Categories
Thinker

Mathematics, Make a Intelligent Generation

Matematika, Mencetak Generasi Cerdas
Oleh Bayu Tara Wijaya*

Usai sudah babak penyisihan Kompetisi Matematika IX tingkat SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur dan Bali di dua belas distrik pada tanggal 1 November 2009 yang diselennggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Maliki Malang. Setelah tahap pertama ini, kompetisi matematika dilanjutkan ke babak seperemapat final, semifinal dan final pada tanggal 15 November 2009 yang pesertanya adalah beberapa perwakilan daerah yang sudah terseleksi pada babak penyisihan.

Pada kompetisi matematika saat ini juga cukup mengagetkan panitia pelaksana, sebab dari dua belas distrik yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan Bali, ada sekitar 1500 peserta yang antusias mengikuti kompetisi matematika. Pasalnya, tahun 2008 lalu hanya sekitar 900 peserta yang mendaftar, ini menunjukkan perserta kompetisi mengalami peningkatan.

Padahal pada kompetisi matematika kali ini hanya memperebutkan tropi Gubenur Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Jawa Timur saja, tetapi semangat para generasi muda maasih tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa generasi kita bukanlah generasi-generasi yang “bego”, melainkan generasi-generasi cerdas.

Inilah bukti konkret bahwa bangsa kita sekarang ini mengalami peningkatan kualitas generasi mudanya dalam bidang ilmu pengetahuan. Bukan hanya terdapat pada realita sebuah kompetisi matematika saja, tetapi juga pada beberapa kompetisi lain yang mengalami peningkatan minat dalam mengikuti kompetisi-kompetisi baik di tingkat lokal sampai international.

Melalui salah satu wadah inilah kita bisa mencetak generasi cerdas, yang harapannya adalah sebagaimana dalam tema kompetisi matematika saat ini, yakni “Membudayakan Berpikir Matematis, Kritis, dan Transformatif”. Sebab, bangsa kita butuh generasi yang memiliki pemikiran matematis, kritis sekaligus transformatif. Hanya kritis saja, maka tidak ada wujud upaya yang bisa diperbuat dalam mempertanggungjawabkan gagasan kritisnya. Begitu juga, matematis saja, maka generasi kita hanya akan menjadi generasi spekulatif saja. Oleh karenanya, transformatif dalam gagasan ini adalah mengkonversikan antara kecerdasan dan kreativitas harus juga diikutsertakan.

Kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang tertinggal atau bangsa yang jauh dari peradaban atas perkembangan ilmu pengetahuan. Berbangga diri sudah sedikit pantas kita lakukan sebagai salah satu upaya untuk diri kita agar tidak merasa rendah di hadapan negara-negara lainnya. Banyak hal yang dapat kita lakukan, dan masih banyak hal yang belum bisa kita lakukan. Begitu juga, banyak hal yang dapat dilakukan negara lain, dan masih banyak hal yang belum bisa dilakukan bangsa lain.

Artinya, masih banyak kesempatan untuk kita menjadi pribadi yang maju, bangsa yang maju, dan negara yang maju. Tinggal bagimanakah pilihan kita sekarang ini, tetap menjadi bangsa yang masa dahulu atau bangsa masa sekarang atau bahkan bangsa masa mendatang.

Dengan demikian, usaha yang terbaik adalah melakukan apa yang kita pilih atau kita rencanakan. Sebab, untuk menjadi generasi yang cedas saja tidaklah cukup. Kita masih membutuhkan kecerdasan apakah yang dapat kita berikan pada negeri tercinta ini. Mungkin inilah yang pantas dinamakan generasi cerdas, generasi yang memberikan kemanfaatan terbaik pada bangsanya.

Walhasil, segala daya usaha dan upaya yang kita lakukan demi bangsa ini semoga membuahkan hasil yang dapat dinikmati seluruh dunia khususnya bangsa kita sendiri.

Categories
Thinker

Being the Ideal Teacher

Menjadi Guru Ideal
Oleh Bayu Tara Wijaya

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Salah satu jendela melihat dunia bagi anak-anak selain peran orangtua, fasilitas modern seperti televisi, internet dan lainnya adalah guru. Tugas seorang pegawai jasa (guru) adalah mengarahkan anak didiknya ke arah kedewasaan melalui beberapa proses development of good values. Banyak beberapa tips agar seorang guru dapat memberikan main process dengan baik dalam menfasilitasi anak didiknya.

Dalam hal ini, guru bagaikan seorang ahli mekanika yang bekerja di dalam bengkel kendaraan. Setiap harinya diberi amanat untuk menstabilkan masa depan anak didik. Sehingga rasa tanggung jawab guru yang dibantu dengan tanggung jawab pengelola sekolah harus bisa melayani pelanggan dengan baik, yakni dalam rangka menjalankan amanat sebagai educator, leader, facilitator, motivator, administrator dan evaluator.

Begitulah fungsi dan tugas seorang guru sebagaimana yang ditulis oleh Jamal Ma’mur Asmani. Tentu masih banyak fungsi dan tugas selain yang disebutkan Asmani, tetapi minimal fungsi-fungsi itu haruslah ada pada seorang guru selain syarat-syarat administratif untuk menjadi seorang guru.

Ada istilah profesionalitas seorang guru, namun istilah tersebut hanya berlaku pada penikmat (siswa). Ketika yang menikmati tidak nyaman dengan guru tersebut, dikatakan bahwa “beliau bukan guru yang professional”, dan pada penikmat (siswa) lain juga ada yang bilang “guru tersebut sangat professional dalam mengajar”. Dengan demikian, berdasarkan kacamata publik ukuran profesionalitas guru ada pada kriteria guru seorang.

Termuat dalam Asmani penulis buku Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif menyimpulkan kriteria guru berdasarkan pendapat beberapa pakar pendidikan, seperti Prof. Herawati Susilo M.Sc, Ph.D dari Universitas Negeri Malang, Husnul Chotimah (2008), dan Wijaya Kusumah (2009). Pertama, guru ideal adalah guru yang memahmi profesinya sangat mulia. Sehingga ketulusan dalam mendidika anak didiknya dengan wajah selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan salam, sapa, sopan, senyum dan sabar.

Sehingga, dari kriteria pertama tersebut peserta didik pun akan selalu nyaman dalam belajar, tidak seperti beberapa guru yang sering diceritakan oleh para siswa yakni seperti guru matematika yang umumnya terkenal keras, tidak mudah senyum, mudah menghukum, dan membosankan.

Kedua, guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Selaras dengan fungsi guru yakni sebagai fasilitator peserta didiknya. Jadi, guru harus dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, ibaratnya mesin penyari “Google” di internet. Membaca dan menulis pada seorang orang guru juga diibatkan dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan.

Ketiga, guru yang ideal adalah guru yang sangat menghargai waktu “time is money”. Keempat, guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. Menciptakan suasana belajar yang variatif menunjukkan guru tersebut kreatif, tidak monoton dari hari ke hari, hingga tahun ke tahun mengajarnya itu-itu saja. Tidak beda jauh dengan copy and paste, gaya belajarnya selalu sama dari selamanya. Guru yang tidak kreatif tentu ditandakan guru tersebut kurang membaca dan menulis, guru yang malas-malasan, tidak pernah menghargai waktu dengan baik. Hingga mengisi laporan penilaian hasil belajar siswa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) yang ala kadarnya, tidak memperhitungkan aspek proses dalam belajar peserta didik.

Terakhir, guru yang ideal adalah guru yang memiliki lima kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan social, kecerdasan emosional, dan kecerdasan motorik. Kelima kecerdasan tersebut harus seimbang, kesemuaanya saling terkait dalam dunia pendidikan. Baca realita kita, berapa banyak orang berintelektual tinggi yang masuk penjara karena korupsi? Bukti bahwa lima kecerdasannya tidak seimbang.

Kita sebagai guru atas diri kita sendiri, sudah seharusnya juga menerapkan kriteria guru sebagaimana yang di atas. Apalagi, kita yang nantinya sebagai seorang orangtua harus mampu menjadi guru dari anak kita. Jadilah guru yang ideal penuh dengan kejujuran.

Categories
Thinker

Education for Human humanise

Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia
Oleh Bayu Tara Wijaya

Sebuah realita yang sudah mentradisi dikalangan pendidikan kita. Ketika seorang guru menginginkan nilai matematikanya tinggi. Di sisi lain, guru bahasa inggris juga menginginkan nilai bahasa inggrisnya tinggi, begitu pula guru-guru mata pelajaran lainnya.

Suatu kewajar, guru menginginkan muridnya untuk mendapatkan nilai tinggi. Namun sangat disayangkan, apabila seorang guru memaksakan muridnya untuk mendapatkan nilai tinggi. Sedangkan, paksaan tersebut tidak dilandasi dengan kemampuan seorang guru untuk memahami atas kemapuan muridnya. Akhirnya, ketika salah satu muridnya tidak menuruti kemauan gurunya, giliran guru memarahi dan menghukum murid. Sudahkan guru mengevaluasi, kenapa murid-muridnya tidak menuruti kemauannya (guru)? Sudahkan guru mengetahui keinginan dan kemampuan muridnya?

Perlu disadari, perkembangan seorang murid jelas memiliki kapabilitas yang berbeda antara sesama murid lainnya. Ada kalanya murid suka dengan suasana belajar yang penuh dengan puzzle, café-café learning, describing picture, atau lain sebagainya dan ada yang tidak suka dengan hal itu semua.

Bukan hanya kesukaan murid terhadap suasana belajar saja, tetapi terhadap mata pelajaran pun akan sama. Contoh, ada murid yang lebih suka mata pelajaran matematika, tetapi tidak suka mata pelajaran bahasa inggris, ataupun lainnya. Nah, hal seperti ini, tentu guru harus benar-benar menyadari dan menevaluasi atas tipe murid seperti contoh tersebut. Tugas guru, yang notabene sebagai seorang pendidik (educatif), pembimbing, dan pengajar (transfer of knowledge) serta pengawas (keeping) atas kondisi jiwa muridnya.

Seperti inilah guru yang sewajarnya (ideal). Tidak akan ada murid yang merasa takut dengan salah satu atau bahkan semua guru yang mengajarnya. Dan guru pun akan menyadari bahwa murid-muridnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Kekerasan, pemaksaan atau sikap lain yang tidak sepantasnya dilakukan di dunia pendidikan akan lebih terminimalisir untuk terulang.

Sebagai pihak yang lebih dahulu dalam mengenyam pendidikan. Tentu kita merasakan bagaimana pendidikan kita saat ini? Dunia pendidikan sudah melupakan bahwa yang menikmati pendidikan adalah manusia. Sadar atau tidak, pendidikan selain untuk mencerdaskan bangsa, juga membatu untuk mendewasakan bangsa, sehingga bangsa bisa memiliki karakter yang berpendidikan moral.

Secara mendasar, pendidikan ada, karena ada manusia. Oleh karena itu, pendidikan ada hanya untuk manusia, bukan untuk hewan atau sejenisnya. Hal mendasar seperti inilah yang perlu kita catat besar-besar di kepala kita, khususnya bagi mereka yang menjadi seorang guru dan umumnya adalah kita. Sebab, kita sering kali melupakan bahwa orang yang menjadi amanat kita adalah manusia yang memiliki keragam dan keseragaman yang begitu kompleks.

Robot Pendidikan
Realita yang terjadi, murid dianggap sebagai sebuah robot. Murid yang masuk pada salah satu sekolah yang sudah memiliki visi, misi dan tujuan. Seketika itu, pemilik lembaga langsung men-set up semau lembaga mereka. Murid adalah manusia, ia bukanlah robot yang terbuat dari bahan-bahan mekanik yang mudah di-setting untuk mengerjakan perintah-perintah, diarahkan semaunnya dan sebagainya.

Pendidikan adalah untuk manusia, begitu juga sekolah adalah sekolahnya manusia. Jadi, lembaga pendidikan seharusnya mengantarkan kemauan atau cita-cita muridnya, bukan sebaliknya murid mengantarkan kemauan atau cita-cita sekolah. Pada akhirnya, semua murid yang masuk pada lembaganya, langsung di-make up lembaga untuk siap tanding melawan pesaing-pesaing dari lembaga pendidikan lainnya atau untuk menjadi jagoan di bidang mata pelajatan agar citra lembaga pendidikan terangkat.

Boleh saja suatu lembaga memiliki cita-cita seperti itu, namun yang patut diketahui oleh pengelola lembaga bahwa lembaga pendidikan harus dapat memberikan konstribusi dalam menghantarkan cita-cita muridnya. Sebab, tidak semuanya murid dapat nyaman dan bisa untuk menuruti kemauan lembaga.

Sudahkah kita memahami karakter seorang murid kita? Itu adalah pertanyaan yang sering saya munculkan ketika semasa saya sekolah. Otoritas seorang guru memaksakan murid untuk menjadi pandai adalah kewajiban ke nomor sekian, melainkan kewajiban seorang guru adalah bagaimana guru dapat menyampaikan pengetahuannya dengan baik, sehingga murid yang mereka hadapi memahami pelajaran-pelajaran yang ia sampaikan.
Seorang guru tidak selalu dibutuhkan, ia yang pandai dalam bidang keilmuan, ia yang juara semasa studinya dan lainya. Tetapi juga, guru harus bisa memandaikan, mencerdaskan dan mendewasakan muridnya. Tidak jarang, guru yang lulusan luar negeri dan berpengatahuan banyak tetapi ketika ia mengajar di sekolah tetap saja tidak disukai murid-muridnya, karena tidak dapat mengajar dengan baik.

Realita kongkret, pada hasil UN tahun ini, sekolah-sekolah yang bertaraf lokal—katakan saja tidak sekolah bertaraf internasional atau SBI—masih dapat menduduki peringkat terbaik. Seperti, salah satu SD yang berada di pedesaan, muridnya mendapatkan hasil UASBN terbaik kedua se-Jawa Timur. Tatkala pentingnya kapabilitas mengajar seorang guru sangat dinomorsatukan dalam pendidikan, sebab ketidakmampuan guru dalam mengajar sama halnya membodohkan murid, atau kata lainya adalah pembodohan.

Walhasil, cermatan-cermatan sebagai bahan referensi berpijak lebih jauh yang akan lebih baik semoga tetap tercapai. Sebagai upaya mencerdaskan dan mendewasakan penerus bangsa, peran lembaga pendidikan yang baik dan benar berdasarkan landasan filsafat pendidikan perlu kita ulas kembali, guna kebenaran atas pendidikan untuk manusia. Majulah pendidikan kita.[]

Categories
Thinker

Learning from Life

Belajar dari Kehidupan
Oleh Bayu Tara Wijaya

Sebuah pertanyaan, Kenapa kita hidup seperti ini? Dari satu orang dengan yang lainnya tentu memiliki perbedaan yang mendasar. Sering kali kita hidup mengalami berbagai macam kejadian, entah kejadian yang kita anggap menyenangkan atau tidak. Sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yaitu, “Experience is the best teacher.” Namun kita tidak pernah menganggap hal itu benar.

Terbukti, masih sering terjadi frustasi hidup. Tidak menyadari bahwa pengalamannya adalah guru terbaik. Selalu putus asa, tidak mau mempelajari segala pengalaman yang ia dapatkan. Perlu diingat, sekecil apapun kejadian yang menimpah kita, sekecil itu pula hikmah yang terkandung. Semakin kita membiarkan hikmah yang terkandung semakin bias adanya.

Stepen R. Covey berpendapat “Dengan hanya mencoba mengubah sikap dan perilaku saja, akan sedikit memberi arti pada jangka panjang.” Oleh karena itu, jika kita tidak pernah mencoba untuk meraih hikmah dari kehidupan kita, maka jangan harapkan perubahan pada diri Anda.

Berpikirlah seolah engkau akan hidup selamanya, ketika engkau bekerja dan berpikirlah seolah engkau akan mati besok, ketika engkau beribadah. Maka tidak akan sia-sia hidup Anda. Mungkin, kalimat ini tidak ada artinya bila Anda menganggap bukanlah pengalaman. Perlu diketahui, pengalaman hidup adalah segala sesuatu yang kita jalani, kita temui, kita sentu dan sebagainya. Jadi, pengalaman adalah segala yang berkomunikasi dengan kita, baik secara akal maupun perbuatan.

Dengan demikian, alasan yang disugukan pada saat ini adalah pembahasan mengenai arti sebuah kehidupan. Maka, dari pengalaman dan aktivitas keseharian kami, terseliplah ide untuk memunculkan gagasan dan menjadi sebuah nama majalah kecil ini yakni DelviE. Kata ini diambil dari bahasa prancis yang memiliki makna kata dasar apprendre yang artinya “belajar dari” dan de la vie yang artinya kehidupan. Jadi delvie dapat diartikan “belajar dari sebuah kehidupan.

Harapan besar, dengan munculnya bacaan kecil ini dapat membuka lebar hati kita untuk menelusuri kembali kehidupan kita. Apa yang kita dapatkan dari kehidupan kita? Sebab, tanpa mempelajari kehidupan kita tidak akan mampu bertahan hidup kita. Semoga sukses hidup Anda.[]

Categories
Thinker

Menyelamatkan Kali-kali Surabaya

Satu kasus lagi yang muncul di kota pahlawan, Surabaya, yakni penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar khususnya di bantaran Kali Jagir yang digawangi langsung oleh Polisi Pamong Praja Utama (Satpol PP). Bukan hanya Kali Jagir saja, Kali Wonokromo dan Kali Surabaya juga menjadi titik sentral penertiban tatanan kota Surabaya pada periode terakhir ini.

Sempat terdengar pahit nama Satpol PP, kinerja mereka dinilai tidak becus dan dehumanis. Khususnya di kalangan masyarakat —Jagir, pemerhati sosial dan mereka yang tidak memiliki informasi jelas —tindakan pemerintah kota Surabaya— tentang penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya.

Serba salah, apabila menghakimi Satpol PP. Di sisi lain mereka bertugas menjalankan tugas, tanpa tahu alasan jelas mereka ditugaskan. Lagipula Satpol PP adalah robot pemerintah. Namun anehnya mereka selalu menjadi terdepan dari segala urusan berat pemerintah. Asumsinya, Satpol PP adalah prajurit terdepan pada sebuah pertempuran. Wajar apabila mereka mendapatkan kritik dan tuntutan lebih dahulu daripada atasannya, sebab mereka yang bersentuhan langsung dengan objek, dalam hal ini penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar.

Cermat kita, proyek penggusuran dan pengusiran yang digalang pemerintahan kota Surabaya memang sangat bagus. Mungkin ini adalah sikap tegas pemerintahan kota Surabaya, selain membangun sumber daya manusia yang baik, perlu juga membangun suasana yang sehat dan teratur. Salah satunya yakni proyek penertiban tatanan kota.

Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, pernyataan pas untuk mendinginkan amarah para pemilik bangunan yang terkena penggusuran. Kita baca, ketika bangunan liar bermunculan di bantaran kali-kali Surabaya, semakin hari, semakin meluap jumlahnya. Apalagi, kebanyakan bangunan liar tersebut adalah tempat tinggal sementara para urbanisasi pedesaan. Pantas jika di sekitar bangunan liar tersebut terlihat kumuh, kotor dan tidak teratur serta merusak tatanan kota.

Penggusuran adalah langkah strategis pemerintahan kota Surabaya. Relitanya, kali-kali Surabaya, ketika musim penghujan tidak jarang menjadi sebab terjadinya banjir. Hal ini tidak lain dari pembuangan sampah sembarangan oleh para warga di bantaran kali.

Berdasarkan laporan kepala dinas kesehatan kota Surabaya pada acara penyambutan hari kesehatan nasional tahun 2008. Perlu diketahui selama 5 tahun terakhir 31 Kecamatan di Surabaya merupakan daerah endemis DBD. Dari tahun ke tahun meningkat, misalnya pada tahun 2007, kasus DBD mencapai 3.214 kasus, tahun 2006 mencapai 4.187, dengan jumlah kematian yang meningkat pula. Diungkapkan pula oleh Dr. Ina Aniati, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Surabaya, bahwa jumlah DBD dari tahun 2008 sampai tahun 2009 dimungkinkan relatif sama.

Dari data peningkatan penderita DBD menunjukkan bahwa wilayah di Surabaya sudah tercemar penyakit dan sudah sepantasnya pemerintah kota Surabaya terjun untuk memerhatikan kali-kali Surabaya sebagai salah satu sumber wabah penyakit. Salah satu kinerja pemerintah kota Surabaya dalam memerhatikan kali-kali Surabaya adalah penggusuran bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya. Meskipun dalam hal ini yang terlibat langsung adalah Satpol PP yang terlihat arogan dan cenderung represif terhadap pemilik bangunan liar di bantaran kali-kali di Surabaya.

Represif Satpol PP
Sikap arogan dan represif petugas Satpol PP merupakan tindakan wajar terjadi. Sebagai manusia yang beradab, sebagai penduduk atau pemerintah tentu sama dalam keberadabannya. Semestinya penggusuran tidak akan terjadi, apabila warga memerhatikan peraturan daerah pemerintah kota Surabaya nomor 2 tahun 2005 tentang izin perencana bangunan gedung, yang kemudian diperjelas pada ketentuan perizinan bab II pasal 2 poin 3d, yakni perizinan dilakukan berkaitan tentang tata lingkungan bangunan gedung. Jadi, memanusiakan manusia antara penduduk dan pemerintah selayaknya digalangkan di masyarakat kita. Sehingga, penggusuran dan pengusiran secara represif oleh Satpol PP tentu tidak akan pernah terjadi.

Nyatanya, sekian bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya seluruhnya tidak memiliki izin pendidirian. Ini jelas bukti kongkret pemerintahan kota Surabaya untuk dapat melakukan penggusuran dan pengusiran terhadap warga yang melanggar. Meskipun demikian ada yang mengatakan, menggusur atau mengusir hendaknya mempertimbangkan nilai-nilai humanis. Sayangnya, yang berkata demikian tidak berhumanis terlebih dahulu kepada pemerintah, baru kemudian menuntut hak humanisnya.

Dengan adanya penggusuran dan pengusiran yang beberapa dekade terakhir ini terjadi, cukup menjadi bahan evaluasi bagi kita. Tidak lain, proyek pengusuran tersebut adalah salah satu usaha pemerintahan kota Surabaya dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik.

Singkat penulis, proyek-proyek pemerintah kota Surabaya tidak lain adalah usaha pemerintah untuk kebaikan kita bersama. Salah satu proyek yang membuat guming yakni proyek penggusuran bagunanan liar di banataran kali-kali Surabaya yang sedikit memiliki ‘cacat’ dalam pelaksanaannya. Sehingga, perlu sekali untuk kita kaji ulang atas catatan hitam terhadap pemerintah.

Gagasan yang sempat muncul oleh penulis adalah perlunya mengadakan keterlibatan seluruh warga, khususnya kepada kepala rukun tetangga (RT) untuk kerja sama langsung dengan pemerintah kota Surabaya untuk melakukan kontrol-sosial terhadap bangunan-bangunan liar yang berdiri. Baik keterlibatan dalam menegur atau menyangsi berat terhadap pendiri banggunan liar secara kultural maupun struktural. Dengan keterlibatan kepala RT akan terciptakan komunikasi yang lebih baik, dan suasana tertib, tentram dan aman.

Dengan demikian, kinerja dari Satpol PP hanya akan dimulai apabila pihak kepala RT sudah tidak lagi sanggup untuk menindak para pemilik bangunan liar. Sehingga, akan terlihat keterdukungan warga setempat bila terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan daerah kota Surabaya. Bahkan keterlibatan kepala RT, tidak hanya dalam hal penggusuran saja, melaikan dalam semua peraturan daerah yang ditetapkan pemerintah kota Surabaya.

Akibatnya, berbagai peraturan daerah akan berjalan secara kondusif dan tidak akan muncul lagi represif pemerintah terhadap warga. Kemudian, kota Surabaya akan terselamatkan dari musibah-musibah yang disebabkan oleh warga kota Surabaya sendiri, khususnya kali-kali Surabaya yang menjadi poros penyebab banjir dan wabah penyakit.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya*
Categories
Thinker

Graduate Terms to Search the Job

Sarjana Syarat Mencari Kerja
Oleh: Bayu Tara Wijaya

SNMPTN mulai dibuka pendafaran dari tanggal 15-26 Juni 2009, tentunya berbondong-bondong pendaftar menyerbu loket pendaftaran. Sebab, keinginan untuk mengikuti SNMPTN benar-benar menjadi jalur favorit para siswa SMA yang ingin melanjutkan studi di PTN setelah jalur PMDK yang mereka tempuh.

Keinginan untuk lanjut studi di perguruan tinggi khususnya di PTN menjadi cita-cita para pelajar lulusan SMA sejak dulu hingga sekarang. Siapa yang tidak berbangga diri, ketika dirinya diterima diperguruan yang berlabel internasional—semisal PTN ternama di Indonesia dan menjadi urutan perguruan terbaik di dunia—tetapi tidak memandang apakah dia akan memiliki dalil internasional pula.

Memang, ijasah lulus SMA rasanya tidak ada artinya kalau tidak menambah ijasah minimal strata-1. Apalagi, sekarang ini kebanyakan pendapat bahwa, sarjana syarat utama untuk melamar pekerjaan. Makanya, tidak jarang ketika para lulusan SMA banyak yang merangkap jalur masuk perguruan tinggi. Semisal kemarin ikut jalur PMDK, sebagai umpan kedua mereka juga mendaftar SNMPTN, atau bahkan mendaftar jalur regular yang biayanya cukup lebih mahal dibanding jalur PMDK dan SNMPTN.

Maka, ketika pengumuman kelulusan binggung ketika penguruan tinggi yang dipilih pertama tidak diterima, tetapi pilihan perguruan tinggi kesekian kali yang diterima. Akhirnya, keterpaksaan masuk perguruan tinggi pun dilakukan. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri tetapi pilihan jurusannya tidak sesuai, ada yang kampusnya tidak sesuai, ada yang terpaksa masuk di PTS karena tidak lulus tes seleksi di jalur apapun di PTN.

Akhirnya, ungkapan “Saya sebenarnya salah alamat untuk kuliah di sini.” yang sering dilontarkan mereka sebagai wujud penyesalan ketika ditanyai teman kuliahnya. Penyesalan inilah yang sering terjadi. Kuliah pun tidak serius lagi, pada akhirnya ini berimplikasi pada kelulusannya yang lebih parah tidak sesuai harapan. Maka, yang sebenarnya sarjana sebagai syarat melamar kerja, tetapi sarjana sebagai syarat menjadi penganguran.

Sadar atau tidak, bahwa kemampuan mereka sebenarnya terbatas. Seyogianya, kuliah di manapun sebenarnya tidak menjadi masalah. Sebenarnya yang menjadikan kita sukses bukan hanya label perguruan tinggi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana usaha kita untuk menjadi sukses. Coba Anda hitung, berapa banyak mahasiswa diperguruan tinggi favorit yang sukses. Berapa persen jumlah mahasiswa sekarang ini, dan bandingkan jumlah mahasiswa yang suskes?

Mungkin kita tidak pernah menyadari atau mungkin tidak pernah mengukur seberapa besar kemampuan kita untuk meraih sesuatu. Hingga cita-cita yang kita inginkan tidak tau, Apakah kita akan mampu meraihnya dengan kekuatan segelitir yang kita punyai saat ini? Silakan saja Anda mencoba, asalkan usaha Anda juga maksimal. Sehingga, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika diusahakan dengan maksimal mungkin.

Walhasil, ketika kita sukses menjadi sarjana terbaik. Tentu, pekerjaan tidak akan lagi kita cari, tetapi pekerjaan yang mencari kita. Sarjana bukan lagi menjadi syarat mencari pekerjaan, ketika dicari belum tentu mandapatkan. Melainkan, sarjana dicari oleh pekerjaan.[]

*) Bayu Tara Wijaya
Categories
Thinker

Nepotisme dalam Moralis Politik

Oleh Bayu Tara Wijaya
Berawal dari kepentingan manusia yang semakin pada paruhan waktu bertambah. Urusan-urusan penting atau yang dianggap penting menjadi bagian dari catatan harian. Semisal dalam urusan mencari sebuah pekerjaan, tentu teman atau kerabat yang membatu dalam menyelesaikan masalah sering ikut terlibat. Sehingga, membangun jaringan sosial sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Sebab, dapat kita tarik sebuah konklusi bahwa manusia hidup membutuhkan orang lain.
Dari penjelasan di atas, akan membuat kita bertanya-tanya, apakah nepotisme atau kita sebut sama dengan jaringan sosial, boleh diterapkan di masyarakat? Hal yang mendasar, yang sangat sulit dan bertentangan dengan kondisi ril. Ketika, masyarakat dilarang untuk tidak bermain nepotisme, di lain pihak masyarakat butuh akan hal tersebut.

Sebuah pembacaan dari sebuah realitas bahwa kita semua akan lebih mudah mendapatkan sesuatu bila kita sudah mempunyai jaringan atau link connection sebagai jalan percepatan kita dalam memperoleh sesuatu. Bahkan, bagi mereka yang tidak memiliki jaringan akan lebih sulit dan butuh perjuangan keras untuk memperoleh pekerjaan saja. Kompetisi sehat yang kita lakukan malah akan lebih lambat, dibandingkan dengan yang memiliki jaringan sosial. Apalagi dalam hal jabatan seperti, dalam hal informasi yang bersifat publik saja, masih lebih cepat mendapat informasi bagi mereka yang mempunyai jaringan sosial.

Pemimpin dan Nepotisme

Mengaca pada ketetapan regulasi mengenai Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Penjelas regulasi tersebut memaparkan berbagai pelangaran hukum terkait KKN. Namun, dalam praktiknya, tidak semudah membalik telapak tangan. Berapa lama negara kita berusaha untuk bebas dari pelangaran KKN, dan berapa pergantian pemimpin di negara kita yang mencanangkan bebas KKN, khususnya nepotisme.

Nepotisme, bukan hanya terjadi disebagian kecil tempat saja, tetapi hampir seluruh lembaga hingga negara itu terjadi. Hal ini sungguh disayangkan, kebanyakan pemimpin kita yang masih sering melakukan nepotisme. Salah satu contoh kecil, dalam masyarakat kampus saja hal demikian sudah terjadi. Nepotisme yang dilakukan mahasiswa hingga saat ini masih belum terminimalisir, begitu juga di organisasi-organisasi pengkaderan seperti organisasi ekstra kampus PMII, HMI, KAMMI atau yang lainnya.

Sebab, kader bagi mereka sangat dinomorsatukan, sehingga ketika salah satu organisasi di atas ada yang menjadi pemegang kenadli kepemimpinan, maka sifat nepotisme lagi-lagi muncul. Bahkan lebih parahnya, para kader mereka memesan sebuah kursi kekuasaan, apabila salah satu rekan mereka mendapati kursi kekuasaan di tertinggi.

Dalam urusan kekuasaan, mereka tidak memperdulikan bagaimana karakter orang yang dipilihnya, apakah kemampuan memanajemen dan memimpin suatu lembaga hingga negara itu ada? Seperti inilah model-model para politisi sekarang ini. Demi sebuah kekuasaan mereka rela mengorbankan yang lainnya.

Politisi Moral dan Moralis Politik

Harus kita bedakan, antara politisi moral dan moralis politik, keduanya memiliki makna yang berbeda jauh. Dalam kajian politik Kant, dia pernah berpendapat bahwa politisi moral adalah orang yang memahami prinsip-prisip kearifan berpolitik sedemikian sehingga ia bisa hidup dengan sederhana dengan moralitas. Sedangkan moralis politik adalah orang yang mereka-reka moralitas supaya cocok dengan kepentingan kalangan negarawan.

Para politisi moral, tidak pernah terjerumus pada keinginan berambisi dalam mencari sebuah kekuasaan. Namun, peran politisi moral tersebut seringkali menjadi bahan hinaan. Rayuan, selalu mengajak ia terjerumus dalam ambisi berkuasa telah berderet menghampiri mereka. Hal ini tak salah, sebab para politisi moral bukan orang yang sekadar-kadarnya menjadi politisi. Selain ia memiliki jiwa manajerial dan leadership, ia juga memiliki prinsip-prinsip yang bermoral. Keinginan mementingkan masyarakat selalu menjadi nomer satu.

Berbeda dengan seorang yang moral politik. Setiap tempat ia ada, setiap itu pula ia berebut kekuasaan. Sehingga efek yang ditimbulkan adalah kekacauan. Tidak memperdulikan akan hal merusak lembaga atau organisasi. Dan realitanya, sosok pemimpin moral politik inilah yang sering kita jumpai.

Pantas apabila nepotisme tidak dipergunakan sesuai moral. Eksistensi dan penempatan dari nepotisme sudah tidak lagi dipergunakan dengan baik bagi baik secra secara teorik dan praktik. Bukannya nepotisme menjadi alat memangkas moral bangsa, yang selalu mengabaikan kepentingan pribadi daripada kepentingan umatnya.

Motif egoistis inilah yang berkembang di wajah para pemimpin maupun calon pemimpin pada saat ini. Mereka seringkali memakai atribut yang palsu dari aslinya, dan seringkali palsu dari aslinya.

Lagi-lagi pemimpin yang menjadi ‘kambing hitamnya’, setiap kali ada yang tidak beres dalam lembaga atau negaranya, ia yang dipersalahkan. Poin sentral yang menjadi kacaunya suatu urusan. Oleh karena itu, dalam menetukan dan memilih orang yang benar-benar memiliki kemapuan sekaligus moralitas tidak boleh diabaikan pula. Jadi, memilih rekan kerja, pemimpin, atau sejenisnya tidak selalu memakai motode nepotisme.
Sebuah penghianatan dalam lembaga atau negara. Manakalah orang yang dianggap benar-benar mampu dan bertanggung jawab, ketika dalam perjalanan kepengurusan secara struktural tidak berjalan dengan baik, apalagi dalam hal nepotisme. Salah satu contoh khulafaurrosidin, Utsman bin Affan, pada masa pemerintahannya, ia lebih memilih keluarganya sebagai rekan pemerintahannya. Namun, ketika berjalannya waktu, para keluarganya telah menghianatinya.

Petikan singkat tersebut, menunjukkan bahwa tidak selalu orang yang dekat dengan kita lebih memiliki kemampuan dan bermoral. Pada keluarga dekat sendiri saja hal itu masih bisa terjadi, apalagi nepotisme tersebut terjadi pada orang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kita.

Dengan demikian, dalam urusan apapun kita boleh memakai nepotisme, asalkan motif egoistis tidak melatarbelakangi kita. Maka, prinsip moralitas pada setiap insan harus ada, selain leadership dan managerial, pada setiap orang juga diperlukan. Sehingga, sebuah predeksi bahwa nepotisme akan pada hakikatnya bila yang memegang adalah politisi yang bermoral.[]

Categories
Thinker

Menjaga Citra Perempuan di Hari Kartini

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.


Salah satu bentuk kepedulian masyarakat kita pada saat ini cukup dibuktikan oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Kampus Islam yang di dalamnya ada banyak varian komunitas kecil yang menyebutkan dirinya sebagai komunitas sastra. Sehingga dalam menghormati dan merayakan hari Kartini mereka membacakan puisi-puisi, dan sastra-sastra lainnya. Selain itu juga, beberapa lembaga kajian yang ada di kampus tersebut, mengadakan refleksi hari Kartini. Seperti Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa mengadakan kajian bertema Kenapa Harus Kartini!

Dalam perbincangan Kartini menghasilkan beberapa obrolan bahwa hari Kartini ada karena berdasarkan kepres, yakni oleh presiden Soekarno. Hasil kajian lainnya, mereka membincangkan perjuangan perempuan Indonesia yang bermula dari gerakan Kartini hingga sekarang ini yang akrab kita kenal dengan perjuangan Jender dan Feminimisme.

Jender dan Feminimisme inilah yang masih segar dibicarakan aktivis-aktivis kampus saat ini. Oleh karena itu, komunitas kecil yang berdiri secara independent maupun dependent, cukup menjadi wakil dari kita atas penghormatan terhadap perempuan. Sebab, kita sadar bahwa sebagai salah satu penerus bangsa yang kebetulan dapat menikmati pendidikan tentunya tidak melupakan salah satu perjuangan Kartini atas pemerataan pendidikan yang ia usung dalam perjuagannya.

Hari Kartini yang memiliki nasib sama dengan hari-hari nasional yang lain. Yakni nasib dari hari Kartini pada saat ini sudah tidak dihormati oleh sebagian masyarakat kita. Realita yang kita rasakan, semisal pada bulan Maret lalu ada seorang TKW yang diperkosa oleh 46 laki-laki di Arab Saudi. Ini menunjukkan perempuan sejak dulu hingga sekarang menjadi bahan tindasan kaum laki-laki.

Kasus-kasus lain yang sama, yakni perempuan-perempuan saat ini sendiri banyak yang mencoreng nama perempuan. Beberapa pekan lalu, di daerah Batu-Malang, telah diberitakan ada rombongan dalam satu mobil mati mengenaskan. Prihatinnya, dalam kecelakaan tersebut dapat dipastikan bahwa mereka baru saja melakukan pesta seks. Terbukti, perempuan dan lelaki yang berada dalam kecelakaan tersebut tidak mengenakan pakaian.

Peristiwa sejenis itulah, yang menjadi sorotan kita pada saat ini. Di hari Kartini ini, khususnya para perempuan Indonesia bisa mengenang kembali perjuangan Kartini. Usaha mengangkat derajat dan citra perempuan yang dilakukan Kartini bukanlah semata untuk dirinya, tetapi untuk kita. Sehingga pada saat itu, kepedulian Kartini terhadap perempuan mendapat acungan jempol oleh Soekarno hingga dimasukkan dalam daftar hari nasional.

Sebagai warga negara yang merasakan pendidikan, patutlah memperjuangkan derajat dan citra perempuan perlu kita ulang kembali. Sehingga bukan hanya mengenang hari Kartini, tetapi bagaimana kita dapat melakukan kembali atau memeperjuangkan secara lebih, apa yang diharapkan Kartini. Untuk itu, mari menjaga dan mengangkat citra perempuan…!

oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Bangga Menjadi Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebuah kata yang dibangga-banggakan oleh para pemuda yang dapat melanjutkan jenjang strata dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Masa setelah duduk dibankgku SMA menjadi masa spekulatif. Masa-masa ini adalah masa yang paling menentukan pemuda untuk dapat berjiwa kreatif dan inovatif. Kesempatan mengembangkan diri sangat ditentukankan sekali pada masa ini. Sehingga ketika pemuda dapat melanjutkan mereka dapat bangga pada dirinya bahwa ia “mahasiswa”.

Dunia kampus sangat berbeda dengan dunia sekolah. Dahulu, ketika kita masih di tingkat SMA, kita masih saja dituntun, diarahkan, dibimbing, diatur, dan lain sebagainya. Kadang kita berfikir bahwa kita butuh dengan hal itu semua dan juga kadang kita merasa bosan dengan itu semua.
Pada masa SMA kita hanya terbebani dengan aturan, arahan, bimbingan, tugas sekolah, dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan masa itu, hanya sedikit beban pada diri kita. Tetapi, karena sedikit itu malah banyak yang merasa tidak butuh dan bosan dngan itu. Padahal hakekatnya kita sekolah adalah untuk mencapai kedewasaan. Bukan hanya knowledge, tetapi juga hikmah di dalam menaati, menghormati, menyadari apapun yang ada dalam sekolah dapat berdampak pada masa depan kita.
Gindrang, berbunga hati ketika lulus dari SMA. Kita merasa sudah bebas dari beban hidup yang terreduksi pada ujian nasional menjadi ukuran kemerdekaan sekolah mereka.

Bersambung…

Categories
Thinker

Bisnis Cafe free Hotspot

Bisnis Cafe free Hotspot

Oleh Bayu Tara Wijaya*

Membludaknya cafe-cafe di berbagai kota berbasis metropolitan dan kota pendidikan sudah tidak minim lagi. Apalagi banyaknya para pendatang yang suka bergadang dan minum kopi akan menjadi lahan subur bagi para pebisnis cafe. Bisnis cafe adalah usaha bisnis yang paling santai tetapi menghasilkan uang cukup lumayan. Apalagi bisnis cafe yang memiliki fasilitas free hotspot.
Salah satunya kota Malang yang sejak dulu juga terkenal sebagai kota pendidikan, selain banyak kampus yang berdiri di sana, juga banyak dibangun tempat-tempat rekreasi hiburan yang digemari orang-orang dari luar kota Malang, lihat saja pada hari liburan-liburan sekolah, tempat wisata di kota Malang akan padat pengunjung.
Pendidikan dan tempat wisata di kota Malang memberi kesempatan kepada pada entrepreneurship untuk membuka usaha di sekitar wilayah-wilayah pendidikan dan wisata. Salah satunya adalah mendirikan cafe-cafe kecil yang buka di pagi hari, maupun di malam hari. Usaha bisnis seperti ini, juga dapat mengurangi pengangguran khususnya di kota Malang. Pemerintahan mendapatkan pendapatan dari wisata, dan warga mendapat pendapatan dari usaha bisnis mereka.
Seiring berkembangnya teknologi, para pebisnis cafe pun tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi, demi mengejar pelangan cafe, apapun cara dilakukan oleh mereka walaupun membutuhkan modal yang tidak sedikit. Salah satunya dengan memasang fasilitas free hotspot pada cafe mereka. Hotspot, saat ini sudah menjadi trend terbaru di kota-kota selain kampus, sekolah, dan perusahaan, para pengelolah bisnis cafe pun tak ketinggalan. Sebab, cafe-cafe yang menyediakan fasilitas free hotspot biasanya tidak pernah sepi dikunjungi para pemuda-pemudi yang suka nongkrong dengan kopi segelas sekaligus online bermain internet juga menjadi sasaran empuk dari pengelola cafe.
Adanya cafe free hotspot tampaknya membuka kedekatan dari sebuah kopi dengan internet. Keduanya adalah bekal utama untuk menjadikan kaya dalam berbisnis terutama di kota Malang. Hal seperti ini tidak jauh berbeda di Jogjakarta, hampir setiap cafe-cafe pasti kebanyakan menyediakan layanan free hotspot. Selain cafe free hotspot dapat menambah quata pengunjung, tapi juga dapat membantu para pelajar di wilayah tersebut untuk mengakses internet dengan mudah, hingga mempermudah pula untuk meningkatkan kemajuan di bidang informasi. Sehingga di Jogjakarta, cafe tanpa free hotspot akan lebih sepi pengunjungnya, ketimbang yang menyediakan free hotspot.
Realita cafe yang ada di Malang, misal cafe MPY– sebutan akrab cafe oleh mahasiswa sekitar UIN Malang– yang baru berdiri sekitar setahun yang lalu. Pendek cerita dari pengelola cafe tersebut telah memperoleh keuntungan dari bisnis cafe dalam semalam rata-rata netto 3 juta dalam kondisi sepi. Padahal, cafe tersebut hanya sebuah cafe kopi dan sejenisnya saja, tanpa menyediakan fasilitas free hotspot. Apalagi jika cafe menyediakan fasilitas free hotspot, tentu keuntungannya lebih jauh tinggi. Seiring makin meningkatnya jumlah pengguna notebook, pebisnis cafe tentu akan lebih mudah menarik pelangan dengan rayuan free hotspot.
Kesempatan bisnis cafe free hotspot sepertinya masih belum ramai, tak seperti bisnis cafe biasa. Dengan demikian, bisnis cafe dengan free hotspot tentunya akan menjadi kesempatan besar bagi pebisnis cafe. Terbukti, pada saat ini cafe-cafe yang baru-baru ini berdiri mesti banyak yang memasang free hotspot dan seusai didirikan, cafe makin ramai dari hari kehari dan hampir mengeser tingkat peluang cafe tanpa free hotspot.
Dari merebak dan meningkatnya kebutuhan, maka patut dicoba sebuah usaha-usaha mandiri yang tidak selalu mengantungkan pada orang lain. Apalagi, perekonomian global semakin kritis yang mengakibatkan PHK di mana-mana. Untuk itulah, orang yang lebih kreatiflah yang akan mampu bertahan lebih lama.[]