Categories
Thinker

Ramadhan: Kambing Hitamnya

Ramadhan: Kambing Hitamnya

Barang siapa yang bahagia dengan kedatangan bulan ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka” (al-Hadits as-Shahih).

Ramadhan memformulasi orang Islam bahwa ramadhan sebagai pionir dari bulan-bulan selama setahun. Paradigma bulan Ramadhan memiliki substansi bulan ‘kamil’ di antara bulan-bulan lainnya. Selain itu, desain paradok yang menyatakan bahwa setiap gerak-gerik manusia dilipat gandakan menjadi seribu kali gerak baik maupun buruk untuk nilai spiritualias. Pantas jika kedatangan ramadhan disambut sakral untuk dirayakan dengan istilah jawa ‘megengan’ atau ‘syukuran’. Indonesia mayoritas beragama Islam, mesti tidak tersentak ketika memapas seluruh sudut wilayah bergoyang menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Walaupun, menyesalkan ketika penyambutannya tidak pula dibarengi dengan pengenjotan aspek spiritualitas dari efek ‘megengan’ yang bernampak ‘orak-orakan’.

Miniatur semarak gelegar ramadhan yang dirayakan meriah, tidak satu pun baik individu maupun golongan yang memiliki aliran darah dan utamanya yang mengamalkan syariat Islam bisa dipastikan berbahagia dengan kedatangan ramadhan. Realita masyarakat Islam telah berbondong-bondong merayakan kebahagiaan datangnya ramadhan, mulai dari aspek rohani maupun aspek jasmani diset-up nuansa Islami. Untuk itu, pantas bila Indonesia lebih ramai pada bulan-bulan Ramadhan ketimbang hari kemerdekaan Indonesia dan bahkan kemeriaan ramadhan mengalahkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Nuansa-nuansa ramadhan lebih mengudara pada pribadi muslim.

Kenampakkan peristiwa yang terjadi dalam menyambut ramadhan, akhir-akhir ini banyak yang mengatasnamakan ramadhan. Peristiwa penertiban PKL oleh Satpol PP Surabaya di tiga kecamatan, yaitu Tegalsari, Wonokromo, dan Sawahan yang diamati oleh pengamat sosial dari Universitas Airlangga dan berpendapat bahwa niat pembersihan PKL oleh Pemerintahan Kota Surabaya tidak konsisten sebab pengususran PKL tidak disertai dengan relokasi penataan ruang kembali untuk PKL (Kompas, 28 Agustus 2008).

Hal lain yang sepadan dan sudah mentradisi yakni setiap menjelang bulan Ramadhan maupun menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Kaum menengah ke bawah ataupun kaum lain yang selalu disulitkan dengan melejitnya harga barang sadang, pangan, dan papan. Alasannya juga sama, bahwa mumpung ramadhan tiba maka perlu dikeruk kesempatan emasnya. Memang sangat koheren, ketika mendekati berakhirnya ramadhan yakni para masyarakat berduyun-duyun untuk berbelanja banyak guna mempersiapkan hari raya idul fitri.

Kambing Hitam

Sangat jelas, sebuah realita kebanyakan mengatasnamakan karena ramadhan. Baik yang bersifat menguntungkan maupun merugikan pihak-pihak yang terkait. Sangatlah janggal, ketika ramadhan menjadi kambing hitamnya. Sebab wujud ramadhan bukan menjadi bulan tameng dari perilaku manusia terhadap manusia tapi menjadi ril menuju rahmat Tuhan.

Ini wajar, kita tengok sebuah perkataan Ustman al-Khuwawi dalam kitab durotun nashihin bahwa derajat orang berpuasa memiliki tiga derajat. Pertama, puasanya orang awwam dan ketika mereka berpuasa hanyalah paham berpuasa sebagaimana nampakannya tidak secara perinci paham bagaimana puasa yang baik. Akhirnya, mereka dalam berpuasa hanya menjaga makan dan minum saja dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Kedua, puasanya orang shaleh. Orang shaleh dalam menjalankan ibadah puasa sangat berbeda jauh dengan golongan pertama. Orang shaleh berpuasa bukan hanya menjaga dari makan dan minum secara jasmani, tetapi juga menjaga rohani yang terkover dalam sikap jiwa atau hati. Artinya, sang shaleh tetap menjaga jasmani maupun rohani. Karena pada dasarnya berpuasa bertujuan untuk memerdekakan hati dari sikap chaos.

Ketiga, orang yang berpuasa dan hatinya hanya ingat kepada Tuhan. Sehingga urusan yang dilakukan oleh mereka ini hanya bertujuan untuk Tuhan. Bahkan urusan yang lain dapat tergantikan dengan urusan mengingat Tuhan. Katakan saja, orang yang seperti ini adalah orang yang pasrah kepada-Nya. Sikap totalitas begitu melekat, sehingga orang yang dekat bisa merasa heran dengan tingkah tidak wajar yang dilakukan mereka karena kedekatan alam disekelilingnya belum memahami keberadaan orang seperti ini.

Beralas-alasan

Paparan dari ketiga derajat orang berpuasa, dan yang paling sering nampak pada manusia adalah bagian pertama. Banyak orang yang menyuarakan shaleh tapi sikapnya seperti orang awwam –tidak shaleh. Banyak orang yang bisa bertutur tapi tuturan hanya tetap sebagai tuturan tidak menaklikkan perubuatan. Untuk itulah, pantas jika di bulan Ramadhan orang yang melisankan diri sebagai yang terbaik masih saja tidak setara dengan penyuaraannya. Aktivitas puasa yang dilakukan selalu saja hanya pada aspek jasmani menahan lapar dan dahaga. Dari aspek rohani hampir terlupakan untuk berpuasa pula. Sikap yang saling mencela masih ada, sikap yang saling iri masih ada, sikap beralas-alasan juga masih ada, dan sikap menyalahkan juga masih ada.

Mungkin, hanya jawaban warna-warni manusialah yang memberikan jawaban benar jika ramadhan selamanya akan menjadi kambing hitam dalam beralasan. Sedikit-sedikit karena ramadhan. Tidak ada agenda apa-apa jika tidak pada bulan ramadhan. Tidak ada aktivitas rutin membaca al-qur’an atau ‘tadarusan’ jika tidak ramadhan. Tidak rutin bershodaqoh –pamrih untuk dikenal dan dikenang– jika tidak ramadhan. Sikap demikian yang perlu kita pangkas. Semula sikap berpikir yang tidak percaya pada badan amil zakat membuat para dermawan gemar mengecer harta dengan kepanitiaan sendiri. Maka tidak ada yang dipersalahkan jika kecelakaan yang diakibatkan sikap egois memimpin demi merebut panggilan ‘dermawan’.

Seyogyanya, ramadhan datang memberikan pancingan awal untuk berkiprah yang lebih baik, bukan setelah ramadhan aktivitas baik menjadi stagnan (kemandekan) dan menunggu berputarnya waktu ramadhan tahun depan. Semoga kelancaran usaha dan doa menghantarkan kita pada cita-cita secara simultan ke depan.

***

Oleh, Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

RENAISAN MERAH PUTIH

Refleksitas ke-Nasional-an Boedi Oetomo (BO)

Dewasa ini, negara Indonesia mengalami krisis nasionalismenya. Di mana nasionalisme merupakan tongkat menuju Indoensia berkibar sejahtera. Di sisi lain, kini dirasa sudah se-abad. Sisa-sisa perjuangan para penjuang muda Indonesia yang gigihnya terhadap bangsa ini. Tepat sekali, pada 20 Mei 1908 beberapa pelajar bangsa Indonesia antusias mendeklarasikan semangatnya dengan sebuah organisasi Boedi Oetomo (BO).

Jiwa nasionalisme telah terkobar pada diri pemuda pada saat itu. Para pemuda berkeinginan memulai Indonesia untuk maju selangkah pada kemerdekaan. Pada zaman itu, para pemuda berada pada kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Tepatnya bernama Stovia adalah bangunan yang berfungsi sebagai sekolah kedokteran yang sekarang merupakan museum megah di jalan Abdurrahman Saleh-Jakarta. Di tempat ini pula, beberapa pelajar yang umumnya dari kalangan priyayi Jawa dan Madura mendeklarasikan sebuah organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo itu. Dengan prioritas utamanya meningkatkan kesehatan dan memberikan pendidikan bagi seluruh rakyat di Jawa dan Madura karena ketika itu mereka masih belum mengetahui keberadaan bangsa di nusantara ini.

Peristiwa Boedi Oetomo itu kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pada 20 Mei 2008 tahun ini, deklarasi pemuda telah mencapai usia satu abad. Pertanyaannya, bagaimanakah wujud dari rasa kebangkitan nasional kita terhadap bangsa ini? Sementara gejala Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei sudah tidak lagi diperingati secara khidmat atau selayaknya sebagai peristiwa yang penting dalam sejarah bangsa.

Sang Merah Putih

Kata yang tepat pada saat ini adalah “Kibarkan Sang Merah Putih”. Kiat terasa berat bahwa implikasi yang terjadi saat ini seharusnya setara dengan kondisi Hari Kebangkitan Nasional terdahulu. Kibaran Merah Putih sebagai lambang bangkitnya penjuangan kita atas kepedulian dan tanggungjawab kita terhadap warisan yang berupa Kebangkitan Nasional ini. Keserupaan tidak akan bisa kita jalani sama persis dengan apa yang dilakukan oleh para patriot kebangkitan nasional terdahulu.

Hal yang bisa kita perbuat pada saat ini sebagai balasan atas perwujudan kita terhadap kebangkitan nasional adalah dengan semangat jiwa, semangat kepatriotan sang merah putih yang berupa kepedulian atas nusantara ini.

Sangat jelas sekali Indentitas Nasional yang kita miliki, tetapi benarkah Identitas tersebut yang dianggap sebagai buah hasil kebangkitan nasional, telah membesar sebagaimana hitungan umur hari kebangkitannya. Jika dijawab kebesaran bangsa dan bertambahnya umur kebangkitan nasional jelas tidak sebanding dengan cita-cita bangsa sebab nasionalisme kita telah dirampas oleh egoistisme kita sendiri.

Oleh karena itu, sebagai penerus harapan bangsa seharusnya mempunyai semangat yang sama pula dengan cita-cita pejuang terdahulu. Walaupun perjuangan kita saat ini berbeda sekali dalam hal perwujudannya. Paling tidak kibaran sang merah putih ada pada jiwa kita. Bangsa ini tidak membutuhkan semangat lambang merah putih yang hanya ada di depan mata, semestinya selalu tertancap pada semangat jiwa kita.

Mari kita teliti bersama, pada saat ini sang merah putih telah kalah kibarannya dengan bendera-bendera partai politik yang egoistisme. Partai politik bertujuan sebagai semangat kebangkitan nasional “katanya”, sementara itu konflik semakin hari semakin bertambah pemecahan masalah semakin sulit. Introspeksi diri perlu kita lakukan dalam rangka pembenahan jiwa kita agar terarah pada ‘Kibarlah di jiwa bukan Kibarlah di mata’.

Pesan yang tereduksi oleh sang merah putih adalah semangat juang. Untuk itu pada kesempatan terakhir kita ini adalah memikirkan nasionalisme kita dalam kanca Hari Kebangkitan Nasionasional. Patut sekali perwujudan semangat kita pada abad kebangkitan yang terkobar di hati dengan itu kita akan diakui kepedulian kita pada bangsa ini. –Kibarkan Sang Merah Putih di Hatimu– sebagai awal juang kita.

TERBIT DI- MALANG POST MINGGU 25 MEI 2007

Categories
Thinker

Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri

Deskripsi Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri
Di dalam artikel Komarudin Hidayat yang berjudul Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri, dapat diuraikan bahwa seorang yang mencoba dirinya untuk mencapai kesadaran murni (pure consiouness) yang mana kesadaran murni tersebut tidak dapat digambarkan, karena tingkat kesadarannya ini melampau kesadaran biasa. Dan untuk menempuh itu perlu melalui proses penyaksian, dimana penyaksian atau pengetahuan diri. Jadi bila seseorang mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu dengan benar, maka dia akan mengenal tuhannya.
Dalam buku syeikh fadlallah Haeri, dijelaskan bahwa sesorang murid sufi yang dilalui adalah penyaksian yang murni dan sederhana. Dan tingkat tersebut dinamakan dengan muroqobah. Kesadaran memberikan sesuatu yang lebih tinggi dalam dirinya yang membuat menyaksiakan apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Bisa saja diletraturkan pada sebuah pembesihan atau penjerniahan air keruh. Di mana air keruh akan melewati alur penyaringan sampai penjernian, yang mana jika dihubungkan dengan pengenalan diri dengan cara memahami diri sendiri juga diperlukan proses. Yang pertama, pengosongan diri di mana pengosongan ini, tidak dikenalkan lagi pikiran-pikiran yang menganggu pada jiwa manusia untuk mengetahui dirinya. Kedua penjernihan, di mana seorang sufi akan mengalami kemapuan berketerbukaan dengan bagian pusat batin seseorang.
Sehingga dari proses penjerniahna tersebut akan dihasilakn kesadaran yang mana berawal dari pengetahuan diri. Dalam perjalanan ini seorang guru (mursyid) sangat berperan sekali dengan membimbing seorang murid sufi, karena mursyid di sini yang akan memerikan alur atau jalur yang akan ditempuh sekaligus komandan dari murid sufi tersebut.
Dari peranan mursyid ini, hasil akhir penjernihan air akan diperoleh penyucian air yang dengan itu difokuskan dalam dunia nyata proses menuju ‘pure’ terdapat tiga langkah proses –pengosongan, penjernohan, dan penyucian– yang terjadi secara koherensi simultatif (saling keterkaitan).
Dalam artikel tersebut Komarudin juga menerangkan bahwa kaum materialistisme akan merasa lebih sulit mengalami atau melalui kemurnian yang benar-benar murni. Karena mereka selalu digeluti dengan asumsi yang bersifat kapitalisme, yang mengedepankan bahagia di mata dari pada di hati, yang artinya jiwa mereka seakan-akan tidak bisa mereka kenali, kemana dan apa serta bagaimana tujuan hidup mereka. Hanya berjalan melalui populeritas matetialistislah yang mereka geluti.
Dalam inti tasawuf, ajarannya pada hakekatnya nilai keluhuran yang terletak bukan berwujud empirik, sehingga capaian yang dimisikan akan terwujud melalui proses pengenalan diri sendiri. Dan dari itu akan dicapai pendeknya nurani cahaya kesucian senantiasa menetap Tuhan dalam kontak dan kedekatan antara kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima.
Semuanya berawal dari naluri manusia yang membawa dirinya kepada-Nya tidak ada rekayasa pendidikan tetapi nalurilah yang membawa. Dalam maqomat seorang tasawuf, dirinya akan bernaluri untuk bertingkah yang kongruensi dengan akhlak makhmudah.

Sejarah Kemunculan Sufi
Munculnya sufi-sufi di saat kaum Muslimin umumnya terpengaruh pada dunia yang datang kepada mereka, dan terbawa pada pola pikir yang mendasarkan semua masalah dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka. Berkembangnya ekonomi dan bertambahnya pendapatan masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh dari tuntutan Islam).
Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi. Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya.
Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an; dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang menulis sebuah buku yang berjudul: “Madaarijus-Saalikin ilaa Manaazilus-Saairiin,” yang artinya “Tangga bagi Perjalanan Menuju ke Tempat Tujuan.” Dalam buku tersebut diterangkan mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak, sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat Al-Fatihah, “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nastaiin.”
Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui ulama ini, dapat diketahui tentang banyak hal, terutama ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.

Tanggapan Tentang Adanya Tasawuf


Aliran Tasawwuf / Sufi begitu suburnya tumbuh di Indonesia belakangan ini. Banyak orang yang tidak mengenal aliran ini dari sumbernya menjadikannya obat penawar di dalam menghadapi permasalahan hidup yang ada. Sehingga pada era sekarang ini banyak para ulama kita telah menjelaskan kepada kita tentang siapa aliran Tasawwuf / sufi ini, tentunya di dalam timbangan Al-Quran dan As-Sunnah.
Dalam penjelasan Abu Abdirrahman Uli, tentang hakikat tasawuf telah memberikan rambu-rambu bagi kita yang ingin menelusuri jalan tasawuf. Penjelasan yang menyatakan bahwa kita wajib kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih untuk dapat mengetahui hakikat tasawwuf ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisaa’ :59)
Jadi, segala penyimpangan yang akan kita bicarakan tentang tasawwuf ini berdasarkan pertimbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman salafus shalih. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
Aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan menyesatkan kalian selamanya, (yaitu) Kitabulah dan Sunnahku.
(Hadits Shahih riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha (II/1899) dan Imam Hakim dalam Mustadrak I/93) secara bersambung dari Abu Hurairah r.a.)

Sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hakekat sama yang khusunya dalam mencapai kemurnian yang begitu tinggi dibandingkan kemurnian biasanya, dan yang juga tidak bisa dileteraturkan dalam pandangan empirik biasa. Tentunya muslim yang seperti itu, hendaknya memilah dalam bermadzab sufinya untuk lebih berhati-hati. Seperti fenomena yang terjadi di Indonesia yang memiliki beragam macam madzab atau aliran sufi, terlebih di dunia luar.

__________________________________________________________
Dieksplorasikan dari sebuah Artikel Tasawuf Manusia dan Proses Penyempurnaan diri, karya Komarudin Hidayat http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg02097.html
Categories
Thinker

TERAPI SEHAT DALAM SHALAT

Oleh Indah Rahmawati *

Telah banyak dijelaskan mengenai hal ibadah shalat, yang awal mulainya dari kesistensi agama Islam. Betapa mudah dan sangat beruntung sekali para ahli ibadah, khususnya ketika ibadah shalat. Dari sini muncul manfaat shalat bagi tubuh manusia, yang mana tubuh manusia merupakan alat yang paling utama untuk melaksanakan shalat. Bahkan, atau hanya akan menimbulkan rasa capek dan gerah atau kepanasan dalam melakukan shalat.

Ternyata banyak peneliti atau riset mengungkapkan bahwa shalat merupakan suatu aktivitas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh manusia. Dengan shalat tubuh manusia akan terjaga dengan baik dan seimbang, yang disebabkan karena gerakan-gerakan yang terdapat dalam shalat itu sangat cocok untuk melatih seluruh anggota badan, baik bagian dalam maupun bagian luar. Bukti-bukti penelitian tersebut dapat kita temukan dari berbagai macam buku tentang keistimewan shalat. Selain itu kita juga dapat mengunjungi tempat kesehatan, seperti rumah sakit yang dapat memberikan informasi bahwa shalat merupakan salah satu terapi kesehatan yang baik.

===Shalat dan Kebugaran Badan.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bisri Musthofa dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Sehat karena Shalat” menyatakan bahwa apabila seseorang mandi dalam sehari sebanyak lima kali persis dengan waktu shalat, maka tubuh tersebut akan terasa segar dan bersih. Begitu pula halnya dengan shalat, jika seseorang tersebut melakukan shalat tepat pada waktunya, seperti yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka shalat tersebut akan menjadi penggugur dosa yang sangat efektif dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba tersebut yang telah taat pada-Nya.

Juga telah diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah pernah bersabda dihadapan para sahabatnya: “Bagaimana pendapatmu bila dihadapan pintumu ada sungai yang mengalir, yang dengan itu kalian semua mandi lima kali dalam sehari? Adakah tersisa daki di badannya?” Lantas sahabat pun menjawab, “Tidak sedikitpun”. Kemudian Rasulullah pun bersabda, “begitulah perumpamaan shalat lima waktu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari).

===Shalat Menjaga Kesehatan Jasmani
Dampak kesehatan juga timbul dari gerakan-gerakan shalat, seperti ruku’, sujud, dan lain-lain. Berkaca pada Rasulullah seperti yang telah disabdakan oleh Aisyah R.A. bahwa Rasulullah ketika melakukan ruku’, tidak terlalu tegap dan juga tidak terlalu bungkuk. Contoh lain adalah ketika Rasulullah melakukan sujud kedua, beliau tidak akan melakukan sujud yang kedua sebelum melakukan gerakan duduk diantara dua sujud dengan benar.

Dari sini kita tahu, shalat tersebut merupakan latihan fisik sekaligus mental dengan cara yang seimbang sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlalu ditekan. Latihan tersebut sangat penting untuk disadari bahwa bagian besar penyakit yang sekarang marak, disebabkan oleh kondisi mental yang tidak sehat. Fungsi yang harmonis dari pikiran itu pada tingkat yang benar dan pada cara yang sangat seimbang hanya dapat diperoleh dengan shalat.

Menurut Al-Dzahabi, melalui shalat yang ikhlas lagi khusu’, hati seseorang akan bisa dekat dengan Tuhan, “Jika hati manusia dekat kepada Tuhan, Sang Penguasa dunia yang mencipta penyakit dan obatnya, yang memerintah alam dunia sesuai dengan kehendak-Nya, maka baginya akan tersedia obat-obatan bagi penyakitnya. Hal demikian tidak bisa dialami oleh siapa saja kecuali orang yang beriman dan telah diberi petunjuk oleh-Nya”.

===Menumbuhkan Sikap Optimis Melalui Shalat.
Orang yang shalat dengan khusu’, ikhlas dan kontinu akan menumbuhkan rasa percaya diri yang penuh dalam dirinya. Orang tersebut akan berpikiran positif dengan segala hal yang dihadapi. Jadi ketika ada masalah, maka akan dihadapi dengan melihat sudut pandang positif. Sehingga akan terbiasa dengan sikap optimis yang lebih untuk menghadapi berbagai cobaan.

Dengan beribadah kepada Allah SWT kita akan senantiasa memperoleh ketenangan. Agar manusia selalu mengingat Tuhannya, maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menjalankan ibadah shalat. Shalat merupakan cara yang mudah untuk mengingat Allah, karena manusia menjalankan ibadah shalat minimal lima kali dalam sehari yaitu menjalankan shalat fardhu. Dalam ketenangan ini, manusia bukan hanya memperoleh ketenangan secara batin, akan tetapi dapat pula memperoleh ketenangan secara lahiriah. Bahkan dampak positifnya dapat diketahui dari kesehatan mereka.
Dari sinilah, bukti bahwa ibadah shalat merupakan suatu alat komunikasi antara Tuhan dengan hambanya. Dengan shalat pula, manusia akan memperoleh banyak manfaat, terutama dari gerakan-gerakan shalat. Untuk itu, sebagai kaum muslim yang berpilar Islam pastinya tidak ketinggalan untuk merenungi kembali apa makna dibalik suatu perbuatan?

*) Indah Rahmawati
Aktivis harian yang bergelut dengan dunia perhitunga,
tentunya di jurusan Matematika.