Categories
Thinker

Maju Karena Penelitian

Sebuah kajian teori dapat menjadi teruji validitasnya, ketika sebuah teori tersebut dapat dibuktikan. Sebagai penerus anak bangsa yang sudah banyak mengenal para pakar ilmuwan diberbagai bidang, tentunya tidak menyulitkan kita untuk memperoleh sebuah pengetahuan. Tetapi, sebuah pengetahuan akan stagnan dalam dogma pemikiran kosong jika tidak segera mungkin dikelolah. Oleh karena itu, mengelolah sebuah pengetahuan adalah jalan terpenting dalam meningkatkan keilmuan. Untuk itu, beragam pengetahuan yang kita peroleh akan sia-sia tidak membuahkan hasil keilmuan baru dan tidak bisa memberikan kemanfaatan pada kepentingan umat manusia.
Salah satu wadah pengembangan pengetahuan dalam rangka meningkatkan keilmuan adalah dengan mengadakan pengajian ulang hasil pengetahuan kita. Kita putar ulang sejarah berkembang manusia. Mereka berkembang karena adanya proses berfikir. Terungkap oleh filsuf modern Rene Descartes yang memberikan Discourses Method dalam berpikir yang berintikan pada konsep “Cogito Ergo Sum” atau “aku berpikir maka aku ada”.
Dari sini, langkah handal yang dipakai Descartes hanya kemampuan mengoptimasi otak berpikir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Sanapiah Faisal pada Sekolah Penelitian Umum yang diadakan oleh Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Malang berpendapat bahwa selama otak Anda normal tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan seorang peneliti sendiri yang tahu jawaban yang ia teliti.
Kesempatan yang merugi bagi kita jika tidak bisa mengembangkan pengetahuan menjadi sebuah ilmu. Sehingga dikatakan penelitian adalah salah satu dari realita dan prosedur dalam menguji sebuah pengetahuan-pengetahuan yang hanya berupa teori-teori.
Tepat sekali, Sekolah Penelitian yang diselenggarakan Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Malang pada pertengahan Desember lalu. Terlihat dari para peserta yang berpartisipasi tidak lain adalah mahasiswa umum maupun juga guru dari berbagai perwakilan kampus-kampus dan sekolah di Malang raya.
Respon baik dari para mahasiswa yang ada di Malang membuktikan bahwa keinginan mereka untuk mengembangakan keilmuan mereka melalui penelitian sangat tinggi. Sebab, orang pintar bukan hanya dipandang pada aspek teoritis tetapi juga aspek pragmatis sebagaimana yang dilakukan para peneliti adalah membukti sebuah teoritis yang dapat teruji secara pragmatis.
Dari sekian ilmuwan Indonesia, mendapatkan gelar ilmuwan atau professor dengan ide pemikian mereka yang teruji melalui penelitian. Sebagai contoh bagi kita sebagai penerus bangsa yang bercita-cita membangun sumber daya manusia lebih meningkat, hendak mempertimbangkan sikap bijak yang dilakukan para ilmuwan kita yakni penelitian.
Kita koreksi, berapa banyak ahli peneliti Indonesia dengan peneliti negara lain. Indonesia masih belum mencapai angka tertinggi dalam aspek penelitian apalagi aspek lainnya. Sebab, sebagian besar masalah dapat dipecahkan karena adanya sebuah penelitian. Dengan demikian, adanya sekolah penelitian dapat membantu kita untuk mengejar ketinggalan dari negera-negara yang mendahului negara kita. Sehinnga kesempatan negara kita untuk maju dapat diraih. Semoga.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya dimuat di SURYA 28 Desember 2008
Categories
Thinker

Tutup Catatan, Buka Lembaran

Yang berlalu biarlah berlalu”. Kata ini sering kita gunakan tetapi kita selalu membiarkan kata tersebut semakin berlalu. Banyak orang yang memakai kata tersebut sebagai tameng dalam menghadapi masalah. Melupakan masalah dan menenangkan suasana dengan ucapan “biarlah berlalu”. Mungkin dengan membiarkan masa lalu tetap berlalu kita tidak akan terbebani hal dahulu. Tetapi dengan membiarkan atau melalaikan itu sama artinya dengan melupakan sejarah. Boleh saja kita membicarakan kata tersebut tetapi cukup hanya sebagai ucapan kata.

Sikap bijak dalam mengambil sebuah keputusan harus dimiliki oleh setiap orang. Oleh karenanya, sebagai sang bijak, tentunya dalam bersikap termasuk berkata tentunya sudah dalam proses matang. Sehingga kecil kemungkinan untuk tidak disadari akan hal yang terjadi secara tiba-tiba. Salah satunya adalah kalimat-kalimat janji yang sering kali terucap dari ‘paruh’ kita, akan tetapi ucapan usai begitu saja tanpa tanggung jawab kongkret.

Pada penutupan akhir sebuah pertanggungjawaban sering kali tidak ada yang 90% sukses dari rencana. Kegagalan dan keberhasilan kini ditutup dengan kata “yang berlalu biarlah berlalu”. Seraya tidak ada lagi yang harus dievaluasi lagi. Untuk itu, sebagai pebijak sekecil apapun suatu hal, tentu akan sangat berarti dalam hal lain. Maka, yang berlalu pun masih dibutuhkan.

Tidak ada yang sia-sia, semuanya masih ada artinya, tidak akan pernah berlalu. Kita sadar, bahwa kita menjadi dewasa karena beberapa hal, baik hal yang kecil apalagi hal yang besar. Bela kata kita adalah jangan anggap semuanya tidak ada artinya.

Sebuah catatan kecil dipenghujung masehi yang kian hari ramai dengan warna-warni masalah. Wujud nyata masalah yang tiap hari semakin bertambah. Mulai masalah pribadi hingga masalah kelompok. Semua itu akan tidak ada artinya apabila kita setelah mencatat, dan kita membuang begitu saja catatan harian kita.

Cukup singkat, apakah kita akan tetap seperti itu dalam menulis harian? Tentu buku lembaran yang baru akan sia-sia nantinya. Percuma tak ada artinya jika kita mencatat, lantas apakah selamanya seperti ini. Sang bijak bukanlah seperti itu dalam bersikap. Kesalahan dalam catatan menjadi dan merupakan instrumen langkah ke depan. Rencana strategi yang kita susun tentu tidak lepas dari hal yang lalu.

Singkat kata, buka lembaran dan bercerminlah pada catatan yang lalu. Sebuah catatan menjadi ukuran sikap. Sebab, refleksi sangat dibutuhkan dan refleksi membutuhkan catatan. Maka, sia-sialah kamu jika menghilangkan catatan harian kita. Kita jangan membuka lembaran baru apabila kita tidak memilki catatan yang lalu. Hal itu, akan percuma karena kita tidak cukup tahu bagaimana tahun lalu?

Malang, 31 Desember 2008.

Ditulis oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Falsafah Kemerdekaan Dulu (sejarah)

Wenehono teken marang wong kang wuto

Wenehono pangan marang wong kang kaluween
Wenehono payung marang wong kang kudanan
Wenehono sandang marang wong kang kawudonan
Ukiran kayu berada di samping makam Sunan Drajat adalah falsafah bijak dari bahasa Jawa yang dibawa oleh seorang pemimpin bijak. Falsafah tersebut memunculkan kharisma perdamain dan kemerdekaan pada zamannya. Dulu (sejarah) banyak kisah perjalanan para wali terkenal dengan sikap bijak mereka. Ajaran atau falsafah mereka dijadikan sebagai tombak runcing melawan ke-bathil-an. Sehingga tidak ada kemenangan puncak kecuali kemenangan jaya yang bijak.
Dulu (sejarah) beda dengan sekarang, negara tandus akan pemimpin yang mampu membawa perubahan lebih maju. Secara nyata, lingkungan terlihat indah dengan kemegahan perubahan pembangunan. Tapi kemegahan bukan nampak di mata melainkan pada nilai estetika. Hal berbeda, karena ada kepentingan berbeda pada pribadi bijak dulu dengan sekarang, yakni kemerdekaan untuk umat adalah kepentingan para bijak yang dulu. Tetapi ketika bijak yang sekarang, kepetingan selalu kembali pada kepentingan diri.
Realita yang membedakan rentang bijak yang dulu (sejarah) dengan bijak sekarang. Meskipun suara yang dilantangkan bersuara untuk umat, tetapi selalu ada udang dibalik duit pemberian. Falsafah ajaran wali sanga khususnya ajaran Syekh Raden Qosim terkenal dengan sebutan nama Sunan Drajat memakai falsafah sebagai instrumen refleksi dan taqorub pada Sang Khalik. Beliau adalah salah satu dari nama sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Ajaran yang diberikan selalu bersifat nilai-nilai, tidak langsung mengajarkan secara takhlidi yang harus diikuti tanpa tahu sebab mengikuti dan yang membuat jerah kaum awwam.
Sebelum Syekh Raden Qosim datang ke Banjarwati –sebutan desa Sunan Drajat sekarang– masyarakat rentan sekali dengan budaya-budaya tidak bermoral. Masyarakat sering menentang larangan ‘mo-limo’, artinya mereka suka melakukan nyolong atau mencuri, maen atau judi, nginum atau minum-minuman keras, madat atau memakai narkoba dan madon atau berzina. Tetapi dengan sikap bijak Syekh Raden Qosim hati masyarakat bisa mengembur untuk bersikap tidak bathil. Hal demikian terwujud, atas para wali ajaran dalam mengajarkan tidak mengajarkan ajaran secara ortodoksi dan akhirnya tidak diterima masyarakat.
Lain hal juga diajarkan oleh Sunan Kalijaga, beliau memakai wayang yang ‘dilakonkan’ dengan meresapkan nilai-nilai Islam. Seperti dalam Serat Babad diceritakan bahwa Sunan Kalijaga memasukkan Jimat Layang Kalimasada (kalimat sahadat) yang dijadikan pusaka kerajaan Amarta (Pandawa) dalam pewayangan. Padahal dalam jimat sudah jelas merupakan pemikiran budayawan Jawa dalam memberikan legalitas sahadat pada cerita pewayangan. Atas metode pewayangan tersebut, masyarakat tidak canggung kaget dengan hal yang baru masuk pada pemikiran yang sudah terkonstruksi lama dengan ajaran budaya lama mereka seperti menentang larangan ‘mo-limo’ tersebut.

Proses Ajaran
Eksistensi ajaran wali sanga hingga saat ini masih tertanam pada masyarakat Islam terutama masyarakat di wilayah pesisir pulau Jawa. Mulanya sekitar abad VII, pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia, dan India sampai di pulau Jawa untuk menjalin hubungan perdagangan rempah-rempah, cengkeh, pala, dan lainya melewati jalur laut Samudera Hindia. Perdangangan berkelanjutan lama hingga banyak para pedagang singgah di sekitar wilayah perdagangan. Hingga terjalin sebuah interaksi sosial-budaya antara pedagang asing dengan masyarakat pribumi. Dari sini Islam mulai masuk pada kubu pulau Jawa dan memberikan beberapa warisan ajaran yang dipakai sebagai falsafah kehidupan.
Proses halus peresapan falsafah diterapkan para wali dalam menyebarkan agama Islam. Dengan demikian masyarakat bisa dengan mudah bersandar pada ajaran wali. Bahkan dengan proses halus tersebut, masyarakat tidak bisa merasakan resapan ajaran, bahwa mereka tidak sadar sudah menjalankan beberapa nilai-nilai yang diwariskan para wali. Mereka (masyarakat) hanya bisa merasakan kondisi lingkungan mereka yang berubah nyaman, tentram dan damai.Walaupun, secara hakiki mereka menjalankan nilai-nilai Islam tanpa sadar.
Patut kita putar kembali naskah narasi kemerdekaan yang diwariskan para wali. Negara kita saat ini sangat butuh dengan kemerdekaan jaya yang bijak. Pemimpin-pemimpin yang menawarkan diri sebagai pemberi kemerdekaan selalu gagal menjalankan naskah pribadinya. Rancangan undang-undang yang dibuat bersama menteri-menteri professional tidak mulus ketika di lapangan (realita).
Gagal
The best planning setelah kemerdekaan 1945 berkelanjutan pada pembangunan nasional gagal menjadi perubahan sosial. Wujud perubahan sosial ada dua yakni perubahan ke arah positif dan ke arah negatif. Artinya ketika kita lihat kerapnya proyek-proyek pembangunan tidak bisa mengentaskan krisis dan kemiskinan berarti pembangunan nasional pada saat ini adalah perubahan sosial yang negatif.
Refleksi 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda dan 10 tahun Reformasi tidak menjadi sejarah penting pada saat ini. Banyaknya pemuda yang menjadi proklamator peristiwa tersebut kandas dengan ketidakpastian pemimpin yang bervisi dan misi bijaknya.
Perlunya estimasi serius ketika warga negara Indonesia tidak bangga dan tidak bisa bersatu kembali dalam mencapai tujuan pembangunan nasional berketepatan pada peristiwa-peristiwa dulu (sejarah). Produktivitas karya Kebangkitan Nasional tidak lagi membangkitkan semangat nasional, Sumpah Pemuda tidak lagi menyatukan pemuda, dan Reformasi tidak lagi membaik hingga saat ini. Dengan demikian, kepedulian kita pada bangsa masih dipertanyakan. Adanya karya-karya demi bangsa berharap kemerdekaan bijak, dan penghargaan yang paling berharga terhadap karya tersebut adalah memperjuang tujuan karya.
Barangkali falsafah yang dibawa Raden Qosim patut kita renungkan dan kita tafsir kembali, untuk memahami dan menjalankan makna tersirat pada falsafah bijak, serta mengajak kita untuk menghargai karya kemerdekaan yang tidak kunjung datang merdeka. Sehingga atas kebijaksanaan kita, rasa gersang kemerdekaan bisa kembali basah dengan siraman dulu (sejarah).

*) Bayu Tara Wijaya
Staf Litbang pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang
Categories
Thinker

Kompromi Manis Lapindo

PT Minarak Lapindo terkait lumpur Sidoarjo kompromikan masalah cicilan sebesar Rp. 30 juta per bulan kepada korban lumpur sebagai alat pembayaran ganti rugi atas peristiwa tersebut.(jawapos, 4/12/2008)
Begitu mudahnya pihak lumpur lapindo membuat perundingan. Padahal sudah berkali-kali kita dengar rundingan-rundinga, tetapi tidak saja kunjung hasil positif pada pihak korban. Para korban sudah berhari-hari menunggu hujan cicilan dari lapindo, hasilnya sampai sekarang masih tetap saja tidak berbuah air ketenangan.
Sangat ironis sekali, sebab pihak Lapindo baru bersikap manis setelah kejadian demo warga, aksi potong jalan raya, atau hal lain yang diancamkan warga korban terhadap lapindo. Pantas hal demikian terjadi, selama nafas lega dari korban belum selesai reda dengan kucuran ganti rugi bencana lapindo.
Harapan keadaan adem ayem memang kita harapkan bersama. Alangkah indahnya jika harapan dan cita-cita bukan hanya terucap dari mulut saja, melainkan juga terucap dengan perbuatan sebagai bukti kongkret sebuah kompromi atau janji manis.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Simbol Haji Indonesia

Tanah suci makkah di Saudi Arabia menjadi pujaan muslim, yang maksimal mungkin dalam seumur hidup bisa menjalaninya, yakni haji –ibadah yang menjadi bagian ke lima dari rukun Islam yang wajib dilakukan bagi mereka yang mampu– sebagai kegiatan pengguguran suatu kewajiban sebagai orang yang mampu pergi ibadah haji.

Keberangkatan para haji pada masa dahulu yang menggunakan kapal laut kurang lebih selama enam bulan baru bisa sampai pada tanah suci. Lain dengan sekarang hanya hitungan jam bisa sampai di sana. Dahulu para haji yang juga sebagai muslim dan baru datang haji terkesan lebih kharismatik. Bekas pancaran kedamaian yang dibawa dari keberangkatannya tidak sia-sia datang di negeri perkembangan Islam. Doa menjadi haji yang diterima disandang pantas bagi mereka, tetapi kenyataan tersebut tidak lagi muncul pada saat ini.

Realita demikian sudah sering kali kita jumpai di dekade dekat-dekat ini. Peningkatan jamaah haji Indonesia yang tercatat pada Departemen Urusan Haji sekitar 210 ribu jamaah. Sehingga Indonesia berada pada jumlah urutan teratas sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Nur Shamad Kamba, selaku koordinator PPIH di Jeddah, al-Nadwah jamaah haji Indonesia meningkat lebih dibanding negeri-negeri lainnya. Hal itu seraya, Indonesia terkenal dengan negara yang mayoritas beragama Islam dan pantas jika makin bertambah tahun makin pula bertambah jumlah quata haji Indonesia yang berangkat ke tanah suci dan saling antri di tempat pendaftaran haji, seraya petugas pemberangkatan haji tiap tahun kebingungan dengan membludaknya peserta pendaftar haji.

Labelitas

Seorang kyai tidak sempurna dipanggil jika belum berlabel haji. Para dai kondang terkenal masih diragukan para pendengar jika label haji belum menempel pada awal pangilan nama mereka. Masih banyak varian yang memerlukan label haji, sampai saat ini demikian makin membudaya. Popularitas seorang artis pun ditutupi samar dengan label haji memberi cukup hijab berpikiran buruk pada mereka. Tameng haji merupakan tameng aman dalam bertidak baik maupun bertindak kriminal. Berhaji menjadi alat paling populer dipakai, sampai jalan berkorupsi bisa sukses menggunakan modal makelar pemberangkatan haji.

Berdirinya kegiatan-kegiatan banyak yang memadai para calon jamaah haji dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mulai berdiri dari naungan negara sampai yayasan bersaing membimbing. Apalagi ada bonus bagi satu orang menjadi mewakili dari para pengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) diberi kesempatan berangkat bersama-sama dengan jamaah bimbingannya. Selain itu juga keuntungan dari pengelolaan lembaga juga tidak sedikit mereka dapat yang menjadikan mereka bertahan mengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mereka.

Keinginan dari adanya bimbingan agar menjadi haji mabrur, tetapi banyak yang buta dalam niat baik mereka. Sehingga seluruh aktivitasnya tidak lain karena manusia yang merupakan wujud lingkungannya dan tidak lagi ibadah haji demi memenuhi panggilan ilahirabbi melainkan memenuhi panggilan riya’.

Sempat terjadi dalam beberapa keluarga para haji, orangtua rela mengorbankan anak mereka demi berhaji dan bahkan untuk menyekolahkan anaknya tidak dijadikan urusan utama, sebagai orangtua yang wajib mendidik anak dengan baik. Akhirnya anak tidak lebih sekolah di tempat yang tidak favorit, tidak maju, dan bahkan anaknya tidak disekolahkan sampai perguruan tinggi tetapi orang tuanya sudah berhaji berkali-kali.

Wisata Haji

Beragam problematika haji di Indonesia, mulai dari haji dijadikan objek wisata warga Indonesia, hingga para calon jamaah haji menjadi objek pengolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) untuk merekruitmen dalam kelompok bimbingannya. Saling merebut tawar mengajak bergabung di tempat bimbingannya, telah melunturkan nilai kepedulian untuk membantu tersukseskannya calon haji untuk menjadi haji yang mambrur.

Orang pada saat ini dalam melaksanakan haji dinilai secara dhohiriyah tidak mendapatkan predikat haji mambrur. Kita tenggok, bahwa masih banyak sekali para jamaah haji yang datang dari ibadah haji tidak linier dengan aktivitas di tanah suci. Masih banyak mereka yang baru datang tanah suci tetap saja melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Beberapa tahun akhir-akhir ini, tidak sedikit para menteri atau bahkan pengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang melakukan korupsi, dan jelas tentu mereka juga sudah melaksanakan ibadah haji. Wujud ini yang menyulitkan kita untuk mengetahui paradigma ketika sang haji melakukan kejahatan. Sebab penjahat membakai topeng hajinya sebagai simbol kejahatan yang tertutupi haji.

Sombol haji yang dimiliki banyak orang pada saat ini jelas tidak bisa menjadi tolok ukur nilai moral bangsa. Walaupun, bangsa banyak yang berhaji, tetapi keadaan bangsa tidak seperti di tanah haji.

Semua orang akan mencari simbol-simbol kebaikan. Mulai dari kebaikan makhluk dengan makhluk, makhluk dengan lingkungan, makhluk dengan khaliq. Wujudnya, haji menjadi salah satu korban simbol yang disalahgunakan orang dalam hal interprestasi memenuhi kebutuhan. Lebih jelasnya, banyak sekali simbol-simbol yang dipakai untuk menutup-tutupi dari kejelekkan seseorang.

Mantapnya, haji bukan sebagai simbol dalam ukuran level tertinggi di hadapan khaliq, tetapi sikap memberikan manfaat pada yang lain adalah lebih penting. Kiranya, niat baik bukan berarti hanya sesuai ukuran baik bagi kita, tetapi ukuran pada kaca mata pandang lingkungan dan khaliq. Sebagai warga yang berasas pancasila masih tetap menjunjung tinggi nilai-nilai ke-pancasila-an dan semoga jamaah haji tahun ini mendapatkan simbol haji mambrur.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Buku

Merintis Kembali Moderatisme Islam

Judul : Radikalisme Islam Nahdaltul Ulama; Masa Depan

Moderatisme Islam di Indonesia

Penulis : Drs. A Rubaidi, M.Ag.

Penerbit : Longung Pustaka, Jakarta

Cetakan : II, Mei 2008

Halaman : xviii + 180 halaman

Peresensi: Bayu Tara Wijaya

Dalam perjalanannya, antara Islam mainstream dan Islam non mainstream menjadi aktor perdebatan kental semenjak abad ke-18. Keduanya saling bermetamorfosis dalam bentuk varian-varian ragam warna organisasi aksi.

Fase-fase perkembangan didominasi Islam non mainstream dalam pasaran publik. Gerakan Islam non mainstream bukan hanya sekedar menjadi komunitas baru di Indonesia, tapi justru menjadi aktor penting, bagaimana Islam mengakar di publik dan sementara Islam mainstream atau Islam moderat semakin menipis.

Belakangan ini, suara dari kelompok Islam garis keras tampak mendominasi wacana politik, padahal jumlah pengikutnya tidaklah banyak dibanding pengikut Islam moderat. Oleh karena itu, merupakan tantanggan bagi Islam moderat untuk mengambil kembali intuitif yang selama masa kritis telah terlepas. (baca: gus dur 2001)

Islam yang sebelumnya telah mapan, ramah, toleransi menghargai tradisi budaya lokal dan moderat yang dilestarikan ulama tradisionalis. Pelestarian hakikat Islam tersebut melahirkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai penjaga moderatisme dan pewaris Islam yang dikonstruksi oleh para Wali dan Sunan terdahulu.

Fenomena yang terjadi, Islam non mainstream telah mengadakan kampaye besar-besaran, bahkan dalam tubuh NU pun dimasuki oleh mereka. Sempat terekam oleh Pengurus Cabang NU dalam acara halaqoh se-Jawa Timur berbagai kasus ekspansi Islam non mainstream ke kantong-kantong warga NU yang berbentuk dialog-dialog yang menawarkan konsep doktrin pembelaan Islam. Bahkan dari pihak Islam mainstream pun ada beberapa yang beralih pihak ke Islam non mainstream.

Kondisi seperti ini mengkhawatirkan kondisi Islam mainstream di Tanah Air, khususnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Proposisi seperti ini, pada masa yang cukup jauh ke depan, sangat terbuka kemungkinan menjadi kenyataan. Lebih spesifik, eksistensi NU akan menjadi kenangan dalam catatan sejarah Islam di Indonesia. Kehadiran dan kelahiran NU sebagai organisasi para ulama di tengah-tengah masyarakat yang prural seperti di Indonesia. Awalnya memang NU merupakan impor dari Mesir, dalam rangka untuk merawat tradisi yang saat itu termakan oleh kalangan Islam non mainstream dan selain itu khittah NU mempererat hubungan horizontal kemasyarakatan.

Dari paparan Radikalisme Islam Nadhlatul Ulama, secara lengkap mengupas perjalanan Islam non mainstream sebagai varian organisasi ragam Islam baru. Organisasi ini merupakan tindak lanjutan dari gerakan wahabisme yang berlabelkan al-Qur’an dan as-Sunnah secara normatif-doktriner. Gerakan ini melakukan aksi-aksinya ketika pihak Islam mainstream, khususnya NU mengalami sweetening ideology. Di amana pengikut NU mulai mengkosongkan dirinya dengan mengisi kesimbukan yang berkepentingan politik dan disiplin keilmuan lainnya.

Secara lugas, juga dipaparkan eksplorasi pelacakan dari munculnya radikalisme yang berawal dari fundamentalisme wahabi yang diintrodusir dari tradisi “Barat” yang memicu kemerosotan Islam akibat penyimpangan-penyimpangan yang dikatakan bid’ah. Dasar landasan kemerosotan Islam dipengaruhui dua faktor, Pertama, karena sikap penguasa yang otoriter yang bersifat dehumanisme, apalagi tanpa berfikir untuk izzul Islam wa al-Muslimin yang memancing kemarahan rakyat yang disimboliskan melalui gerakan-gerakan Islam radikal ini. Sebab, dipihak lain Islam mainstream dalam banyak kasus tidak bisa control sosial.

Kedua, penetrasi ideology Barat yang dinilai tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai Islam sama sekali. Simbol Barat akhirnya dalam pandangan kelompok radikal Islam sebagai penyebab dari rusaknya sistema sosial-politik yang merugikan umat Islam pada umumnya.

Kedua faktor inilah yang perlu diakui oleh pihak Islam mainstream bahwa hal tersebut menjadikan mereka untuk lebih ekstra dalam menjaga keutuhan Islam yang moderat. Tentunya moderatisme Islam akan terbelenggu oleh semakin semarak aksi-aksi yang dilakukan oleh gerakan radikal Islam.

Dengan maraknya berbagai ragam gerakan radikal Islam ini, sendirinya akan mengancam eksistenasi terhadap kelompok gerakan lainya yang selama ini telah mapan, seperti NU dan Muhammadiyah. Dua organisasi yang selama ini merancang agenda-agenda corak Islam yang ramah, toleran, dan moderat. Pada periode mendatang akan mengalami banyak tantangan.

Ini sebabnya, A Rubaidi mengantisipasi kepada para Islam ramah, toleran, dan moderat (Islam mainstream) untuk lebih menbaca fenomena gerakan-gerakan “bawah tanah”. Gerakan “bawah tanah” ini berambisi besar dengan proyeknya, yakni ragam Islam murni (purifikasi Islam). Purifikasi Islam ini berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Hadits dan tidak menerima praktek-praktek ajaran tasawuf dan fiqih yang dianggap oleh mereka sebuah bid’ah, tahayul, dan khurafat.

Beragam varian gerakan radikal Islam di Indonesia, dalam perkembangannya, terdapat dua bentuk berbeda dari gerakan Islam radikal di Indonesia.Pertama, gerakan Islam radikal yang masih dalam bentuk seperti yang berkembang di daerah asalnya. Kedua, gerakan Islam radikal yang sudah bermetamorfosis, meskipun secara ideologis sangat bersesuaian dengan gerakan Islam radikal transnasional di timur tengah.

Selain itu, tesis Radikalisme Islam Nahdlatul Ulama ini menjadi referensi bagi aktifis muda NU dalam mengambil keputusan dan langkah strategi perjuangan organisasi di masa depan. Walaupun tesis ini merupakan kajian dari fenomena-fenomena sosial yang terjadi tanpa adanya penelitian khusus. Namun tidak begitu diperdebatkan jika dari beberapa kalangan menganggap tesis ini kurang sesuai.

Walhasil, inilah tesis tentang masa depan moderatisme Islam di Indonesia yang terancam kelunturannya. Sebagai regulasi bagi aktifis muda yang memperjuangkan Islam mainstream akan lebih bisa mengambil kontribusi dari paparan tesis mengenai potret akar-akar radikalisme Islam.[]