Categories
Information

Beasiswa di Malaysia 2009

Bank CIMB NIAGA memberikan kesempatan BEASISWA kepada pelajar
Indonesia untuk melanjutkan S1 di Malaysia dengan program studi :
1.Micro Financing
2.Economics & Adm
3.Business & accounting
4.Syariah Banking
5.Computer Science & IT

Beasiswa meliputi :
1. Biaya Proses seleksi ( Test TOEFL,Test Psycology ,dll )
2. Biaya Pendaftaran ke Universitas
3. Biaya Pendidikan
4. Biaya Hidup
5.Biaya Asuransi Kesehatan
6.Biaya Buku
7. Personal Coumputer
8. Biaya Pembuatan Passport dan perijinan ke kedutaan Malaysia dan
Imigrasi.

Syarat :
1. WNI
2. Nilai Ujian Nasional dan Ujian sekolah Minimal 8.00 keatas
3. Tidak sedang menerima beasiswa lain.

Cara Pendaftaran :

Pelajar harus melengkapi formulir pendaftaran dan mengirimkan bersama
seluruh copy documen yang sepersyaratkan paling lambat
28 Februari 2009.
ke Bank CIMB Niaga
Up : Sdri Aan Haerani
Organization& Strategic Development Group (OSDG) – HR Development
Griya Niaga I Lantai 3 : Jl Wahid Hasyim Blok BIV No 3.Bintaro Jaya
Sektor 7 Tangerang.
Atau E-mail ke : cimbniagascholarshi p@bniaga. co.id

Info lebih lanjut ;
www.cimbniaga. com

Categories
Buku

Pendidikan Penentu Nasib Bangsa

Pendidikan, Penentu Nasib Bangsa

Judul Buku : Pendidikan Berwawasan Kebangsaan

Penulis : HM. Nasruddin Anshoriy, Ch
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 210 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Mangaca pada hasil keputusan BNSP tentang Standar Kelulusan Ujian Nasional 2009 yang naik 0,25 dari tahun sebelumnya 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Nilai kelulusan tersebut memiliki spesifikasi nilai minimal 4,00 untuk dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Dengan ini, tentu sistem belajar mengajar di sekolah harus bekerja ekstra dalam menopang kenaikan nilai kelulusan 0,25.

Sebab, kalau tidak demikian peserta didik tidak akan mendapatkan ijasah yang mereka tunggu selama duduk di bangku sekolah. Sementara, hakikat pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana dalam pembukaan UUD 45.

Selain itu pula, pendidikan adalah salah satu tempat kita membondong pengetahuan. Ia adalah tempat yang membantu kita memeperoleh pengetahuan dari proses transfer of knowledge. Sadar atau tidak hal demikian sangat perlu bagi kita jika memang benar diri kita membutuhkan kedewasaan dari pendidikan yang kita peroleh.

Kita mengakui, pendidikan menjadi penting dalam mengembangkan kebudayaan dan peradaan suatu negara. Ukuran dari kemajuan negara dapat diukur dari great pendidikan. Sampai pada saat ini aspek penting pendidikan mulai menjadi perhatian utama dalam membangun negara. Wujud perhatian tersebut telah nampak pada saling memikirkannya sistem pendidikan atau kita kenal dengan sebutan kurikulum.

Sistem kurikulum dari Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi pedoman penting dalam kegitan belajar mengajar. Pada saat ini, kurikulum KTSP menjadi sistem terakhir yang memberikan resep kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan basis lokal. Sehingga pendidikan sangat bergantung pada kondisi lingkungan lokal meraka. Oleh karena itu, pendidikan seperti ini berkaitan erat dengan aspek kondisi lingkungan lokal mereka.

Saat ini, Buku Sekolah Elektronik (BSE) ditetapkan pemerintah sebagai buku acuan yang menjadi acuan juga dalam Ujian Nasional. Adanya wajib BSE berarti menyamaratakan lingkungan lokal yang tidak mengenal kondisi sumber daya manusia di lain tempat yang berbeda. Maka bisa dipastikan, tingkat ketidaklulusan akan semakin meningkat pada ujian nasional di waktu dekat-dekat ini.

Sangat sulit sekali memila-mila konsep yang dapat diterapkan di semua daerah. Begitu juga dalam menentukan sebuah kebijakan-kebijakan dalam manajemen mutu pendidikan. Padahal, mutu pendidikan sudah menjadi penentu kemajuan bangsa. Pendidikan menjadi penentu nasib bangsa. Ketika pendidikan amburadul, maka bangsa pun ambudarul begitu juga negara.

Pendidikan Berwawasan Kebangsaan, menjadi suatu konsep kesadaran ilmiah yang berbasis multikulturalime memberikan pernak-pernik dalam merias wajah pendidikan Indonesia yang berasaskan “Bhineka Tunggal Ika” atau “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.

Membincang mutu pendidikan tidak akan pernah habisnya, berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan selalu menjadi perhatian. Namun, dinamika pendidikan dewasa ini ditandai oleh suatu revolusi dan transformasi pemikiran tentang hakikat pengajaran. Titik sentral setiap peristiwa mengajar terletak pada “suskesnya murid mengorganisasi pengalamannya, bukan pada kebenaran murid dalam melakukan replikasi atas apa yang dikerjakan guru”.

Dalam hal ini, murid bukan sekedar meniru apa adanya dari pengajaran guru, melainkan murid dapat merepresentasikan hasil belajarnya dalam kehidupan dan proses kedewasaannya. Maka betul menurut Nasruddin bahwa kesejahtreaan bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, melainkan bersumberpada modal moralitas mutu pendidikan.

Karen itu, memulai pendidikan dasar anak bangsa sejak mereka mulai hidup di lingkungan keluarganya. Keluarga mejadi lingkungan pendidikan awal yang mengajarkan anak tentang tata cara dalam kehidupan, mulai dari pendidikan “tata-krama” atau kesopanan hingga pendidikan dalam hal-hal yang dibutuhkan dalam bermasyarakat.

Dalam wawasan kebangsaan ini, seorang anak mulai dikenalkan dengan betapa pentingnya dan rasa kecintaan terhadap bangsa. Rasa memiliki yang tertanam menjadikan mereka bersemangat belajar dalam memajukan mutu bangsanya. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak lain peduli kepada bangsanya dan ketika mengonsep sistem bukan sekedar asal-asalan. Semisal dalam membuat kurikulum baru atau peraturan-peraturan pendidikan baru, mereka akan memahami situasi multikulturalisme.

Pada keputusan hasil BSNP tentang standar kelulusan itu sendiri, tentu keputusan tersebut dibuat tidak asal-asalan pula. Sehingga kita dapat berharap agar pendidikan di negara kita selalu membaik. Bukan sekedar murid lulus ujian saja, melainkan murid dapat mengaplikasikan hasil belajarnya untuk proses dewasanya. Dengan kata lain, ukuran kesuksesan lagi-lagi tidak pada hasil ijasah.

Karena pendidikan menjadi nadi penentu kemajuan bangsa Indonesia, maka tidak ada salahnya memberikan konsep pada anak didik kita yang selaku calon penerus bangsa dengan bekal wawasan kebangsaan. Dengan demikian, “hitam-putih” pendidikan kita benar-benar pendidikan menjadi ‘gantungan’ kemajuan bangsa. Semoga nasib bangsa, bernasib baik karena penerus bangsanya.[]

Categories
Uncategorized

(Perlu) Animisme dalam Berpolitik

Mendengar kata “politik” sama halnya mendengar permainan di arena pertandingan sepak bola. Ada yang menang dan ada yang kalah. Misi kemenangan untuk sebuah pertandingan adalah wajar dimiliki oleh pemain pertandingan. Maka, sebut politik kita juga merupakan permainan di sebuah arena perpolitikan. Indonesia, penduduk terbesarnya ada di pulau Jawa, dan Jawa terkenal dengan masyarakat yang kental untuk percaya kekuatan alam yang memiliki kekuatan roh atau jiwa. Kepercayaan ini kita sebut dengan kekuatan “animisme”.

Tidak panjang lebar, tentunya kekuatan “animisme”, umum di pulau Jawa sering menggunakan mantera sebagai tameng supporter dalam pertandingan-pertandingan. Mantera yang sering muncul di masyarakat adalah pada pertandingan sepak bola, kadang juga pada pemilihan kepala desa, dan pertandingan-pertandingan yang lainnya. Sehingga, pertandingan-pertandingan itu bukanlah pertandingan antar lawan politik atau antar lawan calon kepala desa atau yang lainnya, tetapi antar lawan dukun (paranormal) sebagai pelaku dibalik layar. Jadi, dukun (paranormal) terhebat adalah pemenang pertandingannya.

Hemat dari Van Peurson (1993), kajian ontologis manusia telah dirasakan tak lagi rekat dengan kekuatan gaib (animisme) dan mulai melakukan telaah logis sesuai kerangka ilmiah. Khususnya di pulau Jawa, sebenarnya masyarakat telah berusaha menjauhkan diri dari ketakrasionalan atau dari kekuatan gaib, namun sampai saat ini masih belum bisa lepas sepenuhnya. Animisme yang mengakar pada nenek moyang bangsa Indonesia tampaknya tetap digantungi masyarakat.

Cermat kita, bahwa animisme saat ini dimainkan oleh para pakar politik dalam menyabet kursi pada pemilu 2009 yang dimulai dengan pemilihan calon legislatif pada tanggal 9 April 2009. Politik yang mulanya kita anggap sama dengan permainan pertandingan, kini sama persis, yakni terjadi permainan dukun (paranormal) sebagai pahlawan penggiring pemilik hak suara.

Betul, bahwa masyarakat kita pada saat ini masih tidak bisa jauh dari animisme, terlebih dalam berpolitik. Alasan mereka, bahwa dalam urusan kecil saja masih enggan mengundang dukun (paranormal), apalagi dalam urusan besar, yakni urusan memimpin negara, tentu dukungan dari dukun (paranormal) boleh-boleh saja, demi kepentingan negara. Namun, benarkah para pemimpin kita benar-benar memperjuangkan dirinya untuk negara? Mungkin pertanyaan yang sangat sulit dijawab, orang yang dekat dengan kita saja sering melakukan kebohongan. Tak beda dengan calon pemimpin yang hanya kita kenal lewat stiker, pamflet, baliho, spanduk dan mass media lainnya.

Politisi Tak Bermoral

Perjalanan politik di Indonesia semakin hari, tidak semakin bermoral. Gaya-gaya berpolitik yang semakin melanggar etika, semisal pada sebagian kampanye yang awut-awutan melanggar tata tertib lalu-lintas, menganggu pengguna jalan umum, baliho dan spanduk yang menutupi ruang terbuka hijau, hingga tempelan-tempelan stiker di dinding-dinding sekolah. Padahal menurut UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik pasal 31 ayat (2) bahwa pendidikan politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membangun etika dan budaya politik sesuai dengan Pancasila. Ini artinya, para anggota pendukung partai tidak menyuarakan pendidikan politik dengan baik.

Kembali pada masalah politik tak bermoral, pada sebagian partai ataupun anggota partai politik yang masih gemar dengan animisme, kini semakin rakus akan menyabet kursi kepemimpinan. Selain kepercayaan mereka pada dukun (paranormal) sebagai pahlawan dibalik layar, mereka juga memakai mass media yang dipakai sebagai alat penarik suara, sebut saja animisme modern. Dari kekuatan gaib dari seorang dukun (paranormal), juga dikerakan kekuatan mass media (dukun modern).

Memang, antara dukun (paranormal) dan mass media, keduanya sama-sama berusaha menggiring pemilik hak suara. Kelihatannya, hanya cara inilah yang masih dipercayai kebanyakkan masyarakat kita yang lebih ampuh. Jadi, dapat dikatakan bahwa, mass media juga menjadi stimulus terbaik dalam menarik para pemilik hak suara untuk mendukung mereka.
Spanduk, baliho, stiker, iklan majalah, iklan televisi, iklan website dan iklan lainnya menjadi dukun modern yang dipergunakan dalam berpolitik. Sebab, menurut teori komunikasi sendiri, iklan pada prinsipnya memiliki kekuatan yang mampu menyugesti persepsi dan emosi para penglihat iklan, hingga dengan sendirinya iklan dapat langsung memberi efek stimulatif bagi penglihat iklan. Oleh karenanya, para pemilih publisher, kini saatnya mengeruk keuntungan dari moment pemilu 2009 dan desain terbaik dari sebuah iklan, akan memberikan harga yang lebih tinggi pada produk periklanan.

Hal ini sepadanan dengan iklan politik yang mirip dengan reklame produk komersial. Tujuannya adalah membuat citra tokoh yang ditawarkan sebagai pilihan yang paling tepat. Tentu dengan desain tokoh yang mampu menyulap tanah menjadi emas dalam waktu sekejab. Kita perhatikan iklan televisi, semuanya berkampanye menjadi dan memiliki pahlawan yang ahli sulap. Kita renung kembali, sejak negara kita merdeka tahun 1945 hingga saat ini, masih belum bisa dikatakan stabil dalam hal perekonomiannya. Mungkin hanya pada waktu kepemimpinan Soeharto yang lumayan stabil dan itu pantas, karena Soeharto memimpin negara lebih lama, tetapi setelah Soeharto perekonomian kembali step down.

Dengan demikian, semua desain kampanye yang diiklankan juga belum tentu bisa menyulap tanah menjadi emas hanya dalam waktu 5 tahun. Namun, hal ini sah-sah saja dalam periklanan, karena tidak ada yang tahu kita semua hanya berusaha. Dengan kata lain, segala animisme, baik dari dukun (paranormal) atau dari mass media (dukun modern) semuanya sama.

Mengingat iklan dan sejenisnya adalah dukun modern kedua dari paranormal, maka dapat dimungkinkan bahwa kesuksesan hasil pemilu akan sama seperti hasil pemilu 2004 dan sebelumnya. Sebagai warga yang tidak tahu-menahu masalah birokrasi, hanya doa dan partisipasi dalam pemilu yang hanya dapat kita sumbangkan dalam ikut serta membangun bangsa.

Oleh Bayu Tara Wijaya
staf peneliti pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang

Categories
Thinker

Bisnis Cafe free Hotspot

Bisnis Cafe free Hotspot

Oleh Bayu Tara Wijaya*

Membludaknya cafe-cafe di berbagai kota berbasis metropolitan dan kota pendidikan sudah tidak minim lagi. Apalagi banyaknya para pendatang yang suka bergadang dan minum kopi akan menjadi lahan subur bagi para pebisnis cafe. Bisnis cafe adalah usaha bisnis yang paling santai tetapi menghasilkan uang cukup lumayan. Apalagi bisnis cafe yang memiliki fasilitas free hotspot.
Salah satunya kota Malang yang sejak dulu juga terkenal sebagai kota pendidikan, selain banyak kampus yang berdiri di sana, juga banyak dibangun tempat-tempat rekreasi hiburan yang digemari orang-orang dari luar kota Malang, lihat saja pada hari liburan-liburan sekolah, tempat wisata di kota Malang akan padat pengunjung.
Pendidikan dan tempat wisata di kota Malang memberi kesempatan kepada pada entrepreneurship untuk membuka usaha di sekitar wilayah-wilayah pendidikan dan wisata. Salah satunya adalah mendirikan cafe-cafe kecil yang buka di pagi hari, maupun di malam hari. Usaha bisnis seperti ini, juga dapat mengurangi pengangguran khususnya di kota Malang. Pemerintahan mendapatkan pendapatan dari wisata, dan warga mendapat pendapatan dari usaha bisnis mereka.
Seiring berkembangnya teknologi, para pebisnis cafe pun tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi, demi mengejar pelangan cafe, apapun cara dilakukan oleh mereka walaupun membutuhkan modal yang tidak sedikit. Salah satunya dengan memasang fasilitas free hotspot pada cafe mereka. Hotspot, saat ini sudah menjadi trend terbaru di kota-kota selain kampus, sekolah, dan perusahaan, para pengelolah bisnis cafe pun tak ketinggalan. Sebab, cafe-cafe yang menyediakan fasilitas free hotspot biasanya tidak pernah sepi dikunjungi para pemuda-pemudi yang suka nongkrong dengan kopi segelas sekaligus online bermain internet juga menjadi sasaran empuk dari pengelola cafe.
Adanya cafe free hotspot tampaknya membuka kedekatan dari sebuah kopi dengan internet. Keduanya adalah bekal utama untuk menjadikan kaya dalam berbisnis terutama di kota Malang. Hal seperti ini tidak jauh berbeda di Jogjakarta, hampir setiap cafe-cafe pasti kebanyakan menyediakan layanan free hotspot. Selain cafe free hotspot dapat menambah quata pengunjung, tapi juga dapat membantu para pelajar di wilayah tersebut untuk mengakses internet dengan mudah, hingga mempermudah pula untuk meningkatkan kemajuan di bidang informasi. Sehingga di Jogjakarta, cafe tanpa free hotspot akan lebih sepi pengunjungnya, ketimbang yang menyediakan free hotspot.
Realita cafe yang ada di Malang, misal cafe MPY– sebutan akrab cafe oleh mahasiswa sekitar UIN Malang– yang baru berdiri sekitar setahun yang lalu. Pendek cerita dari pengelola cafe tersebut telah memperoleh keuntungan dari bisnis cafe dalam semalam rata-rata netto 3 juta dalam kondisi sepi. Padahal, cafe tersebut hanya sebuah cafe kopi dan sejenisnya saja, tanpa menyediakan fasilitas free hotspot. Apalagi jika cafe menyediakan fasilitas free hotspot, tentu keuntungannya lebih jauh tinggi. Seiring makin meningkatnya jumlah pengguna notebook, pebisnis cafe tentu akan lebih mudah menarik pelangan dengan rayuan free hotspot.
Kesempatan bisnis cafe free hotspot sepertinya masih belum ramai, tak seperti bisnis cafe biasa. Dengan demikian, bisnis cafe dengan free hotspot tentunya akan menjadi kesempatan besar bagi pebisnis cafe. Terbukti, pada saat ini cafe-cafe yang baru-baru ini berdiri mesti banyak yang memasang free hotspot dan seusai didirikan, cafe makin ramai dari hari kehari dan hampir mengeser tingkat peluang cafe tanpa free hotspot.
Dari merebak dan meningkatnya kebutuhan, maka patut dicoba sebuah usaha-usaha mandiri yang tidak selalu mengantungkan pada orang lain. Apalagi, perekonomian global semakin kritis yang mengakibatkan PHK di mana-mana. Untuk itulah, orang yang lebih kreatiflah yang akan mampu bertahan lebih lama.[]

Categories
Uncategorized

Pemimpin Berbasis Iklan

Pada 9 April 2009 merupakan agenda besar Indonesia, yakni Pemilihan Umum. Sayangnya, para calon dari legislatif maupun calon presiden sekalipun masih banyak yang belum di kenal warga. Paling yang mengenal mereka adalah orang-orang yang duduk di bangku kelas menengah beda dengan kelas ke bawah yang cuma tahu sawah dan hewan peliaraan saja.
Tetapi, cukup cerdik para calon pemimpin Indonesia. Karena mereka tidak dikenal menyeluruh oleh masyarakat, maka mereka pun mengiklankan wajah mereka mulai dari spanduk, baliho, pamflet, mess madia dan lain sebagainya. Sehingga pemimpin hanya dikenal seperti iklan-iklan produk kosmetik wanita.
Seperti inilah realita masyarakat kita, sampai calon pemimpin pun tidak kenal bagaimana karakter calon pemimpin mereka. Sebatas suara kampanye, penjelasan interventif dari orang lain, dan papan iklan untuk mereka kenal siapa calon pemimpin mereka? Mungkin saja, negara kita lebih pantasnya dipimpin oleh pemenang nobel iklan terbanyak.[]
Oleh Bayu Tara Wijaya (telah dipublikasikan di JawaPos edisi 10 Maret 2009)
Categories
Buku

Prinsip, Melawan Kegagalan Hidup

Judul Buku : Hidup Plus! Prinsip Plus!

Penulis : D.S. Prasetyono

Penerbit : Think dan Diva Press, Yogyakarta

Cetakan : Desember, 2008

Tebal : 265 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Lebih baik menjadi orang kecil tetapi bekerja untuk diri sendiri, daripada berlagak orang besar tetapi kekurangan makan.”

Kalimat prinsip di atas agar diindahkan dengan tidak menyalai arti dalam pengunaannya. Pada dasarnya, semua benda, aktivitas ataupun lainnya keberadaanya pasti memiliki sisi positif dan negatif. Maka, ini semua akan menjadi tanggung jawab kita untuk diarahkan kemana semuannya itu.

Jika kita pernah membaca lingkungan disekitar, maka kita akan menemukan orang disekeliling kita yang sering mengalami depresi, stres, bosan hidup, dan sebagainnya. Hal seperti ini mungkin sudah menjadi kodrat yang akan dialami oleh semua manusia. Tinggal apa kita dapat mendorong untuk mengalahkan hal-hal tersebut.

Aktivitas hidup yang membosankan, tiap hari diliputi kegagalan, tidak punya energi dan tidak punya kekuatan hidup, yang umum disebut dengan prinsip hidup. Hidup Plus! Prinsip Plus adalah sebagai bacaan yang merangkum semua kelukesah hidup manusia. Dalam buku ini terdapat pemikiran jernih, motivasi-motivasi hidup, kepercayaan dan keyakinan diri akan semakin kuat dan kokoh untuk mempersiapkan pelajaran hidup yang baru-baru ini terkena masalah-masalah yang muncul. Masalah sendiri juga sudah divonis menjadi bagian dari hidup manusia.

Setiap orang pasti pernah mengalami nasib baik maupun buruk. Itu semua sudah kehendak dari yang memberi hidup. Pastinya, setiap manusia akan melami kegagalan dan kesuksesan. Dengan demikian, seperti nasib Anda, maka kagumilah ini adalah bagian dari hidup Anda.

Charles F. Kettey, seorang penemu yang jenius pernah berkata “Saya tidak berminat pada hal-hal yang terjadi di masa lampau. Saya hanya menaruh perhatian pada masa depan, karena itulah wadah untuk menghabiskan masa hidup saya lebih lanjut.” Tanamkan dalam hati, bahwa hari depan tempat Anda menghabiskan sisa hidup Anda itu ditentukan oleh pandangan hidup Anda sekarang ini. Sedangkan, sumbernya untuk itu dapat Anda peroleh semuanya dalam pikiran Anda sendiri.

Prinsip mengagumi hidup pantas Anda miliki, sebab dari pikiran Anda sendiri yang mampu menyelesaikan masalah-masalah dalam jatah hidup Anda. Masa depan Anda bukan berada pada masa lampau tetapi ada di depan Anda. Jika Anda menginginkan hidup plus dalam meniti masa depan yang sudah di depan mata, maka Anda harus memilki prinsip plus.

Banyak cara dalam memunculkan prinsip plus. Anda sendirilah yang akan menemukan bagaimana Anda membuat prinsip hidup dalam peta perjalan hidup Anda. Petua dari William Edward Hickson, “Apabila pada mula pertama kamu tidak berhasil, cobalah berulang kali.” Lalu beliau menambahkan, “Kamu pasti bisa melakukannya, apabila kamu berpikir bahwa kamu bisa.”

Perkataan dapat datang dari mana saja, tetapi jarang perkataan orang yang Anda pikirkan sehingga Anda menemukan prinsip hidup Anda. Kita pikirkan kembali petua William, ia membongkar otak Anda. Apakah Anda akan dapat mencerna atau tidak? Jika memang tidak berarti Anda tidak mempercayai bahwa Anda memiliki kemampuan. Cukup hanya dengan percaya diri Anda dapat melakukan semuanya.

Dalam membaca Prinsip Plus! Hidup Plus! Anda hanya akan menemukan beberapa motivasi-motivasi hidup. Sama halnya Anda mendengarkan semua ceramah-ceramah agama. Ketika udah selesai acara ceramah lewat begitu saja isi dari ceramah tersebut. Dengan demikian, tidak akan ada artinya semua perkataan atau perbuatan orang lain demi Anda, tetapi Anda sendiri tidak mengapresiasikan dengan mencoba memikirkan dan melakukan dengan baik apa yang ada dalam isi ceramah. Padahal menurut Anda ceramah agamanya benar dan baik untuk dilakukan.

Penghayatan hidup juga menjadi prinsip dalam hidup Anda dengan penghayatan berarti Anda sudah mencoba untuk mengenali diri Anda sendiri. Prinsip penghayatan diri, biasanya menjadi prasarat orang untuk memberikan tausiah kepada orang lain. Misalkan, Anda menyuruh orang berbuat baik, tetapi Anda sendiri tidak melakukannya itu sama artinya Anda berbicara didepan tiang bendera.

Sangat sulit dalam mengenali diri. Sebab manusia itu punya mekanisme untuk membela diri yang dibawa sejak lahir, yang senantiasa mendorong seseorang itu berbuat apa yang ia kehendaki. Mereka lebih senang meneliti orang lain dari pada meneliti dirinya sendiri, tetapi manfaat dari mengenali diri akan membuka pintu percaya diri Anda dalam hidup. Sehingga tidak dipersalah jika Anda mengalami kegagalan dari kelalaian Anda meneliti kekurangan diri.

Masih banyak contoh-contoh dalam prinsip plus. Kegagalan bukanlah masalah hidup, berpikir positif dan dinamis pada setiap masalah akan membawa kita pada kecerahan dalam menyelesaikan masalah dengan baik. Untungnya, bagi Anda yang dapat menyelesaikan masalah adalah catatan positif bahwa Anda sudah mendapati kemajuan satu langkah. Walaupun kemajuan tersebut berawal dari menyelesaikan masalah.

Kemajuan dalam hidup bukan berarti kemajuan dalam jabatan, harta, pengetahuan dan lainnya. Melainkan kemajuan hidup berarti kemampuan dalam menuntaskan masalaha hidup. Anda tidak akan dikatakan maju, apabila Anda kaya, punya jabatan tinggi, gelar tinggi tetapi Anda tidak dapat menyelesaikan masalah Anda sendiri. Hal seperti ini lucu, karena tidak senama dengan jabatan, gelar dan harta Anda.

Walhasil, jika memang Anda percaya bahwa orang yang memiliki prinsip yang bagus, maka orang tersebut akan memiliki hidup yang bagus pula. Patut anda perhatikan dan lakukan petua dalam Hidup Plus! Prinsip Plus! Sebagai modal kemampuan berpikir Anda dan semoga Anda sukses.[]

Categories
Buku

Perkawinan Bukanlah Sandiwara

Judul Buku : God Knows Marriage Isn’t Always Easy

Penulis : Maureen Rogers Law & Lanny Law

Penerjemah : M. Th. Silamutri S. Nugroho

Penerbit : DIOMA, Malang

Cetakan : I, November 2008

Tebal : 192 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Menikahi seseorang, sama seperti membeli sesuatu yang telah lama anda kagumi di etalase toko. Anda mungkin menyukainya ketika membawanya pulang, tetapi ternyata tidak selalu serasi dengan semua yang sudah ada di rumah.(Jean Kerr)

Pernyataan di atas jika dicermati kembali, maka perkawinan dapat digambarkan pada sebuah barang dan kemudian pernyataan tersebut diasumsikan benar jika hal tersebut sering terjadi pula. “Dunia ini adalah panggung sandiwara, ceitanya mudah berubah, kisah mahabarata atau tragedi yunani, setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan…”. Syair yang dinyanyikan oleh Nike Ardila ciptaan Dody Dores mengisahkan hidup penuh drama sandiwara. Apakah kita akan bermain dengan wajar, ataukah dengan hura-hura? Realitanya, info selebritis tercatat sebagai rangking tertinggi terjadi perceraian menunjukkan bermain drama dengan hura-hura.

Fenomena menarik, bermain drama di televisi merupakan kebanggaan bagi sebagian orang. Mulai dari drama anak-anak, komedi dan remaja. Dewasa ini dilakonkan oleh para artis terkenal dengan keselebritisannya. Drama adalah sebuah permaian, dan sangat sayang sekali apabila permaian tersebut menjadi faktor utama dalam gaya hidup mereka. Contoh drama keluarga, drama ini hanya permainan belaka ketika dalam akting, sungguh ironis apabila akting ini berkepanjangan hingga pada keluarga mereka sebagai dunia non akting.

Perkawinan menjadi permainan akting adalah hal yang tidak tabu lagi, sehingga wajar kita kerap mendapati para artis ataupun selebritis yang suka kawin kemudian cerai, kawin dan cerai. Misalkan peristiwa dari salah satu selebriti yang menambah deretan daftar cerai. Lusy Rahmawati dan suaminya Jose Purnomo hari senin (02/02) mengajukan gugatan cerai di pengadilan jakarta selatan. Menurut pengacara Mada R. Mardanus pasangan ini, melakukan perceraian lantaran karena mereka mengalami pertentangan dan perbedaan visi dalam berumahtangga.

Perkawinan yang menjadi korban drama para selebritis maupun orang-orang yang menganggap hura-hura sebuah perkawinan sudah tidak jarang lagi. Pertengkaran di dalam rumahtangga, perceraian pasangan suami-istri menjadi hal yang biasa terjadi karena keseringannya. Cukup realita ini menunjukkan sebuah perkawinan tidak semudah meniup lilin. Kematangan psikologis, jasmani dan rohani sudah harus disiapkan sebelum menempuh perjalanan panjang seumur hidup dalam ikatan perkawinan.

God Knows Marriade Isn’t Always Easy mengupas formula dalam menghadapi masalah dalama berumahtangga. M. Rogers dan Lanny L. menyusun 12 cara dalam mempersiapkan bekal sebelum melakukan perkawinan, dan tidak terlupakan bagi mereka yang sudah menikah khususnya. Bacaan ringan yang harus dibaca dan dilakukan oleh semua orang, sebab semua manusia tercipta untuk saling berpasangan, dalam hal ini kita sebut dengan perkawinan dan perkawinan sering menjadi drama sandiwara.

“Berusahalah untuk saling mengerti”, merupakan salah satu cara untuk menyatukan visi, misi, dan tujuan dalam berumahtangga. Seperti kasus Lusy dan Jose menunjukkan simbol adanya ketiadaan sikap saling mengerti. Salah paham akan muncul dan menjadi faktor utama perceraian. Seorang ahli komunikasi John Powell menyatakan bahwa komunikasi merupakan darah kehidupan dan detak jantung setiap hubungan. Komunikasi merupakan hal yang paling penting dari semua sumber kebahagiaan dan kesehatan. Komunikasi merupakan dasar hakiki untuk mencapai kebahagiaan.

Hemat kata dari Tim Clinton, bahwa bergembira bersama tidak hanya meringankan stres, tetapi juga membangun jembatan di antara Anda. Bergembiralah! Biarkanlah diri Anda tertawa. Lakukanlah hal itu sebagai pasangan suami-istri.

Tentunya tertawa, bergembira ria dan canda tawa bersama takkan terwujud begitu saja pada ikatan tali perkawinan. Namun kondisi asri seperti ini akan nampak pada hubungan berkeluarga apabila sarat-sarat memperolehnya sudah dipenuhi. Terimalah kesamaan dan perbedaan pasangan, adalah salah satu sarat untuk dapat berkomunikasi, saling pengertian, saling perhatian.

Syair pencinta dari Emmet Fox yakni “Cinta menaklukkan segala kesulitan. Cinta menyembuhkan penyakit. Cinta membuka pintu-pintu yang tertutup. Tak ada teluk yang tak dapat diseberangi oleh cinta; tak ada dinding yang tak dapat diruntuhkan oleh cinta; tak ada dosa yang tak dapat ditebus oleh cinta.” Maka dari itu, rawatlah cinta Anda dengan penuh perhatian. Mengingat syair cinta yang berpihak padanya dan membela cinta sebagai program vital dalam perkawinan.

Selain itu, perlunya menanamkan prinsip dalam menjalin hubungan perkawinan yakni jadikanlah hubungan Anda sebagai prioritas utama. Setiap pasangan suami-istri memiliki tiga keluarga. Pertama adalah mereka sendiri. Mereka adalah “kita” dari keluarga baru yang mereka bentuk bersama. Tetapi, pada waktu yang bersamaan, mereka juga memiliki keluarga dari “pihak suami”, dan keluarga dari “pihak istri”. Jika mereka bermaksud membangun sebuah unit keluarga sendiri yang kuat, mau tidak mau mereka harus meluruskan kembali kesetiaan mereka kepada keluarga “kita” sebelum “keluargamu” atau “keluargaku”.

Singkat dari Alan Patrick Herbert, bahwa ide dua orang yang hidup bersama selama 25 tahun tanpa berselisih paham hanyalah kayalan belaka. Oleh karenanya, pasti dalam perkawinan akan muncul berbagai jenis konflik-konflik dan apabila mereka tidak siap dalam menghadapi suka dan duka ini, maka yang terjadi adalah pertengakaran hingga perceraian. Bijak kata, “selesaikanlah konflik-konflik, sebelum menjadi lebih buruk”.

Konflik dalam perkawinan adalah hal yang wajar, tetapi konflik ini mempunyai akibat-akibat dalam hidup sehari-hari. Perbedaan-perbedaan pendapat dapat melebur pada masalah-masalah; seberapa panas atau dinginnya suhu yang dikehendaki dalam rumah, atau apakah kita ingin mempunyai dua atau tiga selimut di tempat tidur. Ketika seseorang menikah, terdapat dua suara, dua pendapat, dan dua hak suara untuk didengarkan dalam banyak keputusan. Mengatasi dan menyelesaikan konflik-konflik yang tidak dapat dihindari merupakan saat-saat yang menentukan dalam setiap perkawinan. Maka dengan menyelesaiakn konflik berarti Anda sudah mencoba meluruskan kembali kesetian pada keluarga “kita” sebelum “keluargamu” atau “keluargaku”.

Bersama M. Rogers dan Lanny L. kita akan diajak kembali untuk merenungkan sebuah perkawinan melalui buku yang ditulis oleh mereka. Buku yang sangat simpel ini mencoba memerikan metode dalam mempersiapkan diri sebelum melakukan perkawinan, mengingat perkawinan bukanlah sebuah permainan drama sandiwara. Walaupun dalam syair Dody Dores dunia ini adalah panggung sandiwara.

Walhasil, semua pesan baik dalam rangkuman kecil ini akan menjadi pesan yang sia-sia, apabila kita tidak memberikan apresiasi dengan membacanya kemudian mencoba menyaringnya sebagai bahan pengetahuan dan pada akhirnya jadilah sebuah ilmu pengetahuan yang perlu kita amalkan meskipun hanya dalam lingkup perkawinan saja.[]

Categories
Thinker

Eksistensi Madzab Rasionalisme Rene` Descartes

Eksistensi Madzab Rasionalisme Rene` Descartes
(Resepsi, Sebuah Penjelasan Akal)

Oleh Bayu Tara Wijaya

Keberadaan rasionalitas menurut René Descartes yang termaktup dalam bahasa prancis Cogito Ergo Sum atau Je Pense Donc Je Suis yang memiliki arti Indonesia “aku berfikir maka aku ada”. Konsep rasionalitas tersebut banyak disalah artikan oleh beberapa orang setelah René Descartes. Tetapi kebanyakan orang salah menafsirkan dan salah mengunakan pedoman tersebut. Mereka tidak tahu sejarah filosofi munculnya kalimat tersebut. Akhirnya niat baik yang tersebunyi pada dua kalimat tersebut tidak muncul sinergis sebagaimana hakikat makna kandungannya.

Aliran rasionalisme menyakini bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran yang pasti berasal dari rasio. Kritisisme berusaha memadukan dua pendapat yang berbeda tersebut. Dalam tulisan ini penulis menggagas pemikiran rasionalisme secara sistematis dan komprehensif, teristimewa mendalami jalan pikiran rasionalisme René Descartes. Secara berturut-turut penulis ingin mendalami beberapa gagasan pokok dari Rene Decartes dari dekat yaitu metode kesangsian dan Je pense donc je suis, idea-idea bawaan dan substansi dan hubungan jiwa dan badan.

Descartes menjelaskan tujuan hidupnya adalah untuk membimbing akal budi ke arah penemuan kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan. Begitu juga hal yang paling merata di dunia adalah akal sehat; sebab setiap orang merasa cukup memilikinya, sehingga orang-orang yang paling sulit dipuaskan dalam hal-hal yang lain pun sama sekali tidak menginginkan lebih daripada yang ia miliki. Dalam hal ini, agaknya mustahil pendapat tersebut keliru, dan membedakan antara yang benar dan yang salah –yang memang secara tepat disebut akal sehat atau nalar– dimiliki oleh semua orang secara merata dan alami.

Terlepas dari segala argumen dan kritikan, Descartes telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Descartes telah menemukan sesuatu yang tak terpikir oleh filsafat klasik, sebuah cara penalaran baru yang menjamin kebenaran dirinya sendiri secara pasti. Dunia filsafat hingga sekarang tidak mungkin melupakan dirinya sebagai the founder of modern philosophy.

Dengan adanya salah aturan oleh orang-orang setelah René akhirnya sebagaimana yang terjadi ketika zaman modern, semuanya gara-gara akal yang lepas kendali, memungkinkan mereka begitu gembira menikmati kebebasannya yang baru saja diperolehnya. Sehingga keberadaan dari sebuah akal tidak lagi dihormati sebagai kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan dengan baik.

Oleh karena itu, koherensi sebuah hakikat manusia, dalam formulasi Je pense donc je suis rumusan Je pense (cogito) dipahami sebagai kesadaran diri. Berpikir bagi Descartes adalah menyadari. Saya yang berpikir adalah fakta sadar diri dimana saya berpikir. Maka dengan demikian akal akan berhikmah secara benar. Untuk itulah, sekecil apapun perubahan, tepaplah perubahan.[]

Categories
PUISI

Namaku, Adalahku

Namaku bukanlah Diriku
Suaraku bukanlah Nyayianku
Jalanku bukanlah Tujuanku

Tetapi

Karyaku adalah Potret diriku
Amalku adalah nyayianku
Dan Ia …. adalah tujuanku

Malang, 21 Desember 2008

Categories
Thinker

Guru Semakin Materialistik

Guru Semakin Materialistik

Oleh Bayu Tara Wijaya *

Guru yang sejak kecil kita sebut adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi sekarang jasa guru butuh bayaran dari orangtua peserta didiknya. Pada akhirnya, guru menuntut kesejahteraan hidup ditanggung oleh peserta didiknya. Kebanyakan para guru tidak lagi main “gratisan” dalam membagi ilmunya. Sehingga ketika peserta didik diajar oleh guru yang hidupnya tergantung pada hasil mengajar di sekolah dan hal ini membuat kinerja guru tidak lagi profesional dibandingkan guru yang hidupnya sudah makmur (kaya).

Ukuran menjadi kategori guru pahlawan tanpa tanda jasa sekarang ini sangat sulit didapati terlebih nilai barang kebutuhan sudah tidak lagi seimbang dengan gaji bulanan. Syukurnya, masih ada beberapa guru yang masih berada dalam kategori pahlawan. Setiap kali mengajar, bukan sekedar transfer of knowledge tetapi juga educative (mendidik) dan keeping (mengawasi).

Sesalnya, guru yang berjiwa ideal seperti itu, sudah tidak lagi bersebaran bagai daun rontok dari batangnya. Kebiasaan guru yang lompat sana-sini berakibat tidak sempatnya guru untuk mendidik, mengawasi maupun lainya. Guru hanya dapat datang pada jam belajar, dan langsung kembali ketika bel sekolah berakhir. Terkadang guru sering bolos karena terburu-buru beraktivitas di tempat lain. Guru yang seperti ini, masih belum dikategorikan sebagai guru ideal.

Pada zaman dahulu ketika Jepang menjajah Indonesia, dan Jepang melakukan bimbingan belajar perang terhadap warga Indonesia. Para warga tersebut didesain Jepang sebagai ‘pagar’ pelindung Jepang. Sebut saja, mereka para wayang (pesuruh) yang dimanfaatkan oleh dalang (Jepang).

Walaupun, dalam zaman tersebut terjadi penurunan ilmu, bukan berarti Jepang adalah guru bagi Indonesia. Malah, Indonesia adalah sebagai kelinci permainan dalang (Jepang). Sebab, kita ingat kembali dalam wacana filsafat pendidikan yang berisi sebagaimana penjelasan di atas, bahwa guru bukan hanya transfer ilmu tetapi juga membimbing, mengawasi dan lainya menjadi prasarat seorang guru. Maka dari itu, kepedulian seorang guru terhadap peserta didik atau kepedulian dalam mengembangkan sekolah mulai saat ini sangat diperlukan dalam tersukseskannya mutu pendidikan.

Tipologi Guru

Banyak macam model tipologi guru, mulai dari guru idealis sampai guru materialis. Guru materialis, pada saat ini menjadi guru yang merugikan pada peserta didik. Pendidikan dan peserta didik sudah pasti menjadi tumbal para guru materialis. Sebab, guru yang seperti ini jelas memiliki tipologi bisnis. Segala aktivitas mengajar guru, baginya adalah tergantung sekali pada materi yang mereka peroleh. Ketika guru seperti ini, gajinya naik maka semangat mengajar tumbuh dan ketika gaji lambat turun berdampak guru seperti ini seenaknya sendiri dalam mengajar.

Sangat sulit sekali dengan sikap guru yang seperti ini. Padahal mereka sudah mengenyam pendidikan lebih dulu, malah karena lebih dulu, mereka memanfaatkan jabatan gurunya untuk membodohi peserta didik. Kasus membodohi peserta didik tidak saja terjadi pada sekolah-sekolah saja dan bahkan kasus membodohi di kalangan kampus juga masih sering terjadi dilakukan oleh para dosen yang berjiwa materialis tinggi.

Kerap sekali kasus-kasus pembodohan atau kasarnya adalah penipuan dilakukan dikalangan lingkungan pendidikan. Salah satu misal, seorang dosen yang memanfaatkan tugas-tugas mahasiswanya yang berupa makalah ataupun yang lain untuk dijadikan buku dan diterbitkan dosennya. Lebih parah lagi, buku yang diterbitkan memakai nama penulis dosen tersebut. Padahal isi buku bukanlah murni dari karya dosen bahkan dosen hanya sebagai editor.

Naik Pangkat

Pada saat ini, jabatan guru atau dosen merupakan jabatan yang banyak dimimpikan. Apalagi dikalangan dosen ada istilah kenaikkan pangkat. Dengan demikian, dosen banyak sekali yang berkejaran mencapai kenaikan pangkat. Tetapi sangat tragis, ketika seorang dosen demi naik pangkat dengan nilai poin-poin tertentu membuat para dosen berpikiran kreatif. Sayangnya, ide kreatif dosen tidak didukung kemampuan yang inovatif. Efeknya, cara apapun demi kenaikkan pangkat akan meraka jalani.

Realitanya, banyak pula dosen atau guru yang membuat karya tulis berupa penerbitan buku dibarengi dengan niat agar mendapatkan kenaikan pangkat. Sehingga isi buku pun tidak diperhitungkan dan leganya secara otomatis dengan naiknya pangkat, gaji pun juga naik.

Upaya naik pangkat sampai berujung ambisi menjadi guru besar atau profesor. Parahnya, gemelut cara dosen atau guru lakukan tidak dibarengi dengan ide kreatif yang inovatif, akibatnya pangkat hanya sekedar pangkat, profesor hanya sekedar atribut profesor atau yang lainnya. Pangkat tinggi, pangilan sudah profesor tetapi kapabilitas masih sama dengan umumnya, yakni hanya menjadi profesor lokal biasa.

Berbeda dengan dosen atau guru besar yang berkapabilitas. Mereka banyak dikenal orang, bukan karena mereka pandai berkampanye, tetapi mereka lebih pandai dalam bidang keilmuannya. Semisal dalam aspek penelitian, jurnal ilmiah, penemuan atau aspek lain pendukungnya. Tidak seperti profesor yang asal jadi profesor yang kreatif tak inovatif. Sehingga berkarya pun asal berkarya tidak memperhitungkan nilai keilmuannya. Tetapi, hal itu lumayan saja karena sudah menjadi profesor daripada tidak jadi profesor, “katanya”.

Dari model guru, dosen hingga profesor saya kira sudah menjadi pelengkap dari diri kita untuk membaca dalam rangka mempelajari pernak-pernik masalah pendidikan ataupun masalah lainnya. Kita dapat mengetahui dan mengevaluasi nasib pendidikan yang menjadi tumbal bisnis para pebisnis jasa ilmu. Bagaimana nasib mutu pendidikan jika pendidikan selalu saja menjadi kabing korban.

Walhasil, jika memang semua orang rata suka pada materilis. Alangkah baiknya jika hal itu dapat terminimalisir dengan bertambahnya keilmuan yang kita miliki. Sehingga guru maupun dosen atau profesor sekalipun dan kebetulan mereka dikatakan menjadi figur lebih dulu dalam mengeyam ilmu pengetahuan. Lebih bersikap seperti ilmuwan terdahulu baik seperti ilmuwan dari barat maupun dari timur, tetapi hal itu sama saja ketika kita membaca tidak mengamalkan.[]


TELAH DIPUBLIKASIKAN DI KORAN PENDIDIKAN Edisi 30 Desember 2008