Categories
Thinker

Nepotisme dalam Moralis Politik

Oleh Bayu Tara Wijaya
Berawal dari kepentingan manusia yang semakin pada paruhan waktu bertambah. Urusan-urusan penting atau yang dianggap penting menjadi bagian dari catatan harian. Semisal dalam urusan mencari sebuah pekerjaan, tentu teman atau kerabat yang membatu dalam menyelesaikan masalah sering ikut terlibat. Sehingga, membangun jaringan sosial sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Sebab, dapat kita tarik sebuah konklusi bahwa manusia hidup membutuhkan orang lain.
Dari penjelasan di atas, akan membuat kita bertanya-tanya, apakah nepotisme atau kita sebut sama dengan jaringan sosial, boleh diterapkan di masyarakat? Hal yang mendasar, yang sangat sulit dan bertentangan dengan kondisi ril. Ketika, masyarakat dilarang untuk tidak bermain nepotisme, di lain pihak masyarakat butuh akan hal tersebut.

Sebuah pembacaan dari sebuah realitas bahwa kita semua akan lebih mudah mendapatkan sesuatu bila kita sudah mempunyai jaringan atau link connection sebagai jalan percepatan kita dalam memperoleh sesuatu. Bahkan, bagi mereka yang tidak memiliki jaringan akan lebih sulit dan butuh perjuangan keras untuk memperoleh pekerjaan saja. Kompetisi sehat yang kita lakukan malah akan lebih lambat, dibandingkan dengan yang memiliki jaringan sosial. Apalagi dalam hal jabatan seperti, dalam hal informasi yang bersifat publik saja, masih lebih cepat mendapat informasi bagi mereka yang mempunyai jaringan sosial.

Pemimpin dan Nepotisme

Mengaca pada ketetapan regulasi mengenai Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Penjelas regulasi tersebut memaparkan berbagai pelangaran hukum terkait KKN. Namun, dalam praktiknya, tidak semudah membalik telapak tangan. Berapa lama negara kita berusaha untuk bebas dari pelangaran KKN, dan berapa pergantian pemimpin di negara kita yang mencanangkan bebas KKN, khususnya nepotisme.

Nepotisme, bukan hanya terjadi disebagian kecil tempat saja, tetapi hampir seluruh lembaga hingga negara itu terjadi. Hal ini sungguh disayangkan, kebanyakan pemimpin kita yang masih sering melakukan nepotisme. Salah satu contoh kecil, dalam masyarakat kampus saja hal demikian sudah terjadi. Nepotisme yang dilakukan mahasiswa hingga saat ini masih belum terminimalisir, begitu juga di organisasi-organisasi pengkaderan seperti organisasi ekstra kampus PMII, HMI, KAMMI atau yang lainnya.

Sebab, kader bagi mereka sangat dinomorsatukan, sehingga ketika salah satu organisasi di atas ada yang menjadi pemegang kenadli kepemimpinan, maka sifat nepotisme lagi-lagi muncul. Bahkan lebih parahnya, para kader mereka memesan sebuah kursi kekuasaan, apabila salah satu rekan mereka mendapati kursi kekuasaan di tertinggi.

Dalam urusan kekuasaan, mereka tidak memperdulikan bagaimana karakter orang yang dipilihnya, apakah kemampuan memanajemen dan memimpin suatu lembaga hingga negara itu ada? Seperti inilah model-model para politisi sekarang ini. Demi sebuah kekuasaan mereka rela mengorbankan yang lainnya.

Politisi Moral dan Moralis Politik

Harus kita bedakan, antara politisi moral dan moralis politik, keduanya memiliki makna yang berbeda jauh. Dalam kajian politik Kant, dia pernah berpendapat bahwa politisi moral adalah orang yang memahami prinsip-prisip kearifan berpolitik sedemikian sehingga ia bisa hidup dengan sederhana dengan moralitas. Sedangkan moralis politik adalah orang yang mereka-reka moralitas supaya cocok dengan kepentingan kalangan negarawan.

Para politisi moral, tidak pernah terjerumus pada keinginan berambisi dalam mencari sebuah kekuasaan. Namun, peran politisi moral tersebut seringkali menjadi bahan hinaan. Rayuan, selalu mengajak ia terjerumus dalam ambisi berkuasa telah berderet menghampiri mereka. Hal ini tak salah, sebab para politisi moral bukan orang yang sekadar-kadarnya menjadi politisi. Selain ia memiliki jiwa manajerial dan leadership, ia juga memiliki prinsip-prinsip yang bermoral. Keinginan mementingkan masyarakat selalu menjadi nomer satu.

Berbeda dengan seorang yang moral politik. Setiap tempat ia ada, setiap itu pula ia berebut kekuasaan. Sehingga efek yang ditimbulkan adalah kekacauan. Tidak memperdulikan akan hal merusak lembaga atau organisasi. Dan realitanya, sosok pemimpin moral politik inilah yang sering kita jumpai.

Pantas apabila nepotisme tidak dipergunakan sesuai moral. Eksistensi dan penempatan dari nepotisme sudah tidak lagi dipergunakan dengan baik bagi baik secra secara teorik dan praktik. Bukannya nepotisme menjadi alat memangkas moral bangsa, yang selalu mengabaikan kepentingan pribadi daripada kepentingan umatnya.

Motif egoistis inilah yang berkembang di wajah para pemimpin maupun calon pemimpin pada saat ini. Mereka seringkali memakai atribut yang palsu dari aslinya, dan seringkali palsu dari aslinya.

Lagi-lagi pemimpin yang menjadi ‘kambing hitamnya’, setiap kali ada yang tidak beres dalam lembaga atau negaranya, ia yang dipersalahkan. Poin sentral yang menjadi kacaunya suatu urusan. Oleh karena itu, dalam menetukan dan memilih orang yang benar-benar memiliki kemapuan sekaligus moralitas tidak boleh diabaikan pula. Jadi, memilih rekan kerja, pemimpin, atau sejenisnya tidak selalu memakai motode nepotisme.
Sebuah penghianatan dalam lembaga atau negara. Manakalah orang yang dianggap benar-benar mampu dan bertanggung jawab, ketika dalam perjalanan kepengurusan secara struktural tidak berjalan dengan baik, apalagi dalam hal nepotisme. Salah satu contoh khulafaurrosidin, Utsman bin Affan, pada masa pemerintahannya, ia lebih memilih keluarganya sebagai rekan pemerintahannya. Namun, ketika berjalannya waktu, para keluarganya telah menghianatinya.

Petikan singkat tersebut, menunjukkan bahwa tidak selalu orang yang dekat dengan kita lebih memiliki kemampuan dan bermoral. Pada keluarga dekat sendiri saja hal itu masih bisa terjadi, apalagi nepotisme tersebut terjadi pada orang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kita.

Dengan demikian, dalam urusan apapun kita boleh memakai nepotisme, asalkan motif egoistis tidak melatarbelakangi kita. Maka, prinsip moralitas pada setiap insan harus ada, selain leadership dan managerial, pada setiap orang juga diperlukan. Sehingga, sebuah predeksi bahwa nepotisme akan pada hakikatnya bila yang memegang adalah politisi yang bermoral.[]

Categories
Paper

Religion in the Life of Human Culture

AGAMA DALAM KEHIDUPAN BUDAYA MANUSIA
Oleh Bayu Tara Wijaya

1. Pengertian Agama
Mudjahid Abdul Manaf (1996: 2) mendefinnisikan Agama berasal dari bahasa Sansakerta yaitu A yang berarti “ tidak” dan Gam sama dengan Gaan, Go, Gehen yang berarti “pergi”. Sehingga memiliki arti “tidak pergi” yang maksudnya “tetap di tempat”, “langgeng” diwariskan secara turun-temurun.

Sedangkan Endang Saifuddin Anshari (1979: 14) Agama berasal dari bahasa Sansakerta yaitu A artinya “tidak” dan Gama yang berarti “kocar-kacir atau berantakan”. Sehingga diartikan “tidak kocar-kacir atau tidak berantakan”. Lebih jelasnya agama itu adalah teratur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa agama itu adalah peraturan yang mengatur keadaan manusia, mengenai sesuatu yang gaib, ataupun yang menjadi budi pekerti, pergaulan hidup bersama.

Selain dari itu agama masih banyak menandung pengertian dari bahasa asing yang lainnya, diantaranya:
a. Religion (bahasa Inggris) yang menurut Saint Augustinus, berasal dari kata “Re dan Eligare” yang berarti “memilih kembali” dari jalan sesat kejalan tuhan (Abu Ahmadi dan Noor Salimi 1991: 3).
b. Religie (bahasa Belanda) yang menurut Lactantius, berasal dari kata “Re dan Ligare” yang berarti “menghubungkan kembali sesuatu yang telah putus”. Yang menghubungkan antara tuhan dan manusia yang telah putus karena dosa-dosanya. Sedangkan menurut Cicero berarti membaca berulang-ulang bacaan-bacaan suci (Abu Ahmadi dan Noor Salimi 1991: 3).
c. Din (bahasa Arab) yang berasal dari kata kerja “daana” – “yadienu” yang mempunyai arti bermacam-macam yaitu: cara atau adat kebiasaan, peraturan, undang-undang, taat atau patuh, menunggalkan ketuhanan, pembalasan, perhitingan, hari kiamat, dan nasehat (Endang Saifuddin Anshari 1979: 12).

Dalam agama, tentu ada istilah beragama. Maka, secara sederhana dalam pandangan umum, beragama adalah kepercayaan dan perbuatan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan kekuatan atau wujud gaib (relationship between humans and supernatural forces or beings). Dengan demikian, ada hal-hal alamiah atau natural dan ada pula yang supranatural. Agama adalah yang berhubungan dengan yang supranatural, yang luar biasa, atau yang gaib. Namun, batas antara apa yang gaib dan nyata, yang supranatural dan yang natural sangat kabur dan relatif. Dulu manusia sampai di bulan dikatakan tidak alamiah, tidak natural, tetapi ternyata itu adalah alamiah dan kenyataan (Bustanuddin Agus, 2006: 45).

Pendapat lain tentang pengertian agama bahwa, agama adalah jalan (way of life) yang merupakan sumber sistem nilai yang harus dijadikan pedoman manusia. Dengan kata lain, Islam merupakan arah petunjuk hidup dengan cara yang benar, yang sesuai dengan fitrah dan kodrat kemanusiaanya sebagai makhluk Allah swt (A. Munir dan Sudarsono, 1992: 47).

Cukup banyak agama yang ada di dunia ini, sekedar menyebut contoh agama Sinto, Kong Hu Cu, Bahai, Budha, Katolik, Protestan, Hindu, Islam dan lain-lainnya. Jadi, secara umum, sebagaimana penjelasan di atas, dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni(Muhammad Daud Ali, 1998: 72):
1. Agama Wahyu (revealed religion), juga disebut pula agama samawi, agama langit.
2. Agama Ra’yu (cultural religion/natural religion) agama bumi, kadang disebut agama budaya da agama alam.
Jadi, agama wahyu adalah yang ajarannya diwahyukan oleh Allah (Tuhan) kepada ummat manusia melalui Rasul-Nya. Sedangkan agama ra;yu adalah agama yang ajaran-ajarannya diciptakan oleh manusia sendiri, tidak diwahyukan oleh Allah melalui rasul-Nya

2. Klasifikasi Agama
Klassifikasi agama dapat dibagi menjadi dua berdasarkan sumbernya, yaitu:
1. Agama Wahyu
Abu Ahmadi dan Noor Salimi (1991: 6) mendefinisikan bahwa Agama wahyu adalah adalah ajaran Allah yang disampaikan kepada para rasul-Nya, yaitu islam. Agama Samawi atau Sama’i adalah agama Wahyu, yang mana Wahyu itu tidak diturunkan langsung kepada masyarakat, tetapi kepada Rasul-Nya melalui Malaikat. Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari (1979: 18) Agama Wahyu adalah Agama yang menghendaki iman kepada Tuhan, kepada para rasul-Nya dan kepada Kitab-kitabnya serta pesannya untuk disebarkan kepada segenap umat manusia.
Adapun ciri-ciri Agama Wahyu, adalah:
a. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat, melainkan diturunkan kepada masyarakat.
b. Disampaikan oleh utusan Allah. Utusan itu tidak menciptakan agama, melainkan menyampaikannya.
c. Memiliki kitab suci yang bersih tanpa campur tangan manusia.
d. Ajarannya serba tetap.
e. Konsep ketuhanannya adalah : Monothoisme mutlak (Tauhid).
f. Kebenarannya Universal, berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan. (Abu Ahmadi dan Noor Salimi 1991: 6)

2. Agama Budaya
Abu Ahmadi dan Noor Salimi (1991: 6) mendefinisikan bahwa Agama Budaya adalah ajaran yang dihasilkan oleh pikiran atau persamaamn manusia secara komulatif. Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari (1979: 18) Agama Budaya didefinisikan sebagai Agama bukan-Wahyu yang diartikan sebagai agama yang tidak memandang esensiil penyerahan manusia kepada tata aturan ilahi.
Adapun ciri-ciri Agama Budaya atau Agama Bukan Wahyu , adalah:
a. Tumbuh secara kumulatif dalam masyarakat penganutnya.
b. Tidak disampaikan oleh Rasul.
c. Umumnya tidak memiliki kitab suci, kalau ada akan mengalami perubahan oleh manusia.
d. Ajarannya berubah-ubah sesuai dengan perubahan pola pikiran masyarakat.
e. Konsep ketuhanannya: dinamisme, animisme, politheisme, dan paling tinggi adalah monothoisme nisbi.
f. Kebenaraan ajarannya tidak Universal. (Abu Ahmadi dan Noor Salimi 1991: 6)

Dari penejelasan di atas, dapat dikatakan bahwa agama wahyu hanyalah Islam. Sedangkan selebebihnya, kecuali Agama Nasrani dan Yahudi, termasuk agama budaya. Adapun Agama Yahudi dan Agama Nasrani dalam bentuk sekarang tidak dapat sepenuhnya dianggap Agama murni wahyu, namun kita sebut dengan Agama semi-wahyu. Karena kedua kitab yang dianggap suci oleh para pemeluknya itu (Taurat dan Injil dalam bentuknya yang sekarang), pada kenyataannya telah sangat banyak disisipi oleh “tangan-tangan” manusia (Endahing Saifuddin Anshari, 1979: 21).

3. Perkembangan Agama dan Kehidupan Budaya Manusia
Tradisi keagamaan lokal di Indonesia, pada dasarnya merupakan hasil interaksi antara agama dan budaya lokal. Tradisi antara satu daerah dengan daerah lain pasti berbeda. Dengan kata lain terjadinya pluralisme budaya dari penganut agama yang sama tidak mungkin dihindari ketika agama tersebut telah menyebar ke wilayah yang luas dan latar belakang kultur yang beraneka ragam.

Agama maupun budaya tidak akan pernah bisa mengelak dari proses perubahan. Memang betul ajaran agama sebagaimana tercantum dalam kitab suci, kata demi kata tetap seperti keadaan semula. Namun begitu agama difahami, diterjemahkan kedalam perbuatan nyata dalam suatu seting sosial, budaya, politik ekonomi tertentu, maka pada saat itu pemahaman yang didasari ajaran agama tersebut pada dasarnya telah berubah menjadi kebudayaan (Hisan Kato, 2002: 101).

Karya seni masyarakat sekuler tampak materialis dan biologis. Sehingga menjadi tumpukan perhatian. Seperti dalam percintaan muda mudi adalah tertuju pada kecantikan wajah dan penampilan, tidak budi luhur dan kedalam perasaan. Tarian juga didominasi goyang dan penampilan erotis. Semua penampilan materialis biologis dari seni modern tidak lepas dari kaitannya dengan agama. Seni masyarakat sekuler dihasilkan oleh agama, merekalah yang dinamakan materialisme itu. Materialisme dianut dan dipercayai sebagai suatu kebenaran satu-satunya. Materi dan fisik adalah sesuatu yang amat dipentingkan dan mendominasi kehidupan masyarakat modern sehingga lahirlah seni yang fulgar. (Agus. 2003a:33-90).

Edward Norbeck mengasumsikan dasar dari bukunya Religion in Human Life bahwa agama adalah bagian dari kehidupan manusia yang dikatagorikan sebagai supernaturalisme atau agama yang semua itu adalah buatan dari manusia dan banyak kesamaannya. Sebagai suatu ciptaan manusia agama adalah bagian dari budaya, bagian ciptaan manusia secara universal (Norbeck 1974:9-10).

Apabila dihubungkan dengan perkembangan manusia ada 3 tahap perkembangan jiwa atau masyarakat/budaya manusia, yaitu :
1. Tahap Teologik, secara harfiah berarti teori tentang Tuhan. Dalam prakteknya, istilah ini berhubungan dengan pemikiran individual. Misal ketika manusia berpikir sebuah Fetisisme, yakni berpikiran bahwa disekelilingnya adalah sama memiliki kekuatan magis. Kedua, ketika berpikir Politeisme, yakni berpikiran bahwa Tuhan itu banyak. Ketiga, Monoteisme, yakni berpikiran bahwa hanya da satu Tuhan (Kamus Ilmiah Populer).
2. Tahap Metafisik, secara harfiah berarti membicarakan problem realitas atau benda abstrak. Artinya akal fikiran manusia sudah mulai terbuka berbagai rahasia alam sekitarnya, memahami berbagai hubungan sebab akibat, dan akhirnya sampai pemikiran yang hakikat dari sesuatu yang ada ( Muhaimin.1994).

4. Kedudukan dan Fungsi Agama dalam Sistem Budaya dan Peradaban
Keberadaan agama dalam sistem sosial budaya adalah objek yang menjadi perhatian utama dalam antropologi agama. Kehidupan beragana punya pengaruh terhadap aspek kebudayaan yang lain. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan aspek budaya material, perilaku manusia, nilai moral dan lain sebagainya (Bustanuddin Agus, 2006: 201).

Banyak pendapat, bahwa Agama merupakan bagian dari kebudayaan dan ada juga penjelasan bahwa kebudayaan bagian dari agama. Namun tutur Bung Hatta dalam Endang Sifuddin Anshari (1982) menjelaskan bahwa “agama adalah juga satu kebudayaan, karena dengan beragama manusia hidup dengan senang”. Dalam penjelasan ini, bung Hatta mencoba mencampur adukkan antara agama deng beragama. Dan tengasnya, baik agama maupun kebudayaan, keduanya dapat membuat manusia senang dan bahagia, tanpa harus kesimpulan, agama adalah (sebagian daripada) kebudayaan atau sebaliknya kebudayaan adalah (sebagian daripada) agama (Endang Sifuddin Anshari, 1982: 47).

Pendapat lain agama dalam sistem budaya bahwa agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Sedangkan Kebudayaan mengatur hubungan manusia dengan manusia serta alam (Endang Sifuddin Anshari, 1982: 49). Jadi, agama dan kebudayaan adalah bagian terpisah yang tidak ada kaitannya.

Secara umum, para ahli antropology menempatkan agama (religi) sebagai salah satu dari aspek-aspek kebudayaan (cultural universals), karena ia merupakan hasil dari pemahaman, rasa dan tindakan masyarakat yang bersangkutan dalam berhubungan dengan yang gaib (Bustanuddin Agus, 2006: 202).

Dari beberpa penjelas mengenai setuju dan tidaknya agama dalam sistem budaya. Tentunya kita mengetahui sedikit fungsi dari agama terhadap perkembangan suatu budaya.

Mengacu pada pengertian budaya yang dijelaskan di atas, bahwa agam ada dua jenis, yakni agama sebagai wahyu dan agama sebagai budaya. Mungkin, jenis kedua inilah yang nantinya akan memperjelas fungsi agama sebagai sistem budaya. Hal demikian terjadi, karena agama budaya merupa agama yang dihasilakan dari usaha manusia untuk mencari Tuhannya, melalui cara-cara, sehingga disepakati secara turun menurun.

Bibliografi

Agus, Bustanuddin. 2006. Agama dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: Rajawali Press.
Ali, Mohammad Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Ashari, Endang Saifuddin. 1982. Agama dan Kebudayaan. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Kato Hisan. 2002. Agama dan Peradaban. Jakarta: Dian Rakyat.
Manaf, Mudjahid Abdul. 1996. Sejarah Agama-agama, cet. ke-2. Jakarta: Rajawali Press.
Munir, A dan Sudarsono. 1992. Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta.
Pranowo, M. Bambang. 1998. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Yustiono (ed). 1993. Islam dan Kebudayaan Indonesia: Dulu, Kini dan Esok. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

Categories
Buku

Learning from the Name of God

Belajar dari Asma’ Allah

Judul Buku : Quatum Asma’ul Husna
Penulis : Rachmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 636 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Teringat sebuah wacana bahwa “siapa yang nanti di hari akhir memiliki pegangan hidup (iman) maka dialah yang akan selamat.” Ketika dunia semakin gersang akan segarnya cahaya ilahirabbi, dan di situlah manusia akan pada bergelimpangan melakukan maksiat di hari akhir nanti.

Banyak orang yang pada lupa akan sifat ketuhanan yang dimilikinya, mereka semakin hari lupa akan hal kebutuhan bathiyinah pada dirinya. Keseimbangan dalam hidup, kemanfaatan dan kekuatan hidup yang selaras terjauhkan dari keagungan Tuhan. Kondisi jiwa yang semakin hari hangus terbakar egoisme kepentingan tak berlandaskan kualitas spiritual.

Seraya melupakan bahwa manusia yang kebetulan dimuka bumi ini semuanya tanpa terkecuali, memiliki tanggung jawab sebagai abdullah (hamba Allah) dan sekaligus khalifatullah. Oleh karena itu, tanpa potensi keagungan Allah, yang bermetamorfosis mewujud berupa spiritualitas. Tatkala manusia mengalami disoriaentasi hidup dan terjerembab dalam kegelisaan hidup, maka karena kekuatan spiritual tinggi yang ia miliki, keselamatan dan kajayaan duniawi serta ukhrawi akan didapatkan.

Tidak terlepas dari itu semua, melalui kajian detail dan menyeluruh atas nama-nama dan sifat-sifat Allah yang termuat dalam Asma’ul Husna. Quatum Asma’ul Husna muncul dan memberikan sumbangsi secara teoritik maupun praktis kepada umat manusia yang masih peduli terhadap dirinya. Sehingga dengan kuatum (kedasyatan energi dalam diri manusia) dapat melejitkan kekuatan spiritual manusia, sebagai penyeimbang dan tameng hidup.

Buku Quatum Asma’ul Husna yang ditulis oleh Rachmat Ramadhana al-Banjari, mampu menyingkap tabir agung nama-nama Allah dan dapat menemukan serta membantu kita untuk mengetahui kekuatan yang dasyat pada diri kita bagi kehidupan kita. Ia juga berusaha membuka jalan untuk manusia yang asalnya memilki kelemahan dan menjadikan kelemahan tersebut menjadi sebuah keistimewaan.

Sebab, ketika manusia percaya bahwa potensi keagungan Allah yang ada pada diri setiap manusia seyogyanya bisa digali, dikembangkan, dan digunakan dengan sungguh-sungguh oleh setiap manusia agar dapat memberikan motivasi dasyat pada pikiran dan jiwanya untuk menggapai kualitas kecerdasan spiritual, sebagai pondasi kehidupan manusia.

Terkemas dengan rapi, Quatum Asma’ul Husna yang memiliki empat bagian. Pada bagian pertama, seraya kita diperkenalkan, Siapa Tuhan kita? Kemudian berlanjut pada pengenalan nama-nama Allah. Pada bagian ini, al-Banjari berusaha membuka tabir rahasia di balik lafaz Allah. Selain itu pula, ia memperkenalkan bahwa Asma’ Allah menjadi cerminan manusia dalam berprilaku dalam kehidupannya.

Pada bagian inilah, kita akan lebih didekatkan pada Allah dan seyogyanya manusia memilki akhlak untuk mengingat bahwa manusia adalah abdullah (hamba Allah). Maka, untuk membentuk karakteristik seorang manusia yang bergelar abdullah (hamba Allah) tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan tinjauan teoretis atau cukup pendekatan teknis saja, akan tetapi harus didukung oleh aplikasi melalui pendekatan keimanan, keislaman, kemakrifatan dan ketauhidan. Karakteristik seperti inilah yang akan menghantarkan manusia pada insan kamil ‘kesempurnaan’, yang sehari-hari mampu mengevolusi dan mentransformasi jiwa, hati, akal, indera dan fisik seseorang menjadi hamba Allah.

Pada bagian kedua, penulis sengaja mengingatkan kembali pada hukum syar’iyyah, sebab seluruh aktivitas-aktivitas sunnah manusia akan berlaku sia-sia, apabila kewajiban sebagai Islam tidak dijalani. Ini artinya, sebelum melakukan beberepa kesunnahan dalam beribadah, tentu melakukan kewajiban terlebih dahulu.

Shalat adalah salah satunya yang dianggkat al-Banjari dalam karyanya. Ia menjelaskan bahwa shalat sama halnya menyucikan ruhani. Sehingga, ketauhidan kepada Allah akan kita peroleh melalui salah satu kewajiban sebagai umat Islam, yakni shalat.

Tentu, bukan hanya shalat saja yang harus dilakukan. Masih banyak lagi ketauhidan, kemaslahatan, keadilan, dan lain-lainnya. Katakan saja, termasuk sifat-sifat mahmudah manusia. Dengan demikian, penulis barulah mengajak kita merenungi pada bagian integral dari asma’ul husna, yakni quatum asma’ul husna.

Seluruh sifat-sifat Allah yang kita kenal dengan sebutan Asma’ul Husna dibahas satu persatu oleh al-Banjari pada bagian ketiga mulai sifat ar-Rahman hingga sifat ash-Shabur. Kajian komparatif dari berbagai bibliografi ia cantumkan, tak tertinggal bibliografi utamanya adalah al-Qur’an dan al-Hadis.

Hal ini dilakukakan, agar umat manusia dapat memahami, merenungkan dan mengamalkan salah satu atau semuanya jika mampu dari sifat-sifat Allah. Dengan pedoman asma’ul husna saja, tentu manusia bisa menyelesaikan segala urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Tak kalah pentingnya, bahwa ini adalah buku penting, yang dapat digunakan manusia sebagai pegangan dalam hidupnya.

Inilah harapan dari penulis, Quatum Asma’ul Husna bukan sekadar bahan referensi saja, melainkan bahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga, pada bagian terakhir, al-Banjari mencatumkan doa-doa Asma’ul Husna. Dengan demikian, patutlah Quatum Asma’ul Husna menjadi pegangan semua umat manusia, khususnya yang beragama Islam.

Terlepas dari itu semua, bahwa karya al-Banjari ini benar-benar karya yang menakjubkan. Bukan sekadar karya yang hanya menjadi referensi pustaka saja, tetapi bahan referensi hidup manusia. Oleh karena itu, apresiasi terbesar yang kita berikan pada penulis adalah dengan membaca, menganalisis dan mengamalkan dari karyanya.[]

Categories
Matematika

Selayang Perkembangan Angka Nol

Nol sebagai wakil dari kosong terutama dalam kalender yang berkembang di Meksiko tengah bagian selatan. Selain itu juga, nol dipakai dalam sistem bilangan vigesimal atau 20-angka di meksiko. Di Eropa, perkembangan nol menjadi bagian integral dari angka Maya, tetapi tidak mempengaruhi sistem angka Eropa. Sedangkan di Cina, perkembangan nol bermula dari berhitung menggunakan tongkat sejak abad ke-4 SM, namun mereka memahami perhitungan negatif dan perhitungan nol, namun tidak dapat menyimbolkan.

The Nine Chapters on the Mathematical Art Cina adalah buku matematika pada abad ke-1 M, yang kemudian disalin dalam teks Cina. Yang isinya, bahwa Ptolemy dipengaruhi Hipparcrus dan Babilon, dalam menggunakan simbol untuk nol (lingkaran kecil dengan panjang overbar) dalam sistem angka sexagesimal pada abjad angka Yunani.Nol juga pernah digunakan dalam tabel angka Romawi oleh Dionysius Exiguus. Yang awalnya angka Romawi tersebut berasal dari sistem Roma Kuno, yang diadaptasi dari angka Etruscan.

India yang menggunakan angka desimal dalam hitungan, termasuk nol, merupakan teks Jain, yang dijelaskan dalam buku berjudul Lokavibhâga pada 458 AD, yang menggunakan bahasa Sanskrit (angka untuk angka). Dalam teks tersebut diperkenalkan penggunaan khusus Glyphs pada tampilan simbol angka nol yakni lingkaran kecil yang ditemukan di prasasti Candi Chaturbhuja di Gwalior India pada 876 TM. Angka India dan posisi sistem bilangan diperkenalkan kepada peradaban Islam oleh al-Khawarizmi sebagai konstribusi pemikiran matematika. Karya terkenalnya adalah Al-Jabr wa-al-Muqabilah. Ia menjelaskan penggunaan nol, sebuah angka penting untuk dikembangkan orang India.

Kemudian, pada abad ke-12, sistem angka India pada Aritmatika diperkenalkan ke dunia Barat melalui terjemahan bahasa Latin. []

Categories
Matematika

Pahlawan Matematika yang Terlupakan*

SAAT ini ilmu pengetahuan, khususnya matematika, berkiblat ke negeri Barat (Eropa dan Amerika). Kita hampir tidak pernah mendengar ahli matematika yang berasal dari negeri Timur (Arab Muslim, India, Cina). Yang paling populer kita dengar sebagai matematikawan Arab Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap perkembangan matematika adalah Al-Khawarizmi, dikenal sebagai bapak Aljabar, memperkenalkan bilangan nol (0), dan penerjemah karya-karya Yunani kuno.

Apakah benar hanya itu kontribusi negeri-negeri timur (khususnya umat Islam) terhadap perkembangan matematika?
Kisah angka nol
Konsep bilangan nol telah berkembang sejak zaman Babilonia danYunani kuno, yang pada saat itu diartikan sebagai ketiadaan dari sesuatu. Konsep bilangan nol dan sifat-sifatnya terus berkembang dari waktu ke waktu.

Hingga pada abad ke-7, Brahmagupta seorang matematikawan India memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifatnya adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, demikian pula sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Tetapi, Brahmagupta menemui kesulitan, dan cenderung ke arah yang salah, ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol. Hal ini terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai 200 tahun kemudian. Misalnya tahun 830, Mahavira (India) mempertegas hasil- hasil Brahmagupta, dan bahkan menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu saja ini suatu kesalahan fatal. Tetapi, hal ini tetap harus sangat dihargai untuk ukuran saat itu.

Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-tahap awal ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu (India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.

Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal.

Zaman Kegelapan
Sebenarnya stagnasi ilmu pengetahuan tidak pernah terjadi, yang terjadi adalah berpindahnya pusat-pusat ilmu pengetahuan. Sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu.

Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah matematika (juga ilmu pengetahuan lainnya) bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani.

Beasiswa disediakan bagi para penerjemah dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq.

Seperti yang banyak dikemukakan ahli sejarah matematika, terutama yang ditulis oleh orang Barat, kontribusi Muslim bagi perkembangan matematika adalah terbatas pada aktivitas penerjemahan naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Banyak ahli sejarah matematika yang tidak menampilkan tentang sumbangan besar Muslim terhadap perkembangan matematika, baik karena sengaja atau ketidaktahuannya.

Namun tidak sedikit pula ahli sejarah matematika dari Barat yang lebih objektif dalam mengemukakan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam satu sumber yang ditulis oleh J. J. O’Connor dan E. F. Robertson dikatakan bahwa dunia barat sebenarnya telah banyak berutang pada para ilmuwan/matematikawan Muslim. Lebih lanjut bahwa perkembangan yang sangat pesat dalam matematika pada abad ke-16 hingga abad ke-18 di dunia barat, sebenarnya telah dimulai oleh para matematikawan Muslim berabad-abad sebelumnya.

Kontribusi Matematikawan Muslim
Salah seorang matematikawan brilian pada masa permulaan adalah Al- Khawarizmi. Selain kontribusinya seperti yang telah dikemukakan, Al- Khawarizmi dikenal pula sebagai pionir dalam bidang aljabar. Penelitian-peneliti an Al-Khawarizmi adalah suatu revolusi besar dalam dunia matematika, yang menghubungkan konsep-konsep geometri dari matematika Yunani kuno ke dalam konsep baru. Penelitian-peneliti an Al- Khawarizmi menghasilkan sebuah teori gabungan yang memungkinkan bilangan rasional/irasional, besaran-besaran geometri diperlakukan sebagai “objek-objek aljabar”.

Generasi penerus Al-Khawarizmi, misalnya Al-Mahani (lahir tahun 820), Abu Kamil (lahir tahun 850) memusatkan penelitian pada aplikasi- aplikasi sistematis dari aljabar. Misalnya aplikasi aritmetika ke aljabar dan sebaliknya, aljabar terhadap trigonometri dan sebaliknya, aljabar terhadap teori bilangan, aljabar terhadap geometri dan sebaliknya. Penelitian-peneliti an ini mendasari penciptaan aljabar polinom, analisis kombinatorik, analisis numerik, solusi numerik dari persamaan, teori bilangan, dan konstruksi geometri dari persamaan.

Al-Karaji (lahir tahun 953) diyakini sebagai orang pertama yang secara menyeluruh memisahkan pengaruh operasi geometri dalam aljabar. Al-Karaji mendefinisikan monomial x, x2, x3,…dan 1/x, 1/x2, 1/x3,…dan memberikan aturan-aturan untuk perkalian dari dua suku darinya. Selain itu, ia juga berhasil menemukan teorema binomial untuk pangkat bilangan bulat. Selanjutnya untuk memajukan matematika, ia mendirikan sekolah aljabar. Generasi penerusnya (200 tahun kemudian), yaitu Al- Samawal adalah orang pertama yang membahas topik baru dalam aljabar. Menurutnya bahwa mengoperasikan sesuatu yang tidak diketahui (variabel) adalah sama saja dengan mengoperasikan sesuatu yang diketahui. Matematikawan Muslim lainnya adalah Omar Khayyam yang lahir sekitar tahun 1048. Dia berjasa besar melalui penelitiannya, memberikan klasifikasi lengkap dari persamaan pangkat tiga melalui penyelesaian geometri dengan menggunakan konsep pemotongan kerucut. Dia juga memberikan sebuah konjektur (dugaan) tentang deskripsi lengkap dari penyelesaian aljabar dari persamaan-persamaan pangkat tiga.

Matematikawan berikutnya adalah Sharaf al-Din al-Tusi yang lahir tahun 1135. Dia mengikuti Omar Khayyam dalam mengaplikasikan aljabar pada geometri, yang pada akhirnya menjadi permulaan bagi cabang algebraic geometry.

Di luar bidang aljabar, matematikawan Muslim juga mempunyai andil. Salah seorang dari Banu Musa bersaudara, yaitu Thabit Ibnu Qurra (lahir tahun 836), mempunyai kontribusi yang banyak bagi matematika. Salah satunya adalah dalam teori bilangan, yaitu penemuan pasangan bilangan yang mempunyai sifat unik; dua bilangan yang masing- masingnya adalah jumlah dari pembagi sejati bilangan lainnya dan disebut pasangan bilangan bersahabat (amicable number). Teorema Thabit Ibnu Qura ini kemudian dikembangkan oleh Al-Baghdadi (lahir tahun 980).

Berikutnya adalah Abu Ali Hasan Ibnu Al-Haytam (lahir tahun 965 di Basrah Irak), yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan nama Alhazen. Al-Haytam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan semua bilangan sempurna yang genap, yaitu bilangan yang merupakan jumlah dari pembagi-pembagi sejatinya, seperti yang berbentuk 2k-1(2k-1) di mana 2k-1 adalah bilangan prima. Selanjutnya Al-Haytam membuktikan bahwa bila p adalah bilangan prima, 1+(p-1)! habis dibagi oleh p.

Sayangnya, jauh di kemudian hari, hasil ini dikenal sebagai Teorema Wilson, bukan Teorema Al-Haytam. Teorema ini disebut Teorema Wilson setelah Warring pada tahun 1770 menyatakan bahwa John Wilson telah mengumumkan hasil ini. Selain dalam bidang matematika, Al-Haytam juga dikenal baik dalam dunia fisika, yang mempelajari mekanika pergerakan dari suatu benda. Dia adalah orang pertama yang menyatakan bahwa jika suatu benda bergerak, akan bergerak terus menerus kecuali ada gaya luar yang memengaruhinya. Ini tidak lain adalah hukum gerak pertama, yang umumnya dikenal sebagai hukum Newton pertama. Selain itu, Al- Haytam memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan teori dan praktik optik. Al-Farisi (lahir tahun 1260) memberikan metode pembuktian yang baru untuk teorema Thabit Ibnu Qurra. Dia memperkenalkan ide baru berkenaan faktorisasi dan metode kombinatorik.

Matematikawan lainnya adalah Al-Kashi (lahir tahun 1380) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan teori pecahan desimal. Teori ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan teori bilangan riil dan sejarah penemuan bilangan (pi). Selanjutnya ia mengembangkan algoritma penghitungan akar pangkat n. Metode ini beberapa abad kemudian dikembangkan oleh matematikawan barat Ruffini dan Horner.

Bidang Astronomi
Masalah-masalah astronomi, penentuan waktu, dan masalah geografi merupakan motivasi lain bagi matematikawan Muslim untuk melakukan penelitian. Misalnya saja Ibrahim Ibnu Sinan (lahir sekitar tahun 910- an) dan kakeknya Thabit Ibnu Qurra, mempelajari kurva-kurva yang diperlukan dalam mengonstruksi jam matahari. Abul-Wafa (lahir tahun 940-an) dan Abu Nasr Mansur (lahir tahun 970-an) mengaplikasikan geometri bola terhadap astronomi dan menggunakan rumus-rumus yang melibatkan sinus dan tangen. Kemudian Al-Biruni (lahir tahun 973) menggunakan rumus sinus baik dalam astronomi maupun dalam perhitungan garis bujur dan lintang dari kota-kota. Dalam kasus ini, Al-Biruni melakukan penelitian yang sangat gencar dalam proyeksi dari bola pada bidang.

Thabit Ibnu Qurra juga mempunyai kontribusi bagi teori dan observasi dalam astronomi. Al-Batanni (lahir tahun 850) membuat observasi yang akurat yang memungkinkannya untuk memperbaiki data-data dari Ptolemy tentang bulan dan matahari. Nadir al-Din al-Tusi (lahir tahun 1201), berdasarkan astronomi teoritisnya dalam pekerjaan Ptolemy, membuat pengembangan yang sangat signifikan dalam model sistem planet.

Pembuatan tabel-tabel fungsi trigonometri adalah bagian dari pekerjaan para matematikawan Muslim dalam penelitian bidang astronomi, seperti yang dilakukan oleh Ulugh Beg (lahir tahun 1393) dan. Konstruksi alat-alat astronomi juga tak lepas dari pengaruh para matematikawan Muslim.

Uraian di atas tidaklah cukup mengulas secara menyeluruh karya-karya matematikawan Muslim. Masih banyak yang belum tercakup, dan belum terungkap. Belum tercakup dan belum terungkapnya semata-mata karena kurangnya sumber yang mengisahkan mereka. Dengan demikian, pantas bagi kita untuk mengatakan bahwa matematikawan Muslim adalah pahlawan- pahlawan matematika yang terlupakan. Atau, memang sengaja dilupakan.

*) ditulis Oleh Prasetyo Bawono

Categories
Buku

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Prestisius Perempuan dari Kartini dan Soekarno

Judul Buku : Perempuan di Mata Soekarno
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi, ar-Ruzz Media Group –Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : 161 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Mendengar kata “perempuan”, teringat dengan clotehan orang yang lemah, tak berpendidikan, pemuas lelaki, dan masih banyak lagi hinaan terhadap perempuan. Kasus-kasus bermunculan dan menyudut langsung pada perempuan. Kasus seorang TKW asal Indonesia beberapa pekan lalu diduga telah diperkosa 46 orang pria di Arab Saudi. Kemudian Ia melarikan diri dari tempat penampungan di al-Nuzha, Mesir (Media Indonesia, 13 Maret 2009).

Bersamaan, dua mahasiswi peroleh hadiah perjalanan ke Prancis untuk menghadiri hari sedunia Frankofoni atau kita sebut hari penutur bahasa Prancis. Kedua mahasiswi tersebut Siti Ditta Sylvana dari Universitas Pendidikan Indonesia sebagai juara pertama dan Darweni dari Universitas Nasional Yogyakarta sebagai juara kedua pada lomba bahasa Prancis se-Indonesia (baca: Indonesia, 25 Maret 2009).

Cerita duka dan suka perempuan Indonesia yang menggelembung di catatan merah sejarah. Sepatutnya, kita prihatin ulang, siapa perempuan sebenarnya? Kebanggaan (Prestisius) perempuan Indonesia, kadarnya harum setelah perjuangan mereka. R.A. Kartini, salah satu perempuan pejuang yang terobsesi pada cita-cita untuk memberikan pendidikan pada kaum perempuan –salah satu sejarah pejuang perempuan. Kemudian Kartini menggenjotkan perjuangan untuk menyuarakan pendidikan untuk perempuan.

Inisiatif-inisiatif Kartini kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh perempuan lainnya, seperti Dewi Sartika dan Rohina Kudus. Dewi Sartika lahir pada 1 Desember 1884 dan wafat pada 11 September 1947. Ia mendirikan sekolah pertamanya pada 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Alhasil, hingga 1912, Dewi Sartika telah mendirikan sembilan sekolah, jumlah yang mencapai 50 persen dari keseluruhan sekolah di Pasundan.

Buku Perempuan di Mata Soekarno yang ditulis oleh seorang perempuan pula, dan menjabat sebagai direktur Global Education Center (GEC), yakni Nurani Soyomukti. Uraian yang memutar ulang gerakan perempuan sebelum dan sesudah kemerdekaan beserta beberapa pemikiran Bung Karno tentang perempuan dan feminisme. Merambat ulas dari gerakan kebangkitan kesadaran perempuan yang lama mengalami kontradiksi dari kesetaraan.

Perempuan pada zaman kerajaan-kerajaan Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam relasi politiknya dan memiliki penghargaan dalam kesetaraan yang cukup adil di zamannya saat itu, contoh kongkret adalah bagaimana besarnya peranan panglima perang perempuan Aceh Malayahati (1545-1604M) pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV, jauh sebelum Tjoet Nyak Dien, jauh lagi sebelum itu ada Ken Dedes, Ratu Shima (640M) dari Kalingga –sekarang Jepara.

Feodelisme vs Modern

Kartini, yang menempatkan dirinya secara universal tentang sebagai kaum perempuan dan manusia. Meskipun ia insaf dari bangsawan Jawa. Kartini pada saat zamannya, justru terkungkung oleh tatanan feodal (kebangsawanan), yang membuat Kartini bertanya dan menggugat tradisi-tradisi yang berkembang untuk memasung kemanusiaan. Kartini tidak membanggakan diri karena ia keturunan keluarga bangsawan walaupun menyadari hal itu.

Selain itu, Ayah kartini adalah bupati Jepara. Dunia pribumi yang dikenal Kartini adalah kerakusan feodalisme yang merajalela tempat perempuan untuk berpikir dan berpartisipasi dalam masyarakat disandera. Feodalisme Jawa waktu itu, tentu merupakan kondisi ketika para keluarga bangsawan menjadi penguasa yang berada di antara mayoritas rakyat yang bekerja mengeluarkan darah, keringat, dan air mata, namun hasilnya sebagian besar harus diserahkan pada penguasa.

Berbeda dengan perempuan-perempuan modern sekarang ini yang begitu membanggakan diri akan zaman modern ketika struktur dan kultur pasar bebas (kapitalisme) memenjarakan mereka dalam gaya hidup satu dimensi. Sebuah pepatah jawa “kacang ora ninggal lanjarane” atau biji kacang tidak akan meninggalkan asalnya ia, yakni dari tumbuhan kacang. Tafsirnya, sebagai perempuan Indonesia perlu sekali review keperempuanan dan asal perjuangan serta keperanan perempuan di zaman sejarah feodalis.

Pertanyaannya, apakah perempuan Indonesia bangga (prestisius) sebagai perempuan? Sedangkan feodalisme kembali muncul di era modern. Perempuan komersialisasi seks, pelacuran, perempuan kelas bawah, perempuan kelas atas dan isu lainnya masih tetap bertopeng pada perempuan. Dalam buku ini, Soyomukti memperkenalkan pemikiran Bung Karno. Sosok Bung Karno yang terkenal orang yang sangat perhatian pada urusan pemerintahan tetapi masih sempat memikirkan dan prihatin pada perempuan sebagai wujud keperpihakannya kepada kaum perempuan yang maju dan bangga (prestisius) sebagai perempuan Indonesia.

Cermat dari Bung Karno terhadap revolusi Industri di Barat dan imbasnya bagi kaum perempuan. Kapitalisme –saat ini masih menyebar–, telah membedakan kaum perempuan kelas atas dengan kaum perempuan kelas bawah (buruh, tani dan rakyat jelata) merasakan penindasan ekonomi pada saat perempuan kelas atas bergelimangan harta, bukan berarti kaum kelas atas tidak mengalami dekadensi moral.

Menurut Soyomukti, pandangan Bung Karno masih sangat relevan jika kita menguak nasib para perempuan kelas atas di zaman kapitalis sekarang ini. Perempuan mapan dan kaya semacam Paris Hilton memang bukanlah para perempuan mandiri meskipun banyak orang yang beranggapan demikian. Mengutip dari perkataan sosial bahwa, manusia hidup membutuhkan orang lain.

Keperpihakan lain dari Bung Karno terdapat pada daya upaya dalam mengenang perempuan yang telah berjasa merawatnya sejak kecil dengan meletakkan nama perempuan itu menjadi judul buku kecil Sarinah. Marhaen sebutan lain dari Sarinah, yang mengalami penindasan ganda, yakni sebagai perempuan kelas bawah. Akan tetapi, dalam Sarinah diuraikan bahwa bukan berarti perempuan kelas atas terbebas dari penindasan. Bahkan, dalam tingkat tertentu, mereka justru terkurung dan terpasung, apalagi saat mendampingi suami yang tidak demokratis dan memperlakukan istrinya sebagai pelayan dan budak.

Membaca Sarinah –sebagaimana diakui oleh Colin Brown, pengamat politik Asia asal Australia– kita akan menyimpulkan bahwa tidak ada pemimpin politik Indonesia yang lain menaruh perhatian tentang perempuan yang seserius Soekarno. Sebagaimana, kutipan dari direktur Global Education Center (GEC), berkaitan dengan situasi kaum perempuan sekarang ini.

Melalui anotasi Soyomukti, interfensi tentang cabulan perempuan lebih terkikis dari ketidakmanusiaan kita. Dengan gerakan rintisan Kartini dan perhatian dari pemimpin negara, yaitu Soekarno lebih memberikan rangsangan terhadap gaira prestisius seorang pribadi perempuan untuk berada di depan. Ujar kata, buku ini memberikan rekomendasi dan kontribusi dalam mengangkat citra keperempuanan Indonesia.[]

Categories
Thinker

Menjaga Citra Perempuan di Hari Kartini

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Pada tanggal 21 April 2009 merupakan peringan hari Kartini, mungkin tidak semuanya merayakan hari tersebut. Kartini yang memperjuangkan kaum perempuan khususnya dalam hal pendidikan. Tepat pada kesempatan hari tersebut, masyarakat kita masih ada yang peduli dan menghormati hari Kartini. Hari yang dianggap penting dalam naskah sejarah perjuangan perempuan Indonesia.


Salah satu bentuk kepedulian masyarakat kita pada saat ini cukup dibuktikan oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Kampus Islam yang di dalamnya ada banyak varian komunitas kecil yang menyebutkan dirinya sebagai komunitas sastra. Sehingga dalam menghormati dan merayakan hari Kartini mereka membacakan puisi-puisi, dan sastra-sastra lainnya. Selain itu juga, beberapa lembaga kajian yang ada di kampus tersebut, mengadakan refleksi hari Kartini. Seperti Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa mengadakan kajian bertema Kenapa Harus Kartini!

Dalam perbincangan Kartini menghasilkan beberapa obrolan bahwa hari Kartini ada karena berdasarkan kepres, yakni oleh presiden Soekarno. Hasil kajian lainnya, mereka membincangkan perjuangan perempuan Indonesia yang bermula dari gerakan Kartini hingga sekarang ini yang akrab kita kenal dengan perjuangan Jender dan Feminimisme.

Jender dan Feminimisme inilah yang masih segar dibicarakan aktivis-aktivis kampus saat ini. Oleh karena itu, komunitas kecil yang berdiri secara independent maupun dependent, cukup menjadi wakil dari kita atas penghormatan terhadap perempuan. Sebab, kita sadar bahwa sebagai salah satu penerus bangsa yang kebetulan dapat menikmati pendidikan tentunya tidak melupakan salah satu perjuangan Kartini atas pemerataan pendidikan yang ia usung dalam perjuagannya.

Hari Kartini yang memiliki nasib sama dengan hari-hari nasional yang lain. Yakni nasib dari hari Kartini pada saat ini sudah tidak dihormati oleh sebagian masyarakat kita. Realita yang kita rasakan, semisal pada bulan Maret lalu ada seorang TKW yang diperkosa oleh 46 laki-laki di Arab Saudi. Ini menunjukkan perempuan sejak dulu hingga sekarang menjadi bahan tindasan kaum laki-laki.

Kasus-kasus lain yang sama, yakni perempuan-perempuan saat ini sendiri banyak yang mencoreng nama perempuan. Beberapa pekan lalu, di daerah Batu-Malang, telah diberitakan ada rombongan dalam satu mobil mati mengenaskan. Prihatinnya, dalam kecelakaan tersebut dapat dipastikan bahwa mereka baru saja melakukan pesta seks. Terbukti, perempuan dan lelaki yang berada dalam kecelakaan tersebut tidak mengenakan pakaian.

Peristiwa sejenis itulah, yang menjadi sorotan kita pada saat ini. Di hari Kartini ini, khususnya para perempuan Indonesia bisa mengenang kembali perjuangan Kartini. Usaha mengangkat derajat dan citra perempuan yang dilakukan Kartini bukanlah semata untuk dirinya, tetapi untuk kita. Sehingga pada saat itu, kepedulian Kartini terhadap perempuan mendapat acungan jempol oleh Soekarno hingga dimasukkan dalam daftar hari nasional.

Sebagai warga negara yang merasakan pendidikan, patutlah memperjuangkan derajat dan citra perempuan perlu kita ulang kembali. Sehingga bukan hanya mengenang hari Kartini, tetapi bagaimana kita dapat melakukan kembali atau memeperjuangkan secara lebih, apa yang diharapkan Kartini. Untuk itu, mari menjaga dan mengangkat citra perempuan…!

oleh Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Bangga Menjadi Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebuah kata yang dibangga-banggakan oleh para pemuda yang dapat melanjutkan jenjang strata dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Masa setelah duduk dibankgku SMA menjadi masa spekulatif. Masa-masa ini adalah masa yang paling menentukan pemuda untuk dapat berjiwa kreatif dan inovatif. Kesempatan mengembangkan diri sangat ditentukankan sekali pada masa ini. Sehingga ketika pemuda dapat melanjutkan mereka dapat bangga pada dirinya bahwa ia “mahasiswa”.

Dunia kampus sangat berbeda dengan dunia sekolah. Dahulu, ketika kita masih di tingkat SMA, kita masih saja dituntun, diarahkan, dibimbing, diatur, dan lain sebagainya. Kadang kita berfikir bahwa kita butuh dengan hal itu semua dan juga kadang kita merasa bosan dengan itu semua.
Pada masa SMA kita hanya terbebani dengan aturan, arahan, bimbingan, tugas sekolah, dan sebagainya. Sehingga dapat dikatakan masa itu, hanya sedikit beban pada diri kita. Tetapi, karena sedikit itu malah banyak yang merasa tidak butuh dan bosan dngan itu. Padahal hakekatnya kita sekolah adalah untuk mencapai kedewasaan. Bukan hanya knowledge, tetapi juga hikmah di dalam menaati, menghormati, menyadari apapun yang ada dalam sekolah dapat berdampak pada masa depan kita.
Gindrang, berbunga hati ketika lulus dari SMA. Kita merasa sudah bebas dari beban hidup yang terreduksi pada ujian nasional menjadi ukuran kemerdekaan sekolah mereka.

Bersambung…

Categories
Buku

Ketika Kyai Bertengkar

Ketika Kyai Bertengkar!

Judul Buku : Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai

Penulis : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Penerbit : UIN-Malang Press

Cetakan : Maret 2009

Tebal : xii + 334 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Pada percaturan politik yang ada di pemilu negara kita, yakni dari pemilu pertama tahun 1955 hingga pemilu saat ini tahun 2009, perdebatan kyai dan politik menjadi perdebatan yang tidak pernah ada surutnya. Sempat, beberapa kali ada tulisan di media massa yang mengritisi artikel Saiful Amin tentang Percaturan Politik Kyai, dalam artikel tersebut Saiful tidak menyetujui kyai andil dalam politik. Sebab, urusan kyai adalah orang yang cenderung mengurusi di bidang agama Islam, tentu wilayah kerjanya di pesantren, sedangkan pakar politik cenderung dekat dengan pemerintahan, yang wilayah kerjanya di pemerintah.

Selaras dengan peran kyai dalam politik, beberapa kyai sudah mewarnai dalam pemilu legislatif 2009. Pada pemilu, partai yang berbasis Islam misalnya PKB, PKNU, PAN, PPP, PKS dan lain sebagainya hampir tidak lepas dari peran dari kyai. Keberangkatan kyai yang memiliki corak berbeda-beda dalam mencalonkan diri sebagai calon legislatif. Ada yang berangkat dari partai politik berbasis Islam, itupun bukan hanya dari satu golongan madzab dalam Islam, ada pula yang berangkat dari partai politik berbasis nasional, dan masih banyak peran kyai yang terlibat dalam politik meskipun tidak menjadi calon legislatif.

Keterlibatan langsung kyai dalam politik bukan hanya pada pemilu saat ini, tetapi pemilu-pemilu sebelumnya juga sama. Bahkan dahulu ada beberapa kyai yang sempat merintis dan mengembangkan organisasi politik Islam di tanah air seperti Masyumi, MIAI, PSII, Perti. Maka wajar kalau banyak kyai yang dikenal sebagai pejuang, seperti pada zaman dahulu KH. Hasyim Asari dan KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian di kenal sebagai perintis organisasi Islam terbesar di Indonesia –Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dari anotasi keterlibatan atau kita sebut relasi antara kyai dan politik senantiasa menjadi hal yang menarik. Persoalan keterlibatan kyai dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif relasi antara Islam dan politik sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana seharusnya sikap kyai dalam politik?

Buku Kyai dan Politik; Membaca Citra Politik Kyai, yang merupakan hasil penelitian Prof. Dr. H. Imam Suprayogo sebagai persyaratan tugas akhir pascasarja program doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UNAIR. Tentunya buku ini merupakan karya ilmiah yang sudah tidak diragukan lagi keaslihan dan validitas dalam kajiannya, sehingga dapat memberikan penjelasan secara generalisasi keterlibatan kyai dalam politik.

Uraian yang dijelaskan dalam buku ini, sekurangnya ada lima pandangan mengenai politik. Menurut Surbakti (1992), pertama, politik ialah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik sebagai segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan pemerintahan. Ketiga, politik sebagai segala kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan atau mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting.

Namun, hemat Suprayogo dari hasil penelitiannya, politik lebih tepat menggunakan pandangan ketiga dan kelima, yaitu politik sebagai kegiatan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat dan politik sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai. Sebab, kyai sebagai elite agama memiliki jiwa pemimpin yang memerlukan otoritas penuh, dan terlibat dalam peran-peran sosial untuk kepentingan masyarakat.

Tipologi Kyai

Kasus keterlibatan kyai dalam politik banyak variasi-variasinya. Ada kyai melakukan peran advokasi terhadap kepentingan umat dan membela terhadap rakyat lemah dalam menghadapi persoalan. Kyai menjadi mitra pemerintah, ketika melakukan legitimasi terhadap kebijakan pemerintah. Kyai sekedar reference person, bilamana para kyai dianggap sebagai bahan rujukan dalam bersikap dan bertindak oleh masyarakat luas. Atau kyai juga sebagai mediator di antara kelompok-kelompok kepentingan, bilamana kyai bertindak menjadi penghubung antara berbagai kelompok kepentingan.

Tipologi bentuk keterlibatan kyai dalam politik secara mencolok terjadi setelah tahun 1970-an. Sebelum itu, para kyai pada umumnya berada pada posisi homogen, yaitu berada pada organisasi sosial atau politik yang memiliki ciri khas keagamaan (Islam). Dengan demikian jika kyai tidak berada pada organisasi itu akan dianggap bukan sebagai tokoh agama. Pada Orde Baru, seiring berkembangnya politik ditubuh keagamaan, pemerintah mengukuhkan organisasi pemerintahan yakni Golkar. Sebab, pada tahun itu, berkembanglah wadah aktivitas keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Dakwah Islam (MDI), dan lain sebagainya.

Mengenai peran kyai dalam politik, Hidayat Nur Wahid selaku Ketua MPR RI pada seminar nasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, ketika mendapat pertanyaan tentang kyai berpolitik pada seminarnya, ia menyatakan bahwa “Politik ibarat pakai kotor, maka jika pakaian tersebut dicuci dengan yang kotor pula, tidak akan menjadi bersih.” Tafsirnya, ketika ada yang membincang bahwa politik itu kotor, maka dengan kedatangan atau keterlibatan kyai menjadi pembersih dari politik yang kotor tersebut. Sehingga, peran kyai dalam berpolitik sangat urgent sekali.

Walaupun kyai dalam berpolitik, sering terjadi persaingan, percaturan, pertengkaran, perebutan, dan sebutan lainnya. Tentunya, itulah tipologi dari para kyai. Namun, kita percaya bahwa kyai yang teribat dalam pertengkaran politik, masih membawa nilai-nilai perjuangan Islam. Sebagaimana pandangan politik yang diungkap oleh Suprayogo bahwa politik kyai dalam rangka mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat serta sebagai usaha untuk mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh karena itu, kita patut mengapresiasikan atas kehadiran buku ini, yang mencoba memberikan konstribusi terhadap pandangan masyarakat terhadap kyai yang terlibat dalam politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, peran kyai tidak lagi diperdebatkan.[]

Categories
Information

Lomba Tulis Artikel Nasional 2009

“MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN”

PENGANTAR

Upaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat bisa ditingkatkan dengan memberikan fasilitas pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa perpustakaan.

Bangsa yang maju dapat diukur dari tingkat minat baca masyarakat serta seberapa aktif masyarakat membaca setiap hari. Perpustakaan sebagai penyedia layanan bacaan bagi masyarakat menjadi representasi utama untuk mengukur tingkat minat baca masyarakat, seberapa banyak perpustakaan yang tersedia di suatu negeri, bagaimana fasilitasnya, berapa rasio masyarakat yang menjadi anggota perpustakaan, serta berapa banyak rata-rata buku dipinjam setiap harinya.

Disamping menjadi representasi kemajuan suatu negeri, keberadaan perpustakaan juga diharapkan bisa menjadi agen utama dalam mendorong minat baca masyarakat serta menyediakan bacaan yang cukup dan berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat meningkatkan fasilitas layanan serta melakukan berbagai agenda kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat.

Ada empat elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat, yaitu pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitasnya, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyeknya.

Sebagai apapun dan siapapun kita, mari semua kita berpartisipasi memajukan Indonesia dengan meningkatkan minat baca kita masing-masing dan minat baca masyarakat di sekitar kita. Mari kita ramaikan dan kita majukan perpustakaan perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.

KEGIATAN

Dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Membaca Nasional, Teratama bersama beberapa lembaga dan tokoh perpustakaan menyelenggarakan “LOMBA TULIS ARTIKEL NASIONAL 2009” dengan tema pilihan:

* Model Perpustakaan Ideal 2010
* Profil Pustakawan Ideal 2010
* Masyarakat Perpustakaan Cerdas 2010
* Peran Pemerintah bagi Perpustakaan

WAKTU PELAKSANAAN

* Waktu pengumpulan naskah artikel: tanggal 1 Januari 2009 sampai dengan 31 Oktober 2009.
* Waktu pengumuman hasil lomba: tanggal 17 November 2009.
* Penyerahan hadiah: tanggal 27 November 2009.
* Publikasi Artikel terpilih: tanggal 17 November 2009 sampai waktu yang tidak terbatas.

PERSYARATAN PENULISAN

* Naskah ditulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dengan tatabahasa dan ejaan yang disempurnakan.
* Naskah belum pernah diterbitkan/dipublikasikan sebelumnya.
* Mencantumkan tema pilihan & judul artikel.
* Naskah diketik komputer dengan font arial atau time news roman, spasi baris 1,5 pt., ukuran kertas kwarto atau A4, Jumlah halaman minimal 3 dan maksimal 10.
* Naskah dikirim disertai lampiran identitas yang meliputi: Nama, Tanggal Lahir, Jenis Kelamin, Alamat, Pekerjaan, Asal Instansi, No.KTP/SIM dan melampirkan fotokopi atau scan image identitas.
* Naskah dapat dikirim dalam format softfile maupun printout.
* Naskah dikirimkan melalui:Email: [email protected]
* Pos surat: Hotel Borobudur Jl. Magelang Km.6,3 Jombor Yogyakarta 55284
* Langsung ke sekretariat panitia: Hotel Borobudur Jl. Magelang Km.6,3 Jombor Yogyakarta 55284 ( Kantor Teratama ).
* Kiriman Naskah yang telah sampai kepada panitia akan segera di posting/diumumkan di Internet.
* Panitia tidak bertanggungjawab terhadap pengiriman naskah yang tidak sampai ke tangan panitia.
* Peserta yang telah mengirimkan naskah lebih dari 7 hari dan tidak menemukan nama dirinya di pengumuman peserta dapat konfirmasi ke panitia melalui email [email protected] atau melalui telephone 081227444464, 085868112700.

SYARAT PESERTA

* Masyarakat umum
* Pelajar dan mahasiswa
* Pustakawan

KRITERIA PENILAIAN

1. Kreativitas

* Permasalahan
* Gagasan
* Tujuan

2. Kegunaan (kontribusi bagi perkembangan perpustakaan).

3. Penulisan

* Alur pikir dan pengorganisasian gagasan
* Ketajaman analisis
* Penggunaan bahasa ilmiah

HADIAH LOMBA

Juara I mendapat uang sejumlah Rp. 3.000.000,- *)

Juara II mendapat uang sejumlah Rp. 2.000.000,- *)

Juara III mendapat uang sejumlah Rp. 1.000.000,- *)

50 Besar mendapat berbagai hadiah kenangan dari Teratama dan sponsor.