Pasca harga BBM naik, bukan menentramkan rakyat, tapi justru terjadi adu panco antar aparat pemerintah dengan rakyat. Itulah realita dari harapan pemerintahan pak Susilo Bambang Yudhoyono yang ingin kesejahteraan justru timbul kekerasaan.
Apa yang memicu kekerasaan tersebut? Tentunya dijawab dengan suara, “Turunkan harga BBM”. Kebijakan pemerintah yang katanya, “Tidak mau kalah dengan rakyat”. Apa daya rakyat untuk menentang pemerintahan? Kita tenggok, siapa yang merasakan kesejahteraan dan kesengsaraan “Pemerintah atau rakyat?”. Tentunya dijawab dengan suara “Rakyatlah yang merasakannya”.
Dalam jumpa pers, 2 Juni lalu di Kantor Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pesannya bahwa rakyat diharapkan berdamai dengan pemerintah, bukan aksi kekerasan yang semestinya ditampakkan tapi kedamaian. Kata Yudhoyono, “Negara jangan mau kalah dengan pelaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan untuk kepentingan rakyat Indonesia”. Inilah sapaan Yudhoyono terhadap rakyat.
Renungilah, masalah apa ini? Tatanan baru seperti apa yang berimplikasi pada kesejahteraan rakyat? Siapakah yang seharusnya memulai berdamai? Bukankah yang berbuat harus bertanggung jawab? Tentu jawabnya sangat jelas ada di depan mata.
Abad yang berkembang telah tiba, teknologi yang modern semakin berkembang. Perkembangannya seiring detikan waktu. Siapa yang tidak bisa mengejar perkembangan berarti ketinggalan zaman. Inilah perkataan yang memancing kita terjerumus terjun ke dalam tawaran kemodernismean.
Modernisme merupakan tanda kemajuan dan moderniame juga merupakan tanda kemunduran suatu bangsa. Perkembangan dalam berbagai bidang, dari bidang ekonomi sampai bidang teknologi. Hal telah banyak membuat kita lupa akan daratan kita –tujuan awal– yang sejak awal kita bangun. Kenyataannya, modernisme makin hari membawa diri kta terselubungi dengan perkembangan teknologi.
Efeknya, penghayatan terhadap Islam mulai digantikan dengan penghayatan duniawi yang serba ingin modern. Prinsip materiaistik memenuhi otak pikiran, yang melepaskan kontrol agama dan kebebasan bertindak demi memenuhi modernisme telah berkuasa untuk mengalahkan terapi sufisme atau tasawuf.
Masyarakat modern semakin mendewakan keberadaan ilmu pengetahuan, maka seakan-akan kita berada pada wilayah pinggiran yang bermadzab ke-barat-an dan bahkan kita hampir-hampir kehilangan visi kailahian. Hal inilah yang membuat kita makin stress dan gersang hati kita dengan dunia, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Dalam teori kesuksesan yang diterapkan oleh Ary Gynanjar yang mengilustrasikan keberadaan diri kita sudah dan telah memiliki kekuatan atau kemampuan yang berupa IQ, EQ dan SQ. Yang mana, ketika kemampuan itu membentengi manusia dalam hariannya untuk menjadi manusia yang sukses atau manusia yang kamil. Untuk itulah, teori yang diterapkan oleh Ary Gynanjar harus diseimbangkan dalam diri personal. Sebab, akibat yang ditimbulkan dari ketidakseimbangan tersebut akan merubah diri seorang hidup tanpa peganggan yang lari sana dan lari sini, ikut sana dan ikut, tidak punya prinsip yang diandalkan.
Wujud dari kemampuan manusia, umunnya berupa kekuatan ekonomi, teknologi, dan kekuatan ibadiyah. Wajar sekali, kekuatan ekonomi dan teknologi saat ini sangat diperlukan bagi penunjang keberhasilan umat Islam demi menjaga dan mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri. Hal ini disebabkan maraknya perkembangan dan kebutuhan duniawi yang marak juga. Maka dari itu, keselamatan seseorang ditentukan oleh pribadi masing-masing, di mana ia semakin menjaga martabat Islam, semakin pula dirinya terjaga dari arus besarnya kemodernismean.
Keseimbangan memang dibutuhkan, tapi realita yang terjadi ketika insan bertaqorub ilahirobbi yang mana mereka menjalani hidup penuh dengan nuasa tasawuftidak disertai yang namanya EQ. Sehinga yang terjadi, mereka hanya bisa dekat dengan Tuhannya tapi tidak dekat dengan lingkungannya yakni masyarakat sekitarnya.
Sebagai muslim yang beritikad shaleh untuk agama, berkeyakinan baik dengan adanya perkembangan zaman, hendaknya menyeimbangi pekembangan tersebut bukan mengikutibahkan terpengaruh perkembangan zaman. Untuk itu, pertebal kekuatan keilmuan untuk menyeimbangi perkembangan zaman. Perlu kita ingat sejenak dalam surat al-Fajr ayat 27-30 yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan puas dan diridhoi Allah, masuklah ke dalam golonganku (yang beramal shaleh), dan masuklah ke dalam surgaku”. Ayat ini bisa kita renunggi, tatkala kita terbawa arus modernisme, hendaklah dan segerahlah kembali ke jalan Allah.
Sekularitas Tasawuf menjadi jawaban ini semua, harapan terbesar dengan keberadaan buku ini, menjadikan manusia berpaling sejenak untuk mangapai lagi sifat keilahiannya yang sering kali pudar dengan modernisme. Ajakan dan rayuan semata, telah membutakan sekilas perjuangan yang selama ini kita rintis. Seyogyanya kemampuan mengeksistensikan kembali tasawuf-lah yang bisamenyayat sedikit gemerlap hujatan hitam di dunia modern ini.
Mari kita buka, lembar per lembar simbol-simbol Islam telah dipakai untuk menutupi kekhilafan mereka. Tameng Islam yang suci menjadi korban simbolistik mereka. Memang bentul, Islam sangat demokrasi pada umatnya tapi sudahkah kita adil dalam meninteraksikan konsep kebangsaan dalam keagamaan. Sehingga terciptalah konsep baru yang lebih moderat terhadap lingkungan masyarakkat kita.
Penjelasan yang sama, berintikan pada keseimbangan tercakup dalam teori ESQ tersebut menjadikan interaksi dengan sesama manusia bisa terjalin damai. Sebagaimana tasawuf merupakan bagian dari agama Islam yang mana merupakan jalan menuju pendekatan kepada Allah swt.
Selama ini, tasawuf dipandang sebelah mata oleh sebagian umat Islam sendiri. Mereka beranggapan, seorang yang bertasawuf malah tidak kenal dengan dunia, tidak kenal toleransi, dan lainnya. Sebenarnya, jika diamati secara seksama justru dengan bertasawuf semakin banyak nilai, kesusilaan dan norma yang dilahirkan dari tubuh tasawuf.
Realitanya, yang dikatakan modernisme malah berpaling pada kemunduran. Hal ini disebabkan oleh krisis peradapan modern bersumber dari penolakan terhadap hakikat ruh dan peyingkiran ma’nawiyah secara grandual alam kehidupan manusia. Manusia modern mencoba hidup dengan roti semata, meraka bahkan berupaya “membunuh” Tuhan dan menyatakan kebebasan dari kehidupan akhirat.
Dari sinilah, hanya kita yang tahu mana yang lebih panting dari beberapa kebutuhan kita, kedewasaan semakin bertambah manakalah kita semakin dewasa dengan keberadaan Allah swt.
Judul Buku:Al-Qur’an 4-Dimensi; Matematika Islam 2
Penulis:K.H. Fahmi Basya
Penerbit:Republika, Jakarta Selatan
Cetakan :I, Maret 2008
Halaman:v + 150 halaman
Peresensi: Bayu Tara Wijaya *
Tahukah anda bahwa jumlah huruf dalam al-Qur’an ada sebanyak 330.733. Dan, ternyata bilangan ini sama dengan 17.040 dikalikan dengan 19. bilangan 19 adalah sama degan jumlah huruf dalam kata Bismillahhirrahmaanirrahiim.
Eksistensi al-Qur’an
Dalam keberadaanya, al-Qur’an bisa dikatakan kitab yang pasif. Ia tidak bisa menjadi apa-apa seakan hanya kitab bacaan biasa adanya. Kepasifan al-Qur’an akan terjadi selamanya, bilamana kita sendiri pasif dengan keeksistensiannya dan kita pasif dalam menguraikan al-Qur’an, dalam artian kita yang pasif untuk mengkajinya. Selama ini, al-Qur’an juga dikatakan sebagai kitab yang aktif. Ia bisa memberikan berbagai landasan-landasan sebagai dasar sumber adanya ilmu pengetahuan lainnya. Dalam keaktifannya, kita semakin aktif dalam mengupas rahasia-rahasia yang disampaikannya, semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang dapat kita temukan.
Tidak luput pula, matematika yang memandang al-Qur’an merupakan induk dari disiplin ilmu pengetahuan. Untuk itulah dalam hal ini al-Qur’an, jika dikaji menurut metode matematika akan diperoleh dimensi-dimensi ruang al-Quran. Dimensi-dimensi tersebut, berupa empat dimensi, yakni dimensi Tulisan, dimensi Bacaan, dimensi Makna dan dimensi Fakta. Keempat dimensi tersebut, sebagai satu kesatuan yang harus ada.
Sangat perlu sekali, untuk menelusuri keberadaan al-Quran, terlebih khususnya empat dimensi yang ada di dalamnya. Seseorang akan terpecah-pecah pemikirannya, jika hanya mempelajari dan memahami sebagian dari keempat dimensi. Karena keempat tersebut merupakan satu kesatuan kandungan al-Qur’an itu sendiri.
Dimensi al-Qur’an
Dari paparan yang dijelaskan oleh K.H. Fahmi Basya, yang menjelaskan secara gamblang dari keempat dimensi al-Qur’an. Pertama, alam dimensi Tulisan, yang kelihatan ketelitiannya di alam bebas. Dengan demikian al-Qur’an dapat dijadikan data ilmiah yang handal. Ini menarik dalam dunia penelitian. Betapa berat hal yang akan kita pikul kalau kita hanya meneliti Alam Semesta, kita hanya meneliti suatu bukti-bukti teorema semisal penulisan teorema-teorema matematika. Dengan adanya tulisan, khususnya Tulisan tersebut merupakan bagian dari dimensi al-Quran.
Sebagai telaah, ada sebuah grafik asli tulisan Bismillahirrahmanirrahim pada tahun 1982, diperkenalkan Grafik Asli tulisan tersebut. Di mana tulisan ini merupakan tulisan eksakta, karena dalam penulisannya berbentuk grafik. Tinggi rendahnya tulisan tersebut dipertanggungjawabkan oleh suatu bilangan matematika. Bilangan terebut mengikuti ‘semesta’ jam-19-an dan ‘semesta’ jam-10-an, dan hal ini hanya bisa dilakukan hanya seseorang yang paham dengan matematika khususnya tentang grafik.
Kedua, alam dimensi Bacaan, di mana bacaan merupakan dimensi kedua setelah adanya dimensi Tulisan. Artinya jika kita memiliki tulisan dari al-Qur’an dan kita tidak pernah membaca bacaan al-Qur’an berarti kita hanya punya satu dimensi saja. Keutuhan al-Qur’an tidak sempurna, tapi itu sudah lumayan dari pada yang tidak mempunyai satu pun dimensi dari al-Qur’an.
Selain itu juga dijelaskan dalam dimensi ini, bahwa dimensi Bacaan juga telah disebutkan Nabi dengan kejeniusan beliau, Nabi menambahkan 7 dan 5 takbir pada shalat ‘Ied sebagai takbir yang resmi bilangannya. Sehingga pada shalat ‘Ied ada 11+7+5 = 23 kali ucapan Allahu Akbar-nya. Dua shalat ‘Ied =23+23= 46 kali ucapan Allahu Akbar-nya. Jadi shalat Tarawih-Witir dalam satu bulan Ramadhan dan dua shalat ‘Ied: 1740 + 46 = 1786 kali ucapan Allahu Akbar-nya dan billa dibagi 19, hasilnya tepat 94.
Ketiga, alam dimensi Makna, bahwa al-Qur’an memiliki keberagaman Makna. Al-Qur’an sendiri bisa memiliki makna yang tekstual dan kontekstual. Makna tekstual merupakan makna dasar yang muncul dari arti setiap kalimat al-Qur’an. Sedangkan al-Qur’an dalam kajian kontekstual, memiliki sifat aktif jika dikaji. Di mana, yang semakin kretif maka semakin berpeluang untuk sukses.
Dalam kaitannya di dunia matematika sendiri, dimensi Makna telah memberikan sumbangsihnya dalam kematematikaan. Di mana matematika adalah wujud dari hasil kajian Makna al-Qur’an. Jika kita telusuri lebih dalam lagi, bahwa al-Qur’an juga sering memberikan tanda-tanda atau simbol-simbol dan simbol inilah menjadi bukti adanya susunan alam yang diatur secara matematis.
Keempat, alam dimensi Fakta, berisikan fakta-fakta penjelasan dari isi al-Qur’an, sebab biasanya al-Qur’an itu ada sebelum kejadian itu ada. Al-Qur’an bisa dikatakan peringatan untuk alam semesta. Maka jelas, kejadian-kejadian yang keluar dari alam adalah sebagai kode-kode dari bukti penjelasan al-Qur’an.
Dari sini jelas, bahwa ke-4 dimensi tersebut merupakan bagian-bagian penting yang koheren. Sebagaimana kode-kode pembuktian al-Qur’an dalam dunia nyata. Jelas dalam pemaparan karya ini, tidak sebegitu ramai dengan dengan huruf-huruf matematika. Karena dikhawatirkan bagi penulis, pembaca akan lebih jenuh dalam membacanya, apa lagi memahaminya. Berbagai contoh-contoh bukti yang diuraikan dari sepenggal-sepenggal ayat, adalah contoh untuk kita bisa memahami al-Qur’an lebih muda, sehingga KH Fahmi Basya tidak mengajak pembaca bercenderung untuk menghitung dan menghitung angka matematika.
Namun setidaknya, kehadiran buku ini memberikan pencerahan penting bagi semua umat, khususnya matematikawan muslim. Perlu sekali dipahami, bahwa al-Qur’an juga merupakan disiplin ilmu yang harus dipahami sebagai landasan berfilsafat manusia ke arah haq. Ataupun dengan kehadiran ini sebagai referensi bagi jalannya ilmu ke depan. Sukses bukan karena adanya sesuatu tapi karena adanya ke-kreatif-an.
Dalam hubungan industrial yang menganut sistem kapitalisme seperti halnya sistem perburuhan yang ada di Indonesia. Kaum buruh sering di-set up sebagai bagian dari sistem produksi dengan menyamaartikan dengan buruh adalah mesin. Sehingga hal tersebut melahirkan persepsi bahwa perusahaan adalah “mesin pencetak uang” dengan bahan akar “keringat buruh”.
Sejak zaman dahulu (sejarah) mulai Indonesia dikuasai oleh pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1817 hingga era Reformasi tahun 1998 kemarin, tetap tidak jarang kaum buruh merasakan kekerasan yang dilakukan majikan. Kita baca paradigma problematika sistem perburuhan di Indonesia kaum buruh dihantui dan khawatir akan diberhentikan yang berimplikasi pada kebutuhan hidup. Pada akhirnya, kaum buruh tetap dan terpaksa menjadi kaum yang termarjinalkan. Rentetan dari sejarah tetap berlanjut dalam kondisi negara seperti masa sekarang, yakni kaum buruh makin terlindas oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berdesain kesejahteraan menyeluruh. Mereka para pembuat regulasi tidak tahu bagaimana nasib kaum buruh yang terkalahkan oleh alasan pengentasan kemiskinannya, dan kaum buruh sendiri telah kehabisan cara untuk kesejahteraannya.
Di bidang perdagangan dan industrial, tentunya ada istilah faktor-faktor produksi. Faktor produksi yang tersedia adalah sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan manajeman. Artinya kaum buruh menjadi bagian dari faktor produksi yang juga sangat berpengaruh pada perkembangan suatu produksi. Kenyataannya dalam prakteknya, kaum buruh masih banyak yang termakan oleh aksi-aksi dehumanisme. Sementara dalam tatanan global akan ada kesepakatan tentang pasar bebas yang berefek pada kaum buruh lagi.
Oleh karena itu, Teologi Buruh mencoba memberikan wacana untuk menelusuri problem perburuan khusunya di Indonesia. Wacana yang kita pahami diharapkan bisa menawarkan konsep buruh yang lebih humanisame dan berlandaskan pada nilai dan norma agama. Sebagaimana, seorang buruh seakan merdeka hidupnya dengan semangat kebangkitan nasional dan semangat hari buruh internasional. Walaupun hari-hari istimewa tersebut telah lewat, manakalah jika semangat dan patriot tetap ada dan selamanya.
Kita ketahui bahwa buruh baik yang individual maupun komunitas, memainkan peran penting dalam sistem perekonomian nasional, baik sektor pemerintah maupun sektor swasta. Kehadiran mereka cukup memberikan sumbangsi yang besar dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Meski demikian, nasib mereka hampir selalu mengelinding ke tanah.
Di Indonesia sendiri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, semestinya paham akan adanya hak-hak sosial kemanusiaan. Pemerintahan berupaya menyejahterakan rakyatnya juga belum bisa dikatakan berhasil. Sebab realita yang ada, kaum buruh sendiri mengalami kegagalan untuk memperoleh hak kesejahteraan. Padahal upaya buruh untuk mengeluarkan keringat sudah hampir-hampir kehabisan.
Indonesia sebagai negara yang beragama dan mayoritas beragama Islam yang komprehensif dan universal dipandang mempunyai konsep dasar tentang sistem perekonomian yang bisa menjadi alternatif di luar dua ideologi besar, kapitalisme dan sosialisme. Islam yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk Hukum Islam yang bersifat normatif-operasional diharapkan mampu mengaktualisasikan diri untuk mengawal realita perburuhan kontemporer.
Akan tetapi dalam benak Abdul Jalil, yang pada awalnya Hukum Islam diharapkan mempunyai konsep yang utuh khususnya tentang sistem perburuhan, tidaklah sebijaksana yang ada dalam Hukum Islam. Persoalanya hanya pada waktu dan aspek lokalitas saja, yang mengharuskan kita menempatkan Hukum Islam secara proporsionalitas yakni sebagai sebuah produk pemahaman yang selalu terikat oleh konteks ruang dan waktu.
Dari paparan Teologi Buruh akan tampak jelas interaksi relasional terhadap hak buruh dengan majikan buruh sendiri. Kita ketahui, manusia mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, ia juga punya daya responsibilitas terhadap lingkungan psiko-sosialnya. Sehingga selalu ada perubahan besar dalam dirinya. Dari kepentingan manusia tersebut membutuhkan kebebasan individu yang menimbulkan kreativitas baru. Oleh karena itu, Islam menghargai kebebasan individual, walaupun tentunya dengan sejumlah batasan.
Dalam interaksi relasional, kaum buruh juga memiliki hak atas perusahaan. Kendatipun, hak yang didapati tidak sebesar hak majikan. Sehingga dengan itu, tidak ada lagi hipotesis bahwa perusahaan hanya milik personal majikan dan majikan berkebebasan melakukan apa saja, termasuk memecat buruh ataupun menutup perusahaan jika buruh mogok kerja. Interaksi dalam hubungan industrial, biasanya berupa kontrak kerja dan perjanjian perburuhan. Dengan adanya kontrak tersebut kaum buruh bisa mendapatkan kesejakteraan dengan regulasi yang telah mereka sepakati. Sebab, disitulah seorang majikan dan buruh ijarah tentang kewajiban yang harus dilaksanakan dan juga hak yang akan diterima sebagai imbalan dari kewajiban yang telah dikerjakan.
Namun, setidaknya, karena peradaban Islam dengan perkembangan modern yang sangat ketat dan untuk itulah karya ini hadir di kanca publik sebagai media acuan, pemahaman dan juga sebagai instrument pengontrol perjalanan problem perburuhan kontemporer yang berlangsung dan berkelanjutan pada kehidupan yang mengarah pada pembenahan kesejahteraan. Secara halus, Teologi Buruh karangan Abdul Jalil ini merebahkan nurani-humanisme kita untuk intropeksi pribadi maupun umumnya adalah majikan dari buruh.
Akhirnya, dengan pendekatanke-Islam-an, penulis berusaha memberi konstribusi terhadap kondisi keterpurukan kaum buruh yangsudah se-abad, mungkin dengan ini akan ada sedikit harapan kedamaian untuk kaum buruh. Kedamaian tersebut timbul dari adanya pangilan kesadaran khusunya terhadap majikan maupun peninggi majikan yakni pemerintah, untuk lebih simpati terhadap kaum buruh. Sebab adanya buruh juga menjadikan masalah umum yang mencakup persoalan sistem ekonomi dan politik dari negara.
Judul Buku: Interaksi Pendidikan; 10 Cara Qur’an Mendidik Anak
Penulis: Dr. Miftahul Huda, M.Ag.
Tebal: xi + 378 halaman
Cetakan: I, Maret 2008
Penerbit: UIN Press Malang
Peresensi : Bayu Tara Wijaya
Model pendidikan seperti apa yang bisa membentuk anak didik yang mempunyai nilai plus bukan dari hasil tes ujiannya saja, melainkan juga moralitas dan spiritualitas mereka. Tentunya ini dibutuhkan penyangga yang kuat untuk mencapai visi dan misi pendidikan tersebut dan hal ini bisa dilakukan dengan mengali model pendidikan yang ada dalam kisah-kisah yang diceritakan al-Qur’an.
Pola pembelajaran yang berkembang di dunia pendidikan saat ini telah membuka khazanah nalar kita. Khazanah tersebut mengalir pada pikiran kita tentang pendoktrinan dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh sebuah instansi pengelolah pendidikan –sekolah– yang berupa kurikulum. Dirasa adanya timpang tindih, model kurikulum saat ini mengakibatkan para anak didik mengalami tekanan psikologisnya.
Perjalanan kurikulum yang bersifat otoriter terhadap anak didik, menjadikan mereka terpenjara dalam pengembangan kreativitas dan dalam menemukan jati diri anak didiknya. Tentunya untuk mencapai nilai plus –biasanya berupa hasil ujian akhir– menjadi ukuran keberhasilan suatu proses pendidikan untuk saat ini. Sehingga dari evalusi yang kurang menyeluruh ini mengakibatkan tingkat keberhasilan hanya terlihat pada angka, bukan pada aktualisasinya.
Inilah yang juga terjadi di Indonesia, yang mana anak didik dituntut untuk mencapai nilai standar yang artinya kalau dalam Ujian Nasional (UN) nilai rata-rata harus mencapai nilai yang dibilang sudah sesuai dengan ketentuan Badan Standar Kelulusan Nasional pusat. Apakah ini sebuah tuntutan ataukah tekanan bagi anak didik? Untuk itu perlu sekali ditelusuri, apa benar interaksi pendidikan yang berjalan di Indonesia juga sudah sesuai dengan ketentuan Badan Standar Nasional untuk ukuran keberhasilan pendidikan.
Untuk itu, perlunya flashback mengenai pendidikan yang bertujuan mendidik (educatif), membimbing, dan mengajar (transfer of knowledge) yang mengacu pada pengembangan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dan acuan tersebut tentunya diperlukan sebuah pemodelan yang dibilang sebagai interaksi antara pendidik dan anak didik yang membawa sistem pendidikan ke arah pembagunan nasional secara menyeluruh.
Buku ini merupakan salah satu cara untuk memberikan terapi baru yang dikaji dari kisah-kisah para nabi dengan mengambil model interaksi pendidikan yang diterapkan dalam perjalan kisah didik-mendidik para nabi. Selain itu juga ‘postulat’ yang menjadi landasan kajiannya, yakni al-Qur’an yang di dalamnya mempunyai kandungan kontekstual yang perlu dikaji rahasianya. Al-Qur’an bukan menjadi sesuatu yang pasif tetapi yang pasif adalah yang tidak menkajinya.
Interaksi pendidikan anak dalam al-Qur’an diformulasikan dari muatan materi yang diajarkan oleh masing-masing pelaku pendidikan dalam interaksinya dengan anak didiknya. Setidaknya, dari khazanah yang dipaparkan melalui contoh interaksi pendidikan yang dilakukan oleh para nabi menjadi suri tauladan bagi pendidik dan anak didiknya itu sendiri. Karena pendidikan itu sendiri telah berusaha membantu hakikat manusia untuk meraih kedewasaannya, yakni menjadi manusia yang memiliki integritas emosi, intelek, dan perbuatan.
Ditinjau dari sudut pandang materi, buku Interaksi Pendidikan 10 cara Qur’an Mendidik Anak mengandung tiga aspek, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Ketiga aspek itu akan menimbulkan sifat-sifat dasar (kompetensi) pendidik anak mengenai jiwa yang berkepribadian, bijak, sabar, demokratis, psikolog, intuitif terhadap anak didiknya. Dalam perspektif pendidikan, kompetensi-kompetensi di atas ini berawal dari pemahaman yang muncul dari eksplorasi pemaknaan terhadap interaksi pendidikan anak yang dilakukan oleh Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ya’qub, Luqman, Zakariyah, Hannah (ibu Maryam), A Yarkha (ibu Musa) dan Maryam sesuai hasil analisa dan pemaparan data penulis buku ini.
Eksplorasi dari kisah-kisah nabi dalam al-Qur’an ini, penulis memberikan dua materi yang menjadi faktor penentu lain untuk keberhasilan pendidikan terhadap anak didik, yakni materi pendidikan prenatal dan postnatal. Materi pendidikan prenatal meliputi doa dan nazar meminta anak saleh. Sedangkan materi pendidikan postnatal terdiri dari penamaan anak dan mendoakan anak dari ganguang sistem. Dan untuk pendidik anak lebih dikedepankan memiliki sifat-sifat kompentensi yang digambarkan dengan assosiatif, patuh, komunikatif, dan kritis sehingga mendukung keberhasilan suatu pendidikan.
Analisa dan pemaparan data yang dilakukan penulis dalam buku ini sangat koheren, yang mengunakan gaya bahasa fenomenologi yang dipadukan dengan mengupas sebuah kisah-kisah dalam al-Qur’an. Rujuknya interaksi pendidikan dalam al-Qur’an mengambarkan aksi dam reaksi antara pendidik dan peserta didik. Dalam perspektif ini ditemukan pola etis dan non etis. Pola etis dipahami dengan etika yang berimplikasi pada pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan pola non etis memiliki relevasi terhadap kegagalan misi pendidikan.
Buku karya ini merupakan hasil disertasi penulis untuk menyelesaikan program doktor di IAIN Sunan Ampel, sehingga dalam mengkaji buku ini akan terispirasikan pada pola-pola penulisan yang kualitatif dan kuantitatif berdasarkan hasil eksplorasi analisa dan pemaparan data. Untuk itulah, penulis sendiri sedikit membatasi pembahasannya tidak melebihi seluruh sample yang ada di dalam al-Qur’an itu sendiri. Karena ini dikawatirkan menjebak para pembaca ke arah yang tidak sesuai dengan harapan penulis sendiri yakni keberhasilan pendidikan.
Relevasinya, landasan filosofis pendidikan anak yang digali dari sumber Islam –utamanya al-Qur’an– menjadi konstribusi dalam interaksi pendidikan. Itu memberikan pencerahan melalui pemberdayaan spiritual peserta didik dan juga moralitasnya, baik personal maupun sosial. Yang lebih penting adalah membentuk anak didik menjadi insan kamil.
*) Bayu Tara Wijaya
Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Islam Negeri Malang, aktif pada Institute of Studies Research & Development For Student (LKP2M)UIN Malang.
Judul : Prophetic Leadership Penulis : Rachmat Ramadhana al-Banjari Penerbit : Diva Press, Jogjakarta Cetakan : I, Mei 2008 Tebal : 406 halaman
Tak banyak, karya tulis yang mengkaji secara komprehensif tentang leadership bangsa Indonesia. Berbagai tipe-tipe pemimpin telah banyak yang berbeda dengan bayangan para masyarakat. Negara ini membutuhkan pemimpin yang berjiwa sempurna, yakni yang amanah, tanggung jawab, profesional, dan adil sebagaimana yang dicirikan oleh basis utama figur pilar kenabian.
Sementara dari sekian karya yang ada, kebanyakan berbau politik atau yang berbau perebutan kepemimpinan, tidak yang berbau bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana. Sikap yang nampak pada negara ini adalah bendera-bendera perebutan kekuasaan, tidak bendera kedamaian yang bijak. Lambang kepemimpinan yang diajukan tidak dibina sebagaimana membina suara dukungan terbanyak untuk memenangkan suara rakyat.
Karya Prophetic Leadership mengajarkan para calon pemimpin negeri ini menuju leadership masa kini, dengan penuh ciri khas kepribadian para pemimpin berbasis spiritualitas dan berpotensi yang karismatik sebagai pemimpin yang dibangggakan bangsa Indonesia. Penjelasan tentang potensi yang menghadirkan kepemimpinan partisipatik, karismatik dan prophetic menghadirkan model tatanan negara yang bernuasa kesejahteraan, inilah suatu harapan.
Semestinya, jika memang seorang atau kelompok dari partai politik, tidak bisa memenuhi kriteria pemimpin yang partisipatik, karismatik dan prophetic. Hendaklah intropeksi diri, kepemimpinan bukanlah suatu hal muda, amanah yang terkandung di dalamnya menjadi kewajiban seorang pemimpin. Perilaku dari segala perbuatan di alam ketika periode kekhalifaannya, akan diabadikan dalam buku sang Kuasa.
Pada saat ini, Indonesia dihinggapi krisis multidimensi, salah satunya adalah kekurangan pemimpin yang partisipatik, karismatik dan prophetic. Banyak kalangan yang menawarkan pendapat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa ini. Secara progresif, berdasarkan paradigma ke-Islam-an, kenabian dan ketuhanan serta berfalsafah ke-pancasila-an diperoleh berbagai tipologi pemimpin partisipatik, karismatik dan prophetic. Dengan demikian, diharapkan dapat tumbuh kepribadian para pemimpin keluarga, organisasi, lembaga, masyarakat, umat, bangsa dan negara yang bertanggung jawab, profesional, berakhlak ketuhanan, dan berkarisma kenabian dalam dirinya yang sempurna.
Bernegoisasi-lah dalam diri, ketika seorang terjun dalam dunia politik atau organisasi, ada kemungkinan dirinya akan dibayangi kecintaan untuk memperoleh kedudukan dan jabatan duniawi. Dari bayangan ini membawa seseorang melanggar norma-norma agama, norma-norma susila, kecurangan dan tipu muslihat akan dilakukannya demi tercapai kedudukan. Seperti terasa paling semarak di periode pemilihan kepemimpinan saat ini, orang yang cenderung saperti itu, akan kehilangan sifat dan sikap tulus pada diri maupun lingkungannya. Itu hanya demi kepentingan pribadinya semata.
Ciri karismatik yang mengikat pola pikir keyakinan orang lain terhadap pemimpin pantas dimiliki oleh setiap pemimpin. Terlebih etika, moral dan norma dalam bertindak dalam hariannya. Sehingga di sepanjang sejarah, pemimpin akan dapat merasakan pancaran karismatik dan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan. Tidak arogan yang dipancarkan dari dirinya, karena dengan arogan orang akan kehilangan ciri kekarismatikkan seseorang.
Karismatik, menurut teori kepemimpinan ada yang diperoleh secara tradisional yakni diperoleh dari warisan atau keturunan seperti raja-raja, rasional yakni diperoleh berdasarkan ilmu pengetahuan dan akal pikiran seperti kepemimpinan seorang sarjana, dan spiritual yang diperoleh dari kehebatan jiwa, keberanian, ketekunan dan kebesaran spiritualitas pada Tuhannya. Semua ini wakil dari Prophetic Leadership yang bisa dicapai seorang pemimpin.
Tetapi perlu diingat, dalam kehidupan ini setiap insan diberi cobaan atau ujian serta godaan-godaan berupa hawa nafsu. Orang sering kali tersesat dari jalan kebenaran disebabkan terpedayanya oleh godaan. Untuk itu, hanya orang yang memiliki katabahan dan kesabaranlah yang dapat lulus dan sukses dalam menghadapi ujian itu. Tentunya dengan ridha dari sang Pengusa Alam, sehingga sumber daya insasi bisa tumbuh kembang berkualitas di negeri ini.
Dengan adanya kemampuan mengembangkan sumber daya insani yang berkualitas (ketuhanan dan kenabian), maka akan lahirlah kader-kader bangsa yang cerdas, memilki kapabilitas, skill yang teruji, integritas diri yang kuat dan harmonis, eksistensi diri yang baik, dan kapribadian yang terbuka dan sadar sosial. Pengembangan sumber daya insani ini penting dilakukan oleh para pemimpin agar mereka tidak mengalami krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan, krisis multidimensi atau krisis-krisis lainya yang diketahui maupun yang tidak diketahui sewaktu-waktu dapat menyebabkam ketidakteraturan dan kekacauan, sehingga jati diri bangsa di ambang chaos.
Sebagai kaum beragama yang bertabiat universal, hendaklah membebaskan diri dari pola berkeyakinan yang lemah, pola berpikir yang negatif, pola berimajinasi yang buruk, pola berpenampilan yang urakan, dan pola berkarya yang asal-asalan. Jadi, hendaknya amanah hidup bukan dijadikan bahan rebutan kepentingan, tapi bahan rebutan amanah.
Idealnya sang pemimpin minimal tahu ke-karakteristik-an pemimpin yang dicontohkan dalam catatan Prophetic Leadership. Penataan kehidupan diri perlu dibina sebelum menjelang purnabakti, amanah yang dipikul, sementara untuk menjaga, dan merawat diri agar ia tetap selalu dalam kesucian, keindahan, keagungan, kemuliaan baik kesejahteraan.
Walhasil, karya bukan sekedar untuk perenungan dan evaluator leadership, tapi untuk mencapai leadership yang berprophetic dalam menyongsong masa kini yang cemerlang. Bukan suatu visi dan misi yang ada, tapi aksi yang perlu ada itulah sebagai bukti.
*) Bayu Tara Wijaya Staff pada Institute of Studies, Research and Development for Student (ISRDs), Malang
Deskripsi Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri Di dalam artikel Komarudin Hidayat yang berjudul Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri, dapat diuraikan bahwa seorang yang mencoba dirinya untuk mencapai kesadaran murni (pure consiouness) yang mana kesadaran murni tersebut tidak dapat digambarkan, karena tingkat kesadarannya ini melampau kesadaran biasa. Dan untuk menempuh itu perlu melalui proses penyaksian, dimana penyaksian atau pengetahuan diri. Jadi bila seseorang mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu dengan benar, maka dia akan mengenal tuhannya. Dalam buku syeikh fadlallah Haeri, dijelaskan bahwa sesorang murid sufi yang dilalui adalah penyaksian yang murni dan sederhana. Dan tingkat tersebut dinamakan dengan muroqobah. Kesadaran memberikan sesuatu yang lebih tinggi dalam dirinya yang membuat menyaksiakan apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Bisa saja diletraturkan pada sebuah pembesihan atau penjerniahan air keruh. Di mana air keruh akan melewati alur penyaringan sampai penjernian, yang mana jika dihubungkan dengan pengenalan diri dengan cara memahami diri sendiri juga diperlukan proses. Yang pertama, pengosongan diri di mana pengosongan ini, tidak dikenalkan lagi pikiran-pikiran yang menganggu pada jiwa manusia untuk mengetahui dirinya. Kedua penjernihan, di mana seorang sufi akan mengalami kemapuan berketerbukaan dengan bagian pusat batin seseorang. Sehingga dari proses penjerniahna tersebut akan dihasilakn kesadaran yang mana berawal dari pengetahuan diri. Dalam perjalanan ini seorang guru (mursyid) sangat berperan sekali dengan membimbing seorang murid sufi, karena mursyid di sini yang akan memerikan alur atau jalur yang akan ditempuh sekaligus komandan dari murid sufi tersebut. Dari peranan mursyid ini, hasil akhir penjernihan air akan diperoleh penyucian air yang dengan itu difokuskan dalam dunia nyata proses menuju ‘pure’ terdapat tiga langkah proses –pengosongan, penjernohan, dan penyucian– yang terjadi secara koherensi simultatif (saling keterkaitan). Dalam artikel tersebut Komarudin juga menerangkan bahwa kaum materialistisme akan merasa lebih sulit mengalami atau melalui kemurnian yang benar-benar murni. Karena mereka selalu digeluti dengan asumsi yang bersifat kapitalisme, yang mengedepankan bahagia di mata dari pada di hati, yang artinya jiwa mereka seakan-akan tidak bisa mereka kenali, kemana dan apa serta bagaimana tujuan hidup mereka. Hanya berjalan melalui populeritas matetialistislah yang mereka geluti. Dalam inti tasawuf, ajarannya pada hakekatnya nilai keluhuran yang terletak bukan berwujud empirik, sehingga capaian yang dimisikan akan terwujud melalui proses pengenalan diri sendiri. Dan dari itu akan dicapai pendeknya nurani cahaya kesucian senantiasa menetap Tuhan dalam kontak dan kedekatan antara kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. Semuanya berawal dari naluri manusia yang membawa dirinya kepada-Nya tidak ada rekayasa pendidikan tetapi nalurilah yang membawa. Dalam maqomat seorang tasawuf, dirinya akan bernaluri untuk bertingkah yang kongruensi dengan akhlak makhmudah.
Sejarah Kemunculan Sufi Munculnya sufi-sufi di saat kaum Muslimin umumnya terpengaruh pada dunia yang datang kepada mereka, dan terbawa pada pola pikir yang mendasarkan semua masalah dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka. Berkembangnya ekonomi dan bertambahnya pendapatan masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh dari tuntutan Islam). Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi. Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an; dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang menulis sebuah buku yang berjudul: “Madaarijus-Saalikin ilaa Manaazilus-Saairiin,” yang artinya “Tangga bagi Perjalanan Menuju ke Tempat Tujuan.” Dalam buku tersebut diterangkan mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak, sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat Al-Fatihah, “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nastaiin.” Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui ulama ini, dapat diketahui tentang banyak hal, terutama ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.
Tanggapan Tentang Adanya Tasawuf
Aliran Tasawwuf / Sufi begitu suburnya tumbuh di Indonesia belakangan ini. Banyak orang yang tidak mengenal aliran ini dari sumbernya menjadikannya obat penawar di dalam menghadapi permasalahan hidup yang ada. Sehingga pada era sekarang ini banyak para ulama kita telah menjelaskan kepada kita tentang siapa aliran Tasawwuf / sufi ini, tentunya di dalam timbangan Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam penjelasan Abu Abdirrahman Uli, tentang hakikat tasawuf telah memberikan rambu-rambu bagi kita yang ingin menelusuri jalan tasawuf. Penjelasan yang menyatakan bahwa kita wajib kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih untuk dapat mengetahui hakikat tasawwuf ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisaa’ :59) Jadi, segala penyimpangan yang akan kita bicarakan tentang tasawwuf ini berdasarkan pertimbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman salafus shalih. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan menyesatkan kalian selamanya, (yaitu) Kitabulah dan Sunnahku. (Hadits Shahih riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha (II/1899) dan Imam Hakim dalam Mustadrak I/93) secara bersambung dari Abu Hurairah r.a.) Sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hakekat sama yang khusunya dalam mencapai kemurnian yang begitu tinggi dibandingkan kemurnian biasanya, dan yang juga tidak bisa dileteraturkan dalam pandangan empirik biasa. Tentunya muslim yang seperti itu, hendaknya memilah dalam bermadzab sufinya untuk lebih berhati-hati. Seperti fenomena yang terjadi di Indonesia yang memiliki beragam macam madzab atau aliran sufi, terlebih di dunia luar.
Judul : Ajaran Rahasia Orang Jawa Penulis : Capt.R.P. Suyono Penerbit : LKiS Yogyakarta Cetakan : I, Pebruari 2008 Tebal : x + 122 halaman Peresensi : Bayu Tara Wijaya *
Sadarkah sebuah rasionalisasi dari sebuah klenik, yang isinya bahwa sumber pikiran manusia dikenadalikan oleh kekuatan dan kekuasaan seseorang untuk berkosentrasi fokus sebagai sumber kekuatan dasyat yang dapat mewujudkan dan menciptakan satu hal dan satu tujuan. Semakin tinggi daya pikir selalu berpengaruh dalam jasmaniah manusia. Tergantung mana yang lebih kuat menguasai badan manusia.
Gejala yang terjadi selama ini tentang informasi klenik dan ilmu mistik telah mengalami minimalis kepercayaan. Di kalangan rasionalisme menganggap informasi-informasi seperti itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Secara kharfiyah memang informasi itu telah ditiadakan adanya, tapi ketiadaannya tidak menjadikan hal itu hilang. Khususnya di Indonesia sendiri masih ada beberapa masyarakat yang menyakini dan melakukan keyakinannya itu.
Di dalam tradisi Jawa sendiri, bahwa ajaran nenek moyang telah beralih pihak secara turun-menurun. Tetapi sebagian dikalangan ilmuwan, masih menganggap tabu akan adanya itu, memang dipandang sepintas terlihat tidak bisa terasionalkan tetapi yang perlu dipahami adalah bagaimana terjadinya hal itu, lebih khususnya tentang klenik dan ilmu mistik, sehingga perlu dipahami adalah sebab apa yang melatar belakangi kejadian anek itu.
Oleh karena itulah lebih jelasnya dalam hal ini yang akan menghantarkan kita untuk mengenal dan memahami tentang klenik dan ilmu mistik telah dijabarkan dalam karya Capt.R.P.Suyono. Sepintas dijabarkan secara sederhana oleh penulis buku ini, tentang sangkar parang dumadi (asal usul kehidupan manusia dan hendak ke mana setelah kematiannya), yang juga padanan kitab Walisanga pada tahun 1900-an yang ditemukan oleh Van Hien di Kraton Kudus yang berinti ajaran mistik orang jawa pada saat ini.
Dengan kata lain, penulis mempererat pembaca ke alam Roh yang disebut dengan Jiwa. Jiwa adalah pemberi kekuatan, dan jiwa adalah kekuatan pemikiran dan pertimbangan yang cenderung melekat disebut Manas yang lebih tinggi (Aku yang tinggi) dimana kekuatan terbesar adalah berada pada alam pikiran manusia. Seperti apa daya kekuatan pikiran berperan dalam badan kasar (jasmaniah) manusia. Daya buah pikir, baik yang tinggi maupun yang rendah dinamakan “Manas” Aku yang tinggi adalah pelindung manusia, sedangkan Aku yang rendah dipengaruhi oleh nafsu, yaitu pikiran dan kemauan baik manusia. Alam semesta menyatu dengan ”Aku yang tinggi”, disebabkan hukum getarannya, alam menjadi obat penyembuh terhadap niat baik dan keinginan “Aku yang rendah”, kekuatan penyatu sedemikian besarnya sehingga dapat digunakan untuk segala hal, termasuk menyembuhkan penyakit.
Berbeda sekali dengan naluri, bahwa naluri merupakan tindakan yang tidak disengaja sehingga dianggap bekerja diluar pemikiran sadar manusia. Naluri bekerja bebas tidak memihak yang bersifat magnetisme sebab akibat. Pada hakekatnya kekuatan bersumber juga dari kekuatan magnet yang ditentukan oleh perkembangan kemauannya dan pemikirannya. Daya pikir dibagi ke dalam kekuatan terpendam, kekuatan rahasia dan kemampuan dari kemauan, yang akibatnya pancaran yang keluar dari jiwa manusia dan efek yang dimunculkan juga berbeda. Semua kekuatan tersebut, sebagai kekuatan jiwa tanpa sadar manusia punya kekuatan tersebut.
Bahkan, orang yang memiliki kekuatan semisal magnet pribadi kuat yang bisa mempengaruhi orang yang magnet pribadinya lemah–inilah yang disebut sugesti. Dan orang yang tersugesti akan terpengaruh, sehingga akan tunduk pada orang yang menyugesti. –Inilah yang disebut sebagai autosugesti, yang mana kesadarannya dalam keadaan tidur untuk sementara (trance).
Buku Ajaran Rahasia Orang Jawa ini dikemas dengan pola bahasa yang cukup sederhana, dilengkapi sample tentang klenik dan ilmu kesaktian jawa dan teruraikan dalam 16 bab. Cukup lugas penjabarannya, walaupun pada awalnya buku ini terjemah dari karya Van Hien, De Javansce Gestenwerld. Sehingga dari buku ini akan mengarah kepada keilmuan Hindu Jawa.
Runtun penjabarannya –kekuatan pemikiran hingga muncul kekuatan rahasia terungkap, merupakan buah hasil dari daya pikir yang memancarkan kekuatan magnetisme pribadi. Termasuk mengenai kekuasaan rahasia yang terungkap di dalam tulisan Capt.R.P. Suyono ini, yang berawal asal muasal kehidupan dari Adi Tattwa, Wilayah alam semesata yang astral dan halus, Sampai pengaturan kehidupan. Penjelasan dari kekuasaan rahasia nantinya juga menghantarkan kepada kekuatan-kekuatan yang tak terduga termasuk kekuatan pemikiran tersebut. Pikiran sifatnya laten dan juga menjadi kekuatan nyata yang harus disatukan dengan kemauan (disebut juga issha).
Tentu seorang Capt.R.P. Suyono tidak menceritakan lebih lanjut mengenai kekuatan terpendam dalam buku ini dikhawatirkan ada uji coba yang salah arah. Di Indonesia khususnya, sangat populer sekali dengan mistik terutama di daerah Jawa yang sejak dahulu dan sampai sekarang dipercayai dan masih ada yang menjalani. Pengenalan menganai mistik yang terjabar, bukan cara melakukan mistiknya yang di jelaskan oleh seorang Suyono. Terlebih mengenai penulis sendiri sebagai seorang yang gemar dengan koleksi barang-barang atau buku-buku tua bahasa belanda. serta dengan profesi sebelumnya adalah pelaut yang sering melihat kejadian anek yang dianggapnya mistik, yang terlihat ketika sedang melaut. Dari situlah awal penulisan buku dari kegemaran Capt.
Pesan singkat yang ditinggalkan Suyono bahwa daya pikir bisa bersumber kekuatan yang dasyat jika diikutkan dengan kemauan. Tidak bisa diremehkan mengenai rahasia mistik dalam buku ini kerana pada dasarnya mistik berawal dari rasionalisasi. Oleh karena itu melihat berarti memahami, memahami berarti mengerti. Sikap yang profesionallah yang lebih pasti.
___________________
*) Bayu Tara Wijaya
Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Islam Negeri Malang, aktif pada Institute of Studies Research & Development For Student (LKP2M)UIN Malang. TERBIT DI MALANG POST, MINGGU 27 APRIL 2008
Telah banyak dijelaskan mengenai hal ibadah shalat, yang awal mulainya dari kesistensi agama Islam. Betapa mudah dan sangat beruntung sekali para ahli ibadah, khususnya ketika ibadah shalat. Dari sini muncul manfaat shalat bagi tubuh manusia, yang mana tubuh manusia merupakan alat yang paling utama untuk melaksanakan shalat. Bahkan, atau hanya akan menimbulkan rasa capek dan gerah atau kepanasan dalam melakukan shalat.
Ternyata banyak peneliti atau riset mengungkapkan bahwa shalat merupakan suatu aktivitas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh manusia. Dengan shalat tubuh manusia akan terjaga dengan baik dan seimbang, yang disebabkan karena gerakan-gerakan yang terdapat dalam shalat itu sangat cocok untuk melatih seluruh anggota badan, baik bagian dalam maupun bagian luar. Bukti-bukti penelitian tersebut dapat kita temukan dari berbagai macam buku tentang keistimewan shalat. Selain itu kita juga dapat mengunjungi tempat kesehatan, seperti rumah sakit yang dapat memberikan informasi bahwa shalat merupakan salah satu terapi kesehatan yang baik.
===Shalat dan Kebugaran Badan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bisri Musthofa dalam bukunya yang berjudul “Menjadi Sehat karena Shalat” menyatakan bahwa apabila seseorang mandi dalam sehari sebanyak lima kali persis dengan waktu shalat, maka tubuh tersebut akan terasa segar dan bersih. Begitu pula halnya dengan shalat, jika seseorang tersebut melakukan shalat tepat pada waktunya, seperti yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka shalat tersebut akan menjadi penggugur dosa yang sangat efektif dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba tersebut yang telah taat pada-Nya.
Juga telah diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah pernah bersabda dihadapan para sahabatnya: “Bagaimana pendapatmu bila dihadapan pintumu ada sungai yang mengalir, yang dengan itu kalian semua mandi lima kali dalam sehari? Adakah tersisa daki di badannya?” Lantas sahabat pun menjawab, “Tidak sedikitpun”. Kemudian Rasulullah pun bersabda, “begitulah perumpamaan shalat lima waktu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari).
===Shalat Menjaga Kesehatan Jasmani Dampak kesehatan juga timbul dari gerakan-gerakan shalat, seperti ruku’, sujud, dan lain-lain. Berkaca pada Rasulullah seperti yang telah disabdakan oleh Aisyah R.A. bahwa Rasulullah ketika melakukan ruku’, tidak terlalu tegap dan juga tidak terlalu bungkuk. Contoh lain adalah ketika Rasulullah melakukan sujud kedua, beliau tidak akan melakukan sujud yang kedua sebelum melakukan gerakan duduk diantara dua sujud dengan benar.
Dari sini kita tahu, shalat tersebut merupakan latihan fisik sekaligus mental dengan cara yang seimbang sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlalu ditekan. Latihan tersebut sangat penting untuk disadari bahwa bagian besar penyakit yang sekarang marak, disebabkan oleh kondisi mental yang tidak sehat. Fungsi yang harmonis dari pikiran itu pada tingkat yang benar dan pada cara yang sangat seimbang hanya dapat diperoleh dengan shalat.
Menurut Al-Dzahabi, melalui shalat yang ikhlas lagi khusu’, hati seseorang akan bisa dekat dengan Tuhan, “Jika hati manusia dekat kepada Tuhan, Sang Penguasa dunia yang mencipta penyakit dan obatnya, yang memerintah alam dunia sesuai dengan kehendak-Nya, maka baginya akan tersedia obat-obatan bagi penyakitnya. Hal demikian tidak bisa dialami oleh siapa saja kecuali orang yang beriman dan telah diberi petunjuk oleh-Nya”.
===Menumbuhkan Sikap Optimis Melalui Shalat. Orang yang shalat dengan khusu’, ikhlas dan kontinu akan menumbuhkan rasa percaya diri yang penuh dalam dirinya. Orang tersebut akan berpikiran positif dengan segala hal yang dihadapi. Jadi ketika ada masalah, maka akan dihadapi dengan melihat sudut pandang positif. Sehingga akan terbiasa dengan sikap optimis yang lebih untuk menghadapi berbagai cobaan.
Dengan beribadah kepada Allah SWT kita akan senantiasa memperoleh ketenangan. Agar manusia selalu mengingat Tuhannya, maka salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menjalankan ibadah shalat. Shalat merupakan cara yang mudah untuk mengingat Allah, karena manusia menjalankan ibadah shalat minimal lima kali dalam sehari yaitu menjalankan shalat fardhu. Dalam ketenangan ini, manusia bukan hanya memperoleh ketenangan secara batin, akan tetapi dapat pula memperoleh ketenangan secara lahiriah. Bahkan dampak positifnya dapat diketahui dari kesehatan mereka. Dari sinilah, bukti bahwa ibadah shalat merupakan suatu alat komunikasi antara Tuhan dengan hambanya. Dengan shalat pula, manusia akan memperoleh banyak manfaat, terutama dari gerakan-gerakan shalat. Untuk itu, sebagai kaum muslim yang berpilar Islam pastinya tidak ketinggalan untuk merenungi kembali apa makna dibalik suatu perbuatan?
*) Indah Rahmawati Aktivis harian yang bergelut dengan dunia perhitunga, tentunya di jurusan Matematika.
HAKIKAT MATEMATIKA Selama ini kita banyak mendengar tentang betapa penting suatu ilmu pengetahuan, dan pengetahuan tersebut merupakan suatu kumpulan-kumpulan bahan mentah kita untuk menghasilkan sebuah Ilmu yang baru bagi kita. fenomena yang terjadi selama ini, masih ada beberapa disiplin Ilmu pengetahuan yang masih dianggap menjadi ilmu yang tidak sopan dengan ciri khas yang disamakan dengan hantu. Dalam hal ini, kita berbicara mengenahi Matematika yang juga merupakan salah satu dari bagian Ilmu Pengetahuan, tapi kenyataan di masyarakat matematika dirasa kurang bisa bersahabat dengan peserta didik. Terlebih di dunia pendidikan tingkat sebelum kampus, bahwa yang di Jurusan Matematika sendiri kadang masih ada yang merasa seperti itu. Tahu atau tidak tahu, matematika sesungguhnya bersifat mempunyai universal of knowledge. Dengan karakter seperti ini semestinya, matematika menjadi penting sekali dengan ke-fleksibel-annya bisa menjadi bagian-bagian di seluruh ilmu pengetahuan.
BUKTI ADANYA MATEMATIKA Mari bermain di dunia matematika, secara tidak sadar kita sudah sering bergaul dengannya. Dunia yang tertata secara matematis, merupa bukti pentingnya ada metamtika. Simbol-simbol matematis juga sering kita jumpai di sekeliling kita. Ketika sedang berjalan saja, berapa banyak simbol-simbol yang kita temui. Inilah bagian kecil dan simpel bukti adanya matematika. Matematika adalah bahasa yang universal, mempunyai kebenaran ilmiah yang tidak terbantahkan. Jadi apakah geosentris, atau heliosentris, maka, itu semua hanya menjadi perkara titik pangkal koordinat. Demikian pula dengan pemikir-pemikir di masa tersebut akan selalu berpegang pada kebenaran matematika, alih-alih berdebat kusir tentang yang mana yang benar. Perumusan matematika oleh Ibnu Al-Shatir ini yang kemudian, (dipercaya?) menjadi pondasi perumusan matematis Copernicus untuk memperkenalkan model Heliosentris-nya.(Anonim, 2006)
Matematika dan Pendidikan Pola pembelajaran yang berkembang di dunia pendidikan saat ini telah membuka khazanah nalar kita. Khazanah tersebut mengalir pada pikiran kita tentang pendoktrinan dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh sebuah instansi pengelolah pendidikan –sekolah– yang berupa kurikulum. Dirasa adanya timpang tindih, model kurikulum saat ini mengakibatkan para anak didik mengalami tekanan psikologisnya. Perjalanan kurikulum yang bersifat otoriter terhadap anak didik, menjadikan mereka terpenjara dalam pengembangan kreativitas dan dalam menemukan jati diri anak didiknya. Tentunya untuk mencapai nilai plus –biasanya berupa hasil ujian akhir– menjadi ukuran keberhasilan suatu proses pendidikan untuk saat ini. Sehingga dari evalusi yang kurang menyeluruh ini mengakibatkan tingkat keberhasilan hanya terlihat pada angka, bukan pada aktualisasinya Pernahkah terbayangkan, apakah kita akan tenang untuk melakukan sesuatu jika kita ketakutan, gelisah, tertekan, dan kawan-kawannya. Maka dari itu, belajar matematika seharusnya tidak seperti itu. Sehingga belajar matematika dibutuhkan ketengan, dibutuhkan kesenangan, dan dibutuhkan rasa yang inovatif.