Categories
Matematika

Pahlawan Matematika yang Terlupakan*

SAAT ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno.

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat Islam) terhadap perkembangan matematika?
Kisah angka nol
Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil- hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu.

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal.

Zaman Kegelapan
Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu.

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani.

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq.

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya.

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F. Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya.

Kontribusi Matematikawan Muslim
Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al- Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al- Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. Penelitian-peneliti an Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-peneliti an Al- Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek aljabar”.

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi- aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-peneliti an ini mendasari penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,…dan 1/x, 1/x2, 1/x3,…dan memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al- Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui (variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang diketahui. Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang algebraic geometry.

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra (lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing- masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir tahun 980).

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p.

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al- Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik.

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner.

Bidang Astronomi
Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910- an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada bidang.

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet.

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) dan. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari pengaruh para matematikawan Muslim.

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan- pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan.

*) ditulis Oleh Prasetyo Bawono

Categories
Buku

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Judul Buku : Perempuan di Mata Soekarno
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi, ar-Ruzz Media Group –Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 161 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Mendengar kata “perempuan”, teringat dengan clotehan orang yang lemah, tak berpendidikan, pemuas lelaki, dan masih banyak lagi hinaan terhadap perempuan. Kasus-kasus bermunculan dan menyudut langsung pada perempuan. Kasus seorang TKW asal Indonesia beberapa pekan lalu diduga telah diperkosa 46 orang pria di Arab Saudi. Kemudian Ia melarikan diri dari tempat penampungan di al-Nuzha, Mesir (Media Indonesia, 13 Maret 2009).

Bersamaan, dua mahasiswi peroleh hadiah perjalanan ke Prancis untuk menghadiri hari sedunia Frankofoni atau kita sebut hari penutur bahasa Prancis. Kedua mahasiswi tersebut Siti Ditta Sylvana dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai juara pertama dan Darweni dari Universitas Nasional Yogyakarta sebagai juara kedua pada lomba bahasa Prancis se-Indonesia (baca: Indonesia, 25 Maret 2009).

Cerita duka dan suka perempuan Indonesia yang menggelembung di catatan merah sejarah. Sepatutnya, kita prihatin ulang, siapa perempuan sebenarnya? Kebanggaan (Prestisius) perempuan Indonesia, kadarnya harum setelah perjuangan mereka. R.A. Kartini, salah satu perempuan pejuang yang terobsesi pada cita-cita untuk memberikan pendidikan pada kaum perempuan –salah satu sejarah pejuang perempuan. Kemudian Kartini menggenjotkan perjuangan untuk menyuarakan pendidikan untuk perempuan.

Inisiatif-inisiatif Kartini kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh perempuan lainnya, seperti Dewi Sartika dan Rohina Kudus. Dewi Sartika lahir pada 1 Desember 1884 dan wafat pada 11 September 1947. Ia mendirikan sekolah pertamanya pada 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Alhasil, hingga 1912, Dewi Sartika telah mendirikan sembilan sekolah, jumlah yang mencapai 50 persen dari keseluruhan sekolah di Pasundan.

Buku Perempuan di Mata Soekarno yang ditulis oleh seorang perempuan pula, dan menjabat sebagai direktur Global Education Center (GEC), yakni Nurani Soyomukti. Uraian yang memutar ulang gerakan perempuan sebelum dan sesudah kemerdekaan beserta beberapa pemikiran Bung Karno tentang perempuan dan feminisme. Merambat ulas dari gerakan kebangkitan kesadaran perempuan yang lama mengalami kontradiksi dari kesetaraan.

Perempuan pada zaman kerajaan-kerajaan Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam relasi politiknya dan memiliki penghargaan dalam kesetaraan yang cukup adil di zamannya saat itu, contoh kongkret adalah bagaimana besarnya peranan panglima perang perempuan Aceh Malayahati (1545-1604M) pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV, jauh sebelum Tjoet Nyak Dien, jauh lagi sebelum itu ada Ken Dedes, Ratu Shima (640M) dari Kalingga –sekarang Jepara.

Feodelisme vs Modern

Kartini, yang menempatkan dirinya secara universal tentang sebagai kaum perempuan dan manusia. Meskipun ia insaf dari bangsawan Jawa. Kartini pada saat zamannya, justru terkungkung oleh tatanan feodal (kebangsawanan), yang membuat Kartini bertanya dan menggugat tradisi-tradisi yang berkembang untuk memasung kemanusiaan. Kartini tidak membanggakan diri karena ia keturunan keluarga bangsawan walaupun menyadari hal itu.

Selain itu, Ayah kartini adalah bupati Jepara. Dunia pribumi yang dikenal Kartini adalah kerakusan feodalisme yang merajalela tempat perempuan untuk berpikir dan berpartisipasi dalam masyarakat disandera. Feodalisme Jawa waktu itu, tentu merupakan kondisi ketika para keluarga bangsawan menjadi penguasa yang berada di antara mayoritas rakyat yang bekerja mengeluarkan darah, keringat, dan air mata, namun hasilnya sebagian besar harus diserahkan pada penguasa.

Berbeda dengan perempuan-perempuan modern sekarang ini yang begitu membanggakan diri akan zaman modern ketika struktur dan kultur pasar bebas (kapitalisme) memenjarakan mereka dalam gaya hidup satu dimensi. Sebuah pepatah jawa “kacang ora ninggal lanjarane” atau biji kacang tidak akan meninggalkan asalnya ia, yakni dari tumbuhan kacang. Tafsirnya, sebagai perempuan Indonesia perlu sekali review keperempuanan dan asal perjuangan serta keperanan perempuan di zaman sejarah feodalis.

Pertanyaannya, apakah perempuan Indonesia bangga (prestisius) sebagai perempuan? Sedangkan feodalisme kembali muncul di era modern. Perempuan komersialisasi seks, pelacuran, perempuan kelas bawah, perempuan kelas atas dan isu lainnya masih tetap bertopeng pada perempuan. Dalam buku ini, Soyomukti memperkenalkan pemikiran Bung Karno. Sosok Bung Karno yang terkenal orang yang sangat perhatian pada urusan pemerintahan tetapi masih sempat memikirkan dan prihatin pada perempuan sebagai wujud keperpihakannya kepada kaum perempuan yang maju dan bangga (prestisius) sebagai perempuan Indonesia.

Cermat dari Bung Karno terhadap revolusi Industri di Barat dan imbasnya bagi kaum perempuan. Kapitalisme –saat ini masih menyebar–, telah membedakan kaum perempuan kelas atas dengan kaum perempuan kelas bawah (buruh, tani dan rakyat jelata) merasakan penindasan ekonomi pada saat perempuan kelas atas bergelimangan harta, bukan berarti kaum kelas atas tidak mengalami dekadensi moral.

Menurut Soyomukti, pandangan Bung Karno masih sangat relevan jika kita menguak nasib para perempuan kelas atas di zaman kapitalis sekarang ini. Perempuan mapan dan kaya semacam Paris Hilton memang bukanlah para perempuan mandiri meskipun banyak orang yang beranggapan demikian. Mengutip dari perkataan sosial bahwa, manusia hidup membutuhkan orang lain.

Keperpihakan lain dari Bung Karno terdapat pada daya upaya dalam mengenang perempuan yang telah berjasa merawatnya sejak kecil dengan meletakkan nama perempuan itu menjadi judul buku kecil Sarinah. Marhaen sebutan lain dari Sarinah, yang mengalami penindasan ganda, yakni sebagai perempuan kelas bawah. Akan tetapi, dalam Sarinah diuraikan bahwa bukan berarti perempuan kelas atas terbebas dari penindasan. Bahkan, dalam tingkat tertentu, mereka justru terkurung dan terpasung, apalagi saat mendampingi suami yang tidak demokratis dan memperlakukan istrinya sebagai pelayan dan budak.

Membaca Sarinah –sebagaimana diakui oleh Colin Brown, pengamat politik Asia asal Australia– kita akan menyimpulkan bahwa tidak ada pemimpin politik Indonesia yang lain menaruh perhatian tentang perempuan yang seserius Soekarno. Sebagaimana, kutipan dari direktur Global Education Center (GEC), berkaitan dengan situasi kaum perempuan sekarang ini.

Melalui anotasi Soyomukti, interfensi tentang cabulan perempuan lebih terkikis dari ketidakmanusiaan kita. Dengan gerakan rintisan Kartini dan perhatian dari pemimpin negara, yaitu Soekarno lebih memberikan rangsangan terhadap gaira prestisius seorang pribadi perempuan untuk berada di depan. Ujar kata, buku ini memberikan rekomendasi dan kontribusi dalam mengangkat citra keperempuanan Indonesia.[]

Categories
Thinker

Menjaga Citra Perempuan di Hari Kartini

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.


Salah satu bentuk kepedulian masyarakat kita pada saat ini cukup dibuktikan oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Kampus Islam yang di dalamnya ada banyak varian komunitas kecil yang menyebutkan dirinya sebagai komunitas sastra. Sehingga dalam menghormati dan merayakan hari Kartini mereka membacakan puisi-puisi, dan sastra-sastra lainnya. Selain itu juga, beberapa lembaga kajian yang ada di kampus tersebut, mengadakan refleksi hari Kartini. Seperti Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa mengadakan kajian bertema Kenapa Harus Kartini!

Dalam perbincangan Kartini menghasilkan beberapa obrolan bahwa hari Kartini ada karena berdasarkan kepres, yakni oleh presiden Soekarno. Hasil kajian lainnya, mereka membincangkan perjuangan perempuan Indonesia yang bermula dari gerakan Kartini hingga sekarang ini yang akrab kita kenal dengan perjuangan Jender dan Feminimisme.

Jender dan Feminimisme inilah yang masih segar dibicarakan aktivis-aktivis kampus saat ini. Oleh karena itu, komunitas kecil yang berdiri secara independent maupun dependent, cukup menjadi wakil dari kita atas penghormatan terhadap perempuan. Sebab, kita sadar bahwa sebagai salah satu penerus bangsa yang kebetulan dapat menikmati pendidikan tentunya tidak melupakan salah satu perjuangan Kartini atas pemerataan pendidikan yang ia usung dalam perjuagannya.

Hari Kartini yang memiliki nasib sama dengan hari-hari nasional yang lain. Yakni nasib dari hari Kartini pada saat ini sudah tidak dihormati oleh sebagian masyarakat kita. Realita yang kita rasakan, semisal pada bulan Maret lalu ada seorang TKW yang diperkosa oleh 46 laki-laki di Arab Saudi. Ini menunjukkan perempuan sejak dulu hingga sekarang menjadi bahan tindasan kaum laki-laki.

Kasus-kasus lain yang sama, yakni perempuan-perempuan saat ini sendiri banyak yang mencoreng nama perempuan. Beberapa pekan lalu, di daerah Batu-Malang, telah diberitakan ada rombongan dalam satu mobil mati mengenaskan. Prihatinnya, dalam kecelakaan tersebut dapat dipastikan bahwa mereka baru saja melakukan pesta seks. Terbukti, perempuan dan lelaki yang berada dalam kecelakaan tersebut tidak mengenakan pakaian.

Peristiwa sejenis itulah, yang menjadi sorotan kita pada saat ini. Di hari Kartini ini, khususnya para perempuan Indonesia bisa mengenang kembali perjuangan Kartini. Usaha mengangkat derajat dan citra perempuan yang dilakukan Kartini bukanlah semata untuk dirinya, tetapi untuk kita. Sehingga pada saat itu, kepedulian Kartini terhadap perempuan mendapat acungan jempol oleh Soekarno hingga dimasukkan dalam daftar hari nasional.

Sebagai warga negara yang merasakan pendidikan, patutlah memperjuangkan derajat dan citra perempuan perlu kita ulang kembali. Sehingga bukan hanya mengenang hari Kartini, tetapi bagaimana kita dapat melakukan kembali atau memeperjuangkan secara lebih, apa yang diharapkan Kartini. Untuk itu, mari menjaga dan mengangkat citra perempuan…!

oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Bangga Menjadi Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebuah kata yang dibangga-banggakan oleh para pemuda yang dapat melanjutkan jenjang strata dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Masa setelah duduk dibankgku SMA menjadi masa spekulatif. Masa-masa ini adalah masa yang paling menentukan pemuda untuk dapat berjiwa kreatif dan inovatif. Kesempatan mengembangkan diri sangat ditentukankan sekali pada masa ini. Sehingga ketika pemuda dapat melanjutkan mereka dapat bangga pada dirinya bahwa ia “mahasiswa”.

Dunia kampus sangat berbeda dengan dunia sekolah. Dahulu, ketika kita masih di tingkat SMA, kita masih saja dituntun, diarahkan, dibimbing, diatur, dan lain sebagainya. Kadang kita berfikir bahwa kita butuh dengan hal itu semua dan juga kadang kita merasa bosan dengan itu semua.
Pada masa SMA kita hanya terbebani dengan aturan, arahan, bimbingan, tugas sekolah, dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan masa itu, hanya sedikit beban pada diri kita. Tetapi, karena sedikit itu malah banyak yang merasa tidak butuh dan bosan dngan itu. Padahal hakekatnya kita sekolah adalah untuk mencapai kedewasaan. Bukan hanya knowledge, tetapi juga hikmah di dalam menaati, menghormati, menyadari apapun yang ada dalam sekolah dapat berdampak pada masa depan kita.
Gindrang, berbunga hati ketika lulus dari SMA. Kita merasa sudah bebas dari beban hidup yang terreduksi pada ujian nasional menjadi ukuran kemerdekaan sekolah mereka.

Bersambung…

Categories
Buku

Ketika Kyai Bertengkar

Ketika Kyai Bertengkar!

Judul Buku : Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai

Penulis : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Penerbit : UIN-Malang Press

Cetakan : Maret 2009

Tebal : xii + 334 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Pada percaturan politik yang ada di pemilu negara kita, yakni dari pemilu pertama tahun 1955 hingga pemilu saat ini tahun 2009, perdebatan kyai dan politik menjadi perdebatan yang tidak pernah ada surutnya. Sempat, beberapa kali ada tulisan di media massa yang mengritisi artikel Saiful Amin tentang Percaturan Politik Kyai, dalam artikel tersebut Saiful tidak menyetujui kyai andil dalam politik. Sebab, urusan kyai adalah orang yang cenderung mengurusi di bidang agama Islam, tentu wilayah kerjanya di pesantren, sedangkan pakar politik cenderung dekat dengan pemerintahan, yang wilayah kerjanya di pemerintah.

Selaras dengan peran kyai dalam politik, beberapa kyai sudah mewarnai dalam pemilu legislatif 2009. Pada pemilu, partai yang berbasis Islam misalnya PKB, PKNU, PAN, PPP, PKS dan lain sebagainya hampir tidak lepas dari peran dari kyai. Keberangkatan kyai yang memiliki corak berbeda-beda dalam mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Ada yang berangkat dari partai politik berbasis Islam, itupun bukan hanya dari satu golongan madzab dalam Islam, ada pula yang berangkat dari partai politik berbasis nasional, dan masih banyak peran kyai yang terlibat dalam politik meskipun tidak menjadi calon legislatif.

Keterlibatan langsung kyai dalam politik bukan hanya pada pemilu saat ini, tetapi pemilu-pemilu sebelumnya juga sama. Bahkan dahulu ada beberapa kyai yang sempat merintis dan mengembangkan organisasi politik Islam di tanah air seperti Masyumi, MIAI, PSII, Perti. Maka wajar kalau banyak kyai yang dikenal sebagai pejuang, seperti pada zaman dahulu KH. Hasyim Asari dan KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian di kenal sebagai perintis organisasi Islam terbesar di Indonesia –Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dari anotasi keterlibatan atau kita sebut relasi antara kyai dan politik senantiasa menjadi hal yang menarik. Persoalan keterlibatan kyai dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif relasi antara Islam dan politik sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana seharusnya sikap kyai dalam politik?

Buku Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai, yang merupakan hasil penelitian Prof. Dr. H. Imam Suprayogo sebagai persyaratan tugas akhir pascasarja program doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UNAIR. Tentunya buku ini merupakan karya ilmiah yang sudah tidak diragukan lagi keaslihan dan validitas dalam kajiannya, sehingga dapat memberikan penjelasan secara generalisasi keterlibatan kyai dalam politik.

Uraian yang dijelaskan dalam buku ini, sekurangnya ada lima pandangan mengenai politik. Menurut Surbakti (1992), pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik sebagai segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan pemerintahan. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting.

Namun, hemat Suprayogo dari hasil penelitiannya, politik lebih tepat menggunakan pandangan ketiga dan kelima, yaitu politik sebagai kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat dan politik sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai. Sebab, kyai sebagai elite agama memiliki jiwa pemimpin yang memerlukan otoritas penuh, dan terlibat dalam peran-peran sosial untuk kepentingan masyarakat.

Tipologi Kyai

Kasus keterlibatan kyai dalam politik banyak variasi-variasinya. Ada kyai melakukan peran advokasi terhadap kepentingan umat dan membela terhadap rakyat lemah dalam menghadapi persoalan. Kyai menjadi mitra pemerintah, ketika melakukan legitimasi terhadap kebijakan pemerintah. Kyai sekedar reference person, bilamana para kyai dianggap sebagai bahan rujukan dalam bersikap dan bertindak oleh masyarakat luas. Atau kyai juga sebagai mediator di antara kelompok-kelompok kepentingan, bilamana kyai bertindak menjadi penghubung antara berbagai kelompok kepentingan.

Tipologi bentuk keterlibatan kyai dalam politik secara mencolok terjadi setelah tahun 1970-an. Sebelum itu, para kyai pada umumnya berada pada posisi homogen, yaitu berada pada organisasi sosial atau politik yang memiliki ciri khas keagamaan (Islam). Dengan demikian jika kyai tidak berada pada organisasi itu akan dianggap bukan sebagai tokoh agama. Pada Orde Baru, seiring berkembangnya politik ditubuh keagamaan, pemerintah mengukuhkan organisasi pemerintahan yakni Golkar. Sebab, pada tahun itu, berkembanglah wadah aktivitas keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Dakwah Islam (MDI), dan lain sebagainya.

Mengenai peran kyai dalam politik, Hidayat Nur Wahid selaku Ketua MPR RI pada seminar nasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, ketika mendapat pertanyaan tentang kyai berpolitik pada seminarnya, ia menyatakan bahwa “Politik ibarat pakai kotor, maka jika pakaian tersebut dicuci dengan yang kotor pula, tidak akan menjadi bersih.” Tafsirnya, ketika ada yang membincang bahwa politik itu kotor, maka dengan kedatangan atau keterlibatan kyai menjadi pembersih dari politik yang kotor tersebut. Sehingga, peran kyai dalam berpolitik sangat urgent sekali.

Walaupun kyai dalam berpolitik, sering terjadi persaingan, percaturan, pertengkaran, perebutan, dan sebutan lainnya. Tentunya, itulah tipologi dari para kyai. Namun, kita percaya bahwa kyai yang teribat dalam pertengkaran politik, masih membawa nilai-nilai perjuangan Islam. Sebagaimana pandangan politik yang diungkap oleh Suprayogo bahwa politik kyai dalam rangka mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat serta sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasikan atas kehadiran buku ini, yang mencoba memberikan konstribusi terhadap pandangan masyarakat terhadap kyai yang terlibat dalam politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, peran kyai tidak lagi diperdebatkan.[]

Categories
Information

Lomba Tulis Artikel Nasional 2009

“MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN”

PENGANTAR

Upaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat bisa ditingkatkan dengan memberikan fasilitas pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa perpustakaan.

Bangsa yang maju dapat diukur dari tingkat minat baca masyarakat serta seberapa aktif masyarakat membaca setiap hari. Perpustakaan sebagai penyedia layanan bacaan bagi masyarakat menjadi representasi utama untuk mengukur tingkat minat baca masyarakat, seberapa banyak perpustakaan yang tersedia di suatu negeri, bagaimana fasilitasnya, berapa rasio masyarakat yang menjadi anggota perpustakaan, serta berapa banyak rata-rata buku dipinjam setiap harinya.

Disamping menjadi representasi kemajuan suatu negeri, keberadaan perpustakaan juga diharapkan bisa menjadi agen utama dalam mendorong minat baca masyarakat serta menyediakan bacaan yang cukup dan berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat meningkatkan fasilitas layanan serta melakukan berbagai agenda kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat.

Ada empat elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat, yaitu pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitasnya, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyeknya.

Sebagai apapun dan siapapun kita, mari semua kita berpartisipasi memajukan Indonesia dengan meningkatkan minat baca kita masing-masing dan minat baca masyarakat di sekitar kita. Mari kita ramaikan dan kita majukan perpustakaan perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.

KEGIATAN

Dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Membaca Nasional, Teratama bersama beberapa lembaga dan tokoh perpustakaan menyelenggarakan “LOMBA TULIS ARTIKEL NASIONAL 2009” dengan tema pilihan:

* Model Perpustakaan Ideal 2010
* Profil Pustakawan Ideal 2010
* Masyarakat Perpustakaan Cerdas 2010
* Peran Pemerintah bagi Perpustakaan

WAKTU PELAKSANAAN

* Waktu pengumpulan naskah artikel: tanggal 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Oktober 2009.
* Waktu pengumuman hasil lomba: tanggal 17 November 2009.
* Penyerahan hadiah: tanggal 27 November 2009.
* Publikasi Artikel terpilih: tanggal 17 November 2009 sampai waktu yang tidak terbatas.

PERSYARATAN PENULISAN

* Naskah ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dengan tatabahasa dan ejaan yang disempurnakan.
* Naskah belum pernah diterbitkan/dipublikasikan sebelumnya.
* Mencantumkan tema pilihan & judul artikel.
* Naskah diketik komputer dengan font arial atau time news roman, spasi baris 1,5 pt., ukuran kertas kwarto atau A4, Jumlah halaman minimal 3 dan maksimal 10.
* Naskah dikirim disertai lampiran identitas yang meliputi: Nama, Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Alamat, Pekerjaan, Asal Instansi, No.KTP/SIM dan melampirkan fotokopi atau scan image identitas.
* Naskah dapat dikirim dalam format softfile maupun printout.
* Naskah dikirimkan melalui:Email: [email protected]
* Pos surat: Hotel Borobudur Jl. Magelang Km.6,3 Jombor Yogyakarta 55284
* Langsung ke sekretariat panitia: Hotel Borobudur Jl. Magelang Km.6,3 Jombor Yogyakarta 55284 ( Kantor Teratama ).
* Kiriman Naskah yang telah sampai kepada panitia akan segera di posting/diumumkan di Internet.
* Panitia tidak bertanggungjawab terhadap pengiriman naskah yang tidak sampai ke tangan panitia.
* Peserta yang telah mengirimkan naskah lebih dari 7 hari dan tidak menemukan nama dirinya di pengumuman peserta dapat konfirmasi ke panitia melalui email [email protected] atau melalui telephone 081227444464, 085868112700.

SYARAT PESERTA

* Masyarakat umum
* Pelajar dan mahasiswa
* Pustakawan

KRITERIA PENILAIAN

1. Kreativitas

* Permasalahan
* Gagasan
* Tujuan

2. Kegunaan (kontribusi bagi perkembangan perpustakaan).

3. Penulisan

* Alur pikir dan pengorganisasian gagasan
* Ketajaman analisis
* Penggunaan bahasa ilmiah

HADIAH LOMBA

Juara I mendapat uang sejumlah Rp. 3.000.000,- *)

Juara II mendapat uang sejumlah Rp. 2.000.000,- *)

Juara III mendapat uang sejumlah Rp. 1.000.000,- *)

50 Besar mendapat berbagai hadiah kenangan dari Teratama dan sponsor.

Categories
Information

Beasiswa di Malaysia 2009

Bank CIMB NIAGA memberikan kesempatan BEASISWA kepada pelajar
Indonesia untuk melanjutkan S1 di Malaysia dengan program studi :
1.Micro Financing
2.Economics & Adm
3.Business & accounting
4.Syariah Banking
5.Computer Science & IT

Beasiswa meliputi :
1. Biaya Proses seleksi ( Test TOEFL,Test Psycology ,dll )
2. Biaya Pendaftaran ke Universitas
3. Biaya Pendidikan
4. Biaya Hidup
5.Biaya Asuransi Kesehatan
6.Biaya Buku
7. Personal Coumputer
8. Biaya Pembuatan Passport dan perijinan ke kedutaan Malaysia dan
Imigrasi.

Syarat :
1. WNI
2. Nilai Ujian Nasional dan Ujian sekolah Minimal 8.00 keatas
3. Tidak sedang menerima beasiswa lain.

Cara Pendaftaran :

Pelajar harus melengkapi formulir pendaftaran dan mengirimkan bersama
seluruh copy documen yang sepersyaratkan paling lambat
28 Februari 2009.
ke Bank CIMB Niaga
Up : Sdri Aan Haerani
Organization& Strategic Development Group (OSDG) – HR Development
Griya Niaga I Lantai 3 : Jl Wahid Hasyim Blok BIV No 3.Bintaro Jaya
Sektor 7 Tangerang.
Atau E-mail ke : cimbniagascholarshi p@bniaga. co.id

Info lebih lanjut ;
www.cimbniaga. com

Categories
Buku

Pendidikan Penentu Nasib Bangsa

Pendidikan, Penentu Nasib Bangsa

Judul Buku : Pendidikan Berwawasan Kebangsaan

Penulis : HM. Nasruddin Anshoriy, Ch
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 210 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Mangaca pada hasil keputusan BNSP tentang Standar Kelulusan Ujian Nasional 2009 yang naik 0,25 dari tahun sebelumnya 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Nilai kelulusan tersebut memiliki spesifikasi nilai minimal 4,00 untuk dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Dengan ini, tentu sistem belajar mengajar di sekolah harus bekerja ekstra dalam menopang kenaikan nilai kelulusan 0,25.

Sebab, kalau tidak demikian peserta didik tidak akan mendapatkan ijasah yang mereka tunggu selama duduk di bangku sekolah. Sementara, hakikat pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dalam pembukaan UUD 45.

Selain itu pula, pendidikan adalah salah satu tempat kita membondong pengetahuan. Ia adalah tempat yang membantu kita memeperoleh pengetahuan dari proses transfer of knowledge. Sadar atau tidak hal demikian sangat perlu bagi kita jika memang benar diri kita membutuhkan kedewasaan dari pendidikan yang kita peroleh.

Kita mengakui, pendidikan menjadi penting dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaan suatu negara. Ukuran dari kemajuan negara dapat diukur dari great pendidikan. Sampai pada saat ini aspek penting pendidikan mulai menjadi perhatian utama dalam membangun negara. Wujud perhatian tersebut telah nampak pada saling memikirkannya sistem pendidikan atau kita kenal dengan sebutan kurikulum.

Sistem kurikulum dari Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi pedoman penting dalam kegitan belajar mengajar. Pada saat ini, kurikulum KTSP menjadi sistem terakhir yang memberikan resep kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan basis lokal. Sehingga pendidikan sangat bergantung pada kondisi lingkungan lokal meraka. Oleh karena itu, pendidikan seperti ini berkaitan erat dengan aspek kondisi lingkungan lokal mereka.

Saat ini, Buku Sekolah Elektronik (BSE) ditetapkan pemerintah sebagai buku acuan yang menjadi acuan juga dalam Ujian Nasional. Adanya wajib BSE berarti menyamaratakan lingkungan lokal yang tidak mengenal kondisi sumber daya manusia di lain tempat yang berbeda. Maka bisa dipastikan, tingkat ketidaklulusan akan semakin meningkat pada ujian nasional di waktu dekat-dekat ini.

Sangat sulit sekali memila-mila konsep yang dapat diterapkan di semua daerah. Begitu juga dalam menentukan sebuah kebijakan-kebijakan dalam manajemen mutu pendidikan. Padahal, mutu pendidikan sudah menjadi penentu kemajuan bangsa. Pendidikan menjadi penentu nasib bangsa. Ketika pendidikan amburadul, maka bangsa pun ambudarul begitu juga negara.

Pendidikan Berwawasan Kebangsaan, menjadi suatu konsep kesadaran ilmiah yang berbasis multikulturalime memberikan pernak-pernik dalam merias wajah pendidikan Indonesia yang berasaskan “Bhineka Tunggal Ika” atau “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.

Membincang mutu pendidikan tidak akan pernah habisnya, berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan selalu menjadi perhatian. Namun, dinamika pendidikan dewasa ini ditandai oleh suatu revolusi dan transformasi pemikiran tentang hakikat pengajaran. Titik sentral setiap peristiwa mengajar terletak pada “suskesnya murid mengorganisasi pengalamannya, bukan pada kebenaran murid dalam melakukan replikasi atas apa yang dikerjakan guru”.

Dalam hal ini, murid bukan sekedar meniru apa adanya dari pengajaran guru, melainkan murid dapat merepresentasikan hasil belajarnya dalam kehidupan dan proses kedewasaannya. Maka betul menurut Nasruddin bahwa kesejahtreaan bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, melainkan bersumberpada modal moralitas mutu pendidikan.

Karen itu, memulai pendidikan dasar anak bangsa sejak mereka mulai hidup di lingkungan keluarganya. Keluarga mejadi lingkungan pendidikan awal yang mengajarkan anak tentang tata cara dalam kehidupan, mulai dari pendidikan “tata-krama” atau kesopanan hingga pendidikan dalam hal-hal yang dibutuhkan dalam bermasyarakat.

Dalam wawasan kebangsaan ini, seorang anak mulai dikenalkan dengan betapa pentingnya dan rasa kecintaan terhadap bangsa. Rasa memiliki yang tertanam menjadikan mereka bersemangat belajar dalam memajukan mutu bangsanya. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak lain peduli kepada bangsanya dan ketika mengonsep sistem bukan sekedar asal-asalan. Semisal dalam membuat kurikulum baru atau peraturan-peraturan pendidikan baru, mereka akan memahami situasi multikulturalisme.

Pada keputusan hasil BSNP tentang standar kelulusan itu sendiri, tentu keputusan tersebut dibuat tidak asal-asalan pula. Sehingga kita dapat berharap agar pendidikan di negara kita selalu membaik. Bukan sekedar murid lulus ujian saja, melainkan murid dapat mengaplikasikan hasil belajarnya untuk proses dewasanya. Dengan kata lain, ukuran kesuksesan lagi-lagi tidak pada hasil ijasah.

Karena pendidikan menjadi nadi penentu kemajuan bangsa Indonesia, maka tidak ada salahnya memberikan konsep pada anak didik kita yang selaku calon penerus bangsa dengan bekal wawasan kebangsaan. Dengan demikian, “hitam-putih” pendidikan kita benar-benar pendidikan menjadi ‘gantungan’ kemajuan bangsa. Semoga nasib bangsa, bernasib baik karena penerus bangsanya.[]

Categories
Uncategorized

(Perlu) Animisme dalam Berpolitik

Mendengar kata “politik” sama halnya mendengar permainan di arena pertandingan sepak bola. Ada yang menang dan ada yang kalah. Misi kemenangan untuk sebuah pertandingan adalah wajar dimiliki oleh pemain pertandingan. Maka, sebut politik kita juga merupakan permainan di sebuah arena perpolitikan. Indonesia, penduduk terbesarnya ada di pulau Jawa, dan Jawa terkenal dengan masyarakat yang kental untuk percaya kekuatan alam yang memiliki kekuatan roh atau jiwa. Kepercayaan ini kita sebut dengan kekuatan “animisme”.

Tidak panjang lebar, tentunya kekuatan “animisme”, umum di pulau Jawa sering menggunakan mantera sebagai tameng supporter dalam pertandingan-pertandingan. Mantera yang sering muncul di masyarakat adalah pada pertandingan sepak bola, kadang juga pada pemilihan kepala desa, dan pertandingan-pertandingan yang lainnya. Sehingga, pertandingan-pertandingan itu bukanlah pertandingan antar lawan politik atau antar lawan calon kepala desa atau yang lainnya, tetapi antar lawan dukun (paranormal) sebagai pelaku dibalik layar. Jadi, dukun (paranormal) terhebat adalah pemenang pertandingannya.

Hemat dari Van Peurson (1993), kajian ontologis manusia telah dirasakan tak lagi rekat dengan kekuatan gaib (animisme) dan mulai melakukan telaah logis sesuai kerangka ilmiah. Khususnya di pulau Jawa, sebenarnya masyarakat telah berusaha menjauhkan diri dari ketakrasionalan atau dari kekuatan gaib, namun sampai saat ini masih belum bisa lepas sepenuhnya. Animisme yang mengakar pada nenek moyang bangsa Indonesia tampaknya tetap digantungi masyarakat.

Cermat kita, bahwa animisme saat ini dimainkan oleh para pakar politik dalam menyabet kursi pada pemilu 2009 yang dimulai dengan pemilihan calon legislatif pada tanggal 9 April 2009. Politik yang mulanya kita anggap sama dengan permainan pertandingan, kini sama persis, yakni terjadi permainan dukun (paranormal) sebagai pahlawan penggiring pemilik hak suara.

Betul, bahwa masyarakat kita pada saat ini masih tidak bisa jauh dari animisme, terlebih dalam berpolitik. Alasan mereka, bahwa dalam urusan kecil saja masih enggan mengundang dukun (paranormal), apalagi dalam urusan besar, yakni urusan memimpin negara, tentu dukungan dari dukun (paranormal) boleh-boleh saja, demi kepentingan negara. Namun, benarkah para pemimpin kita benar-benar memperjuangkan dirinya untuk negara? Mungkin pertanyaan yang sangat sulit dijawab, orang yang dekat dengan kita saja sering melakukan kebohongan. Tak beda dengan calon pemimpin yang hanya kita kenal lewat stiker, pamflet, baliho, spanduk dan mass media lainnya.

Politisi Tak Bermoral

Perjalanan politik di Indonesia semakin hari, tidak semakin bermoral. Gaya-gaya berpolitik yang semakin melanggar etika, semisal pada sebagian kampanye yang awut-awutan melanggar tata tertib lalu-lintas, menganggu pengguna jalan umum, baliho dan spanduk yang menutupi ruang terbuka hijau, hingga tempelan-tempelan stiker di dinding-dinding sekolah. Padahal menurut UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik pasal 31 ayat (2) bahwa pendidikan politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politik sesuai dengan Pancasila. Ini artinya, para anggota pendukung partai tidak menyuarakan pendidikan politik dengan baik.

Kembali pada masalah politik tak bermoral, pada sebagian partai ataupun anggota partai politik yang masih gemar dengan animisme, kini semakin rakus akan menyabet kursi kepemimpinan. Selain kepercayaan mereka pada dukun (paranormal) sebagai pahlawan dibalik layar, mereka juga memakai mass media yang dipakai sebagai alat penarik suara, sebut saja animisme modern. Dari kekuatan gaib dari seorang dukun (paranormal), juga dikerakan kekuatan mass media (dukun modern).

Memang, antara dukun (paranormal) dan mass media, keduanya sama-sama berusaha menggiring pemilik hak suara. Kelihatannya, hanya cara inilah yang masih dipercayai kebanyakkan masyarakat kita yang lebih ampuh. Jadi, dapat dikatakan bahwa, mass media juga menjadi stimulus terbaik dalam menarik para pemilik hak suara untuk mendukung mereka.
Spanduk, baliho, stiker, iklan majalah, iklan televisi, iklan website dan iklan lainnya menjadi dukun modern yang dipergunakan dalam berpolitik. Sebab, menurut teori komunikasi sendiri, iklan pada prinsipnya memiliki kekuatan yang mampu menyugesti persepsi dan emosi para penglihat iklan, hingga dengan sendirinya iklan dapat langsung memberi efek stimulatif bagi penglihat iklan. Oleh karenanya, para pemilih publisher, kini saatnya mengeruk keuntungan dari moment pemilu 2009 dan desain terbaik dari sebuah iklan, akan memberikan harga yang lebih tinggi pada produk periklanan.

Hal ini sepadanan dengan iklan politik yang mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tentu dengan desain tokoh yang mampu menyulap tanah menjadi emas dalam waktu sekejab. Kita perhatikan iklan televisi, semuanya berkampanye menjadi dan memiliki pahlawan yang ahli sulap. Kita renung kembali, sejak negara kita merdeka tahun 1945 hingga saat ini, masih belum bisa dikatakan stabil dalam hal perekonomiannya. Mungkin hanya pada waktu kepemimpinan Soeharto yang lumayan stabil dan itu pantas, karena Soeharto memimpin negara lebih lama, tetapi setelah Soeharto perekonomian kembali step down.

Dengan demikian, semua desain kampanye yang diiklankan juga belum tentu bisa menyulap tanah menjadi emas hanya dalam waktu 5 tahun. Namun, hal ini sah-sah saja dalam periklanan, karena tidak ada yang tahu kita semua hanya berusaha. Dengan kata lain, segala animisme, baik dari dukun (paranormal) atau dari mass media (dukun modern) semuanya sama.

Mengingat iklan dan sejenisnya adalah dukun modern kedua dari paranormal, maka dapat dimungkinkan bahwa kesuksesan hasil pemilu akan sama seperti hasil pemilu 2004 dan sebelumnya. Sebagai warga yang tidak tahu-menahu masalah birokrasi, hanya doa dan partisipasi dalam pemilu yang hanya dapat kita sumbangkan dalam ikut serta membangun bangsa.

Oleh Bayu Tara Wijaya
staf peneliti pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang