Category: Buku
Buku Berguru pada Realitas, Refleksi Pemikiran Menuju Indonesia Bermartabat merupakan percikan gagasan KH. Salahuddin Wahid atau yang akrab dipangil Gus Sholah. Gagasan hasil merefleksi beliau untuk kemantapan Indonesia yang lebih baik.
Buku ini diklasifikasikan dalam sub-sub tema yang bernuansa keagamaan meliputi: (1) Tuhan dalam Realitas Keberagamaan Kita, (2) Etika Islam dalam Bermasyarakat, (3) Pendidikan dan Dunia Pesantren, (4) Oase Ramadhan dan Estetika Ritual, (5) Hubungan Agama dan Negara, (6) Dinamika Keberagamaan, (7) Mengukur Kesetiaan Berbangsa, (8) Prinsip dan Etika Kepemimpinan, (9) Dinamika Kepemimpinan Nasional, dan (10) Kaum Muda dan Kaderisasi Kepemimpinan.
Secara mendalam, buku ini mengajarkan kita untuk berguru pada realitas. Setiap apapun yang ada di depan manusia perlu direnungkan dan diambil hikmah dari kondisi riil saat ini. Merasa ada pesan yang mendalam, Gus Sholah memberikan contoh pada kaum muda bahwa Indonesia akan bisa lebih bermartabat apabila masyarakatnya mau belajar dari kenyataan.
Melalui perspektif beliau sebagai agamawan, yakni perspektif keagamaan yang dipandang secara universal semua umat manusia memiliki kemampuan yang sama dalam menyelesaikan masalah. Jadi, untuk menjadi bangsa yang bermartabat yang pertama adalah memartabatkan pribadi dahulu. Sudahkah masyarakat baik? Kalau masyarakatnya sudah baik, maka Indonesia pun akan menjadi baik.
Membincang masalah kepemimpinan, meskipun seorang pemimpin di Indonesia sudah baik, tetapi kalau saja masyarakat Indonesia memiliki moral yang kurang baik. Tentu perjalanan kepemimpinan pun tidak akan berhasil.
Gus Sholah memberikan banyak contoh kepemimpinan, seperti yang dicontohkan dari buku “The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History” karya ilmuan Michael H Hart asal Amerika Serikat. Hart memilih Rasulullah sebagai tokoh pada urutan pertama, alasannnya “Muhammad adalah satunya manusia dari keluarga sederhana yang mampu dan telah berhasil menegakkan dan menyebarkan Islam, salah satu agama terbesar di dunia. Dan, pengaruhnya hingga kini masih tetap kuat, mendalam dan berakar.
Sebenarnya, sudah cukup bekal untuk menjadi Indonesia bermartabat, asalkan masyarakat sudah menjadi manusia yang bermartabat, dengan sendirinya Indonesia akan bermartabat.
Melalui renungan pemikiran Gus Sholah yang secara umum isi dari buku ini sudah banyak yang dipublikasikan beliau melalui beberapa media masa nasional maupun seminar-seminar. Meskipun demikian, gagasan mendalam yang beliau usung selalu baru untuk dirujuk sebagai pedoman menjadi manusia yang bermartabat untuk Indonesia yang bermartabat.
Inilah makna terpenting yang beliau sampaikan dari setiap sub-sub, dan setiap tema yang beliau angkat. Tentunya dengan bahasa dan pembahasan yang lebih memasyarakat. Mengingat beliu adalah tokoh nasional yang latarbelakang berpendidikan dan beragama. Berguru pada Realitas adalah topik yang sangat menarik untuk direnungkan dan dijadikan contoh bahwa manusia bisa melakukan hal yang luar biasa apabila mau belajar. Indonesia pun ada karena ada yang mau berguru realitas. Akhirnya, buku ini sangat baik untuk dibaca dan direnungkan pesan tersiratnya untuk memartabatkan Indonesia.[]
Penulis : KH. Salahuddin Wahid
Penerbit : UIN-Maliki Press
Cetakan : I, 2011
Tebal : xvii + 483 halaman
Teka-Teki Dunia ala Michael J. Fox
Judul buku : Hidup Itu Lucu
Penulis : Michael J. Fox
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : KAIFA, Bandung
Tahun Terbit : I, 2011
Tebal : 131 halaman
Hampir semua orang, ketika ada orang sukses tentunya bertanya-tanya “kenapa orang lain lebih sukses daripada saya?” Karena pertanyaan inilah yang menjadikan orang semakin terpikat dengan kisah-kisah sukses orang terkenal untuk memotivasi diri dan mengemabil pelajaran hidupnya agar bisa sukses juga.
Salah satunya, yakni Michael J. Fox, tidak tamat SMA, tapi dia menerima gelar kehormatan dari sejumlah universitas. Kenapa demikian? Sebab, Michael J. Fox memiliki kelebihan yang bisa diakui oleh semua kalangan, usia, dan di manapun.
Melalui buku Hidup Itu Lucu merupakan kisah aktor yang tidak tamat SMA tersebut. Michael J. Fox tidak tamat sekolah, bukan berarti tidak mampu untuk sekolah dari segi kecerdasan, ekonomi, dan sebagainya. Melainkan tidak tamat SMA adalah pilihan hidup Michael J. Fox untuk sukses.
Untuk itulah, saat Michael J. Fox memutuskan pilihannya ia pun berusaha untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia tetap bisa sukses. Melalui motivasi yang dimiliki Richard Ronson, pendiri Virgin Music dan Virgin Atlantic Airways; Henry Ford, pendiri Ford Motor Company; Philip Emeagwali, ilmuwan seperkomputer dan salah seorang pionir internet; Jack Kent Cook, raja media dan pemilik Washington Redskins. Mereka adalah orang-orang sukses, meski pernah di-DO dari sekolahnya.
Michael J. Fox dalam buku ini tidak bermaksud mengajarkan kita untuk tidak bersekolah. Namun, kita diajarkan untuk menentukan pilihan hidup. Mau kemana kita? Jadi, kalaupun Anda berani meninggalkan sekolah, berarti Anda harus bisa memuktikan bahwa Anda bisa sukses pula. Nah, kalaupun belum siap, lebih baiknya bersekolah. Karena merupakan menanam sesuatu, dan buah hasil dari tanaman tersebut akan kita petik 20 hingga 30 tahun mendatang. Semakin baik kita merawat pohonnya, dan semakin bermanfaat pohon tersebut bagi kita dan orang lain.
Meskipun Michael J. Fox tidak selesai sekolahnya, ia pun tetap semangat untuk belajar. Melalui membaca-baca buku dan mempelajari kehidupan bersama alam raya. Michael J. Fox sanggup menuntaskan bacaan dan mengerti ilmu-ilmu yang pada umumnya sulit kalau tidak bersekolah dahulu, seperti ilmu Ekonomi, Sastra Komparatif, Fisika, Ilmu Politik, dan Geografi.
Ternyata bekal hidup Michael J. Fox tidak cukup dengan keberaanian saja, tetapi setiap saat dia harus mendapatkan pelajar baru dari hidupnya. Menganggap, hidup tidak ada artinya apabila setiap detik dari perjalanan hidupnya tidak bisa mendapatkan hikmah dari ia hidup detik itu. Inilah yang menjadikan Michael J. Fox selalu layak mendapatkan gelar kehormatan dari berbagai universitas.
Hausnya sang aktor untuk belajar dan mengerti, setiap kali ia akan hendak mensutradarai atau bermain peran. Michael J. Fox menghabiskan waktu-waktu untuk mempelajari naskah yang ditulisnya dan akan dilakonkannya. Patas saja ia mengerti ilmu Ekonomi, Sastra Komparatif, Fisika, Ilmu Politik, dan Geografi. Sebab, ia tidak mau orang mengira bahwa film yang disutradainya hanya ide yang tidak punya banyak pelajaran yang dapat diambil oleh penontonnya.
Usaha yang sangat luar biasa Michael J. Fox, benar-benar kisah yang patut untuk dipetik pelajaran hidupnya bagi hidup kita. Tentu, pelajaran yang baik-baik dan yang mampu kita lakukan. Sehingga kita pun tidak asal meniru orang. Sebagai peniru pun harus punya ilmu, sebagaimana Michael J. Fox memotivasi dirinya dari orang-orang sukses sebelum dia.
Nah, berkat usaha Michael J. Fox, ia dianugerahi gelar kehormatan dari The Karolinska Institute di Swedia, New York University, Mount Sinai School of Medicine, dan university of British Columbia. Bahkan tahun 2010, Michael J. Fox mendapat sejumlah penghargaan nasional kemanusiaan atas karyanya dari Kanada.
Dunia memang lucu, penuh teka-teki yang tidak bisa kita tebak. Ada orang sekolah bertahun-tahun hingga belasan tahun, tetapi belum saja menemukan buah dari sekolah. Orang yang tidak pernah lama duduk di bangku sekolah, ada yang seketika bisa menjadi orang terkenal bahkan sukses. Dan, Michael J. Fix sendiri adalah drop-out dari SMA, tetapi bisa menjadi sukses di dunia perfilman.
Selain sebagai aktor utama yang profesional, sekaligus sebagai sutradara film, ia juga seorang yang peduli kemnanusiaan. Pada tahun 1991, Michael J. Fox didiagnosis mengidap penyakit Parkinson’s—penyakit yang ditemukan Dr. James Parkinson, dengan adanya penyakit ini membuat otot kaku, kadang gemetar sehingga susah untuk berdiri tegak—pun mencurahkan perhatiaan dan energinya bagi The Michael J. Fox Foundation for Parkinson’s Research yang diluncurkan pada tahun 2000 demi pendanaan penelitian dan kepedulian terhadap penyakit tersebut.
Buku ini penuh pengalaman dan pelajaran, Michael J. Fox menginspirasi pembacanya untuk bekerja keras, meraih apapun yang bisa diraih, dan memaksimalkan kemampuan diri—dengan ciri khas Michael: optimistis, hangat, dan penuh humor—bagi semua orang di berbagai kalangan, usia, dan di manapun. Siapapun adalah guru, apapun adalah ilmu, dan dimanapun adalah sekolah. Semoga kita bisa mengambil pelajaran hidup yang penuh arti.
Alhasil, teka-teki dunia adalah misteri, selama tidak bisa ditebak jawaban pastinya. Hanya dengan berusaha keras, dan mempelajari setiap detik dari hidup menjadikan hidup tidak ada yang tidak penting sedetik pun.[]
Merubah yang Remeh Jadi Penting
Judul buku : Still More About Nothing
Penulis : Wimar Witoelar
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Tahun Terbit : Juli, 2011
Tebal : xii + 180 halaman
Banyak hal-hal kecil dapat menjadi sesuatu hal yang besar, itu karena kita sendiri. Manfaatkanlah peluang kecil untung menghasilkan karya besar. Begitulah kesan saya saat membaca buku ini, “Still More About Nothing” karya Wimar Witoelar seri buku ketiga setelah buku “A Book About Nothing” dan “More About Nothing”.
Begitu juga menurut Wimar, setelah perjalanan panjang mengerjakan banyak hal, ternyata yang paling penting dan mendasar adalah bagaimana kita sanggup mengambil pesan-pesan dari hal-hal yang biasa terjadi sehari-hari. Seperti itulah sumber gagasan yang diramu oleh Wimar dalam menyulam isi buku ini.
Buku ini, topiknya sebenarnya tidak jauh dari gagasan sederhana dan tidak asing didengar. Namun, Wimar meramunya dan merubah menjadi gagasan yang sejuk dan segar dibaca. Dari mulai soal kakinya yang istimewa, soal temannya yang sekolah di luar negeri, soal buang gas, dan sebagainya. Mengelitik, seru, membuat kita tersenyum, dan kemudian meresapi maknanya.
Dokter Gigi
Simak soal “Dokter Gigi yang elektik”. Ketika Gus Dus mengatakan, “Saya suka si Itu karena dia bersikap elektik.” Setelah menerima penjelasan dari beliau, Wimar membuka internet. Di sana ada banyak penjelasan, dari kamus mendefinisikan elektik adalah “memilih dari berbagai sumber, tidak ikut satu aliran, tapi mengambil yang terbaik dari berbagai sistem”. Sehingga, Wimar menyimpulkan “untuk bisa mengambil yang terbaik”, berarti kita harus mengenal sifat terbaik dari berbagai sumber.
Wimar mengangkat pesan dari seorang dokter gigi, “Jangan pernah mencabut gigi sebab gigi itu saling memperkuat gigi yang lain. Mencabutnya akan merusak kombinasi dan sinergi yang sudah terbentuk lama.” Maksudnya, ketika dalam sebuah sistem ada beberapa hal di dalamnya yang lemah, ini jangan dianggap sebagai sumber kehancuran. Kenalilah sifat-sifat terbaik dari hal-hal lain (sumber lain). Minimal ada satu yang kuat, ia bisa menjadi janggar bagi yang lemah. Sama dengan kelompok 20 orang, ada lima orang yang kuat, mereka bisa menyangga kekuatan semuanya.
Hal lain yang sederhana, dan kayaknya nothing (remeh) tetapi sebenarnya ada pesan penting yang bisa diambil. Wimar menunjukkan sebuah kesederhanaan menjadi sebuah keistimewaan. Dari topik, “Mengapa Daun Berubah Warna?” Sebenarnya daun berubah warnanya itu adalah memang sifat yang dimilikinya selain sifat hijaunya. Jadi, daun itu memiliki warna kuning emas, merah, dan coklat. Warna-warna itu sebetulnya ada dalam setiap daun, tetapi tidak kelihatan karena tertutupi oleh warna hijau pada musim hujan. Begitu hijau-hijaunya hilang, kelihatan warna-warna itu.
Wimar mengambil pesan dari cerita daun, Apa yang bisa dipetik dari cerita daun? Secara detil baca buku ini. Namun pesan sederhanya bahwa manusia punya kekuatan pikiran yang luar biasa sehingga daun yang mati kelihatan cemerlang. Kalau kita kuat imjinasi dan keyakinan, kita dapat melihat keindahan dalam kerontokkan. Dan, kalau kita sabar menunggu, warna hijau akan berkuasa lagi, dan warna kesedihan bersembunyi sekali lagi di balik warna kehidupan.
Lintong Simaremare pengerak The Salvation Army dan pernah meraih Anugerah Wira Bhati Nugraha dari Menteri Koperasi dan UKM sebagai pengusaha peduli sosial menyebutkan misi yang sama dengan Wimar bahwa “Pengalaman bukan dinilai dari lamanya melakukan suatu hal, namun, dari seberapa banyak menarik pelajaran dari apa yang sudah kita alami.”
Buku Still More About Nothing itu justru it’s about everything plus it’s beyond your expectation. Nothing-nya seorang Wimar itu sangat deep, menambah berbagai ilmu dari yang peting banget sampai yang tidak penting banget. Rasanya seperti turis yang naik taksi dan mempersilakan sang sopir membawa kita sesukanya tanpa tujuan pasti tapi perjalanannya sangat menyenangkan sekali! Seperti itu ungkapan Melissa Karim, seorang Presenter TV, MC, artis, penulis skenario, dan penyiar radio.
Simpel gagasan yang diangkat Wimar, buku ringan dapat dikonsumsi siapa saja, mudah terserap pesan ceritanya dan yang paling penting Wimar tidak menggurui, tidak mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tetapi hanya mau berbagi perspektif. Ia membiarkan orang lain membaca pesan dengan cara pandangnya sendiri.
Hal remeh bisa saja menjadi sesuatu hal yang sangat penting bagi kita. Tidak lain karena kita sendiri yang mau memanfaatkan dan mengambil pesan yang tertata rapi itu. Melalui buku ini, kita diajak untuk merepetisi hal-hal remeh (nothing). Tidak perlu cerita panjang tentan buku ini, sebab “nothing” akan menjadi jelas dari tulisan-tulisan kecil ini. Bisa juga tetap tidak jelas, semua tergantung yang membaca.[]
Oleh Bayu Tara Wijaya
“Saya tidak gagal, hanya menemukan ribuan kali cara yang salah. Saya pasti sukses karena kehabisan percobaan yang salah.” [Thomas Alfa Edison]
Kata gagal atau kegagalan selalu mengundang kita untuk berpikir negatif. Seperti, kekecewaan, penyesalan, dan bahkan pula dapat melancarkan kita untuk dekat dengan putus asa. Ini tidak baik, sangat salah kalau saat gagal pikiran negatif tersebut kita persilakan datang untuk memegaruhi saraf otak kita. Sebab, apabila terjadi justru malah akan mengakibatkan kita terjatuh tidak berdaya untuk bangkit kembali untuk maju.
Banyak yang mengakui, bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Namun, ini tidak menjadi motivasi mudah bagi pemula dalam meniti harapan. Sering kali kegagalan menjadi batu penghalang. Coba kita ingat kembali semasa sekola, dan kita menemui gagal dalam mengerjakan soal matematika kebanyakan menyerah setelah satu kali tidak bisa atau setelah berkali-kali mencoba?
Simak cerita seorang tokoh dunia yang kita kenal seperti Thomas Alfa Edison saat uji coba bola lampu yang hingga saat ini kita mengunakan bola lampu tersebut. Bahwa ia pernah ditanya oleh bangsawan yang menyidirnya, “Thomas aku dengar kamu gagal hingga 1448 kali dalam mengadakan uji coba menemukan bola lampu listrik?” Ia pun menjawab, “Tuan maaf saya tak pernah gagal, saya cuma menemukan cara yang salah sehingga tak bisa menbuat bola lampu menyala lewat listrik sebanyak 1448 kali dan sampai pada cara yang ke 1449 kali kutemukan cara untuk menyalakan bola lampu dengan listrik.”
Untuk itu, sangat penting sekali motivasi penyelamat generasi muda kita. Agar bisa mengubah kegagalan menjadi modal mempercepat kesuksesan. Melalui contoh-contoh orang yang pernah gagal dan mampu bangkit kembali salah satu motivasi yang disampaikan dalam buku ini.
Ummu Azzam dan beberapa kawan karibnya mengisahkan catatan kegagalan yang mampu mereka tepis dalam buku ini. Memang, buku ini berisi beberapa cerita, namun yang paling luar biasa adalah bagaimana sajian cerita yang dikemas dengan banyak bahasa dakwah, motivasi, dan tentunya menggugah hati.
Buku ini sangat ringan dibaca, mudah terserap pesan ceritanya dan yang paling penting bukan ceritanya. Melainkan, proses sabar dan usaha dalam menepis kegagalan yang paling bisa mengugah kita untuk sadar bahwa ada seribu kesempatan untuk bangkit kembali. Memang ini buku bacaan ringan, tetapi sebenarnya sengaja seperti itu agar mudah bermasyarakat dengan para pengiat buku.
Jelas sekali, judul buku ini Bismillah, Aku Tidak Takut Gagal! mengajak kita untuk memanfaatkan kegagalan. Sebab, kegagalan tidak selalu negatif, ia bisa berubah menjadi positif apabila kita mampu menepisnya. Tuhan menciptakan atau membuat sesuatu tidak pernah ada yang tidak bermanfaat, termasuk kegagalan.
Mari kita adakan perubahan mainstream pola pikir kita untuk berkeyakinan bahwa “hidup tidak selamanya”, jadi tidak mungkin kalau tidak ada perubahan. Sekarang gagal pasti tidak selamanya, sebentar lagi kita akan menemui kesuksesan.
*) Bayu Tara Wijaya, Banyak nongkrong di pesantren LKP2M, sekarang pengasuh Sanggar Baca Pustaka, dan tinggal di SD12 Malang
Judul buku : Bismillah, Aku Tidak Takut Gagal
Penulis : Ummu Azzam, dkk.
Penerbit : Qultum Media, Jakarta
Tahun : Mei, 2011
Tebal : x + 262 halaman
Harga : Rp 39.500,-
Dimuat di Koran Pendidikan Edisi 24 – 30 Januari 2012
The Quality of Life in the Grip Time
Oleh Bayu Tara Wijaya
Manajemen waktu adalah tugas rutinitas yang tidak mudah bagi semua orang. Para motivator-motivator pun banyak yang sepakat, “orang sukses berangkat dari memanajemen waktu hidupnya”. Setinggi dan sebesar apapun impian orang, tidaka akan berhasil apabila ia belum sukses dalam memanajemen waktu. Karena penting, maka berangkat dari memanajemen waktu dalam urusan kecil-kecil harus dilatih mulai saat ini.
“Pertanda hidup Anda berantakan adalah sering lupa punya janji dan sering telat menyelesaikan pekerjaan, serta sering telat datang ke suatu undangan.” Ini disebabkan tidak bisa memanajemen waktu. Tidak sedikit, orang yang bisa memanajemen waktu hidupnya dengan baik. Hidup saat ini dapat teratur dengan baik saja, itu sudah bagus. Apalagi bisa dalam sehari, seminggu, sebulun, dan seterusnya.
Setiap hari ada banyak tugas yang menumpuk di meja kerja atau meja belajar. Bagi orang yang punya penyakit kebiasaan tidak mengatur waktu terlebih dahulu baru bekerja atau belajar, akibatnya banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan. Lagi-lagi yang dipersalahkan adalah waktu, “waktunya terlalu pendek untuk mengerjakan sebanyak itu”. Oleh karena itu, agar tidak terlalu berlarut-larut mempersalahkan waktu, yang sebenarnya kita sendirilah yang salah dalam memanajemen waktu hidup. Lantas bagaimana cara memanajemen waktu hidup dengan baik?
Dalam buku ini dapat ditemukan 21 cara dalam menjawab pertanyaan di atas, namun yang harus diketahui bahwa dari ke-1 hingga ke-21 cara yang disajikan dalam buku ini bukanlah hal kecil. Ini merupakan penemuan berarti dari riset yang dilakukan selama 30 tahun oleh Brian Tracy. Selama itu, ia hanya menghabiskan hidupnya dengan membaca, meneliti, dan memikirkan tentang memanajemen waktu.
Meskipun buku ini sangat ringan dibaca, tetapi butuh tekat dan keseriusan dalam mempraktikannya. Dengan judul Eat That Frog, mungkin banyak orang yang tidak tertarik, ini salah besar. Buku ini, dari bagian ke-1 hingga ke-21, adalah bagian yang utuh. Satu persatu dikupas terkait masalah dan cara memangatur waktu dengan baik. Kenapa hanya 21? Penulis bilang, selama 30 tahun tidak lebih dari angka itu dalam masalah waktu.
Buku ini hadir dengan penuh edukatif, kesalahan-kesalahan serta sebab-sebab dalam memanajemen waktu terkupas tuntas hingga menemukan solusi yang baik. Dalam mengupasnya, buku ini mengajak kita menemukan kunci hidup kita masing-masing melalui memanajemen waktu.
Penulis buku ini, Brian Tracy, berkeyakinan bahwa buku ini mampu mempengaruhi pembaca untuk segera mengadakan perubahan hidup. Melalui memanajemen waktu adalah langkah pertama yang akan menggiring kita dalam menemukan kualitas hidup.
Waktu itu investasi yang sangat berharga. Sebab, karena bisa memanajemen waktu dengan baik banyak keuntungan yang didapat. Berkat buku ini, mampu menyulap manajemen waktu menjadi suatu entitas enteng untuk dilakukan tanpa mengurangi subtansi lainnya.
Peresensi adalah Bayu Tara Wijaya, aktivis Lembaga Kajian, Penelitian
dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) Malang
Judul buku : Eat That Frog
Penulis : Brian Tracy
Penerjemah : Dewi Wulansari
Penerbit : Gemilang, Jakarta
Tahun : Juni, 2011
Tebal : 168 halaman
Dimuat di Koran Jakarta 24 Oktober 2011
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/74410 atau
http://m.koran-jakarta.com/?id=74410&mode_beritadetail=1
Quality of Life with the Name of Allah
Hidup Berkualitas dengan Asma’ Allah
Judul Bukua : Aktivasi Asma’ul Husna
Penulis : Rahmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Terbitan : Pertama, 2010
Peresensi : Bayu Tara Wijaya
“Sangat penting bagi setiap mukmin untuk selalu meraih integritas kepribadiannya dengan cahaya asmaul husna, sebagaimana yang dipaparkan dalam buku cerdas ini. Hidup terasa menjadi lebih hidup ketika kita mulai mengamalkannya!”
(Dr. Iwan Mulyana, praktisi kesehatan di Bintan, Kepulauan Riau)
Banyak orang yang sudah memahami sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Namun, sampai saat ini sangat jarang oarng yang secara sadar untuk bisa mengamalkan apa yang pernah ia pahami.
Sadar adalah hidayah dari Allah swt, sekecil apapun perbuatan kita, jika kita jalani secara sadar pastinya akan ada sedikit nilai kebaikkannya. Seburuk apapun perbuatan kita, awal untuk kembali ke jalan Allah adalah dengan sadar bahwa keburukkan yang kita perbuatan adalah salah.
Pada kajian yang sama, Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari mengajarkan kunci mengaktivasi asmaul husna. Sebelumnya, ia menulis buku yang berjudul Quatum Asmaul Husna pada Januari 2009, kini ia melengkapi buku sebelumnya dengan judul Aktivasi Asmaul Husna.
Paling tidak, dalam buku sebelumnya, penulis menjelaskan tiga bagian terpenting dalam buku pertamanya, pertama, konsep memperkenalkan Tuhan melalui Asma’ Allah yang menjadi cerminan berprilaku dalam berkehidupan. Kedua, konsep hukum syar’iyyah atas berbuatan manusia. Ketiga, konsep sifat ar-Rahman hingga sifat ash-Shabur.
Dengan kehadiran buku ini, menjadi panduan praktis dalam menerapkan atau mengaktivasi konsep-konsep yang sudah dijelaskan dalam buku Quatum Asmul Husna. Secara khusus, buku ini menyajikan panduan lengkap dan praktis untuk mengaktivasi asmaul husna. Di dalamnya juga disediakan ragam doa, wirid, dan dzikir dalam rangka aktivasi asmaul husna. Dengan mengaktivasi asmaul husna, insya Allah segala urusan kita di dunia dan akhirat akan dimudahkan, diberikan rezeki yang berkah, terpelihara dari ancaman hawa nafsu, hingga berhati lembut dan bersih.
Bagusnya, sebelum hadirnya buku ini, buku Quatum Asmaul Husna mendapat pujian bagus dari para tokoh. Namun, beberapa info interaktif dari pembaca buku Quatum Asmaul Husna, menjadikan greget penulis untuk menambahkan panduan khusus, dan muncullah buku Aktivasi Asmaul Husna.
Tahjub, karya komprehensif yang dipadukan oleh penulis dengan kondisi riil masyarakat sekarang membuat karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari menjadi panduan relilgius masyarakat yang saat ini sudah berada di zaman modern ini.
Sanjungan manis, dari salah satu karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari, dosen filsafat STAIN Salatiga, Jawa Tengah, bapak Mufiq, S.Ag., M. Phil., mengungkapkan “Saat saya membaca Quantum Asmaul Husna karya Rachmat Ramadhana al-Banjari, saya pingsan. Ketika pingsan, saya merasa akan dimasukkan ke liang lahat dan orang-orang melemparkan bunga aneka warna sambil membaca asmaul husna. Selama tiga hari, sekujur tubuh saya sakit. Tekanan darah drop, tapi saya nekat terus membacanya. Saya wirid “Ya Razzaq”. Alhamdulillah, setelah hari keempat, kondisi membaik. Hati mulai tenang dan tanda-tanda rezeki dibuka kian jelas. Mereka yang tadinya memusuhi saya mulai mendekat. Subhanallah, saya telah diajarkan sifat-sifat ketuhanan melalui praktik aktivasi asmaul husna.”
Memang, buku tentang Asma’ul Husna ini muncul dan memberikan sumbangsi secara teoritik maupun praktis kepada umat manusia yang masih peduli terhadap dirinya. Sehingga dengan kuatum (kedasyatan energi dalam diri manusia) dapat melejitkan kekuatan spiritual manusia, sebagai penyeimbang dan tameng hidup.
Sebab, ketika manusia percaya bahwa potensi keagungan Allah yang ada pada diri setiap manusia seyogyanya bisa digali, dikembangkan, dan digunakan dengan sungguh-sungguh oleh setiap manusia agar dapat memberikan motivasi dasyat pada pikiran dan jiwanya untuk menggapai kualitas kecerdasan spiritual, sebagai pondasi kehidupan manusia.
Tak lain, segala sesuatu sangatlah sulit untuk tumbuh dengan sendirinya. Sebuah kesadaran akan jarang ada, jika tidak adanya sebab lainnya. Oleh karena itulah, kehadiran buku kedua al-Banjari, yakni Aktivasi Asmaul Husna menjadi motivasi pengerak kita dalam memperoleh kedahsyatan energi keagungan Allah melalui asma’ Allah.
Harapanya, agar umat manusia dapat memahami, merenungkan dan mengamalkan salah satu atau semuanya jika mampu dari sifat-sifat Allah. Dengan pedoman Aktivasi Asma’ul Husna saja, tentu manusia bisa menyelesaikan segala urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Tak kalah pentingnya, bahwa ini adalah buku penting, yang dapat digunakan manusia sebagai pegangan dalam hidupnya.
Inilah harapan dari penulis, yang melajutkan kajiannya tentang Asma’ul Husna melalui buku Aktivasi Asma’ul Husna. Bukan sekadar bahan referensi saja, melainkan bahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga, pada bagian terakhir, al-Banjari mencatumkan doa-doa Asma’ul Husna. Dengan demikian, patutlah Quatum Asma’ul Husna yang dilengkapi Aktivasi Asma’ul Husna menjadi satu kesatuan paduan buku yang menjadi pegangan semua umat manusia, khususnya yang beragama Islam.
Alhasil, bahwa karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari memberikan kontribusi positif bagi kita. Bukan sekadar karya yang hanya menjadi referensi pustaka saja, tetapi bahan referensi hidup manusia. Dengan demikian, sanjungan terbesar yang patut kita berikan pada penulis adalah dengan mensinergikan apa yang menjadi tujuan karyanya. selamat meraih kedahsyatan energi Allah dalam kehidupan Anda! []
Syafa’at Prophet behind the Salawat
Judul Buku : Spiritual Salawat; Kajian Sosio-Sastra Nabi Muhammad SAW
Penulis : Dr. H. Wildana Wargadinata, Lc., M.Ag.
Penerbit : UIN-MALIKI Press, Malang
Terbitan : I, September 2010
Tebal : xiv + 336 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*
Tradisi salawat hingga saat ini masih tetap berkembang, khususnya di dataran pulan jawa. Tradisi ini marak dilakukan oleh para kalangan pesantren. Kemudian, berkembang hingga diikuti oleh kalangan masyarakat sekitarnya. Hingga, tidak asing lagi kegiatan pembacaan salawat.
Salawat menjadi tradisi yang tanpa sengaja merupakan aktivitas spiritual turun temurun. Kepercayaan terhadap pembacaan salawat menurut masyarakat dapat memudahkan kita dalam berdoa atau meminta kepada Allah swt. Karena tradisi inilah, maka wajar apabila ada beberapa masyarakat, ketika membaca salawat lebih lancar–baik segi tajwid maupun pelafalannnya–ketimbang membaca al-Quran.
Tradisi pembacaan salawat dilakukan oleh masyarakat pada berbagai upacara kehidupan. Semisal, pada kegiatan ibadah mendirikan mushalla, dimulai dengan shalat berjamaah. Setelah itu, pembacaan al-Quran dan kegiatan berikutnya adalah tahfilan yang dilengkapi dengan salawatan.
Beberapa tradisi pembacaan salawat yang dilakukan masyarakat, antara lain: upacara sirkulasi kehidupan; tasyakuran perkawinan, tasyakuran menempati rumah baru, tingkeban, aqiqahan, khitanan. Sedangkan upacara lainnya yaitu; menyambut tamu kehormatan, menyambut pengantin, upacara pemberangkatan haji, jam’iyah rutinan masyarakat, dan lain sebagainya.
Salawat memang selalu menjadi pengiring dalam berbagai acara umat muslim di Indonesia. Karena inilah, Wargadinata memberikan kajian secara mendalam tentang salawat dan terrangkum dalam buku yang berjudul Spiritual Salawat: Kajian Sosio-Sastra Nabi Muhammad SAW. Buku ini menjelaskan secara mendalam terkait tradisi salawat menyangkup pertama, aspek ibadah-spiritual yang bertujuan untuk dzikrullah, mencari syafaat di hari kiamat, barakah dan tawassul, shadaqah, ungkapan cinta Rasul, penentraman jiwa, penghormatan kepada Nabi, teladan moral, peningkatan spiritual, memperluas wawasan keagamaan.
Kedua, aspek sosio-kultural yang bertujuan untuk silaturrahim, guyub rukun, seni dan budaya Islam, sarana hiburan, dan tradisi kampung halaman. Jadi, acara pembacaan salawat selain dapat meningkat spiritual, tetapi juga sebagai fasilitator dalam mempertemukan warga untuk hidup bersama yang berwujud silaturrahim.
Salawat yang berkembang sekaranng memang identik dengan Nabi Muhammad SAW, karena saat ini beliau memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam. Di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, kecintaan mereka kepada Nabi diwujudkan dalam tradisi keagamaan yang dikenal dengan tradisi salawat. Memuliakan Nabi, menghormati dan mencintai beliau, tidak dapat dipisahkan dari lubuk hati umat Islam di seluruh dunia.
Apalagi, tradisi pembacaan salawat ini merupakan tradisi yang timbuh dan berkembang secara dinamis di kalangan umat Islam, tidak hanya di perkampungan dan pedesaan, tetapi juga di tingkat RT, RW, maupun perkumpulan organisasi masyarakat Islam. Di samping itu, tradisi pembacaan salawat dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, muali orang kampusng, pejabat, pedagang, makelar, dosen, mahasiswa, santri, dari kalangan orang Jawa sampai orang Arab.
Salawat memiliki nilai spiritual yang tinggi, bagi siapa saja yang membacanya. Bahkan salawat dapat menjadi resep dalam mengatasi kualitas hidup manusia. Selain itu, pembacaan salawat dapat meningkatkan ibadah, ketakwaan, dan kesalehan manusia.
Cerita dalam sejarah yang dijelaskan dalam kitab-kitab klasik, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan satu-satunya nabi dapat memberika syafa’at bagi umatnya. Oleh karena itu, syafa’at menjadi motivasi dan suatu perkara yang luar biasa bagi masyarakat. Keyakinan ini mendorong mereka untuk senantiasa menjalani tradisi bersalawat dan mengikuti majelis pengajian.
Kespiritualan adalah landasan utama salawat, sehingga salawat memiliki keistimewaan tersendiri. Karena keistimewaan tersebut, salawat dapat dibaca siapa saja dalam keadaan apa saja (suci atau tidak suci). Bahkan, ada ulama kuno yang menjelaskan bahwa siapa saja yang membaca atau mendengarkan bacaan salawat akan mendapat pahala dari Yang Maha Kuasa dan akan diberi syafa’at Rasulullah.
Panjang apabila kita mengkaji lebih mendalam tentang salawat. Oleh karena itu, Wargadinata anak dari pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqam Balung Jember yang lulusan Al-Azhar Kairo Mesir menyisipkan beberapa salawat yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena menurut beliau, bacaan-bacaan salawat selain bernilai spiritual tinggi, juga merupakan karya sastra yang luar biasa.
Sehingga, kehadiran buku ini juga turut memberikan konstribusi bagi umat Islam khususnya mereka yang ingin mengeluti secara mendalam sisi makna dari salawat. Sebab, kita akan lebih takjub ketika kita memahami arti dari salawat. Mendengarkan bacaannya saja kita merasa terntram dan damai, apalagi bila kita mengetahui arti dan makna yang terkandung di dalam salawat.
Sangat komprehensip memang, karya Wargadinata, sungguh amat rugi apabila kita melewat untuk tidak mengapresiasi hasil karya beliau yang mengungkap salawat yang lebih akrab dalam bahasa Indonesia. Dengan membacanya, adalah bentuk dari apresiasi tertinggi baginya. Semoga, kita mendapatkan syafaat Nabi melalui membaca dan memahami salawat bersama buku ini. Amin!
Salah Kaprah dalam Bergramatika
Judul : Salah Kaprah; Racun Pikiran, Racun Tindakan
Penulis : Dr. Maufur & Adi Ekopriyono
Penerbit : Delokomotif, Yogyakarta
Tebitan : I, 2010
Tebal : 336 halaman
ISBN : 978-979-18651-8-0
Rp : 38.000,-
Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa kita
Tanah air, Pasti jaya, Untuk Selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, Nusa bangsa, Dan Bahasa, Kita bela bersama
Kutipan lirik lagu di atas, yang diciptakan oleh L. Manik mengispirasi bahwa Indonesia memiliki satu bahasa, yakni bahasa Indonesia. Dimulai dari tahun 1901, disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. Van Ophuysen dalam Kitab Logat Melayu dijelaskan bahwa cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.
Berlanjut pada tahun 1928, tepatnya pada pengikraran Sumpah Pemuda bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perkembangan bahasa Indonesia pada saat itu mulai semakin baik, sehingga pada 1945 bahasa Indonesia memperoleh kedudukannya yang lebih pasti sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa kesatuan dan bahasa negara.
Mensintesis sejarah perkembangan bahasa Indonesia, ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjaga kemurnian bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Indonesia bukan berasal dari bahasa yang sengaja dibuat oleh awak negara, melaikan berasal dari budaya bahasa yang dimatangkan menjadi bahasa negara. Patas, apabila bahasa Indonesia kerap mengalami penyempurnaan dari proses-proses penyerapan bahasa asing atau yang lainnya.
Akibatnya, bahasa Indonesia dalam proses penyempurnaan mendapat pengaruh-pengaruh bahasa asing, bukan hal yang mudah. Sebab, sampai saat ini bahasa Indonesia masih belum cukup dewasa untuk menjadi bahasa yang kokoh selamanya.
Mengarifi NU dari Khittohnya
Judul : NU dan Keindonesiaan
Penulis : Mohamad Sobary
Penerbit : PT Gramedia Pusat Utama, Jakarta
Tebitan : I, 2010
Tebal : xviii + 258 halaman
ISBN : 978-979-22-5627-7
Nahdlatul Ulama (NU), organisasi tertua yang baru saja melakukan muktamar ke-32 di Makassar tanggal 22-27 Maret 2010. Lanjut, pembentukan pengurus oleh tim formatur terpilih yang akhir-akhir ini membawa banyak perdebatan polemik atas susunan kepengurusan Pengurus Besar Nahhdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015.
Ungkapan bijak dalam menyikapi polemik yang sempat dilontarkan oleh anggota formatur mewakili Indonesia timur yang juga Ketua Pengurus Wilayah NU Nusa Tenggara Timur Abdul Kadir Makarim di Jakarta. Beliau menegaskan untuk berupaya menjaga keutuhan NU itu harus dilakukan dengan menegakkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD/ART NU yang telah mengatur secara jelas soal kepengurusan NU (KOMPAS.com, 22/4/2010).
Kendati demikian, isu-isu yang tercatat langsung ke raut NU bukan sebuah tinta hitam menetes ke dalam bak air yang karena tinta tersebut perlu adanya pergantian isi. Melainkan adalah polemik penyubur atas kebesaran NU dengan identitasnya sebagai organisasi tertua di Indonesia. Maka, sangatlah perlu untuk mengetahui jalan cerita gerak NU yang mencitra di Indonesia hingga saat ini. Mengapa demikian?
Patut dibanggakan dan diapresiasi, sebuah pernyataan tentang harapan besar terhadap peran ideal NU yang merupakan alur cerita NU di bidang kebudayaan, keagamaan, politik, dan juga ekonomi kerakyatan yang diolahdatakan dan terumuskan dalam sebuah rangkuman pendapat NU dan Keindonesian karya Mohamad Sobary, seorang kolumnis yang mengulas persoalan-persoalan kebudayaan dan pembelaan terhadap kaum tertindas dan lemah.
Dorongan Kritis
Beberapa aspirasi yang terkumpul dalam buku ini memberikan dorongan kritis kepada para pemimpin baru NU—terpilih melalui muktamar ke-32—untuk dapat dijadikan landasan perumusan kebijakan publik dalam satu periode kepemimpinan.
Meskipun rambu-rambu kuning bertanda, “tanaman belum berbuah tetapi sudah diserang benalu; kepemimpinan belum berjalan tetapi sudah diuji kesabaran—seperti isu-isu yang tercatat dibeberapa pekan lalu”. Berpikir kritis konstruktif dengan langkah-langkah arif sesuai AD/ART NU kiranya dipupuk dan dijadikan pijakan sebelum lama kepengurusan satu periode dari mandataris muktamar ke-32 berjalan.
Dorongan, NU sejatinya harus kembali ke khittoh-nya lagi. Ungkapan apik yang beberapa tahun lalu Cak Nur, asal Jombang secara tajam pemikirannya: “Islam yes, partai Islam no”. Mbok yo NU tetap menjadi organisasi sosial keagamaan yang kiprah utamanya mempererat ukhuwah islamiah umat, terutama di bidang pendidikan dan sosial-ekonomi.
Hal senada harapan seorang romo “Mudji Sutrisno”, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara berpendapat, semogalah NU yang rahmatan lil ‘alamin terus mewujud dan menemukan aktualisasi seturut perkembangan zaman. Maka pemimpin NU yang mendalam dan kuat dalam tradisi kitabnya, sekaligus pengayom, pemberi ruang-ruang hidup bagi para nahdliyin, serta perekat untuk Indonesia yang majemuk menjadi dambaan.
Seperti dahulu, keperpihakan NU sebagai salah satu jalan raya menggapai pemikiran dan nurani rakyat. Realita, para kiai dan satri menjadi tumpuan masyarakat dari kegundahan, kepahitan, dan kepedihan sebagai rakyat jajahan. Sebab, kiai dan santri yang memahami apa artinya belenggu feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme yang mencederai kemanusiaan.
Masa itulah, NU berperan besar dalam perjuangan pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia dalam mematahkan artinya belenggu feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme, serta menjadi pelopor Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terbukti, perjuangan NU tersebut kita ketahui dipimpin oleh ulama besar Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan K.H. A. Wahid Hasyim, yang semangat perjuangan kedua ulama besar NU itu diteruskan oleh K.H. Abdurrahman Wahid (pangilan akrabnya Gus Dur) dalam ruang dan dimensi yang berbeda saat beberapa kiprah Gus Dur.
Berbeda saat ini, setelah tokoh fenomenal Gus Dur yang pemikirannya menyatukan loyalitas intuisi (naqliyah), keterbukaan rasional (aqliyah), dan otentisitas empiris, siapakah tokoh representatif penganti Gus Dur? Sebagaimana kegundahan Giripurwa, staf pengajar Fisipol Universitas Bengkulu, beliau mencoba mempopulerkan Gus Mus (Mustofa Bisri) dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang berasal dari golongan nadhliyin, sebab soal spirit dasarnya dalam menyikapi dan menindaki kebajikan cukup bagus, meski tidak sereplika pribadi Gus Dur.
Kembali ke Khittoh
Adalah khittoh, Prof. Dr. M. Bambang Pranomo, dosen Sosiologi Agama UIN, Ciputat-Jakarta dalam NU dan Keindonesiaan, menyebutkan, ketika isu terorisme menjadi perhatian dunia dan Islam menjadi tertuduh, sebetulnya tugas NU sangat besar untuk menetralkan tuduhan Islam sebagai agama teroris tersebut. Sebab, prinsip umum ajaran sosial-politik NU yang mengambil pola Sunni, yakni sikap tawassuth, tawazun, dan tasamuh serta al-mukhafadhoh bi al-qodim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah, kiranya sangat penting dalam upaya membendung gerakan terorisme yang mengatasnamakan Islam.
Tesis berbeda, ketika Benny Subinto, peneliti dalam sumber yang sama, ia mengutip tulisan Clifford Geertz, 1958, berjudul “The Javanese Kijaji: the Changing Role of a Cultural Broker”, dikatakan bahwa sekarang para kiai—tidak lain salah satunya adalah kiai NU dan santri NU—berperan secara instrumental menuju masyakat Indonesia baru. Berbeda dengan masa sebelumnya, masa kolonialisme Hindia Belanda, para kiai menjalankan fungsi sebagai cultural broker untuk menjembatani komunitas NU yang agraris-tradisional dengan elite nasional yang modern.
Geertz membayangkan, jika saja para kiai NU, khususnya di Jawa, tidak menjalankan fungsi kiai sebagai cultural broker, sangat boleh jadi Islam di Indonesia akan mengikuti kecenderungan politik negara-negara Timur Tengah yang penuh dengan korupsi, tidak ada tanggung jawab, dengan pemimpin yang sekuler tetapi hipokrit secara agama.
Benar, ketika NU harus kembali ke ruh yang dahulu. Khittoh yang lama juga tidak dikatakan jadul (kuno), bahkan fungsi kiai dahulu juga tidak tertinggal dengan yang namanya modernitas.
Pasalnya, khittoh NU tidak diragukan lagi dalam kenegaraan NKRI, kiranya sudah final. Tak pelak dengan keteguhan dasar kemasyarakatan NU terhadap nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, toleransi, dan hidup berdampingan secara aman, nyaman dan damai dalam pluralisme kehidupan.
Cukup lama, gagasan “NU kembali ke Khittoh 1926”. Pada muktamar ke-27 di Situbondo (Jatim) saja diputuskan NU kembali ke Khittoh 1926, Keputusan Muktamar XXVII NU No. 02/MNU-27/1984 yang keputusan tersebut juga berangkat dari hasil muktamar ke-26 di Semarang tahun 1979. Kemudian, dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta 1989, keputusan kembali ke Khittoh 1926 semakin dipertegas, dan semakin dimantapkan.
Dengan adanya Muktamar NU ke-32 kemarin, kiranya para pemimpin NU pada periode 2010-2015 menjadi tumpuan atas harapan-harapan masyarakat dan umat nahdliyin khususnya. Sebuah harapan, kritikan, aspirasi, dan realita yang terangkup dalam NU dan Keindonesian cukup menjadi catatan dan tugas kepada kepemimpinan NU pada satu periode saat ini.
Mudah-mudahan cita-cita NU dan nahdliyin-nya dapat tercapai yang berimplikasi pada keamanan dan kenyamanan hidup di masyarakat yang notabene negara Pancasila ini. Semoga.[]







