Categories
Thinker

Eksistensi Madzab Rasionalisme Rene` Descartes

Eksistensi Madzab Rasionalisme Rene` Descartes
(Resepsi, Sebuah Penjelasan Akal)

Oleh Bayu Tara Wijaya

Keberadaan rasionalitas menurut René Descartes yang termaktup dalam bahasa prancis Cogito Ergo Sum atau Je Pense Donc Je Suis yang memiliki arti Indonesia “aku berfikir maka aku ada”. Konsep rasionalitas tersebut banyak disalah artikan oleh beberapa orang setelah René Descartes. Tetapi kebanyakan orang salah menafsirkan dan salah mengunakan pedoman tersebut. Mereka tidak tahu sejarah filosofi munculnya kalimat tersebut. Akhirnya niat baik yang tersebunyi pada dua kalimat tersebut tidak muncul sinergis sebagaimana hakikat makna kandungannya.

Aliran rasionalisme menyakini bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran yang pasti berasal dari rasio. Kritisisme berusaha memadukan dua pendapat yang berbeda tersebut. Dalam tulisan ini penulis menggagas pemikiran rasionalisme secara sistematis dan komprehensif, teristimewa mendalami jalan pikiran rasionalisme René Descartes. Secara berturut-turut penulis ingin mendalami beberapa gagasan pokok dari Rene Decartes dari dekat yaitu metode kesangsian dan Je pense donc je suis, idea-idea bawaan dan substansi dan hubungan jiwa dan badan.

Descartes menjelaskan tujuan hidupnya adalah untuk membimbing akal budi ke arah penemuan kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan. Begitu juga hal yang paling merata di dunia adalah akal sehat; sebab setiap orang merasa cukup memilikinya, sehingga orang-orang yang paling sulit dipuaskan dalam hal-hal yang lain pun sama sekali tidak menginginkan lebih daripada yang ia miliki. Dalam hal ini, agaknya mustahil pendapat tersebut keliru, dan membedakan antara yang benar dan yang salah –yang memang secara tepat disebut akal sehat atau nalar– dimiliki oleh semua orang secara merata dan alami.

Terlepas dari segala argumen dan kritikan, Descartes telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Descartes telah menemukan sesuatu yang tak terpikir oleh filsafat klasik, sebuah cara penalaran baru yang menjamin kebenaran dirinya sendiri secara pasti. Dunia filsafat hingga sekarang tidak mungkin melupakan dirinya sebagai the founder of modern philosophy.

Dengan adanya salah aturan oleh orang-orang setelah René akhirnya sebagaimana yang terjadi ketika zaman modern, semuanya gara-gara akal yang lepas kendali, memungkinkan mereka begitu gembira menikmati kebebasannya yang baru saja diperolehnya. Sehingga keberadaan dari sebuah akal tidak lagi dihormati sebagai kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan dengan baik.

Oleh karena itu, koherensi sebuah hakikat manusia, dalam formulasi Je pense donc je suis rumusan Je pense (cogito) dipahami sebagai kesadaran diri. Berpikir bagi Descartes adalah menyadari. Saya yang berpikir adalah fakta sadar diri dimana saya berpikir. Maka dengan demikian akal akan berhikmah secara benar. Untuk itulah, sekecil apapun perubahan, tepaplah perubahan.[]

Categories
Thinker

Guru Semakin Materialistik

Guru Semakin Materialistik

Oleh Bayu Tara Wijaya *

Guru yang sejak kecil kita sebut adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi sekarang jasa guru butuh bayaran dari orangtua peserta didiknya. Pada akhirnya, guru menuntut kesejahteraan hidup ditanggung oleh peserta didiknya. Kebanyakan para guru tidak lagi main “gratisan” dalam membagi ilmunya. Sehingga ketika peserta didik diajar oleh guru yang hidupnya tergantung pada hasil mengajar di sekolah dan hal ini membuat kinerja guru tidak lagi profesional dibandingkan guru yang hidupnya sudah makmur (kaya).

Ukuran menjadi kategori guru pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ini sangat sulit didapati terlebih nilai barang kebutuhan sudah tidak lagi seimbang dengan gaji bulanan. Syukurnya, masih ada beberapa guru yang masih berada dalam kategori pahlawan. Setiap kali mengajar, bukan sekedar transfer of knowledge tetapi juga educative (mendidik) dan keeping (mengawasi).

Sesalnya, guru yang berjiwa ideal seperti itu, sudah tidak lagi bersebaran bagai daun rontok dari batangnya. Kebiasaan guru yang lompat sana-sini berakibat tidak sempatnya guru untuk mendidik, mengawasi maupun lainya. Guru hanya dapat datang pada jam belajar, dan langsung kembali ketika bel sekolah berakhir. Terkadang guru sering bolos karena terburu-buru beraktivitas di tempat lain. Guru yang seperti ini, masih belum dikategorikan sebagai guru ideal.

Pada zaman dahulu ketika Jepang menjajah Indonesia, dan Jepang melakukan bimbingan belajar perang terhadap warga Indonesia. Para warga tersebut didesain Jepang sebagai ‘pagar’ pelindung Jepang. Sebut saja, mereka para wayang (pesuruh) yang dimanfaatkan oleh dalang (Jepang).

Walaupun, dalam zaman tersebut terjadi penurunan ilmu, bukan berarti Jepang adalah guru bagi Indonesia. Malah, Indonesia adalah sebagai kelinci permainan dalang (Jepang). Sebab, kita ingat kembali dalam wacana filsafat pendidikan yang berisi sebagaimana penjelasan di atas, bahwa guru bukan hanya transfer ilmu tetapi juga membimbing, mengawasi dan lainya menjadi prasarat seorang guru. Maka dari itu, kepedulian seorang guru terhadap peserta didik atau kepedulian dalam mengembangkan sekolah mulai saat ini sangat diperlukan dalam tersukseskannya mutu pendidikan.

Tipologi Guru

Banyak macam model tipologi guru, mulai dari guru idealis sampai guru materialis. Guru materialis, pada saat ini menjadi guru yang merugikan pada peserta didik. Pendidikan dan peserta didik sudah pasti menjadi tumbal para guru materialis. Sebab, guru yang seperti ini jelas memiliki tipologi bisnis. Segala aktivitas mengajar guru, baginya adalah tergantung sekali pada materi yang mereka peroleh. Ketika guru seperti ini, gajinya naik maka semangat mengajar tumbuh dan ketika gaji lambat turun berdampak guru seperti ini seenaknya sendiri dalam mengajar.

Sangat sulit sekali dengan sikap guru yang seperti ini. Padahal mereka sudah mengenyam pendidikan lebih dulu, malah karena lebih dulu, mereka memanfaatkan jabatan gurunya untuk membodohi peserta didik. Kasus membodohi peserta didik tidak saja terjadi pada sekolah-sekolah saja dan bahkan kasus membodohi di kalangan kampus juga masih sering terjadi dilakukan oleh para dosen yang berjiwa materialis tinggi.

Kerap sekali kasus-kasus pembodohan atau kasarnya adalah penipuan dilakukan dikalangan lingkungan pendidikan. Salah satu misal, seorang dosen yang memanfaatkan tugas-tugas mahasiswanya yang berupa makalah ataupun yang lain untuk dijadikan buku dan diterbitkan dosennya. Lebih parah lagi, buku yang diterbitkan memakai nama penulis dosen tersebut. Padahal isi buku bukanlah murni dari karya dosen bahkan dosen hanya sebagai editor.

Naik Pangkat

Pada saat ini, jabatan guru atau dosen merupakan jabatan yang banyak dimimpikan. Apalagi dikalangan dosen ada istilah kenaikkan pangkat. Dengan demikian, dosen banyak sekali yang berkejaran mencapai kenaikan pangkat. Tetapi sangat tragis, ketika seorang dosen demi naik pangkat dengan nilai poin-poin tertentu membuat para dosen berpikiran kreatif. Sayangnya, ide kreatif dosen tidak didukung kemampuan yang inovatif. Efeknya, cara apapun demi kenaikkan pangkat akan meraka jalani.

Realitanya, banyak pula dosen atau guru yang membuat karya tulis berupa penerbitan buku dibarengi dengan niat agar mendapatkan kenaikan pangkat. Sehingga isi buku pun tidak diperhitungkan dan leganya secara otomatis dengan naiknya pangkat, gaji pun juga naik.

Upaya naik pangkat sampai berujung ambisi menjadi guru besar atau profesor. Parahnya, gemelut cara dosen atau guru lakukan tidak dibarengi dengan ide kreatif yang inovatif, akibatnya pangkat hanya sekedar pangkat, profesor hanya sekedar atribut profesor atau yang lainnya. Pangkat tinggi, pangilan sudah profesor tetapi kapabilitas masih sama dengan umumnya, yakni hanya menjadi profesor lokal biasa.

Berbeda dengan dosen atau guru besar yang berkapabilitas. Mereka banyak dikenal orang, bukan karena mereka pandai berkampanye, tetapi mereka lebih pandai dalam bidang keilmuannya. Semisal dalam aspek penelitian, jurnal ilmiah, penemuan atau aspek lain pendukungnya. Tidak seperti profesor yang asal jadi profesor yang kreatif tak inovatif. Sehingga berkarya pun asal berkarya tidak memperhitungkan nilai keilmuannya. Tetapi, hal itu lumayan saja karena sudah menjadi profesor daripada tidak jadi profesor, “katanya”.

Dari model guru, dosen hingga profesor saya kira sudah menjadi pelengkap dari diri kita untuk membaca dalam rangka mempelajari pernak-pernik masalah pendidikan ataupun masalah lainnya. Kita dapat mengetahui dan mengevaluasi nasib pendidikan yang menjadi tumbal bisnis para pebisnis jasa ilmu. Bagaimana nasib mutu pendidikan jika pendidikan selalu saja menjadi kabing korban.

Walhasil, jika memang semua orang rata suka pada materilis. Alangkah baiknya jika hal itu dapat terminimalisir dengan bertambahnya keilmuan yang kita miliki. Sehingga guru maupun dosen atau profesor sekalipun dan kebetulan mereka dikatakan menjadi figur lebih dulu dalam mengeyam ilmu pengetahuan. Lebih bersikap seperti ilmuwan terdahulu baik seperti ilmuwan dari barat maupun dari timur, tetapi hal itu sama saja ketika kita membaca tidak mengamalkan.[]


TELAH DIPUBLIKASIKAN DI KORAN PENDIDIKAN Edisi 30 Desember 2008

Categories
Thinker

Maju Karena Penelitian

Sebuah kajian teori dapat menjadi teruji validitasnya, ketika sebuah teori tersebut dapat dibuktikan. Sebagai penerus anak bangsa yang sudah banyak mengenal para pakar ilmuwan diberbagai bidang, tentunya tidak menyulitkan kita untuk memperoleh sebuah pengetahuan. Tetapi, sebuah pengetahuan akan stagnan dalam dogma pemikiran kosong jika tidak segera mungkin dikelolah. Oleh karena itu, mengelolah sebuah pengetahuan adalah jalan terpenting dalam meningkatkan keilmuan. Untuk itu, beragam pengetahuan yang kita peroleh akan sia-sia tidak membuahkan hasil keilmuan baru dan tidak bisa memberikan kemanfaatan pada kepentingan umat manusia.
Salah satu wadah pengembangan pengetahuan dalam rangka meningkatkan keilmuan adalah dengan mengadakan pengajian ulang hasil pengetahuan kita. Kita putar ulang sejarah berkembang manusia. Mereka berkembang karena adanya proses berfikir. Terungkap oleh filsuf modern Rene Descartes yang memberikan Discourses Method dalam berpikir yang berintikan pada konsep “Cogito Ergo Sum” atau “aku berpikir maka aku ada”.
Dari sini, langkah handal yang dipakai Descartes hanya kemampuan mengoptimasi otak berpikir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Sanapiah Faisal pada Sekolah Penelitian Umum yang diadakan oleh Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Malang berpendapat bahwa selama otak Anda normal tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan seorang peneliti sendiri yang tahu jawaban yang ia teliti.
Kesempatan yang merugi bagi kita jika tidak bisa mengembangkan pengetahuan menjadi sebuah ilmu. Sehingga dikatakan penelitian adalah salah satu dari realita dan prosedur dalam menguji sebuah pengetahuan-pengetahuan yang hanya berupa teori-teori.
Tepat sekali, Sekolah Penelitian yang diselenggarakan Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Malang pada pertengahan Desember lalu. Terlihat dari para peserta yang berpartisipasi tidak lain adalah mahasiswa umum maupun juga guru dari berbagai perwakilan kampus-kampus dan sekolah di Malang raya.
Respon baik dari para mahasiswa yang ada di Malang membuktikan bahwa keinginan mereka untuk mengembangakan keilmuan mereka melalui penelitian sangat tinggi. Sebab, orang pintar bukan hanya dipandang pada aspek teoritis tetapi juga aspek pragmatis sebagaimana yang dilakukan para peneliti adalah membukti sebuah teoritis yang dapat teruji secara pragmatis.
Dari sekian ilmuwan Indonesia, mendapatkan gelar ilmuwan atau professor dengan ide pemikian mereka yang teruji melalui penelitian. Sebagai contoh bagi kita sebagai penerus bangsa yang bercita-cita membangun sumber daya manusia lebih meningkat, hendak mempertimbangkan sikap bijak yang dilakukan para ilmuwan kita yakni penelitian.
Kita koreksi, berapa banyak ahli peneliti Indonesia dengan peneliti negara lain. Indonesia masih belum mencapai angka tertinggi dalam aspek penelitian apalagi aspek lainnya. Sebab, sebagian besar masalah dapat dipecahkan karena adanya sebuah penelitian. Dengan demikian, adanya sekolah penelitian dapat membantu kita untuk mengejar ketinggalan dari negera-negara yang mendahului negara kita. Sehinnga kesempatan negara kita untuk maju dapat diraih. Semoga.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya dimuat di SURYA 28 Desember 2008
Categories
Thinker

Tutup Catatan, Buka Lembaran

Yang berlalu biarlah berlalu”. Kata ini sering kita gunakan tetapi kita selalu membiarkan kata tersebut semakin berlalu. Banyak orang yang memakai kata tersebut sebagai tameng dalam menghadapi masalah. Melupakan masalah dan menenangkan suasana dengan ucapan “biarlah berlalu”. Mungkin dengan membiarkan masa lalu tetap berlalu kita tidak akan terbebani hal dahulu. Tetapi dengan membiarkan atau melalaikan itu sama artinya dengan melupakan sejarah. Boleh saja kita membicarakan kata tersebut tetapi cukup hanya sebagai ucapan kata.

Sikap bijak dalam mengambil sebuah keputusan harus dimiliki oleh setiap orang. Oleh karenanya, sebagai sang bijak, tentunya dalam bersikap termasuk berkata tentunya sudah dalam proses matang. Sehingga kecil kemungkinan untuk tidak disadari akan hal yang terjadi secara tiba-tiba. Salah satunya adalah kalimat-kalimat janji yang sering kali terucap dari ‘paruh’ kita, akan tetapi ucapan usai begitu saja tanpa tanggung jawab kongkret.

Pada penutupan akhir sebuah pertanggungjawaban sering kali tidak ada yang 90% sukses dari rencana. Kegagalan dan keberhasilan kini ditutup dengan kata “yang berlalu biarlah berlalu”. Seraya tidak ada lagi yang harus dievaluasi lagi. Untuk itu, sebagai pebijak sekecil apapun suatu hal, tentu akan sangat berarti dalam hal lain. Maka, yang berlalu pun masih dibutuhkan.

Tidak ada yang sia-sia, semuanya masih ada artinya, tidak akan pernah berlalu. Kita sadar, bahwa kita menjadi dewasa karena beberapa hal, baik hal yang kecil apalagi hal yang besar. Bela kata kita adalah jangan anggap semuanya tidak ada artinya.

Sebuah catatan kecil dipenghujung masehi yang kian hari ramai dengan warna-warni masalah. Wujud nyata masalah yang tiap hari semakin bertambah. Mulai masalah pribadi hingga masalah kelompok. Semua itu akan tidak ada artinya apabila kita setelah mencatat, dan kita membuang begitu saja catatan harian kita.

Cukup singkat, apakah kita akan tetap seperti itu dalam menulis harian? Tentu buku lembaran yang baru akan sia-sia nantinya. Percuma tak ada artinya jika kita mencatat, lantas apakah selamanya seperti ini. Sang bijak bukanlah seperti itu dalam bersikap. Kesalahan dalam catatan menjadi dan merupakan instrumen langkah ke depan. Rencana strategi yang kita susun tentu tidak lepas dari hal yang lalu.

Singkat kata, buka lembaran dan bercerminlah pada catatan yang lalu. Sebuah catatan menjadi ukuran sikap. Sebab, refleksi sangat dibutuhkan dan refleksi membutuhkan catatan. Maka, sia-sialah kamu jika menghilangkan catatan harian kita. Kita jangan membuka lembaran baru apabila kita tidak memilki catatan yang lalu. Hal itu, akan percuma karena kita tidak cukup tahu bagaimana tahun lalu?

Malang, 31 Desember 2008.

Ditulis oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Falsafah Kemerdekaan Dulu (sejarah)

Wenehono teken marang wong kang wuto

Wenehono pangan marang wong kang kaluween
Wenehono payung marang wong kang kudanan
Wenehono sandang marang wong kang kawudonan
Ukiran kayu berada di samping makam Sunan Drajat adalah falsafah bijak dari bahasa Jawa yang dibawa oleh seorang pemimpin bijak. Falsafah tersebut memunculkan kharisma perdamain dan kemerdekaan pada zamannya. Dulu (sejarah) banyak kisah perjalanan para wali terkenal dengan sikap bijak mereka. Ajaran atau falsafah mereka dijadikan sebagai tombak runcing melawan ke-bathil-an. Sehingga tidak ada kemenangan puncak kecuali kemenangan jaya yang bijak.
Dulu (sejarah) beda dengan sekarang, negara tandus akan pemimpin yang mampu membawa perubahan lebih maju. Secara nyata, lingkungan terlihat indah dengan kemegahan perubahan pembangunan. Tapi kemegahan bukan nampak di mata melainkan pada nilai estetika. Hal berbeda, karena ada kepentingan berbeda pada pribadi bijak dulu dengan sekarang, yakni kemerdekaan untuk umat adalah kepentingan para bijak yang dulu. Tetapi ketika bijak yang sekarang, kepetingan selalu kembali pada kepentingan diri.
Realita yang membedakan rentang bijak yang dulu (sejarah) dengan bijak sekarang. Meskipun suara yang dilantangkan bersuara untuk umat, tetapi selalu ada udang dibalik duit pemberian. Falsafah ajaran wali sanga khususnya ajaran Syekh Raden Qosim terkenal dengan sebutan nama Sunan Drajat memakai falsafah sebagai instrumen refleksi dan taqorub pada Sang Khalik. Beliau adalah salah satu dari nama sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Ajaran yang diberikan selalu bersifat nilai-nilai, tidak langsung mengajarkan secara takhlidi yang harus diikuti tanpa tahu sebab mengikuti dan yang membuat jerah kaum awwam.
Sebelum Syekh Raden Qosim datang ke Banjarwati –sebutan desa Sunan Drajat sekarang– masyarakat rentan sekali dengan budaya-budaya tidak bermoral. Masyarakat sering menentang larangan ‘mo-limo’, artinya mereka suka melakukan nyolong atau mencuri, maen atau judi, nginum atau minum-minuman keras, madat atau memakai narkoba dan madon atau berzina. Tetapi dengan sikap bijak Syekh Raden Qosim hati masyarakat bisa mengembur untuk bersikap tidak bathil. Hal demikian terwujud, atas para wali ajaran dalam mengajarkan tidak mengajarkan ajaran secara ortodoksi dan akhirnya tidak diterima masyarakat.
Lain hal juga diajarkan oleh Sunan Kalijaga, beliau memakai wayang yang ‘dilakonkan’ dengan meresapkan nilai-nilai Islam. Seperti dalam Serat Babad diceritakan bahwa Sunan Kalijaga memasukkan Jimat Layang Kalimasada (kalimat sahadat) yang dijadikan pusaka kerajaan Amarta (Pandawa) dalam pewayangan. Padahal dalam jimat sudah jelas merupakan pemikiran budayawan Jawa dalam memberikan legalitas sahadat pada cerita pewayangan. Atas metode pewayangan tersebut, masyarakat tidak canggung kaget dengan hal yang baru masuk pada pemikiran yang sudah terkonstruksi lama dengan ajaran budaya lama mereka seperti menentang larangan ‘mo-limo’ tersebut.

Proses Ajaran
Eksistensi ajaran wali sanga hingga saat ini masih tertanam pada masyarakat Islam terutama masyarakat di wilayah pesisir pulau Jawa. Mulanya sekitar abad VII, pedagang-pedagang muslim asal Arab, Persia, dan India sampai di pulau Jawa untuk menjalin hubungan perdagangan rempah-rempah, cengkeh, pala, dan lainya melewati jalur laut Samudera Hindia. Perdangangan berkelanjutan lama hingga banyak para pedagang singgah di sekitar wilayah perdagangan. Hingga terjalin sebuah interaksi sosial-budaya antara pedagang asing dengan masyarakat pribumi. Dari sini Islam mulai masuk pada kubu pulau Jawa dan memberikan beberapa warisan ajaran yang dipakai sebagai falsafah kehidupan.
Proses halus peresapan falsafah diterapkan para wali dalam menyebarkan agama Islam. Dengan demikian masyarakat bisa dengan mudah bersandar pada ajaran wali. Bahkan dengan proses halus tersebut, masyarakat tidak bisa merasakan resapan ajaran, bahwa mereka tidak sadar sudah menjalankan beberapa nilai-nilai yang diwariskan para wali. Mereka (masyarakat) hanya bisa merasakan kondisi lingkungan mereka yang berubah nyaman, tentram dan damai.Walaupun, secara hakiki mereka menjalankan nilai-nilai Islam tanpa sadar.
Patut kita putar kembali naskah narasi kemerdekaan yang diwariskan para wali. Negara kita saat ini sangat butuh dengan kemerdekaan jaya yang bijak. Pemimpin-pemimpin yang menawarkan diri sebagai pemberi kemerdekaan selalu gagal menjalankan naskah pribadinya. Rancangan undang-undang yang dibuat bersama menteri-menteri professional tidak mulus ketika di lapangan (realita).
Gagal
The best planning setelah kemerdekaan 1945 berkelanjutan pada pembangunan nasional gagal menjadi perubahan sosial. Wujud perubahan sosial ada dua yakni perubahan ke arah positif dan ke arah negatif. Artinya ketika kita lihat kerapnya proyek-proyek pembangunan tidak bisa mengentaskan krisis dan kemiskinan berarti pembangunan nasional pada saat ini adalah perubahan sosial yang negatif.
Refleksi 100 tahun Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda dan 10 tahun Reformasi tidak menjadi sejarah penting pada saat ini. Banyaknya pemuda yang menjadi proklamator peristiwa tersebut kandas dengan ketidakpastian pemimpin yang bervisi dan misi bijaknya.
Perlunya estimasi serius ketika warga negara Indonesia tidak bangga dan tidak bisa bersatu kembali dalam mencapai tujuan pembangunan nasional berketepatan pada peristiwa-peristiwa dulu (sejarah). Produktivitas karya Kebangkitan Nasional tidak lagi membangkitkan semangat nasional, Sumpah Pemuda tidak lagi menyatukan pemuda, dan Reformasi tidak lagi membaik hingga saat ini. Dengan demikian, kepedulian kita pada bangsa masih dipertanyakan. Adanya karya-karya demi bangsa berharap kemerdekaan bijak, dan penghargaan yang paling berharga terhadap karya tersebut adalah memperjuang tujuan karya.
Barangkali falsafah yang dibawa Raden Qosim patut kita renungkan dan kita tafsir kembali, untuk memahami dan menjalankan makna tersirat pada falsafah bijak, serta mengajak kita untuk menghargai karya kemerdekaan yang tidak kunjung datang merdeka. Sehingga atas kebijaksanaan kita, rasa gersang kemerdekaan bisa kembali basah dengan siraman dulu (sejarah).

*) Bayu Tara Wijaya
Staf Litbang pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang
Categories
Thinker

Kompromi Manis Lapindo

PT Minarak Lapindo terkait lumpur Sidoarjo kompromikan masalah cicilan sebesar Rp. 30 juta per bulan kepada korban lumpur sebagai alat pembayaran ganti rugi atas peristiwa tersebut.(jawapos, 4/12/2008)
Begitu mudahnya pihak lumpur lapindo membuat perundingan. Padahal sudah berkali-kali kita dengar rundingan-rundinga, tetapi tidak saja kunjung hasil positif pada pihak korban. Para korban sudah berhari-hari menunggu hujan cicilan dari lapindo, hasilnya sampai sekarang masih tetap saja tidak berbuah air ketenangan.
Sangat ironis sekali, sebab pihak Lapindo baru bersikap manis setelah kejadian demo warga, aksi potong jalan raya, atau hal lain yang diancamkan warga korban terhadap lapindo. Pantas hal demikian terjadi, selama nafas lega dari korban belum selesai reda dengan kucuran ganti rugi bencana lapindo.
Harapan keadaan adem ayem memang kita harapkan bersama. Alangkah indahnya jika harapan dan cita-cita bukan hanya terucap dari mulut saja, melainkan juga terucap dengan perbuatan sebagai bukti kongkret sebuah kompromi atau janji manis.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Simbol Haji Indonesia

Tanah suci makkah di Saudi Arabia menjadi pujaan muslim, yang maksimal mungkin dalam seumur hidup bisa menjalaninya, yakni haji –ibadah yang menjadi bagian ke lima dari rukun Islam yang wajib dilakukan bagi mereka yang mampu– sebagai kegiatan pengguguran suatu kewajiban sebagai orang yang mampu pergi ibadah haji.

Keberangkatan para haji pada masa dahulu yang menggunakan kapal laut kurang lebih selama enam bulan baru bisa sampai pada tanah suci. Lain dengan sekarang hanya hitungan jam bisa sampai di sana. Dahulu para haji yang juga sebagai muslim dan baru datang haji terkesan lebih kharismatik. Bekas pancaran kedamaian yang dibawa dari keberangkatannya tidak sia-sia datang di negeri perkembangan Islam. Doa menjadi haji yang diterima disandang pantas bagi mereka, tetapi kenyataan tersebut tidak lagi muncul pada saat ini.

Realita demikian sudah sering kali kita jumpai di dekade dekat-dekat ini. Peningkatan jamaah haji Indonesia yang tercatat pada Departemen Urusan Haji sekitar 210 ribu jamaah. Sehingga Indonesia berada pada jumlah urutan teratas sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Nur Shamad Kamba, selaku koordinator PPIH di Jeddah, al-Nadwah jamaah haji Indonesia meningkat lebih dibanding negeri-negeri lainnya. Hal itu seraya, Indonesia terkenal dengan negara yang mayoritas beragama Islam dan pantas jika makin bertambah tahun makin pula bertambah jumlah quata haji Indonesia yang berangkat ke tanah suci dan saling antri di tempat pendaftaran haji, seraya petugas pemberangkatan haji tiap tahun kebingungan dengan membludaknya peserta pendaftar haji.

Labelitas

Seorang kyai tidak sempurna dipanggil jika belum berlabel haji. Para dai kondang terkenal masih diragukan para pendengar jika label haji belum menempel pada awal pangilan nama mereka. Masih banyak varian yang memerlukan label haji, sampai saat ini demikian makin membudaya. Popularitas seorang artis pun ditutupi samar dengan label haji memberi cukup hijab berpikiran buruk pada mereka. Tameng haji merupakan tameng aman dalam bertidak baik maupun bertindak kriminal. Berhaji menjadi alat paling populer dipakai, sampai jalan berkorupsi bisa sukses menggunakan modal makelar pemberangkatan haji.

Berdirinya kegiatan-kegiatan banyak yang memadai para calon jamaah haji dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mulai berdiri dari naungan negara sampai yayasan bersaing membimbing. Apalagi ada bonus bagi satu orang menjadi mewakili dari para pengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) diberi kesempatan berangkat bersama-sama dengan jamaah bimbingannya. Selain itu juga keuntungan dari pengelolaan lembaga juga tidak sedikit mereka dapat yang menjadikan mereka bertahan mengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mereka.

Keinginan dari adanya bimbingan agar menjadi haji mabrur, tetapi banyak yang buta dalam niat baik mereka. Sehingga seluruh aktivitasnya tidak lain karena manusia yang merupakan wujud lingkungannya dan tidak lagi ibadah haji demi memenuhi panggilan ilahirabbi melainkan memenuhi panggilan riya’.

Sempat terjadi dalam beberapa keluarga para haji, orangtua rela mengorbankan anak mereka demi berhaji dan bahkan untuk menyekolahkan anaknya tidak dijadikan urusan utama, sebagai orangtua yang wajib mendidik anak dengan baik. Akhirnya anak tidak lebih sekolah di tempat yang tidak favorit, tidak maju, dan bahkan anaknya tidak disekolahkan sampai perguruan tinggi tetapi orang tuanya sudah berhaji berkali-kali.

Wisata Haji

Beragam problematika haji di Indonesia, mulai dari haji dijadikan objek wisata warga Indonesia, hingga para calon jamaah haji menjadi objek pengolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) untuk merekruitmen dalam kelompok bimbingannya. Saling merebut tawar mengajak bergabung di tempat bimbingannya, telah melunturkan nilai kepedulian untuk membantu tersukseskannya calon haji untuk menjadi haji yang mambrur.

Orang pada saat ini dalam melaksanakan haji dinilai secara dhohiriyah tidak mendapatkan predikat haji mambrur. Kita tenggok, bahwa masih banyak sekali para jamaah haji yang datang dari ibadah haji tidak linier dengan aktivitas di tanah suci. Masih banyak mereka yang baru datang tanah suci tetap saja melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Beberapa tahun akhir-akhir ini, tidak sedikit para menteri atau bahkan pengelolah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang melakukan korupsi, dan jelas tentu mereka juga sudah melaksanakan ibadah haji. Wujud ini yang menyulitkan kita untuk mengetahui paradigma ketika sang haji melakukan kejahatan. Sebab penjahat membakai topeng hajinya sebagai simbol kejahatan yang tertutupi haji.

Sombol haji yang dimiliki banyak orang pada saat ini jelas tidak bisa menjadi tolok ukur nilai moral bangsa. Walaupun, bangsa banyak yang berhaji, tetapi keadaan bangsa tidak seperti di tanah haji.

Semua orang akan mencari simbol-simbol kebaikan. Mulai dari kebaikan makhluk dengan makhluk, makhluk dengan lingkungan, makhluk dengan khaliq. Wujudnya, haji menjadi salah satu korban simbol yang disalahgunakan orang dalam hal interprestasi memenuhi kebutuhan. Lebih jelasnya, banyak sekali simbol-simbol yang dipakai untuk menutup-tutupi dari kejelekkan seseorang.

Mantapnya, haji bukan sebagai simbol dalam ukuran level tertinggi di hadapan khaliq, tetapi sikap memberikan manfaat pada yang lain adalah lebih penting. Kiranya, niat baik bukan berarti hanya sesuai ukuran baik bagi kita, tetapi ukuran pada kaca mata pandang lingkungan dan khaliq. Sebagai warga yang berasas pancasila masih tetap menjunjung tinggi nilai-nilai ke-pancasila-an dan semoga jamaah haji tahun ini mendapatkan simbol haji mambrur.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Kampaye Kemiskinan Sang Pemimpin

Berangkat dari faktor keturunan, masalah ekonomi bisa bermetamorfosis dalam sangkar keterpurukan keluarga yang akhirnya mengakar menjadi sebuah kemiskinan yang berkelanjutan. Realita tersebut hampir menjadi faktor utama dari sebab munculnya kemiskinan baru dari beberapa orang yang kampaye bahwa ia miskin.

Kabutuhan ekonomi yang semakin hari melonjak dan ketika minimnya kemampuan untuk mendapatkan atau memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini bisa saja mempengaruhi keadaan psikis dari keluarga miskin. Keterpaksaan menjadi sebuah profesi, semula ‘gepeng’ dengan terpaksa akhirnya dianggap ini sudah biasa. Pada akhirnya kebiasaan inilah yang menjadi harapan untuk memenuhi kebebutuhan hidup sementara. Bahkan bukan sementara bisa saja mereka mengklaim selamanya akan menjadi ‘gepeng’ saja.

Orang miskin jika ditinjau dari aspek lokalitas yakni, pertama para warga miskin yang berada di sekitar kawasan yang dekat dengan perkotaan yang sudah maju atau berkembang. Katakan saja, mereka sebagai orang miskin perkotaan. Hal demikian perlu dieksplorasi kembali sebab-sebab mereka (warga miskin) menjadi miskin. Tidak signifikan sekali jika orang miskin masih ada di kota-kota besar. Bahkan ada sebuah argumen dalam ilmu antropologi dijelaskan bahwa suatu negara bisa dikatakan menjadi negara maju jika tingkat kemiskinan sedikit, pengangguran sedikit, anak balita meninggal berkurang, ibu hamil meninggal berkurang, dan lainnya.

Dengan demikian, jika dalam suatu lingkungan ada sumber daya manusia yang rendah, maka implikasi terbesar adalah adanya kemiskinan besar pula. Untuk itu, kita bisa langsung simpulkan bahwa orang yang miskin bukan sumber daya manusianya sendiri yang lemah tapi juga sumber daya manusia di sekitarnya yang lemah. Sebab, tidak mungkin ada kemiskinan jika dalam satu lingkungan sumber daya manusianya tinggi tapi ada komunitas kecil yang lemah (orang miskin). Sehingga pantas jika di kota-kota besar maupun di negara-negara besar masih banyak penampakan yang berwujud kemiskinan. Hal ini bisa dimungkinkan ketidakpedulian yang egois terhadap sesama manusia yang tidak mau menyeimbangkan sumber daya manusia.

Tidak ada salahnya jika kita mempersalahkan kepada orang-orang yang duduk di level tinggi sumber daya manusianya. Sebab mereka hanya bisa mempertinggi derajatnya, tapi tidak bisa mempertinggi derajat orang lain. Secara jelasnya, orang kaya hanya peduli dengan kekayaannya dan orang berpangkat hanya peduli pada pangkatnya tapi tidak dengan orang yang di sampingnya apalagi di bawahnya. Mungkinkah ini sebagai potret kemiskinan kita saat ini?

Kedua, orang miskin yang berada di daerah yang jauh dari perkotaan. Wajar jika mereka (orang miskin) mejadi miskin, karena ketidakdekatan akses bidang dan sulitnya akses yang mereka terima sehingga minimnya informasi kemajuan yang mereka dapatkan. Tetapi demikian ini juga perlu pencermatan detail. Kita lihat pengenjontan arus teknologi hampir tiap detikan waktu perkembangannya. Perkembangan teknologi memungkinkan hal yang tidak bisa diatasi lebih mudah jadi mungkin.

Derajat Lokalitas

Jika memang di era sekarang suatu kepadatan batu bisa mencair dengan adanya teknologi, kenapa tidak juga dengan kepadatannya ‘kemiskinan’ tidak pula mencair terselesaikan dari problematika dunia. Tidak bisa dipersalahkan jika demikian seperti ini, orang miskin-lah yang menang dalam beralasannya. Tetapi realita alasan bahwa orang miskin hanya menang berharap dan orang kaya menang melihat. Untuk itu, paradigma metafora pemikiran menyatakan bahwa antara orang miskin pingiran dengan orang miskin perkotaan baik yang miskin turunan maupun miskin bukan turunan memiliki derajat lokalitas yang sama. Sebab sudah banyak teknologi yang menghalalkan untuk sampai kepada mereka.

Dalam kanca modern, kemiskinan juga masih menjadi peran utama dalam perbincangan problematika dunia. Hal ini, seraya dengan krisis yang multidimensi Indonesia di antaranya yakni krisis kepemimpinan yang ber-prophetic, artinya pemimpin yang berjiwa partisipatik, karismatik dan prophetic selama ini ada di negara kita.

Pemimpin yang berkarakteristik prophetic dan jiwa partisipatik dalam ikut andil mengangkat derajat umat manusia, jelas mereka miliki demi kesejakteraan bersama. Tetapi kenyataanya, negara Indonesia masih belum menemukan pemimpin yang berkarakteristik prophertic. Pemimpin yang partisipatik, karismatik dan prophetic akan bisa menyelesaikan masalah yang hinggap di negara ini. Untuk itulah, pemimpin adalah yang menjadi penentu suatu negara itu banyak orang miskin atau kaya (makmur).

Negara tidak membutuhkan orang yang pandai berkampanye, pandai berjanji-janji ataupun yang lainnya, tapi negara membutuhkan orang yang penduli partisipatik, karismatik dan prophetic. Sangat cukup sekali, referensi yang kita temukan jika kita ingin mendesain negara sejahtera. Adanya masa lalu (sejarah) juga menjadi rujukan yang cukup. Tapi memang, jika kepedulian kurang ada dan keinginan tidak ada pasti itu semua tidak akan mungkin terjadi adanya.

Sebagai masyarakat yang sadar akan dengan pentingnya pemimpin dalam kesejahteraan bangsa. Langkah awal dalam melangkah adalah merubahnya dari diri sendiri, minimal kita bisa menjadi pemimpin atas diri kita sendiri dan membangun jiwa yang partisipatik, karismatik dan prophetic adalah sebagai kepedulian kita terhadap bangsa kita yang miskin ini. Tidak ada tindakan yang baik, jika hanya berkampanye tidak ada realitanya. Besarnya visi dan misi akan luntur begitu saja, jika tanpa aksi sebagai bukti kongkret.

****

ditulis oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Pemulung dan Syahwat Menulis

Kecenderungan orang untuk meng-orgasme-kan ide visioner sangat harus dilakukan. Terlebih jika ia menjadi bagian dari dunia akademik. Sampah-sampah ide yang semakin banyak dibuang akan semakin banyak pula mendapatkan respon dari pemulung yang memerlukan tulisan kotor tersebut. Para pemulung ide, gemar memakai ide sebagai referensi karya kumpulan mereka.

Gancu internet atau media-media menjadi pengail ide pemulung yang keluar dari hasil orgasme pembuat ide yang terperas dari otak pede-nya. Orang sangat perlu memeliki tingkat syahwat yang tinggi bila ia ingin mendapatkan respon jempol dari para pemulung yang memakai ide-ide barunya.

Sampai kapan kita menjadi pemulung dan pengemis ide-ide atau karya yang sama-sama kacungan dengan kita? Apakah kita tidak bisa melakukan onani ide dalam tulisan-tulisan yang kita pamerkan pada media massa atau bahkan penerbit-penerbit sombong?

Mau atau malu jika Anda dikatakan sebagai juragan yang kaya akal dan kaya ide berkat warisan Sang Pencipta tapi Anda mandul dalam meng-ejakulasi-kannya. Anda ketinggalan dengan para turis asing yang mampu merayu dan memancing kita dengan ide-ide mereka. Sehingga kita terkontaminasi ide-ide turis tersebut. Kapan Anda membuat ide dan sampai kapan Anda memakai ide orang lain. Padahal ide orang lain yang Anda pakai belum tentu juga menjadikan Anda sukses.

Kalau memang demikian, tidak usah kacangan, manja, dan mandul untuk membuat ide sendiri. Sebab kamu adalah kamu, bukan kamu adalah saya atau lainnya. Jadilah diri sendiri yang mampu ber-ejakulasi sendiri dalam menuangkan ide-ide visioner ke mata dunia. Kita ini kaya, tidak miskin. Tapi jangan berlagak miskin seperti pemulung ide yang profesinya hanya mengharapkan dan menngunduh hasil orgasme orang lain.

Kiranya, sebagai calon cendekiawan yang lahir dari paruh akademik. Mau tidak mau harus bersyahwat dalam mengejakulasikan ide barunya. Terlebih dalam rupa tulisan yang menjadi modal utama, jika Anda ingin direspon oleh pemulung-pemulung ide yang rendahan.[ ]

*) Aria Beta

Calon Etnomatikawan asal Lamongan

Categories
Thinker

Seleksi Pendirian Sekolah Baru

Kasat-kusut ijazah palzu Universitas Teknologi Surabaya (UTS0 tak dikantongi dengan ramah oleh pihak Kopertis (Koordinator Pergurruaan Tinggi) wilayah VII terkait proses penyidikan kasus UTS dan tugas tanggung jawab dari Kopertis. (Jawa Pos, 20/10/2008)
Banyaknya varian model layanan pendidikan di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruaan Tinggi telah mewarnai dunia pendidikan. Jika diperhatikan pendirian dan pelaksanaan sekolah atau kampus yang baru berdiri hendaknya tidak asal-asalan ‘bin salabin’ jadi. Untuk itu, pihak Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis semestinya menyeleksi dan mengawasi betul prosedur pendirian dan pelaksanaan layanan pendidikan.
Hal ini muncul clotehan, bahwa sekolah dan kampus bukan sebagai layanan pendidikan tetapi sebagai lahan bisnis bagi pelayan pendidikan –pihak pengelola pendidikan– yang menggiurkan. Seperti sikap Kopertis sendiri, kemarin dalam kasus UTS menunjukkan sikap tidak profesionalannya. Sehingga timbul kekecewaan yang berakibat dugaan adanya hal yang tidak wajar pada tubuh oranisasi Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis.
Jangan sampai, kasus tersebut terkesan bahwa pihak pengurus dan pegawai Direktorat Pendidikan Tinggi dan Kopertis naik pangkat juga karena ijazah palsu. Sehingga malu untuk mengusut kasus UTS, karena takut ketahuaan juga.

—————————————–
Oleh Bayu Tara Wijaya, PPTQ-Lamongan