Categories
Thinker

Seleksi Pendirian Sekolah Baru

Kasat-kusut ijazah palzu Universitas Teknologi Surabaya (UTS0 tak dikantongi dengan ramah oleh pihak Kopertis (Koordinator Pergurruaan Tinggi) wilayah VII terkait proses penyidikan kasus UTS dan tugas tanggung jawab dari Kopertis. (Jawa Pos, 20/10/2008)
Banyaknya varian model layanan pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruaan Tinggi telah mewarnai dunia pendidikan. Jika diperhatikan pendirian dan pelaksanaan sekolah atau kampus yang baru berdiri hendaknya tidak asal-asalan ‘bin salabin’ jadi. Untuk itu, pihak Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis semestinya menyeleksi dan mengawasi betul prosedur pendirian dan pelaksanaan layanan pendidikan.
Hal ini muncul clotehan, bahwa sekolah dan kampus bukan sebagai layanan pendidikan tetapi sebagai lahan bisnis bagi pelayan pendidikan –pihak pengelola pendidikan– yang menggiurkan. Seperti sikap Kopertis sendiri, kemarin dalam kasus UTS menunjukkan sikap tidak profesionalannya. Sehingga timbul kekecewaan yang berakibat dugaan adanya hal yang tidak wajar pada tubuh oranisasi Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis.
Jangan sampai, kasus tersebut terkesan bahwa pihak pengurus dan pegawai Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis naik pangkat juga karena ijazah palsu. Sehingga malu untuk mengusut kasus UTS, karena takut ketahuaan juga.

—————————————–
Oleh Bayu Tara Wijaya, PPTQ-Lamongan
Categories
PUISI

Kapan Lagi

Kemarin beda, Tuhan
Kemarin, beda Tuhan

Kemarin tak sama, Tuhan
Kemarin, tak sama Tuhan

Kemarin sayangmu, Tuhan
Kemarin, sayangmu Tuhan

Kemarin cintamu, Tuhan
Kemarin, cintamu Tuhan

Tapi

Sekarang bencimu, Tuhan
Sekarang, bencimu Tuhan

Dan sekarang, muakmu Tuhan

Tuhan?
Kapan lagi Tuhan?
Dan kapan lagi Tuhan?
Oh Tuhan.

Lamongan, 31 Agustus 2008

Categories
PUISI

Air Penyejuk

Siulan terucap dari paruh burung

Menyuarakan kemerdekaan

Kebebasan ingin diraihnya

Kepedihan pun beralih pihak

Kemampuan bersemayang berbeda

Kekuatan gerak pun demikian

Badai menerjang

Pasir membentang

Sadar atau tidak tahu

Kesatuan bisa merasa

Balasan pasti ada

Gunung masih hidup

Siraman air adalah penyejuk tanah

Izin adalah ridho ilahi

Malang, 25 Maret 2008

Categories
Thinker

Ramadhan: Kambing Hitamnya

Ramadhan: Kambing Hitamnya

Barang siapa yang bahagia dengan kedatangan bulan ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka” (al-Hadits as-Shahih).

Ramadhan memformulasi orang Islam bahwa ramadhan sebagai pionir dari bulan-bulan selama setahun. Paradigma bulan Ramadhan memiliki substansi bulan ‘kamil’ di antara bulan-bulan lainnya. Selain itu, desain paradok yang menyatakan bahwa setiap gerak-gerik manusia dilipat gandakan menjadi seribu kali gerak baik maupun buruk untuk nilai spiritualias. Pantas jika kedatangan ramadhan disambut sakral untuk dirayakan dengan istilah jawa ‘megengan’ atau ‘syukuran’. Indonesia mayoritas beragama Islam, mesti tidak tersentak ketika memapas seluruh sudut wilayah bergoyang menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Walaupun, menyesalkan ketika penyambutannya tidak pula dibarengi dengan pengenjotan aspek spiritualitas dari efek ‘megengan’ yang bernampak ‘orak-orakan’.

Miniatur semarak gelegar ramadhan yang dirayakan meriah, tidak satu pun baik individu maupun golongan yang memiliki aliran darah dan utamanya yang mengamalkan syariat Islam bisa dipastikan berbahagia dengan kedatangan ramadhan. Realita masyarakat Islam telah berbondong-bondong merayakan kebahagiaan datangnya ramadhan, mulai dari aspek rohani maupun aspek jasmani diset-up nuansa Islami. Untuk itu, pantas bila Indonesia lebih ramai pada bulan-bulan Ramadhan ketimbang hari kemerdekaan Indonesia dan bahkan kemeriaan ramadhan mengalahkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Nuansa-nuansa ramadhan lebih mengudara pada pribadi muslim.

Kenampakkan peristiwa yang terjadi dalam menyambut ramadhan, akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan ramadhan. Peristiwa penertiban PKL oleh Satpol PP Surabaya di tiga kecamatan, yaitu Tegalsari, Wonokromo, dan Sawahan yang diamati oleh pengamat sosial dari Universitas Airlangga dan berpendapat bahwa niat pembersihan PKL oleh Pemerintahan Kota Surabaya tidak konsisten sebab pengususran PKL tidak disertai dengan relokasi penataan ruang kembali untuk PKL (Kompas, 28 Agustus 2008).

Hal lain yang sepadan dan sudah mentradisi yakni setiap menjelang bulan Ramadhan maupun menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Kaum menengah ke bawah ataupun kaum lain yang selalu disulitkan dengan melejitnya harga barang sadang, pangan, dan papan. Alasannya juga sama, bahwa mumpung ramadhan tiba maka perlu dikeruk kesempatan emasnya. Memang sangat koheren, ketika mendekati berakhirnya ramadhan yakni para masyarakat berduyun-duyun untuk berbelanja banyak guna mempersiapkan hari raya idul fitri.

Kambing Hitam

Sangat jelas, sebuah realita kebanyakan mengatasnamakan karena ramadhan. Baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan pihak-pihak yang terkait. Sangatlah janggal, ketika ramadhan menjadi kambing hitamnya. Sebab wujud ramadhan bukan menjadi bulan tameng dari perilaku manusia terhadap manusia tapi menjadi ril menuju rahmat Tuhan.

Ini wajar, kita tengok sebuah perkataan Ustman al-Khuwawi dalam kitab durotun nashihin bahwa derajat orang berpuasa memiliki tiga derajat. Pertama, puasanya orang awwam dan ketika mereka berpuasa hanyalah paham berpuasa sebagaimana nampakannya tidak secara perinci paham bagaimana puasa yang baik. Akhirnya, mereka dalam berpuasa hanya menjaga makan dan minum saja dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Kedua, puasanya orang shaleh. Orang shaleh dalam menjalankan ibadah puasa sangat berbeda jauh dengan golongan pertama. Orang shaleh berpuasa bukan hanya menjaga dari makan dan minum secara jasmani, tetapi juga menjaga rohani yang terkover dalam sikap jiwa atau hati. Artinya, sang shaleh tetap menjaga jasmani maupun rohani. Karena pada dasarnya berpuasa bertujuan untuk memerdekakan hati dari sikap chaos.

Ketiga, orang yang berpuasa dan hatinya hanya ingat kepada Tuhan. Sehingga urusan yang dilakukan oleh mereka ini hanya bertujuan untuk Tuhan. Bahkan urusan yang lain dapat tergantikan dengan urusan mengingat Tuhan. Katakan saja, orang yang seperti ini adalah orang yang pasrah kepada-Nya. Sikap totalitas begitu melekat, sehingga orang yang dekat bisa merasa heran dengan tingkah tidak wajar yang dilakukan mereka karena kedekatan alam disekelilingnya belum memahami keberadaan orang seperti ini.

Beralas-alasan

Paparan dari ketiga derajat orang berpuasa, dan yang paling sering nampak pada manusia adalah bagian pertama. Banyak orang yang menyuarakan shaleh tapi sikapnya seperti orang awwam –tidak shaleh. Banyak orang yang bisa bertutur tapi tuturan hanya tetap sebagai tuturan tidak menaklikkan perubuatan. Untuk itulah, pantas jika di bulan Ramadhan orang yang melisankan diri sebagai yang terbaik masih saja tidak setara dengan penyuaraannya. Aktivitas puasa yang dilakukan selalu saja hanya pada aspek jasmani menahan lapar dan dahaga. Dari aspek rohani hampir terlupakan untuk berpuasa pula. Sikap yang saling mencela masih ada, sikap yang saling iri masih ada, sikap beralas-alasan juga masih ada, dan sikap menyalahkan juga masih ada.

Mungkin, hanya jawaban warna-warni manusialah yang memberikan jawaban benar jika ramadhan selamanya akan menjadi kambing hitam dalam beralasan. Sedikit-sedikit karena ramadhan. Tidak ada agenda apa-apa jika tidak pada bulan ramadhan. Tidak ada aktivitas rutin membaca al-qur’an atau ‘tadarusan’ jika tidak ramadhan. Tidak rutin bershodaqoh –pamrih untuk dikenal dan dikenang– jika tidak ramadhan. Sikap demikian yang perlu kita pangkas. Semula sikap berpikir yang tidak percaya pada badan amil zakat membuat para dermawan gemar mengecer harta dengan kepanitiaan sendiri. Maka tidak ada yang dipersalahkan jika kecelakaan yang diakibatkan sikap egois memimpin demi merebut panggilan ‘dermawan’.

Seyogyanya, ramadhan datang memberikan pancingan awal untuk berkiprah yang lebih baik, bukan setelah ramadhan aktivitas baik menjadi stagnan (kemandekan) dan menunggu berputarnya waktu ramadhan tahun depan. Semoga kelancaran usaha dan doa menghantarkan kita pada cita-cita secara simultan ke depan.

***

Oleh, Bayu Tara Wijaya

Categories
Buku

Transformation of Education in Global Perspective

Transformasi Pendidikan dalam Perspektif Global

Judul : Pendidikan Transformatif

Penulis : Musthofa Rembagy, M.Si.

Penerbit : TERAS, Jogjakarta

Cetakan : I, April 2008

Tebal : xxxv + 241 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Problematika pendidikan Indonesia dewasa ini saling timpang tindih. Hal ini seiring dengan konteks zamannya dan hingga sekarang masih diyakini sebagai aspek penting kehidupan bangsa untuk dijadikan strategi dalam mengangkat derajat manusia Indonesia melalui pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Meskipun hingga kini dunia pendidikan kita dililiti persoalan-persoalan yang dilematis dan belum terselesaikan secara menyeluruh.
Mengingat fenomena masyarakat dewasa ini yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat global dengan segala tantangan perkembangan zaman. Oleh karena itu, penting kiranya dunia pendidikan perlu melaksanakan kontekstualisasi dalam upaya transformasi untuk merevitalisasikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terkover dalam dunia pendidikan kita.
Kedatangannya, arus global menjadi pergulatan sengit pendidikan kita yang menjadi genting untuk terbawa arus tersebut. Realitannya, globalisasi bisa menjadikan Sumber Daya Manusia (SDM) tinggi dan juga bisa menjadikan Sumber Daya Manusia (SDM) rendah. Semakin seorang kuat keinginannya, semakin mudah jalannya karena globalisasi. Sebagaimana bangsa Indonesia tentu sudah sepantasnya memiliki rasa tanggung jawab terhadap masa depan generasi (anak bangsa) sehingga mereka mampu membentengi diri dalam menghadapi globalisasi dan membawanya kepeningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Tidak luput, dalam konteks masa depan yang pastinya akan didominasi oleh arus kehidupan global. Menurut Mochtar bahwa dunia pendidikan membutuhkan proses transformasi supaya pendidikan mampu memberikan bekal pada generasi mendatang. Pendidikan Transformatif adalah perubahan wajah dan watak yang terjadi pada sistem pendidikan. Kalau pendidikan masih mengandalkan aspek kongnitif semata maka dunia pendidikan kita tentu akan ketinggalan jauh dengan bangsa-bangsa lain.
Saat ini, coba kita ingat kembali bahwa transformasi kurikulum kita dari CBSA hingga KTSP merupakan perwujudan dari transformasi. Hal ini untuk menciptakan peserta didik agar memiliki kesadaran kritis dalam melihat kenyataan-kenyataan dalam kehidupan global dengan memperhatikan nilai-nilai humanis yang ada. Orientasinya, bukan kecerdasan semata, atau keterampilan saja namun diarahkan siap menghadapi persoalan-persolan global yang menjadi persoalan umat manusia.
Secara signifikan, posisi pendidikan menempati model pendidikan yang dilakukan secara sadar dan terencana dengan baik dalam mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan konteks zaman yang dihadapinya. Katakan saja, Pendidikan Transformatif mengajarkan pendidikan yang tidak bersifat stagnasi (kemandekan).
Sebagai langkah strategis, dunia pendidikan harus melakukan rekonstruksi pemikiran menuju pemikiran yang lebih transformatif dan berwawasan global, yakni sebuah pemikiran yang mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini yang di antaranya peluang dan tantangannya dalam keberlangsungan hidup manusia serta mampu mengambil sikap yang berwawasan masa depan dengan tetap mengawali nilai-nilai humanis dalam pendidikan.
Cita-cita pendidikan kita sekarang dapat menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran kritis dengan membawa perubahan sosial di masyarakat begitu cepat. Tentunya pemikiran pendidikan kita bisa mengarah pada pendidikan yang bertranformatif dan berwawasan global. Realitanya, ternyata dunia pendidikan kita masih didominasi oleh proses penggalihan ilmu pengetahuan semata dengan menghasilkan produk manusia mekanik yang tidak memiliki kesadaran kritis terhadap kondisi riil yang terjadi di masyarakat, dan terkait dengan fitrah manusia sebagai sumber masalah.
Selanjutnya, dalam konteks pendidikan kritis peserta didik dibimbing supaya struktur sosial, ekonomi, budaya, agama dan politik tidak diterima begitu saja, tetapi justru dipersoalkan, pendidikan menolong peserta didik mengkritik kenyataan struktural yang tidak adil. Perlu dipahami bahwa pendidikan kritis itu merupakan revolusi teori dan praktik dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan kritis memiliki ciri umum yakni, adanya dialog antara pendidik dan peserta didik, kontruksi sosial sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan sebagai pembebasan dari sebuah sistem, dan pendidikan sebagai wujub perjuangan.
Kita baca ulang sistem pendidikan nasional kita yang berorientasi pada kepentingan pemerintah dan bukan untuk kepentingan anak didik, pasar, dan pengguna jasa pendidikan atau masyarakat. Alasannya, strategi pendidikan nasional adalah untuk membekali generasi muda agar mampu membawa bangsa dan negara ini cepat sejajar dengan bangsa dan negara yang lain lebih maju. Namun, dalam implikasi perkembangannya tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Keahlian dan penguasaan IPTEK yang diperoleh seusai menamatkan studinya berada dalam posisi “dimiliki” secara individual dan “siap dijual” melalui kontrak kerja demi uang, bukan dalam posisi “menjadikan diri” sebagai ilmuan yang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan, bangsa, dan negara.
Seperti itulah gejolak pendidikan yang sering kita jumpai saat ini. Uang dan kekayaan materi benar-benar telah menjadi kekuatan, kekuasaan, dan alat kontrol kehidupan yang mengantarkan individu yang bersangkutan ke tempat lebih tinggi, menyenangkan, aman, dan terhormat. Tetapi, semua itu hanya kembali pada individual tidak kepada abdian pada bangsa dan negara.
Akhirnya, Musthofa Rembangy sebagai pemberi gagasan visoner yang mengulas secara konprehensif problematika pendidikan dalam abad ini dengan konteks kebijakan kritis. Setidaknya, Pendidikan Transformatif bisa memberikan gagasan yang lebih sinergik dalam era globalisasi. Sebab, dunia semakin hari bukan semakin lambat dalam berkembang. Untuk itulah mempersiapkan generasi yang lebih kritis di tengah pusaran arus globalisasi perlu ditanamkan sejak dini.
Telah dimuat di Duta Masyarakat Edisi 29 Agustus 2008
Categories
Buku

Membangun Sistem Pendidikan Islam Transformatif

Judul : Pendidikan Islam Transformatif
Penulis : Dr. Mahmud Arif
Penerbit : LKiS Yogjakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 310 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

“Idealistik terhadap Islam adalah kependidikan Islam saat ini. Budaya dan tradisi pemikir Islam pada masa keemasan merupakan model acuan yang sudah paten, tabu dikaji ulang, dan perlu diikuti secara taklidiah.”
Pernyataan itu adalah penjelasan kependidikan Islam yang lemah akan perkembangan yang transenden. Melirik peradaban bangsa non Islam atau pendidikan di bawah naungan non Islam dibilang lebih maju dalam mencapai perkembangan dan pemekaran. Sikap yang tidak mau menyerah atau idealistik lebih dimiliki pihak non Islam ketimbang Islam sendiri.
Mencuatnya bangunan-bangunan megah, ilmuwan-ilmuwan terkenal dan terpandai semuanya tidak jarang dari warga non Islam atau dari bangsa Barat sampai mendali-mendali kejuaraan diraup oleh mereka. Bukankah, ini sebuah kebanggaan yang mereka dapati dan wajar jika Islam juga bangga dengan kemenangan mendapati idealistiknya. Sampai kapan konsep pendidikan warisan-warisan zaman keemasan Islam tergeletak sebagai acuan baku? Oleh karena itu, tradisi seperti itu semenjak sekarang perlu kita rekonstruksi ulang lagi dengan tidak mengurangi ‘adab’ aturan yang sudah ada dan resmi dalam sumber-sumber hukum Islam.
Ulama salaf menganggap warisan adalah amanah, jadi juga perlu dijaga tidak boleh mengubah-ubah amanah yang ditinggalkan oleh para pendahulu Islam. Kita release kembali, amanah kita atau amanah perkembangan dan pemekaran. Jika dikatakan amanah seperti itu, tidak ada salahnya jika menggodok ulang sebuah tradisi yang ­getol itu.
Pada abad III-V H, pemikiran Islam mencapai zaman perkembangan aliran konservatif, yaitu aliran yang cenderung bersifat “murni” keagamaan, berorientasi kuat pada moral, etika dan mengambil jarak terhadap pengaruh rasional dari luar atau bisa dikatakan epistemologi bayani. Efeknya pertautan antara epistemologi bayani dengan pendidikan Islam terrasa minim apresiasi terhadap keilmuan intelektual. Sistem dikotomik ini menjadi warisan turun-temurun, sehingga keilmuan intelektual tidak meresap jauh ke dalam kesadaran karena dominasi “nalar” teologis.
Pada dataran teoritik-konseptual, implikasi bayani dapat dilihat pada stagnasi (kemandekan) konsep pendidikan Islam. Formulasi pendidikan Islam sebagai matrik konseptual aktivitas kultur-performatif yang berkaitan langsung dengan dinamika praktis sosial-budaya. Kita perlu pertegas jati diri Islam untuk penyadaran dan pemberdayaan epistemologi pendidikan Islam –yang disebut dengan epistemologi pendidika Islam transformatif– dengan memadukan secara sinergis-dialektis dalam kerangka humanisasi, leberasi, dan transendensi.
Semenjak masa keemasan Islam usai, “intelektulisme Islam” mengalami kemandulan pendidikan Islam. Dalam hal ini, pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses pembudayaan, yaitu proses pengembangan dan pemekaran potensi kreatif yang berlangsung dalam pengalan sejarah budaya masyarakat muslim tertentu. Melalui pendidikan Islam, budaya masyarakat muslim semestinya bisa tetap eksis, dinamis, dan progresif dan bukan justru sebaliknya, statis dan stagnan. Sebab, jika kondisi statis dan stagnan berlangsung maka “intelektualisme Islam” sebagai esensi pendidikan Islam berarti telah menyurut.
Hal ini terbukti hingga kini, nalar bayani masih begitu mendominasi di dunia pemikiran dan penduduk Islam. Tak pelak lagi, jika sikap intoleran dan ortodoksi agama pada gilirannya dianggap sebagai dua faktor yang paling bertanggung jawab atas musnahnya lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang pernah jaya di dunia Islam. Terkait pentingnya pendidikan Islam, paling tidak terdapat dua model praktis yang perlu dikembangkan yaitu pertama, model tajdid yang cenderung bercorak substraktivistik sehingga pendidikan Islam bisa mengapresiasikan pengembangan pemikiran kreatif-kontekstual, pembaharuan, dan rekosntruksi sosial. Kedua, model tathbiq yang cenderung bercorak totalitas dan tekstual.
Kedua model tersebut, akan mengantarkan pada pendidikan Islam yang transformatif. Lembaga-lembaga pendidikan atau pendidiknya perlu memiliki model pembelajaran yang ‘multi’, artinya bukan sekedar teknologinya yang maju dan berkembang tetapi juga sisi intelektualismenya juga dikembangkan.
Pendidikan Islam Transformatif, merupakan hasil penelitian (disertasi) yang secara epistemologi dapat mengapresiasi dan menyinergiskan antartiga sumber pengetahuan yakni indera, akal dan wahyu untuk mengeksplorasi dan merespon akselerasi dinamika dan keragaman realitas empiris sehingga pendidikan Islam tidak lagi dinilai sebagai produk final dan eksklusif.
Dengan hubungan yang saling mengisi tersebut, watak holistik dan integralistik dapat dikembalikan kepangkuan epistemologi pendidikan Islam. Mengingat hal yang paling terlantarkan di dalam sejarah pemikiran Islam hingga dewasa ini adalah prinsip saling melengkapi.
Selain itu juga, tawaran penintegrasian antara epistemologi bayani,atau “perspektif” dan “metode” dengan epistemologi irfani atau “intuisi” serta dengan epistemologi burhani atau “rasionalitas” memberi solutif pendidikan Islam yang lebih performance dihadapan dunia. Realisme-praktis dalam pengintegrasian tentunya tidak lepas dengan adanya historis-filosofis sebagai ‘tameng’ penjaga keluwesan pemikiran Islam.
Walhasil, sebuah karya bisa tampil lebih sinergi jika kandungannya merupakan hasil dari buah hasil penelitian. Tidak diragukan jika layouter sebagai retorika dalam berkarya yang tidak asal-asalan.

*) Bayu Tara Wijaya
Staff pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang

(telah dimuat di Koran Pendidikan Edisi 8-13 Oktober 2008