Categories
Buku

Imitation in Social-Islam Learning

Imitasi dalam Pembelajaran Sosial-Islam

Judul Buku : Islam dan Pembelajaran Sosial
Penulis : Muhammad Amin Nur, M.A
Penerbit : UIN Malang Press
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : viii + 112 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya

Pembelajaran adalah suatu proses yang setiap manusia pasti akan melawatinya. Melalui proses ini manusia dapat menjadi dewasa secara umum, dan khususnya dewasa pada bidang keilmuwan tertentu. Proses ini mau tidak mau harus diupayakan bagi manusia yang normal. Jadi, manusia yang ingin sampai pada suatu tujuan tanpa proses pembelajaran tidaklah mungkin. Kisah manusia yang dalam Islam, manusia pertama adalah nabi Adam, semenjak diciptakanlah nabi Adam, Allah swt juga menerapkan konsep pembelajaran pada Nabi Adam.

Karenanya, manusia haruslah menjadi manusia yang pembelajar, melalui beberapa pembelajaran-pembelajaran ilmu pengetahuan melalui realitas alam sekitar. Minimal ketika perkembangan intelektual semakin berkembang, dan kita sendiri yang secara percaya dirinya mengakukan sebagai manusia tentu harus menyeimbangi perkembangan tersebut dengan ilmu pengetahuan, tidak lain dengan beberapa proses pembelajaran.

Sebagai manusia normal minimal harus memiliki usaha untuk memahami minat, bakat dan potensi yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada kita. Sehingga dari proses pemahaman ini kita dapat mengaktualisasikan minat, bakat dan potensi diri untuk kemaslahatan diri, masyarakat, dan alam ini.

Rujukan Islam dan Pembelajaran Sosial yanga ditulis oleh Muhammad Amin Nur menawarkan konseptual sebagai salah satu usaha untuk menyumbangkan tesis berupa pembelajaran sosial melalui contoh-contoh dan kisah-kisah natural-historis ala sosial-Islam sebagai referensi kematangan manusia pada umumnya.

Amin Nur meningatkan, bahwa kata kunci dari proses pembelajaran adalah proses perubahan. Karena melaui proses pembelajaranlah manusia dapat berkembang lebih baik dan sempurna yang kalau kita mengaku biar tidak seperti makhluk lainya.

Tanpa adanya proses pembelajaran yang memadahi, mustahil diri manusia dalam kehidupannya dapat berkembang ke arah lebih baik. Perkembangan kecakapan bicara, misalnya, setiap bayi yang normal memiliki potensi untuk cakap berbicara seperti ayah bundanya, namun kecakapan anak tersebut tidak akan pernah terwujud dengan baik tanpa upaya belajar walaupun proses kematangan organ-organ mulutnya telah selesai.

Hal ini pernah dilakukan percobaan oleh Kingsley Davis dalam Soekanto (2005), bahwa ia menyekap seorang bayi bernama Anna di sebuah loteng rumah petani di Pennsylvania. Alhasil, anak tersebut menunjukkan sifat-sifat berlainan sama sekali dengan anak lain yang seusianya; Anna tidak dapat berjalan, mendengar, bahkan tidak dapat makan seperti manusia pada umumnya.

Contoh lain juga pernah diungkapkan oleh Muhibbin Syah dalam Amin Nur, bahwa seorang anak normal pasti memiliki bakat untuk bias berdiri tegak di atas kedua kakinya. Namun, karena anak tidak hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat social, misalnya diasingkan/dibuang ke tengah hutan belantara bersama hewan, maka bakat berdiri yang ia miliki secara turun-temurun dari dari orangtuanya itu akan sulit diwujudkan. Sehingga, ketika ia belajar dengan lingkungan sosial hutan tentu ia belajar berjalan di atas kedua kakinya, dan tangannya serta merangkak seperti serigala misal.
Imitasi (niru)
Dalam pembelajaran manusia sejak lahir hingga tumbuh dan berkembang menjadi dewasa pasti melalui proses imitasi (meniru) perilaku orang-orang di sekitarnya. Sejak saat itulah ia dipengaruhi lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun sosial (masyarakat). Proses imitasi ini juga sepadanan dengan al-Quran dalam surat al-Hasyar ayat 7, yang artinya: “Dan apa yang diberikan rasul pada kalian maka ambil/ikutilah dan apa yang dilarang Rasul pada kalian maka jahuilah.”

Sama halnya ketika Rasulullah saw mengajarkan agama Islam kepada masyarakatnya maka Rasulullah mengutamakan pendekatan imitasi terlebih dahulu sebelum melakukan pendekatan-pendekatan lainnya. Oleh karena itu, sebelum pengangkatan sebagai Nabi, Rasulullah sudah menjadi contoh atau teladan masyarakatnya sehingga ia telah dikenal sebagai al-amin, yaitu orang yang jujur. Kalau dalam istilah Jawa, imitasi adalah niru, yang urutan kedua dari proses pembelajaran Jawa, yakni niteni, niru, lan nambahi.

Dengan begitu berarti kepribadian seseorang merupakan gabungan antara hereditas atau potensi bawaan (intrinsik) dengan pengaruh lingkungannya (ekstrinsik). Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang baik, maka atas pengaruh lingkungan tersebut anak akan cenderung berkepribadian baik. Sebaliknya, jika seorang dibesarkan dalam lingkungan yang buruk, maka kemungkinan besar ia akan berkepribadian buruk.

Sebutan lain, tesis kecil tipis ini berhamburan referensi penting bagi kita untuk menjadikan diri kita sebagai manusia sempurna, dan rujukan tips dalam mengekstinsikkan masa depan anak bangsa untuk menjadi pribadi yang baik.[]

Categories
Buku

Jurisprudence formulation for Women

Formulasi Fikih untuk Perempuan

Judul Buku : Sosiologi Fikih Perempuan
Penulis : Zaenul Mahmudi, M.A
Penerbit : UIN Malang Press
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : x + 175 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Berkata perempuan, layaknya sudah sangat akrab kita mendengar bahwa adanya perempuan salah satu sebab, karena adanya lelaki. Keberadaanya setara barang komplemen, mereka akan berharga apabila dikonsumsi oleh konsumen dalam hal ini lelaki. Dalam dominasi sistem seperti ini, kodrat perempuan akan tertindas dan tersempitkan ruang-geraknya dalam hal mendapatkan keadilan hidup, spesial Indonesia tanah airku.

Kemudian kisah gender dan feminisme di Indonesia yang diperankan perempuan dengan bernama R.A Kartini memperjuangkan kesetaran gender khususnya pihak perempuan dalam memperoleh keadilan untuk bisa belajar di bangku sekolah (berpendidikan). Dilanjutkan pula oleh keperpihakan bung Karno terhadap perempuan (ibunya bung Karno, yang diceritakan dalam buku kecil Sarinah).

Segaris dengan catatan di atas, perempuan patut diberi keadilan yang relevan dengan ajaran agama umat manusia dalam hal ini dari perspektif Islam. Di Indonesia sendiri, kepasrahan para perempuan sebagaimana menurut pesan-pesan para kiai kampung dalam ceramah-ceramahnya adalah “ibadah”. Namun pesan-pesan ini didefiniskan masyarakat awwam bahwa perempuan tidak diperbolehkan bertingkah laku sebagaimana tingkah lelaki.

Sosiologi Fikih Perempuan adalah hasil kajian dari penelitian yang membahas horizon pemahaman fikih perempuan yang disesuaikan dengan kondisi dalam pandangan Imam Syafi’i. Harapannya, gender, pesan-pesan kiai kampung tentang perempuan, ketersudutan perempuan dalam ruang-gerak memperoleh keadilan hidup mengalami pemahaman kontektual yang lebih mempertimbangkan rasio-sosiologisnya.

Di dalam kitab-kitab fikih Syafi’i yang ditulis pada zaman klasik dan pertengahan tersebut ada produk hukum yang menunjukkan bahwa gerak langkah perempuan mendapat lebih banyak pembatasan daripada lelaki. Misalnya dalam hal ubudiyah, perempuan harus menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan lelaki cukup menutupi antara pusar dan lutut. Contoh lain dalam berjamaah di Masjid lelaki lebih dianjurkan daripada perempuan, sehingga kesempatan perempuan untuk memperoleh pahala yang lebih besar selalu hanya diperuntukkan lelaki. Masih banyak contoh dan lagi-lagi perempuan selalu kalah dengan lelaki, tanpa terkecuali bidang apapun.

Beberapa pemahaman tentang fikih perempuan seperti dicontohkan, merupakan hasil pemahaman para ulama klasik yang merujuk pada kitab-kitab Imam Syafi’i. Namun, sayangnya kitab-kitab yang banyak dipercayai ulama-ulama klasik bahwa kitab tersebut adalah pedoman hukum fikih yang benar-benar autentik dan tidak perlu dilakukan penafsiran-penafsiran baru. Padahal ilmu fikih sejatinya adalah ilmu sosial-budaya yang ijtihadnya selalu bergantung dengan kondisi dan masanya.

Kita perlu mengakui bahwa fikih hasil ijtihad Imam Syafi’i adalah fikih yang terbaik di masanya, tetapi tidak berarti hasil ijtihadnya akan senantiasa baik untuk masa sekarang khususnya di Indonesia. Itulah mengapa Imam Syafi’i mempunyai dua pendapat qaul qadim dan qaul jadid, dan alasan mengapa antara Imam Syafi’i dan para pengikutnya masih ada perbedaan pendapat adalah karena permasalahan yang berkembang di sekitanya berbeda dan juga karena perbedaan masa dan faktor sosial budaya antara keduanya.

Kiprah Perempuan
Pada masa ini tidak banyak informasi yang jelas dari buku-buku yang ditulis oleh para sejarawan mengenai sikap dan kiprah para perempuan serta posisinya dalam masyarakat. Seperti masa Abbasiyah tidak ada perempuan yang berkiprah dalam urusan sentral masyarakat, hanya perempuan-perempuan elite yang memiliki nilai tawar lebih di mata lelaki. Itupun tidak banyak yang menceritakan kiprah perempuan yang ditulis sejarahwan tentang kiprah keppemimpinan perempuan sukses.

Berbeda dengan masa sekarang, kiprah perempuan sudah mulai perkembangan walaupun dalam buku-buku sejarah masih jarang diceritakan tentang kiprah perempuan di masyarakat. Perempuan sudah mulai banyak yang duduk menjadi seorang pimpinan organisasi bahwa negara. Sampai akhirnya sempat diperdebatkan oleh para ulama Indonesia tentang kepemimpinan seorang perempuan. Beberapa dalil-dalil fikih pun dibuka kemballi akhirnya muncul pendapat baru perempuan diperbolehkan menjadi seorang pemimpin atau berkarir.

Inilah pertarungan pemahaman fikih, lagi-lagi fikih berkembang dan berubah berdasarkan kondisi dan masanya. Kiprah perempuan memang sekarang ini sudah membanyak diseluruh penjuru kota bahkan dunia, namun perlu diingat bahwa perempuan tetaplah perempuan, kodrat sebagai perempuan tidak bisa ditinggalkan, karenanya boleh perempuan menjadi pemimpin, menjadi pegawai, dan lain sebagainya asalakan perempuan tidak berlebihan dalam berkiprah. Sekadar memperoleh keadilan semestinya sudahlah cukup, dikhawatirkan perempuan yang berkiprah berlebihan, akan terjadi ibu yang bekerja di kantor, bapak yang mengurusi rumah dan anak. Sehingga pekerjaan (kewajiban) lelaki dilakukan perempuan, sedangkan pekerjaan (kewajiban) perempuan dilakukan lelaki.

Sebagai kata akhir, seyogyanya pemikiran-pemikiran fikih klasik hendaknya kita dudukan secara proporsional dengan memberikan penilaian terhadapnya sesuai dengan masanya, bukan dengan menggunakan parameter sekarang karena pengarang fikih klasik adalah “anak” di zaman mereka sendiri. Dengan catatan formulasi dan ijtihad fikih yang baru harus tidak menyimpang dari nash-nash al-Quran dan al-Hadis.[]

Categories
Buku

Arkoun, Perspectives in Interpreting al-Quran

Arkoun, Perspektif dalam Menafsirkan al-Quran

Judul Buku : Antropologi Al-Quran
Penulis : Baedhowi, M.Ag
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan I : April 2009
Tebal : xx + 256 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Al-Quran adalah kitab umat manusia (khususnya Islam), kitab tersebut memiliki sakralitas mitologi dalam setiap pesan-pesan yang terceritakan dalam al-Quran. Bahasa-bahasa simbolis yang banyak terdapat dalam al-Quran memberikan petunjuk kepada umat manusia. Namun, penafsiran-penafsiran al-Quran selama ini terkesan mengabaikan kedalaman makna kandungan dan justru mengikuti arus ideologi yang berkembang.

Malam Nuzulul Qur’an adalah salah satu peringantan umat muslim dalam rangka memperingati turunnya al-Quran. Kegiatan sakralitas keagamaan dikemas dalam serangkaian peringatan malam Nuzulul Qur’an. Dalam ceritanya, kisah turunnya al-Quran pun juga sudah dipaparkan dalam al-Quran itu sendiri sebagaimana dalam surat al-Baqoroh ayat 185.

Dari contoh kegiatan Nuzulul Qur’an tersebut, terbukti bahwa al-Quran memiliki keunikan, yakni adanya al-Quran, ada dalam al-Quran itu sendiri. Sayangnya, banyak umat manusia yang tidak menalar kembali kisah tersebut. Sehingga, beberapa kegiatan peringatan turunya al-Quran hanya diisi oleh khutbah yang menjelaskan cerita turunya saja, hal demikian terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang khutbah normatif tidak pernah berkembang.

Antropologi Al-Qur’an banyak mengupas pemikiran Mohammed Arkoun, yakni ilmuan Islam yang beberapa dekade ini banyak diperbincangkan di dunia Islam pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Arkoun salah satu pemikir yang mengkhutbahkan metode baru dalam studi al-Quran secara kontekstual-multidisipliner berdasarkan ilmu pengetahuan modern.

Pertama, metode Penjelajahan Sinkronis yang dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan logis dan psikologis yang menghubungkan term-term yang ada dan membentuk sistem dan nilai berdasarkan kesadaran kolektif. Metode ini sebenarnya digunakan untuk mengukur dampak yang ditimbulkan al-Quran terhadap umat manusia yang bersifat rasional, logis, imaginer, imani, dan ukhrowi (hal. 168-170).

Kedua, metode Penjelajahan Diakronis yang hanya memperlajari term-term yang dapat atau tidak dapat ditampakkan oleh kesadaran kolektif. Lewat penjelajahan ini, Arkoun ingin melampaui kajian yang dilakukan oleh kalangan muslim tradisional maupun kaum orientalis dengan beberapa tawaran metodenya bermaksud untuk menerobos berbagai hambatan ideologis, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan teologi (hal. 172-174).

Ketiga, perspektif antropologis adalah turunan dari metode kedua, yakni penjelajahan diakronis. Namun yang sedikit berbeda adalah cara mengkaji al-Quran dari sifat antropologisnya. Jadi, metode ini mencoba untuk menemukan hubungan al-Quran dan masyarakat dalam mengungkap nalar wahyu yang bertradisi semitis.

Dalam usulan antropoligis ini, Arkoun ingin mengali faktor-faktor umum sosial-kemanusiaan, budaya, dan agama mayarakat Timu Tengah dan Mediteranian Kuno, yang telah melahirkan tiga wahyu monoteisme dan agama besar –Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal ini dalam rangka mempertemukan kendala dan kekuragan dalam studi al-Quran dari aspek strategis, metodologis, maupun filosofis. Sehingga, kita sebut ini adalah metode perspektif filsafat dari fakta religius.

Memahami al-Quran, memang tidak semudah orang mengucapkan membalikkan telapak tangan. Teks al-Quran yang isinya memuat sejumlah makna, yang tidak sekadar nya kita memahami arti teks secara sempit. Seperti yang diusahakan sejak dulu hingga sekarang ini, yakni pembacaan al-Quran hingga mengungkap makna yang terpendam dalam teks tersebut.

Arkoun sebagaimana yang diuraikan oleh Baedhowi dalam buku Antropologi Al-Qur’an, yakni Arkoun menawarkan metode linguistik atau lebih tepatnya semiotika. Sehingga, ketika seseorang ingin menerjemahkan al-Quran bisa dipastikan tidak terjadinya kesalahpahaman. Meskipun orang yang memahami al-Quran berasal dari berbagai bidang keilmuan.

Betul apa yang dikatakanArkoun, memahami al-Quran sangat sah bila multidisiplener kailmuan yang dimiliki seseorang tersebut. Terbukti, sejak dahulu banyak beberapa kitab klasik atau kitab kuning (sebutan para santri) yang menafsirkan al-Quran dari berbagai perspektif bidang keilmuan, seperti kitab Tafsir Jalalain, kitab Tafsir al-Misbah, kitab Tafsir Munir, dan banyak lainnya.

Dari beragam kitab tafsir tersebut, cukup menjadi bukti bahwa Arkoun yang meminjam istilah Roland Barthen “mennghidupkan solidaritas sejarah, dengan cara berpikir secara bebas”, yang mana hal itu, menurutnya, merupakan tradisi yang terbaik dalam berijtihad.

Salah satu yang dimunculkan oleh penulis buku ini, yakni memahami al-Quran dalam perspektif antropologis (antropologi agama, sosial, dan budaya), yang mana dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai zamannya.

Secara umum, al-Quran dan wacana keagamaan memang penuh bahasa-bahasa simbol. Al-Quran sendiri yang mengkisahkan Nuzulul Qur’ah, sehingga sangat perlu apabila mengkaji al-Quran dari berbagai perspektif dalam rangka mengungkap makna atau tafsir yang belum tergali.

Walhasil, karya ilamiah yang terangkum dalam buku kecil dan memiliki bobot yang sebanding dengan buku-buku terkenal lainnya. Sangatlah patut bagi kita semua sebagai penerus umat muslim untuk memberikan apresiasi terhadap karya ini dalam wujud membacanya serta mengkaji ulang dalam rangka penambahan referensi terkait metode tafsir al-Quran.

Patutlah kita berbangga diri bagi kita yang memiliki kitab pedoman hidup, yakni al-Quran. Bukti dari kepemilikan kita bukan hanya kemampuan kita untuk mengadakan al-Quran di meja baca, melainkan kepemilikan pemahaman isi teks dan kontekstual berdasarkan multidisipliner tafsiran kita. Inilah sebagian dari ijtihad terbaik.[]

Categories
Buku

Theology of Human Change

Teologi Perubahan Manusia

Judul Buku:

Revolusi Sejarah Manusia; Peran Rasul sebagai Agen Perubahan
Penulis:
Munzir Hitami
Penerbit:
LKiS, Yogyakarta
Cetakan:
I, Januari 2009
Tebal :
xii + 286 halaman

Sebuah pepatah bahwa sesuatu yang paling abadi di dunia adalah perubahan. Semuanya tidak ada yang bertahan statis, begitu pula manusia. Oleh karena itu, hanya perubahan itu sendirilah yang akan abadi.

Revolusi atau yang memiliki kedekatan arti dengan perubahan adalah hal biasa sering kita jumpai, sehingga revolusi adalah tema yang sudah tua untuk dibahas kembali. Namun, kali ini sedikit berbeda dengan revolusi yang sudah kita perbincangkan dahulu. Revolusi Sejarah Manusia adalah buku yang ditulis oleh Dr. Mundzir Hitami. Buku rintisan dari hasil disestasi beliu membuat isi kajiannya lebih mendalam untuk dinikmati para pembaca.

Kajian secara detil mengenai konsep perubahan umat manusia dalam al-Quran dan peran penting para rasul sebagai agen perubahan menjadi topik utama dalam Revolusi Sejarah Manusia. Komparasi hasil penelitian yang ia gali dari kitab suci umat Islam yakni al-Quran dengan postulat-postulat barat, seperti Oswald Spengler yang menerjemahkan arti dari perubahan yang pada intinya merupakan siklus kehidupan yang cenderung bersifat biologis dan repetitif.

Perubahan telah menjadi pusat perhatian dan kajian manusia sejak dahulu sampai sekarang. Al-Quran meskipun bukan kitab sejarah, banyak memuat informasi mengenai dinamika perubahan umat manusia. Sebab, perubahan adalah hukum alam yang terjadi di sepanjang sejarah manusia.

Sebagaimana kisah-kisah rasul, seperti kisah Adam diceritakan dalam Bibel pada Kitab Kejadian hingga dilanjutkan dengan cerita tentang keturunan Adam sampai Isra’il. Di luar Bibel, banyak legenda-legenda yang mengambarkan kemunculan alam semesta dan makhluk hidup. Tentu, Bibel juga memiliki kesamaan cerita yang dikisahkan oleh al-Quran terkait konsep penciptaan manusia secara bertahap-tahap.

Kisah lain informasi tentang Nuh dan banjir, selain mitos kuno, hanya terdapat dalam kitab suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam al-Quran. Cerita Nuh dan banjir bukan merupakan salinan langsung kisah epik bangsa Gilgamesh—bangsa Israel.

Sehubungan dengan beberapa kisah-kisah rasul yang diceritakan dalam al-Quran maupun kitab-kitab lain yang ada pada zaman rasul tersebut memenuhi ketiga fungsi pengisahan, yakni sebagai konfirmasi, pelajaran dan pengungkapan suatu konsep tertentu.

Dari perjalanan zaman, kisah-kisah rasul yang muncul dalam sejarah manusia, menjadi perdebatan tanpa henti, penafisran-penafsiran baru muncul berbeda-beda menyebabkan sebuah perubahan pada karakter manusia. Sehingga banyaklah muncul beberapa kelompok sosial manusia yang melakukan infastruktur masyarakat dalam rangka pembangunan dan penyelamanatan masyarakat.

Gagasan-gagasan tersebut, tidak lain disebabkan adanya kisah-kisah rasul. Dari kecil hingga dewasa, kita dikenalkan dengan konsep terbentuknya manusia. Berbagai teori-teori saling timpang-tindi untuk menjatuhkan teori-teori lain. Dalam pelajaran biologi, kita dikenalkan materi tentang manusia yang dijelaskan berasal dari hasil evolusi kera kesekian tahun sehingga menjadilah manusia purba hingga manusia sempurna. Di lain pihak, dalam al-Quran kita dijelaskan manusia berawal dari keturunan Nabi Adam hingga turun-temurun sampai sekarang ini.

Masih banyak lagi, beberapa penafsiran yang menjadikan manusia mengalami perubahan sosial. Bukan hanya kisah rasul saja, seluruh kisah yang dialami manusia akan memunculkan penafsiran-penafsiran baru, sehingga lahirlah ide-ide baru yang berkembang. Inilah perubahan, tidak lain perubahan merupakan konsep turunan dari kisah rasul, seperti nabi Adam dan seterusnya. Perubahan yang menjadikan manusia lebih berkembang, tidak dapat kita pungkiri. Semoga perubahan membawa kebaikkan masyarakat sedunia.

Teologi
Berbicara masalah teologi perubahan, hal yang paling urgent dalam hal ini adalah ilmu. Tidak lain, semua semua perubahan tentu dilatarbelakangi oleh ilmu. Baik, buruk perubahan tersebut tergantung orang yang membawanya. Ketika seseorang hanya dibekali pengatahuan saja, tanpa ilmu, maka perubahan sudah dipastikan ke arah yang negatif, begitu pula sebaliknya.

Para rasul, meskipun beliau-beliau tidak sekaya, sepandai, secerdas, setampan seperti kita saat ini. Namun mereka memeliki leimanan, ketaqwaan dan kelimuan yang tidak ada bandingannya. Sehingga, apapun yang beliau cetuskan menjadikan sebuah awal perubahan manusia yang lebih baik.

Rasul, selain menjadi utusan dari Allah swt, beliau juga menjadi pemimpin umat. Sikap kharismatik, partisipatorik dan prophertik mereka miliki. Beliau-beliau adalah para figur umat yang baik, meskipun beberapa kaum lainnya banyak yang memusuhi. Khususnya dari kaum-kaum nonmuslim.

Seperti yang terungkap dibeberapa kisah 25 para rasul. Banyak terjadi perubahan-perubahan hebat yang terjadi di masa kepemimpinannya. Mulai kisah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Setiap masa kepemimpinan beliau-beliau, pasti membawa perubahan yang lebih baik.

Sebagai umat yang masih sejalan dengan perjuangan para rasul, tentunya patutlah kita renungkan sebagai bahan percontohan dan bahan pedoman kita untuk melangkah dalam perubahan hidup kita yang lebih baik. Termasuk yang diinginkan penulis buku Revolusi Sejarah Manusia, yakni dengan buku ini, dapat membantu kita untuk lebih mengatur revolusi atas sejarah yang kita bangun dari kecil hingga dewasa.

Walhasil, segala perubahan baik atau buruk bukanlah tergantung pada bahan referensi yang kita dapatkan. Melainkan perubahan yang sejati ada pada diri kita seorang. Yang membawa kepada kebaikan adalah kita, yang membawa kepada keburukan adalah kita. Sebagaimana suara yang dituangkan penulis, sebagai upaya kemajuan bangsa dan Negara yang tercinta.[]

Categories
Buku

Antithesis Pioneer of Village

Antitesis Pelopor Kampung

Judul Novel : Sang Pelopor
Penulis : Alang-Alang Timur
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 354 halaman
Peresensi: Bayu Tara Wijaya*

Sukar adalah nama yang cocok dengan kondisi fisik tubuh bocah lelaki lugu yang setiap usai sekolah bermain cangkul, bajak dan panas matahari. Tidak salah jika kulit Sukar terpanggang hitam oleh terik matahari.

Sosok bocah yang dimunculkan oleh penulis novel motivasi. Peran yang menggambarkan perjuangan anak kampung yang memiliki semangat baja untuk menjadi seorang yang sukses dalam meraih cita-cita. Usaha-usaha yang ia perankan sebagai pelopor anak orang miskin, tetapi bisa sukses dalam pendidikan. Ambisi, aksi dan ijtihad ala Islam yang kuat, yakni selain belajar sambil bekerja, ia juga masih sempat meraih mustajab illahirobbi di sepertiga malam sebagai penyeimbang usaha Sukar.

Lugas dan renyah, judul novel Sang Pelopor, mengisahkan perubahan dari pergerakan anak kampung. Cerita yang diiringi motivasi-motivasi sukses cukup mengelitik telinga para pembaca untuk terbangun dan menyelami kembali kisah dan usaha sukses dalam novel Sang Pelopor.

Novel rintisan yang ditulis oleh Alang-Alang Timur, nama pena dari Sugeng yang mengadakan lompatan besar dan berguru di universitas ‘kehidupan’. Keterpurukan dan kepedulian pada atas pendidikan adik-adiknya membuat penulis sabar akan pentingnya sebuah pendidikan. Sebab, pendidikan bukan masalah sepele. Sehingga pantas, ia dapat merampungkan novel motivasi yang tidak kalah menariknya dengan novel Laskar Pelangi dan ini harus serta patut dibaca oleh para guru, orangtua, juga birokrasi sebagai bagian penting dalam mengawal pendidikan kita.

Kemasan sastra tulisan yang dikemas Sugeng dalam 30 bagian, seraya lengkap al-Quran 30 juz. Bermula dari cerita carut-marut kehidupan dan perjuangan tokoh utama dalam memahat ukiran di bangku sekolah, terceritakan pada bagian pertama hingga bagian ketujuh.

Pada bagian tersebut, menjadi bagian intergral ketika membincang pendidikan. Lamunkan, dalam cerita novel telah dikisahkan ada sekolah di perkampungan, yang menyebalkan, suasana ruangan yang tidak nyaman, membuat bosan, ngantuk dan lain sebagainya, apalagi ketika mendengarkan pelajaran. Sebut dalam cerita adalah sekolah di Klaten Jawa Tengah yang setiap ruang hanya memiliki dua guru dalam mengajar satu minggu. Sehingga, banyak guru yang mengarap pelajaran-pelajaran lain yang non bidang akademik guru tersebut.

Wajah lesu, loyo, tak bersemangat, ketika hanya itu saja guru yang mereka hadapi. Namun, sosok pelopor yang diperankan oleh tokoh utama Sukar dalam novel bernuasa motivasi ini, sanggup mendobrak gerbang kemalasan. Sukar, sanggup mengalahkan tuduhan “yang pintar hanya yang kaya, karena bersekolah di tempat yang favorit.” Ia sanggup meraih prestasi di bangku sekolahnya, walaupun ketika belajar di sekolah ia juga malas, dikarenakan gaya dan model pembelajaran yang tidak menyenangkan.

Terlepas dari suksesnya Sukar, bahwa ia sering kali mendapatkan pengetahuan di luar sekolah dan kebetulan pelajaran yang ia dapat di luar sekolah mirip dengan pelajaran sekolah.

Sekedar pujian dari pembaca, novel Sang Pelopor memiliki alur cerita mirip dengan film Slumdog Millionaire (2008) yang meraih penghargaan tujuh piala Oscar kategori film terbaik. Dalam film ini diceritakan bahwa ada seorang anak yang sukses meraih kekayaan miliyaran rupih pada acara Who Wants To Be A Millionaire. Tokoh Salim adalah anak peraih uang milayaran tersebut. Berbagai pertanyaan yang ia terima, banyak ia temukan jawabannya dalam perjalanan hidup Salim. Alur yang mirip dengan Sang Pelopor, yakni mendapat pengetahuan bukan di bangku sekolah melainkan di luar sekolah. Bedanya, Sukar adalah orang yang sukses dalam mencari ilmu, sedangkan Salim sukses dalam meraih kekayaan.

Kampung Sawah
Hal yang sangat menakjubkan, cerita yang sedikit beda pada novel ini, ketika sekolah Kampung Sawah tidak disukai para siswa, namun sekolah ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Tentu, keistimewaan tersebut bukan datang dengan sendirinya.

Pak Hadi, salah satu yang membantu kesuksesan tokoh utama dalam novel motivasi ini. Beliau menjadi aset paling berharga di Kampung Sawah. Selain menjadi sosok pendidik ia juga menjadi orangtua bagi murid-murid beliau. Sang pelopor itu pun bekerja tanpa gaji negara. Beliau merubah sekolah bukan hanya sekedar sebagai tempat transfer of knowledge, tetapi bagaimana siswa-siswanya dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Bahkan standar kelulusan sekolah Kampung Sawah pun tak sama dengan sekolah lain. Siswa belum dianggap lulus kalau mereka hanya bisa mengerjakan soal ujian akhir. Melainkan mereka harus dapat meninggalkan karya sebelum meninggalkan sekolah. Mereka dapat menyerahkan karya tulis, kumplan puisi, novel, atau penemuan-penemuan yang dianggap bermanfaat.

Hemat kata, novel ini menceritakan antitesis ideologi penulis tentang kepeduliannya terhadap pendidikan, gerakan yang keluar dari sistem pengekangan. Membuatnya sukses dan dikenal oleh masyarakat. Desa Negahan yang masih sama seperti dulu adalah tempat tinggalnya. Desa pinggiran yang terdiri dari sebelas kampung dengan 960 kepala keluarga yang tercatat sebagai desa mandiri energi.
Sederet cerita yang dipaparkan memberikan penyegaran terhadap para pembaca yang mau berusaha mandiri dalam hal pengembangan kepribadian dalam proses pendidikan yang menyenangkan. Model-model pendidikan yang diceritakan dalam kisah sekolah Kampung Sawah menjadi bukti bahwa kesuksesan pendidikan bukan berada pada hasil nilai ujian akhir, melaikan bagaiaman lulusannya dapat mmberikan manfaat pada masyarakat bukan untuk dirinya sendiri saja.

Petikan langsung dalam novel tersebut yang dilontarkan kepala sekolah Kampung Sawah, ustadz Fairus berkata, “Biarlah mereka belajar sambil melakukan, bukan sekedar membayangkan, sebab cita-cita meraka lebih tinggi dari cita-cita kita”. Selain itu, masih ada beberapa ungkapan yang lebih mengugah kita akan seberapa pentingnya urusan pendidikan anak. Karena pendidikan bukanlah alat percobaan dalam menguji sebuah sistem baru—termasuk kurikulum baru.

Terlepas dari itu semua, novel yang dianggap sebagai pemberi motivasi, berisi antitesis terhadap sistem pendidikan setelah penerbitannya, bahkan dalam waktu sebulan novel ini sempat terbit kedua kalinya. Oleh karena itu, novel ini sangat layak untuk dibaca. Terlebih sebagai bahan referensi para orangtua, pendidik, birokrasi dan lainnya sebagai wakil masyarakat yang peduli akan hal pendidikan.[]

di muat di Surabaya Post, edisi 27 Juni 2009
Categories
Buku

Learning from the Name of God

Belajar dari Asma’ Allah

Judul Buku : Quatum Asma’ul Husna
Penulis : Rachmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 636 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Teringat sebuah wacana bahwa “siapa yang nanti di hari akhir memiliki pegangan hidup (iman) maka dialah yang akan selamat.” Ketika dunia semakin gersang akan segarnya cahaya ilahirabbi, dan di situlah manusia akan pada bergelimpangan melakukan maksiat di hari akhir nanti.

Banyak orang yang pada lupa akan sifat ketuhanan yang dimilikinya, mereka semakin hari lupa akan hal kebutuhan bathiyinah pada dirinya. Keseimbangan dalam hidup, kemanfaatan dan kekuatan hidup yang selaras terjauhkan dari keagungan Tuhan. Kondisi jiwa yang semakin hari hangus terbakar egoisme kepentingan tak berlandaskan kualitas spiritual.

Seraya melupakan bahwa manusia yang kebetulan dimuka bumi ini semuanya tanpa terkecuali, memiliki tanggung jawab sebagai abdullah (hamba Allah) dan sekaligus khalifatullah. Oleh karena itu, tanpa potensi keagungan Allah, yang bermetamorfosis mewujud berupa spiritualitas. Tatkala manusia mengalami disoriaentasi hidup dan terjerembab dalam kegelisaan hidup, maka karena kekuatan spiritual tinggi yang ia miliki, keselamatan dan kajayaan duniawi serta ukhrawi akan didapatkan.

Tidak terlepas dari itu semua, melalui kajian detail dan menyeluruh atas nama-nama dan sifat-sifat Allah yang termuat dalam Asma’ul Husna. Quatum Asma’ul Husna muncul dan memberikan sumbangsi secara teoritik maupun praktis kepada umat manusia yang masih peduli terhadap dirinya. Sehingga dengan kuatum (kedasyatan energi dalam diri manusia) dapat melejitkan kekuatan spiritual manusia, sebagai penyeimbang dan tameng hidup.

Buku Quatum Asma’ul Husna yang ditulis oleh Rachmat Ramadhana al-Banjari, mampu menyingkap tabir agung nama-nama Allah dan dapat menemukan serta membantu kita untuk mengetahui kekuatan yang dasyat pada diri kita bagi kehidupan kita. Ia juga berusaha membuka jalan untuk manusia yang asalnya memilki kelemahan dan menjadikan kelemahan tersebut menjadi sebuah keistimewaan.

Sebab, ketika manusia percaya bahwa potensi keagungan Allah yang ada pada diri setiap manusia seyogyanya bisa digali, dikembangkan, dan digunakan dengan sungguh-sungguh oleh setiap manusia agar dapat memberikan motivasi dasyat pada pikiran dan jiwanya untuk menggapai kualitas kecerdasan spiritual, sebagai pondasi kehidupan manusia.

Terkemas dengan rapi, Quatum Asma’ul Husna yang memiliki empat bagian. Pada bagian pertama, seraya kita diperkenalkan, Siapa Tuhan kita? Kemudian berlanjut pada pengenalan nama-nama Allah. Pada bagian ini, al-Banjari berusaha membuka tabir rahasia di balik lafaz Allah. Selain itu pula, ia memperkenalkan bahwa Asma’ Allah menjadi cerminan manusia dalam berprilaku dalam kehidupannya.

Pada bagian inilah, kita akan lebih didekatkan pada Allah dan seyogyanya manusia memilki akhlak untuk mengingat bahwa manusia adalah abdullah (hamba Allah). Maka, untuk membentuk karakteristik seorang manusia yang bergelar abdullah (hamba Allah) tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan tinjauan teoretis atau cukup pendekatan teknis saja, akan tetapi harus didukung oleh aplikasi melalui pendekatan keimanan, keislaman, kemakrifatan dan ketauhidan. Karakteristik seperti inilah yang akan menghantarkan manusia pada insan kamil ‘kesempurnaan’, yang sehari-hari mampu mengevolusi dan mentransformasi jiwa, hati, akal, indera dan fisik seseorang menjadi hamba Allah.

Pada bagian kedua, penulis sengaja mengingatkan kembali pada hukum syar’iyyah, sebab seluruh aktivitas-aktivitas sunnah manusia akan berlaku sia-sia, apabila kewajiban sebagai Islam tidak dijalani. Ini artinya, sebelum melakukan beberepa kesunnahan dalam beribadah, tentu melakukan kewajiban terlebih dahulu.

Shalat adalah salah satunya yang dianggkat al-Banjari dalam karyanya. Ia menjelaskan bahwa shalat sama halnya menyucikan ruhani. Sehingga, ketauhidan kepada Allah akan kita peroleh melalui salah satu kewajiban sebagai umat Islam, yakni shalat.

Tentu, bukan hanya shalat saja yang harus dilakukan. Masih banyak lagi ketauhidan, kemaslahatan, keadilan, dan lain-lainnya. Katakan saja, termasuk sifat-sifat mahmudah manusia. Dengan demikian, penulis barulah mengajak kita merenungi pada bagian integral dari asma’ul husna, yakni quatum asma’ul husna.

Seluruh sifat-sifat Allah yang kita kenal dengan sebutan Asma’ul Husna dibahas satu persatu oleh al-Banjari pada bagian ketiga mulai sifat ar-Rahman hingga sifat ash-Shabur. Kajian komparatif dari berbagai bibliografi ia cantumkan, tak tertinggal bibliografi utamanya adalah al-Qur’an dan al-Hadis.

Hal ini dilakukakan, agar umat manusia dapat memahami, merenungkan dan mengamalkan salah satu atau semuanya jika mampu dari sifat-sifat Allah. Dengan pedoman asma’ul husna saja, tentu manusia bisa menyelesaikan segala urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Tak kalah pentingnya, bahwa ini adalah buku penting, yang dapat digunakan manusia sebagai pegangan dalam hidupnya.

Inilah harapan dari penulis, Quatum Asma’ul Husna bukan sekadar bahan referensi saja, melainkan bahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga, pada bagian terakhir, al-Banjari mencatumkan doa-doa Asma’ul Husna. Dengan demikian, patutlah Quatum Asma’ul Husna menjadi pegangan semua umat manusia, khususnya yang beragama Islam.

Terlepas dari itu semua, bahwa karya al-Banjari ini benar-benar karya yang menakjubkan. Bukan sekadar karya yang hanya menjadi referensi pustaka saja, tetapi bahan referensi hidup manusia. Oleh karena itu, apresiasi terbesar yang kita berikan pada penulis adalah dengan membaca, menganalisis dan mengamalkan dari karyanya.[]

Categories
Buku

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Judul Buku : Perempuan di Mata Soekarno
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi, ar-Ruzz Media Group –Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 161 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Mendengar kata “perempuan”, teringat dengan clotehan orang yang lemah, tak berpendidikan, pemuas lelaki, dan masih banyak lagi hinaan terhadap perempuan. Kasus-kasus bermunculan dan menyudut langsung pada perempuan. Kasus seorang TKW asal Indonesia beberapa pekan lalu diduga telah diperkosa 46 orang pria di Arab Saudi. Kemudian Ia melarikan diri dari tempat penampungan di al-Nuzha, Mesir (Media Indonesia, 13 Maret 2009).

Bersamaan, dua mahasiswi peroleh hadiah perjalanan ke Prancis untuk menghadiri hari sedunia Frankofoni atau kita sebut hari penutur bahasa Prancis. Kedua mahasiswi tersebut Siti Ditta Sylvana dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai juara pertama dan Darweni dari Universitas Nasional Yogyakarta sebagai juara kedua pada lomba bahasa Prancis se-Indonesia (baca: Indonesia, 25 Maret 2009).

Cerita duka dan suka perempuan Indonesia yang menggelembung di catatan merah sejarah. Sepatutnya, kita prihatin ulang, siapa perempuan sebenarnya? Kebanggaan (Prestisius) perempuan Indonesia, kadarnya harum setelah perjuangan mereka. R.A. Kartini, salah satu perempuan pejuang yang terobsesi pada cita-cita untuk memberikan pendidikan pada kaum perempuan –salah satu sejarah pejuang perempuan. Kemudian Kartini menggenjotkan perjuangan untuk menyuarakan pendidikan untuk perempuan.

Inisiatif-inisiatif Kartini kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh perempuan lainnya, seperti Dewi Sartika dan Rohina Kudus. Dewi Sartika lahir pada 1 Desember 1884 dan wafat pada 11 September 1947. Ia mendirikan sekolah pertamanya pada 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Alhasil, hingga 1912, Dewi Sartika telah mendirikan sembilan sekolah, jumlah yang mencapai 50 persen dari keseluruhan sekolah di Pasundan.

Buku Perempuan di Mata Soekarno yang ditulis oleh seorang perempuan pula, dan menjabat sebagai direktur Global Education Center (GEC), yakni Nurani Soyomukti. Uraian yang memutar ulang gerakan perempuan sebelum dan sesudah kemerdekaan beserta beberapa pemikiran Bung Karno tentang perempuan dan feminisme. Merambat ulas dari gerakan kebangkitan kesadaran perempuan yang lama mengalami kontradiksi dari kesetaraan.

Perempuan pada zaman kerajaan-kerajaan Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam relasi politiknya dan memiliki penghargaan dalam kesetaraan yang cukup adil di zamannya saat itu, contoh kongkret adalah bagaimana besarnya peranan panglima perang perempuan Aceh Malayahati (1545-1604M) pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV, jauh sebelum Tjoet Nyak Dien, jauh lagi sebelum itu ada Ken Dedes, Ratu Shima (640M) dari Kalingga –sekarang Jepara.

Feodelisme vs Modern

Kartini, yang menempatkan dirinya secara universal tentang sebagai kaum perempuan dan manusia. Meskipun ia insaf dari bangsawan Jawa. Kartini pada saat zamannya, justru terkungkung oleh tatanan feodal (kebangsawanan), yang membuat Kartini bertanya dan menggugat tradisi-tradisi yang berkembang untuk memasung kemanusiaan. Kartini tidak membanggakan diri karena ia keturunan keluarga bangsawan walaupun menyadari hal itu.

Selain itu, Ayah kartini adalah bupati Jepara. Dunia pribumi yang dikenal Kartini adalah kerakusan feodalisme yang merajalela tempat perempuan untuk berpikir dan berpartisipasi dalam masyarakat disandera. Feodalisme Jawa waktu itu, tentu merupakan kondisi ketika para keluarga bangsawan menjadi penguasa yang berada di antara mayoritas rakyat yang bekerja mengeluarkan darah, keringat, dan air mata, namun hasilnya sebagian besar harus diserahkan pada penguasa.

Berbeda dengan perempuan-perempuan modern sekarang ini yang begitu membanggakan diri akan zaman modern ketika struktur dan kultur pasar bebas (kapitalisme) memenjarakan mereka dalam gaya hidup satu dimensi. Sebuah pepatah jawa “kacang ora ninggal lanjarane” atau biji kacang tidak akan meninggalkan asalnya ia, yakni dari tumbuhan kacang. Tafsirnya, sebagai perempuan Indonesia perlu sekali review keperempuanan dan asal perjuangan serta keperanan perempuan di zaman sejarah feodalis.

Pertanyaannya, apakah perempuan Indonesia bangga (prestisius) sebagai perempuan? Sedangkan feodalisme kembali muncul di era modern. Perempuan komersialisasi seks, pelacuran, perempuan kelas bawah, perempuan kelas atas dan isu lainnya masih tetap bertopeng pada perempuan. Dalam buku ini, Soyomukti memperkenalkan pemikiran Bung Karno. Sosok Bung Karno yang terkenal orang yang sangat perhatian pada urusan pemerintahan tetapi masih sempat memikirkan dan prihatin pada perempuan sebagai wujud keperpihakannya kepada kaum perempuan yang maju dan bangga (prestisius) sebagai perempuan Indonesia.

Cermat dari Bung Karno terhadap revolusi Industri di Barat dan imbasnya bagi kaum perempuan. Kapitalisme –saat ini masih menyebar–, telah membedakan kaum perempuan kelas atas dengan kaum perempuan kelas bawah (buruh, tani dan rakyat jelata) merasakan penindasan ekonomi pada saat perempuan kelas atas bergelimangan harta, bukan berarti kaum kelas atas tidak mengalami dekadensi moral.

Menurut Soyomukti, pandangan Bung Karno masih sangat relevan jika kita menguak nasib para perempuan kelas atas di zaman kapitalis sekarang ini. Perempuan mapan dan kaya semacam Paris Hilton memang bukanlah para perempuan mandiri meskipun banyak orang yang beranggapan demikian. Mengutip dari perkataan sosial bahwa, manusia hidup membutuhkan orang lain.

Keperpihakan lain dari Bung Karno terdapat pada daya upaya dalam mengenang perempuan yang telah berjasa merawatnya sejak kecil dengan meletakkan nama perempuan itu menjadi judul buku kecil Sarinah. Marhaen sebutan lain dari Sarinah, yang mengalami penindasan ganda, yakni sebagai perempuan kelas bawah. Akan tetapi, dalam Sarinah diuraikan bahwa bukan berarti perempuan kelas atas terbebas dari penindasan. Bahkan, dalam tingkat tertentu, mereka justru terkurung dan terpasung, apalagi saat mendampingi suami yang tidak demokratis dan memperlakukan istrinya sebagai pelayan dan budak.

Membaca Sarinah –sebagaimana diakui oleh Colin Brown, pengamat politik Asia asal Australia– kita akan menyimpulkan bahwa tidak ada pemimpin politik Indonesia yang lain menaruh perhatian tentang perempuan yang seserius Soekarno. Sebagaimana, kutipan dari direktur Global Education Center (GEC), berkaitan dengan situasi kaum perempuan sekarang ini.

Melalui anotasi Soyomukti, interfensi tentang cabulan perempuan lebih terkikis dari ketidakmanusiaan kita. Dengan gerakan rintisan Kartini dan perhatian dari pemimpin negara, yaitu Soekarno lebih memberikan rangsangan terhadap gaira prestisius seorang pribadi perempuan untuk berada di depan. Ujar kata, buku ini memberikan rekomendasi dan kontribusi dalam mengangkat citra keperempuanan Indonesia.[]

Categories
Buku

Ketika Kyai Bertengkar

Ketika Kyai Bertengkar!

Judul Buku : Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai

Penulis : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Penerbit : UIN-Malang Press

Cetakan : Maret 2009

Tebal : xii + 334 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Pada percaturan politik yang ada di pemilu negara kita, yakni dari pemilu pertama tahun 1955 hingga pemilu saat ini tahun 2009, perdebatan kyai dan politik menjadi perdebatan yang tidak pernah ada surutnya. Sempat, beberapa kali ada tulisan di media massa yang mengritisi artikel Saiful Amin tentang Percaturan Politik Kyai, dalam artikel tersebut Saiful tidak menyetujui kyai andil dalam politik. Sebab, urusan kyai adalah orang yang cenderung mengurusi di bidang agama Islam, tentu wilayah kerjanya di pesantren, sedangkan pakar politik cenderung dekat dengan pemerintahan, yang wilayah kerjanya di pemerintah.

Selaras dengan peran kyai dalam politik, beberapa kyai sudah mewarnai dalam pemilu legislatif 2009. Pada pemilu, partai yang berbasis Islam misalnya PKB, PKNU, PAN, PPP, PKS dan lain sebagainya hampir tidak lepas dari peran dari kyai. Keberangkatan kyai yang memiliki corak berbeda-beda dalam mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Ada yang berangkat dari partai politik berbasis Islam, itupun bukan hanya dari satu golongan madzab dalam Islam, ada pula yang berangkat dari partai politik berbasis nasional, dan masih banyak peran kyai yang terlibat dalam politik meskipun tidak menjadi calon legislatif.

Keterlibatan langsung kyai dalam politik bukan hanya pada pemilu saat ini, tetapi pemilu-pemilu sebelumnya juga sama. Bahkan dahulu ada beberapa kyai yang sempat merintis dan mengembangkan organisasi politik Islam di tanah air seperti Masyumi, MIAI, PSII, Perti. Maka wajar kalau banyak kyai yang dikenal sebagai pejuang, seperti pada zaman dahulu KH. Hasyim Asari dan KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian di kenal sebagai perintis organisasi Islam terbesar di Indonesia –Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dari anotasi keterlibatan atau kita sebut relasi antara kyai dan politik senantiasa menjadi hal yang menarik. Persoalan keterlibatan kyai dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif relasi antara Islam dan politik sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana seharusnya sikap kyai dalam politik?

Buku Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai, yang merupakan hasil penelitian Prof. Dr. H. Imam Suprayogo sebagai persyaratan tugas akhir pascasarja program doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UNAIR. Tentunya buku ini merupakan karya ilmiah yang sudah tidak diragukan lagi keaslihan dan validitas dalam kajiannya, sehingga dapat memberikan penjelasan secara generalisasi keterlibatan kyai dalam politik.

Uraian yang dijelaskan dalam buku ini, sekurangnya ada lima pandangan mengenai politik. Menurut Surbakti (1992), pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik sebagai segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan pemerintahan. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting.

Namun, hemat Suprayogo dari hasil penelitiannya, politik lebih tepat menggunakan pandangan ketiga dan kelima, yaitu politik sebagai kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat dan politik sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai. Sebab, kyai sebagai elite agama memiliki jiwa pemimpin yang memerlukan otoritas penuh, dan terlibat dalam peran-peran sosial untuk kepentingan masyarakat.

Tipologi Kyai

Kasus keterlibatan kyai dalam politik banyak variasi-variasinya. Ada kyai melakukan peran advokasi terhadap kepentingan umat dan membela terhadap rakyat lemah dalam menghadapi persoalan. Kyai menjadi mitra pemerintah, ketika melakukan legitimasi terhadap kebijakan pemerintah. Kyai sekedar reference person, bilamana para kyai dianggap sebagai bahan rujukan dalam bersikap dan bertindak oleh masyarakat luas. Atau kyai juga sebagai mediator di antara kelompok-kelompok kepentingan, bilamana kyai bertindak menjadi penghubung antara berbagai kelompok kepentingan.

Tipologi bentuk keterlibatan kyai dalam politik secara mencolok terjadi setelah tahun 1970-an. Sebelum itu, para kyai pada umumnya berada pada posisi homogen, yaitu berada pada organisasi sosial atau politik yang memiliki ciri khas keagamaan (Islam). Dengan demikian jika kyai tidak berada pada organisasi itu akan dianggap bukan sebagai tokoh agama. Pada Orde Baru, seiring berkembangnya politik ditubuh keagamaan, pemerintah mengukuhkan organisasi pemerintahan yakni Golkar. Sebab, pada tahun itu, berkembanglah wadah aktivitas keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Dakwah Islam (MDI), dan lain sebagainya.

Mengenai peran kyai dalam politik, Hidayat Nur Wahid selaku Ketua MPR RI pada seminar nasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, ketika mendapat pertanyaan tentang kyai berpolitik pada seminarnya, ia menyatakan bahwa “Politik ibarat pakai kotor, maka jika pakaian tersebut dicuci dengan yang kotor pula, tidak akan menjadi bersih.” Tafsirnya, ketika ada yang membincang bahwa politik itu kotor, maka dengan kedatangan atau keterlibatan kyai menjadi pembersih dari politik yang kotor tersebut. Sehingga, peran kyai dalam berpolitik sangat urgent sekali.

Walaupun kyai dalam berpolitik, sering terjadi persaingan, percaturan, pertengkaran, perebutan, dan sebutan lainnya. Tentunya, itulah tipologi dari para kyai. Namun, kita percaya bahwa kyai yang teribat dalam pertengkaran politik, masih membawa nilai-nilai perjuangan Islam. Sebagaimana pandangan politik yang diungkap oleh Suprayogo bahwa politik kyai dalam rangka mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat serta sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasikan atas kehadiran buku ini, yang mencoba memberikan konstribusi terhadap pandangan masyarakat terhadap kyai yang terlibat dalam politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, peran kyai tidak lagi diperdebatkan.[]

Categories
Buku

Pendidikan Penentu Nasib Bangsa

Pendidikan, Penentu Nasib Bangsa

Judul Buku : Pendidikan Berwawasan Kebangsaan

Penulis : HM. Nasruddin Anshoriy, Ch
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 210 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Mangaca pada hasil keputusan BNSP tentang Standar Kelulusan Ujian Nasional 2009 yang naik 0,25 dari tahun sebelumnya 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Nilai kelulusan tersebut memiliki spesifikasi nilai minimal 4,00 untuk dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Dengan ini, tentu sistem belajar mengajar di sekolah harus bekerja ekstra dalam menopang kenaikan nilai kelulusan 0,25.

Sebab, kalau tidak demikian peserta didik tidak akan mendapatkan ijasah yang mereka tunggu selama duduk di bangku sekolah. Sementara, hakikat pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dalam pembukaan UUD 45.

Selain itu pula, pendidikan adalah salah satu tempat kita membondong pengetahuan. Ia adalah tempat yang membantu kita memeperoleh pengetahuan dari proses transfer of knowledge. Sadar atau tidak hal demikian sangat perlu bagi kita jika memang benar diri kita membutuhkan kedewasaan dari pendidikan yang kita peroleh.

Kita mengakui, pendidikan menjadi penting dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaan suatu negara. Ukuran dari kemajuan negara dapat diukur dari great pendidikan. Sampai pada saat ini aspek penting pendidikan mulai menjadi perhatian utama dalam membangun negara. Wujud perhatian tersebut telah nampak pada saling memikirkannya sistem pendidikan atau kita kenal dengan sebutan kurikulum.

Sistem kurikulum dari Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi pedoman penting dalam kegitan belajar mengajar. Pada saat ini, kurikulum KTSP menjadi sistem terakhir yang memberikan resep kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan basis lokal. Sehingga pendidikan sangat bergantung pada kondisi lingkungan lokal meraka. Oleh karena itu, pendidikan seperti ini berkaitan erat dengan aspek kondisi lingkungan lokal mereka.

Saat ini, Buku Sekolah Elektronik (BSE) ditetapkan pemerintah sebagai buku acuan yang menjadi acuan juga dalam Ujian Nasional. Adanya wajib BSE berarti menyamaratakan lingkungan lokal yang tidak mengenal kondisi sumber daya manusia di lain tempat yang berbeda. Maka bisa dipastikan, tingkat ketidaklulusan akan semakin meningkat pada ujian nasional di waktu dekat-dekat ini.

Sangat sulit sekali memila-mila konsep yang dapat diterapkan di semua daerah. Begitu juga dalam menentukan sebuah kebijakan-kebijakan dalam manajemen mutu pendidikan. Padahal, mutu pendidikan sudah menjadi penentu kemajuan bangsa. Pendidikan menjadi penentu nasib bangsa. Ketika pendidikan amburadul, maka bangsa pun ambudarul begitu juga negara.

Pendidikan Berwawasan Kebangsaan, menjadi suatu konsep kesadaran ilmiah yang berbasis multikulturalime memberikan pernak-pernik dalam merias wajah pendidikan Indonesia yang berasaskan “Bhineka Tunggal Ika” atau “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.

Membincang mutu pendidikan tidak akan pernah habisnya, berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan selalu menjadi perhatian. Namun, dinamika pendidikan dewasa ini ditandai oleh suatu revolusi dan transformasi pemikiran tentang hakikat pengajaran. Titik sentral setiap peristiwa mengajar terletak pada “suskesnya murid mengorganisasi pengalamannya, bukan pada kebenaran murid dalam melakukan replikasi atas apa yang dikerjakan guru”.

Dalam hal ini, murid bukan sekedar meniru apa adanya dari pengajaran guru, melainkan murid dapat merepresentasikan hasil belajarnya dalam kehidupan dan proses kedewasaannya. Maka betul menurut Nasruddin bahwa kesejahtreaan bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, melainkan bersumberpada modal moralitas mutu pendidikan.

Karen itu, memulai pendidikan dasar anak bangsa sejak mereka mulai hidup di lingkungan keluarganya. Keluarga mejadi lingkungan pendidikan awal yang mengajarkan anak tentang tata cara dalam kehidupan, mulai dari pendidikan “tata-krama” atau kesopanan hingga pendidikan dalam hal-hal yang dibutuhkan dalam bermasyarakat.

Dalam wawasan kebangsaan ini, seorang anak mulai dikenalkan dengan betapa pentingnya dan rasa kecintaan terhadap bangsa. Rasa memiliki yang tertanam menjadikan mereka bersemangat belajar dalam memajukan mutu bangsanya. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak lain peduli kepada bangsanya dan ketika mengonsep sistem bukan sekedar asal-asalan. Semisal dalam membuat kurikulum baru atau peraturan-peraturan pendidikan baru, mereka akan memahami situasi multikulturalisme.

Pada keputusan hasil BSNP tentang standar kelulusan itu sendiri, tentu keputusan tersebut dibuat tidak asal-asalan pula. Sehingga kita dapat berharap agar pendidikan di negara kita selalu membaik. Bukan sekedar murid lulus ujian saja, melainkan murid dapat mengaplikasikan hasil belajarnya untuk proses dewasanya. Dengan kata lain, ukuran kesuksesan lagi-lagi tidak pada hasil ijasah.

Karena pendidikan menjadi nadi penentu kemajuan bangsa Indonesia, maka tidak ada salahnya memberikan konsep pada anak didik kita yang selaku calon penerus bangsa dengan bekal wawasan kebangsaan. Dengan demikian, “hitam-putih” pendidikan kita benar-benar pendidikan menjadi ‘gantungan’ kemajuan bangsa. Semoga nasib bangsa, bernasib baik karena penerus bangsanya.[]

Categories
Buku

Prinsip, Melawan Kegagalan Hidup

Judul Buku : Hidup Plus! Prinsip Plus!

Penulis : D.S. Prasetyono

Penerbit : Think dan Diva Press, Yogyakarta

Cetakan : Desember, 2008

Tebal : 265 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Lebih baik menjadi orang kecil tetapi bekerja untuk diri sendiri, daripada berlagak orang besar tetapi kekurangan makan.”

Kalimat prinsip di atas agar diindahkan dengan tidak menyalai arti dalam pengunaannya. Pada dasarnya, semua benda, aktivitas ataupun lainnya keberadaanya pasti memiliki sisi positif dan negatif. Maka, ini semua akan menjadi tanggung jawab kita untuk diarahkan kemana semuannya itu.

Jika kita pernah membaca lingkungan disekitar, maka kita akan menemukan orang disekeliling kita yang sering mengalami depresi, stres, bosan hidup, dan sebagainnya. Hal seperti ini mungkin sudah menjadi kodrat yang akan dialami oleh semua manusia. Tinggal apa kita dapat mendorong untuk mengalahkan hal-hal tersebut.

Aktivitas hidup yang membosankan, tiap hari diliputi kegagalan, tidak punya energi dan tidak punya kekuatan hidup, yang umum disebut dengan prinsip hidup. Hidup Plus! Prinsip Plus adalah sebagai bacaan yang merangkum semua kelukesah hidup manusia. Dalam buku ini terdapat pemikiran jernih, motivasi-motivasi hidup, kepercayaan dan keyakinan diri akan semakin kuat dan kokoh untuk mempersiapkan pelajaran hidup yang baru-baru ini terkena masalah-masalah yang muncul. Masalah sendiri juga sudah divonis menjadi bagian dari hidup manusia.

Setiap orang pasti pernah mengalami nasib baik maupun buruk. Itu semua sudah kehendak dari yang memberi hidup. Pastinya, setiap manusia akan melami kegagalan dan kesuksesan. Dengan demikian, seperti nasib Anda, maka kagumilah ini adalah bagian dari hidup Anda.

Charles F. Kettey, seorang penemu yang jenius pernah berkata “Saya tidak berminat pada hal-hal yang terjadi di masa lampau. Saya hanya menaruh perhatian pada masa depan, karena itulah wadah untuk menghabiskan masa hidup saya lebih lanjut.” Tanamkan dalam hati, bahwa hari depan tempat Anda menghabiskan sisa hidup Anda itu ditentukan oleh pandangan hidup Anda sekarang ini. Sedangkan, sumbernya untuk itu dapat Anda peroleh semuanya dalam pikiran Anda sendiri.

Prinsip mengagumi hidup pantas Anda miliki, sebab dari pikiran Anda sendiri yang mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam jatah hidup Anda. Masa depan Anda bukan berada pada masa lampau tetapi ada di depan Anda. Jika Anda menginginkan hidup plus dalam meniti masa depan yang sudah di depan mata, maka Anda harus memilki prinsip plus.

Banyak cara dalam memunculkan prinsip plus. Anda sendirilah yang akan menemukan bagaimana Anda membuat prinsip hidup dalam peta perjalan hidup Anda. Petua dari William Edward Hickson, “Apabila pada mula pertama kamu tidak berhasil, cobalah berulang kali.” Lalu beliau menambahkan, “Kamu pasti bisa melakukannya, apabila kamu berpikir bahwa kamu bisa.”

Perkataan dapat datang dari mana saja, tetapi jarang perkataan orang yang Anda pikirkan sehingga Anda menemukan prinsip hidup Anda. Kita pikirkan kembali petua William, ia membongkar otak Anda. Apakah Anda akan dapat mencerna atau tidak? Jika memang tidak berarti Anda tidak mempercayai bahwa Anda memiliki kemampuan. Cukup hanya dengan percaya diri Anda dapat melakukan semuanya.

Dalam membaca Prinsip Plus! Hidup Plus! Anda hanya akan menemukan beberapa motivasi-motivasi hidup. Sama halnya Anda mendengarkan semua ceramah-ceramah agama. Ketika udah selesai acara ceramah lewat begitu saja isi dari ceramah tersebut. Dengan demikian, tidak akan ada artinya semua perkataan atau perbuatan orang lain demi Anda, tetapi Anda sendiri tidak mengapresiasikan dengan mencoba memikirkan dan melakukan dengan baik apa yang ada dalam isi ceramah. Padahal menurut Anda ceramah agamanya benar dan baik untuk dilakukan.

Penghayatan hidup juga menjadi prinsip dalam hidup Anda dengan penghayatan berarti Anda sudah mencoba untuk mengenali diri Anda sendiri. Prinsip penghayatan diri, biasanya menjadi prasarat orang untuk memberikan tausiah kepada orang lain. Misalkan, Anda menyuruh orang berbuat baik, tetapi Anda sendiri tidak melakukannya itu sama artinya Anda berbicara didepan tiang bendera.

Sangat sulit dalam mengenali diri. Sebab manusia itu punya mekanisme untuk membela diri yang dibawa sejak lahir, yang senantiasa mendorong seseorang itu berbuat apa yang ia kehendaki. Mereka lebih senang meneliti orang lain dari pada meneliti dirinya sendiri, tetapi manfaat dari mengenali diri akan membuka pintu percaya diri Anda dalam hidup. Sehingga tidak dipersalah jika Anda mengalami kegagalan dari kelalaian Anda meneliti kekurangan diri.

Masih banyak contoh-contoh dalam prinsip plus. Kegagalan bukanlah masalah hidup, berpikir positif dan dinamis pada setiap masalah akan membawa kita pada kecerahan dalam menyelesaikan masalah dengan baik. Untungnya, bagi Anda yang dapat menyelesaikan masalah adalah catatan positif bahwa Anda sudah mendapati kemajuan satu langkah. Walaupun kemajuan tersebut berawal dari menyelesaikan masalah.

Kemajuan dalam hidup bukan berarti kemajuan dalam jabatan, harta, pengetahuan dan lainnya. Melainkan kemajuan hidup berarti kemampuan dalam menuntaskan masalaha hidup. Anda tidak akan dikatakan maju, apabila Anda kaya, punya jabatan tinggi, gelar tinggi tetapi Anda tidak dapat menyelesaikan masalah Anda sendiri. Hal seperti ini lucu, karena tidak senama dengan jabatan, gelar dan harta Anda.

Walhasil, jika memang Anda percaya bahwa orang yang memiliki prinsip yang bagus, maka orang tersebut akan memiliki hidup yang bagus pula. Patut anda perhatikan dan lakukan petua dalam Hidup Plus! Prinsip Plus! Sebagai modal kemampuan berpikir Anda dan semoga Anda sukses.[]