir di masa tersebut akan selalu berpegang pada kebenaran matematika, alih-alih berdebat kusir tentang yang mana yang benar. Perumusan matematika oleh Ibnu Al-Shatir ini yang kemudian, (dipercaya?) menjadi pondasi perumusan matematis Copernicus untuk memperkenalkan model Heliosentris-nya.

Categories
Matematika

MATEMATIKA EDUKATIF

HAKIKAT MATEMATIKA
Selama ini kita banyak mendengar tentang betapa penting suatu ilmu pengetahuan, dan pengetahuan tersebut merupakan suatu kumpulan-kumpulan bahan mentah kita untuk menghasilkan sebuah Ilmu yang baru bagi kita. fenomena yang terjadi selama ini, masih ada beberapa disiplin Ilmu pengetahuan yang masih dianggap menjadi ilmu yang tidak sopan dengan ciri khas yang disamakan dengan hantu.
Dalam hal ini, kita berbicara mengenahi Matematika yang juga merupakan salah satu dari bagian Ilmu Pengetahuan, tapi kenyataan di masyarakat matematika dirasa kurang bisa bersahabat dengan peserta didik. Terlebih di dunia pendidikan tingkat sebelum kampus, bahwa yang di Jurusan Matematika sendiri kadang masih ada yang merasa seperti itu. Tahu atau tidak tahu, matematika sesungguhnya bersifat mempunyai universal of knowledge. Dengan karakter seperti ini semestinya, matematika menjadi penting sekali dengan ke-fleksibel-annya bisa menjadi bagian-bagian di seluruh ilmu pengetahuan.

BUKTI ADANYA MATEMATIKA
Mari bermain di dunia matematika, secara tidak sadar kita sudah sering bergaul dengannya. Dunia yang tertata secara matematis, merupa bukti pentingnya ada metamtika. Simbol-simbol matematis juga sering kita jumpai di sekeliling kita. Ketika sedang berjalan saja, berapa banyak simbol-simbol yang kita temui. Inilah bagian kecil dan simpel bukti adanya matematika.
Matematika adalah bahasa yang universal, mempunyai kebenaran ilmiah yang tidak terbantahkan. Jadi apakah geosentris, atau heliosentris, maka, itu semua hanya menjadi perkara titik pangkal koordinat. Demikian pula dengan pemikir-pemikir di masa tersebut akan selalu berpegang pada kebenaran matematika, alih-alih berdebat kusir tentang yang mana yang benar. Perumusan matematika oleh Ibnu Al-Shatir ini yang kemudian, (dipercaya?) menjadi pondasi perumusan matematis Copernicus untuk memperkenalkan model Heliosentris-nya.(Anonim, 2006)

Matematika dan Pendidikan
Pola pembelajaran yang berkembang di dunia pendidikan saat ini telah membuka khazanah nalar kita. Khazanah tersebut mengalir pada pikiran kita tentang pendoktrinan dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh sebuah instansi pengelolah pendidikan –sekolah– yang berupa kurikulum. Dirasa adanya timpang tindih, model kurikulum saat ini mengakibatkan para anak didik mengalami tekanan psikologisnya.
Perjalanan kurikulum yang bersifat otoriter terhadap anak didik, menjadikan mereka terpenjara dalam pengembangan kreativitas dan dalam menemukan jati diri anak didiknya. Tentunya untuk mencapai nilai plus –biasanya berupa hasil ujian akhir– menjadi ukuran keberhasilan suatu proses pendidikan untuk saat ini. Sehingga dari evalusi yang kurang menyeluruh ini mengakibatkan tingkat keberhasilan hanya terlihat pada angka, bukan pada aktualisasinya
Pernahkah terbayangkan, apakah kita akan tenang untuk melakukan sesuatu jika kita ketakutan, gelisah, tertekan, dan kawan-kawannya. Maka dari itu, belajar matematika seharusnya tidak seperti itu. Sehingga belajar matematika dibutuhkan ketengan, dibutuhkan kesenangan, dan dibutuhkan rasa yang inovatif.

Categories
Matematika

FOSMAT

MATEMATIKA ADALAH PILIHANKU

Kita sebenarnya belajar buka mempelajari apa-apa, tapi kita hidup untuk mempelajari hidup kita. Kaitan dalam mempelajari matematika, kita aka menemuhi simbol-simbol dan angka-angka. Nah inilah yang namanya dunia matematika, untuk itu marilah kita memahaminya. Betapa pentingnya matematika dalam kehidupan kita.

Berefleksi ke penerapan betapa pentingnya belajar matematika. Fenomena yang terjadi di masyarakat, bahwa matematika di anggap sebagai disiplim ilmu yang mengerika, dimana setiap peserta didik tidak jarang yang menemuhi dengan mata pelajaran matematika ketakutan seperti ada hantu.

Mari kita introspeksi bersama, bahwa siapa yang membuat kita takut dengan matematika. Khususnnya ketika belajar dibangku belajar. Sebuah pertanyaan, apakah yang menakutkan itu matematikanya atau yang mengajarkan matematika? jika kita bisa menjawab ini dengan cermat tentunya kita sangat akrap sekali dengan matematika. Ketahui bahwa, karakteristik matematika sangat universal sekali, dia bisa masuk ke dalam seluruh bidang keilmuan, begitu penting sekali matematika bagi hidup kita dan saya mengajak anda semua yang membaca ini, akan semakin cinta dengan matematika.[ ]