Categories
Matematika

Spiritual of Mathematics: Spirit Mathematicians Muslim of fikr, dzikr, and akmal

–>

Matematika Spiritual:
Semangat fikr, dzikr dan akmal Matematikawan Muslim

  Oleh Bayu Tara Wijaya

Amal saleh (ibadah) tidak selalu berupa ibadah syari’i—yang termanifestasikan dalam rukum Islam, tetapi juga dapat berupa ibadah amaliyah—sadaqah. Hal serupa ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan bahwa ibadah berupa tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati disebut ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati).

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]

Dari pengalan surat di atas, Allah telah menciptakan manusia tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Konteks ibadah sangat universal sekali, secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu yakni: 1) Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya; 2) Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi; 3) Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Pada bagian ketiga dari definisi ibadah secara terminologi dijelas bahwa seluruh apa saja yang dicintai dan diridhai Allah adalah ibadah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk berkesempatan menjalankan perintah yang berupa ibadah. Salah satunya, sebagai seorang pelajar maka bentuk ibadahnya adalah belajar, sebagai seorang ilmuwan —orang yang memiliki ilmu banyak atau sedikit pun dan tidak harus orang yang sudah bergelar— bentuk ibadahnya adalah menularkan ilmu atau menyebarkan ilmunya. Bahkan seorang matematikawan pun harus menjalankan tugasnya sebagai ahli matematika.
Jadi di sini, dapat dikatakan bahwa beribadah adalah melakukan amalan-amalan yang disukai dan diridhai Allah sesuai kapasitas seseorang yang melakukannya. Tidak memaksakan untuk sama dengan kapasitas yang lainnya. Berbeda ketika seseorang sebagai kyai dan ilmuwan, maka bentuk ibadahnya pun berbeda. Ilmuwan tidak harus mengikuti bentuk ibadahnya seorang kyai dan begitu sebaliknya, namun apabila masih bisa tidak ada masalah.

Matematika adalah Tasbihku
Kita tenggok aktivitas seorang satpam, ketika ia disuruh memilih antara sholat jumat dan jaga keamanan. Apa yang dipilih seorang satpam? Ketika satpam memilih mengikuti sholat jumat berarti ia meninggalkan tugas untuk menjaga keamanan, dan ketika satpam memilih untuk menjaga keamanan maka pada saat itu juga ia meninggalkan kewajiban shalat jumat. Menurut saya, seorang satpam harusnya menomorsatukan tugasnya untuk menjaga keamanan selama ia tidak mendapatkan kesempatan untuk shalat jumat. Jadi, tasbih dari seorang satpam adalah tugasnya sebagai keamanan. Selama ia menjalankan tugasnya, selama itu pula ia memutas tasbihnya, dan selama itu pula ia melakukan ibadah.

Analogi di atas pun sama, seorang matematika pasti sangat kebingungan ketika orang bilang “matematika itu bukan ilmu akhirat, tidak akan menjadi pertanyaan kubur! dan juga matematika tidak ada manfaatnya buat keselamatan di akhirat nanti”. Pernyataan tersebut memang bisa benar bagi orang-orang yang tidak memahami terminologi agamanya. Orang-orang seperti inilah yang malah merusak agama (penyesatan agama). Sebab, ketidakpahaman mereka yang menjadikan salah kaprah dalam menjalankan perintah dan larangan Allah dan rasul. 


Memang sekilas matematika bukan ilmu akhirat, tapi matematika sebenarnya adalah bisa dikatakan sebagai ilmu akhirat dan ilmu dunia. Maksudnya, matematika atau ilmu-ilmu lainnya tidak mengenal yang namanya “ini ilmu akhirat atau ilmu dunia”. Tetapi yang paling penting adalah amaliah dari orang yang menggunakan ilmu tersebut untuk kepentingan dunia atau kepentingan akhiratnya. Contoh seorang ahli komputer ketika belajar bukan pelajaran agama yang ia pelajari, bahkan ilmu-ilmu yang diserap dalam mengembangkan ilmu komputernya berasal dari orang Barat, namun ia menggunakan ilmu komputernya untuk membuat software al-quran dan terjemah dan software tersebut digunakan oleh banyak umat Islam. Jadi kesimpulannya, apapun dan dari manapun awalnya, yang terpenting adalah manfaatnya. Apabila manfaatnya untuk kebaikan berarti ilmu tersebut dikatakan ilmu yang melancarkan kita di akhirat dan sebaliknya apabila manfaatnnya untuk keburukan berarti ilmu tersebut dikatakan ilmu yang tidak melancarkan kita di akhirat.


Kembali dengan masalah matematika, berarti ilmu matematika juga dapat menjadi tasbih kita dalam beribadah. Pahala-pahala dapat didapatkan dengan memutar asas manfaat matematika kepada kepentingan kebaiakan. Seorang matematika, tidak harus pusing kapan belajar ilmu agamanya, sebab selama ini belajar ilmu umum. Jadi yang harus dipikirkan adalah bagaimana seorang matematika dapat masuk surga dengan matematikanya. Karena matematika adalah media utamanya seorang matematika sendiri. 


Matematika dan Spiritualualitas
Pilar yang harus dikembangkan oleh seorang matematikawan muslim, yakni pertama, fikr atau berpikir, dalam hal ini seorang matematikawan tugasnya adalah belajar ilmu matematika secara teoritis. Kedua, dzikr atau mengingat nama Allah, pada tataran ini, seorang matematikawan seharusnya dapat mendekatkan dirinya kepada Allah dengan media matematika. Tidak lain, pada posisi inilah matematika dapat disebut sebagai tasbih manusia dalam beribadah, sebab kapasitasnya adalah matematikawan. Ketiga, akmal atau perbuatan baik, dimana seorang matematika berkewajiban pula sebagaimana kyai, yakni meamalkan ilmu atau pengabdian masyarakat, maksudnya bagaimana yang ia pelajari dapat memberikan manfaat bagi orang-orang disekitarnya. 


Kita periksa diri sendiri, mungkin Anda sekali dan bahkan saya sendiri merasakan bahwa selama ini hanya bisa menjalankan dua pilar, yakni fikr dan akmal, itu artinya kesempurnaan untuk menjadi seorang muslim dalam kapasitas seorang matematikawan belum tuntas. Untuk itu, matematika spiritual adalah ide dan tugas besar yang harus diusung dan diemban seorang matematikawan muslim saat ini.


Kisah seorang matematikawan muslim Khawarizmi, beliau menemukan angka “nol” dan hingga saat ini angka tersebut menjadi manfaat umat sedunia. Bahwa Khawarismi dikenal sebagai ulama muslim. Penemu teori Phytagotas yang karena teori tersebut kita dapat digunakan dalam dunia ilmu perbintangan, dan ilmu tersebut sangat bermanfaat bagi orang Islam ketika menentukan awal waktu shalat dan lain sebagainya. Ibnu Sina dengan ilmu kedokteran yang beliau kusai dan sekaligus belaiu adalah ulama muslim terdahulu.


Untuk menembus pilar dzikr, fikr, dan akmal khususnya pada pilar dzikr semestinya dapat kita renungkan dari kisah tokoh muslim atau non muslim di atas. Cerita teman saya, ketika dia membuat sebuah program matematika yang ia kembangkan dari konsep matematika, dan ketika ia memasukkan rumus-rumus ke dalam program yang ia buat, dia sempat berkata “subhanallah” begitu indahnya kedahsyatan Allah yang Dia sembunyikan di dalam teori matematika. Cerita lain, ketika teman-teman saya mengerjakan soal-soal matematika dan mereka menemukan jawabannya setelah berhari-hari mengerjakan mereka berkata “alhamdulillah ya allah, akhirnya saya diberi kekuatan untuk dapat menyelesaikan”. 


Perkataan-perkataan di atas, secara tidak sadar membawa mereka untuk berdzikir karena matematika. Rasa syukur dan tahjub atas kekuasaan Allah dan kebesaran Allah adalah bagian dari drikr. Jadi dengan matematika pun kita dapat menemukan Allah Yang Maha Agung. 


Harapannya, dengan bermatematika spiritual saya sangat berharap nantinya sebagai seorang matematikawa musllim harus berusaha mengembangkan pilar fikr, dzikr, dan akmal. Terserah mana yang lebih dahulu antara ketiga pilar tersebut, yang pasti adalah saling melegkapi. Tidak lain, dengan berbekal ilmu matematika atau bahkan ilmu lainnya tujuan kita yang utama adalah bagaimana dengan matematika atau ilmu lainnya kita dapat semakin tinggi tingkat kuantitas dan kualitas keyakinan kita kepada Allah swt. Semoga renungan ini bermanfaat untuk dibaca dan diamalkan. Amin…!

Malang, 04 Mei 2011

Categories
Matematika

Why do We Learn Mathematics?

Kenapa Kita Belajar Matematika?
Oleh Bayu Tara Wijaya

Awal orang suka dengan yang namanya matematika, biasa dimulai sejak masa sekolah baik dari tingkat SD, SMP, maupun SMA. Bisa juga, orang akan benci dengan matematika dari tingakat SD, SMP, SMA, hingga di bangku kuliah. Bahkan orang yang kuliah di jurusan matematika sendiri pun masih ada yang belum ramah dengan matematika.

Salah satu penyebab orang yang suka matematika bisa dilandasi oleh faktor guru. Wajah matematika di jenjang sekolah maupun di jenjang perkuliahan sangat bergantung dengan pengajar, matematika berwajah buruk ataupun bagus/baik. Dari pengalaman penulis, telah merasakan kesukaanya matematika berawal dari kelas 3 SMP dan berlenjut hingga sekarang. Itupun tidak lain disebabkan karena pengajar/guru matematika. Ketika mengajar, seorang guru mengerti sekali posisi anak didiknya, mana yang membutuhkan motivasi, pendampingan, arahan, dan perhatian atas pribadi setiap anak didiknya. Kenyataannya, jarang pengajar dapat seperti itu, dan yang sering adalah sebaliknya guru tidak menghiraukan anak didiknya bahkan sering kali menjatuhkan mental didikkannya.

Oleh karena itu, perbaikkan atas tingkah laku seorang pengajar perlu dilakukan. Bahkan kalau perlu, seorang pengajar matematika diberi materi tentang kependidikan lebih dibandingkan dengan materi-materi lainnya. Sebab, anak kecil hingga ABG cara berpikir mereka masih dinamis-tak beraturan, sedangkan materi matematika menuntut mereka untuk berpikir statis-formal. Sehingga, sebenarnya matematika di sini memberika peran untuk menata cara berpikir manusia, tidak lain cara berlogika.


Kita semua menyadari dan sempat binggung, bahkan kenapa matematika harus dipelajari di sekolah maupun di perkulihan. Kelihatanya juga, manfaat dari matematika sendiri tidak begitu nampak di kehidupan kita, hingga kadang-kadang hati kecil kita bilang matematika tidak penting.


Pelajaran yang kita dapat dari matematika sebenarnya sangat abstrak sesuai identiknya. Terlebih peran matematika yang paling utama adalah membentuk, menata cara berpikir dari labil manjadi stabil. Hal ini dapat terjadi, sebab ketika seseorang mengerjakan soal matematika, maka yang terlintas pada seseorang adalah memikirkan cara menyelesaikan soal. “Bagaimana ya menyelesaikan ini, darimana ya sebabnya kok bisa begini dan begitu,” kata-kata yang sering muncul pada seseorang yang mengerjakan soal/masalah matematika.
Dari keseringan seseorang mengerjakan soal tersebut, seseorang lambat laun ia akan tidak sadar dilatih dan semakin terlatih menentukan solusi dan mencari sebab “kenapa solusinya seperti demikian”. Hingga seseorang akan tidak sadar pula ketika menghadapi masalah lain (non soal matematika) ia akan dengan terbiasa berlogika dengan konsep menyelesaikan soal matematika. Namun, sifat keabstrakkan matematika hingga seseorang tidak menyadari bahwa dirinya terlatih karena sering menyelesaikan soal, khususnya soal matematika.


Kenapa soal matematika? Sebab soal matematika atau soal yang berbau matematika lebih memiliki tingkat kesulitan tinggi dibandingkan dengan soal-soal lainnya. Dan, semakin tinggi tingkat kesulitannya, semakin tinggi pula manfaat pada berlogika seseorang. Karena tingginya manfaatnya tadi, banyak orang yang lebih memilih “tidak” alias tidak mau belajar apalagi menyelesaikan soal matematika.


Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang semakin sedikit menyelesaikan soal (masalah apapun), berarti semakin sedikit pula logikanya rendah (cara berpikirnya buruk), tidak lain orang yang cara berpikirnya buruk berarti orang tersebut kurang “kedewasaannya”. Apalagi ketika menyelesaikan soal dengan tingkat yang tinggi, ia akan lebih memilih menjauh dari soal/masalah, bukan?


Malang, 26 April 2011

Categories
Buku

Quality of Life with the Name of Allah

Hidup Berkualitas dengan Asma’ Allah
Judul Bukua : Aktivasi Asma’ul Husna

Penulis : Rahmat Ramadhana al-Banjari

Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta

Terbitan : Pertama, 2010

Peresensi : Bayu Tara Wijaya


“Sangat penting bagi setiap mukmin untuk selalu meraih integritas kepribadiannya dengan cahaya asmaul husna, sebagaimana yang dipaparkan dalam buku cerdas ini. Hidup terasa menjadi lebih hidup ketika kita mulai mengamalkannya!”

(Dr. Iwan Mulyana, praktisi kesehatan di Bintan, Kepulauan Riau)

Banyak orang yang sudah memahami sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Namun, sampai saat ini sangat jarang oarng yang secara sadar untuk bisa mengamalkan apa yang pernah ia pahami.

Sadar adalah hidayah dari Allah swt, sekecil apapun perbuatan kita, jika kita jalani secara sadar pastinya akan ada sedikit nilai kebaikkannya. Seburuk apapun perbuatan kita, awal untuk kembali ke jalan Allah adalah dengan sadar bahwa keburukkan yang kita perbuatan adalah salah.

Pada kajian yang sama, Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari mengajarkan kunci mengaktivasi asmaul husna. Sebelumnya, ia menulis buku yang berjudul Quatum Asmaul Husna pada Januari 2009, kini ia melengkapi buku sebelumnya dengan judul Aktivasi Asmaul Husna.

Paling tidak, dalam buku sebelumnya, penulis menjelaskan tiga bagian terpenting dalam buku pertamanya, pertama, konsep memperkenalkan Tuhan melalui Asma’ Allah yang menjadi cerminan berprilaku dalam berkehidupan. Kedua, konsep hukum syar’iyyah atas berbuatan manusia. Ketiga, konsep sifat ar-Rahman hingga sifat ash-Shabur.

Dengan kehadiran buku ini, menjadi panduan praktis dalam menerapkan atau mengaktivasi konsep-konsep yang sudah dijelaskan dalam buku Quatum Asmul Husna. Secara khusus, buku ini menyajikan panduan lengkap dan praktis untuk mengaktivasi asmaul husna. Di dalamnya juga disediakan ragam doa, wirid, dan dzikir dalam rangka aktivasi asmaul husna. Dengan mengaktivasi asmaul husna, insya Allah segala urusan kita di dunia dan akhirat akan dimudahkan, diberikan rezeki yang berkah, terpelihara dari ancaman hawa nafsu, hingga berhati lembut dan bersih.

Bagusnya, sebelum hadirnya buku ini, buku Quatum Asmaul Husna mendapat pujian bagus dari para tokoh. Namun, beberapa info interaktif dari pembaca buku Quatum Asmaul Husna, menjadikan greget penulis untuk menambahkan panduan khusus, dan muncullah buku Aktivasi Asmaul Husna.

Tahjub, karya komprehensif yang dipadukan oleh penulis dengan kondisi riil masyarakat sekarang membuat karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari menjadi panduan relilgius masyarakat yang saat ini sudah berada di zaman modern ini.

Sanjungan manis, dari salah satu karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari, dosen filsafat STAIN Salatiga, Jawa Tengah, bapak Mufiq, S.Ag., M. Phil., mengungkapkan “Saat saya membaca Quantum Asmaul Husna karya Rachmat Ramadhana al-Banjari, saya pingsan. Ketika pingsan, saya merasa akan dimasukkan ke liang lahat dan orang-orang melemparkan bunga aneka warna sambil membaca asmaul husna. Selama tiga hari, sekujur tubuh saya sakit. Tekanan darah drop, tapi saya nekat terus membacanya. Saya wirid “Ya Razzaq”. Alhamdulillah, setelah hari keempat, kondisi membaik. Hati mulai tenang dan tanda-tanda rezeki dibuka kian jelas. Mereka yang tadinya memusuhi saya mulai mendekat. Subhanallah, saya telah diajarkan sifat-sifat ketuhanan melalui praktik aktivasi asmaul husna.”

Memang, buku tentang Asma’ul Husna ini muncul dan memberikan sumbangsi secara teoritik maupun praktis kepada umat manusia yang masih peduli terhadap dirinya. Sehingga dengan kuatum (kedasyatan energi dalam diri manusia) dapat melejitkan kekuatan spiritual manusia, sebagai penyeimbang dan tameng hidup.

Sebab, ketika manusia percaya bahwa potensi keagungan Allah yang ada pada diri setiap manusia seyogyanya bisa digali, dikembangkan, dan digunakan dengan sungguh-sungguh oleh setiap manusia agar dapat memberikan motivasi dasyat pada pikiran dan jiwanya untuk menggapai kualitas kecerdasan spiritual, sebagai pondasi kehidupan manusia.

Tak lain, segala sesuatu sangatlah sulit untuk tumbuh dengan sendirinya. Sebuah kesadaran akan jarang ada, jika tidak adanya sebab lainnya. Oleh karena itulah, kehadiran buku kedua al-Banjari, yakni Aktivasi Asmaul Husna menjadi motivasi pengerak kita dalam memperoleh kedahsyatan energi keagungan Allah melalui asma’ Allah.

Harapanya, agar umat manusia dapat memahami, merenungkan dan mengamalkan salah satu atau semuanya jika mampu dari sifat-sifat Allah. Dengan pedoman Aktivasi Asma’ul Husna saja, tentu manusia bisa menyelesaikan segala urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Tak kalah pentingnya, bahwa ini adalah buku penting, yang dapat digunakan manusia sebagai pegangan dalam hidupnya.

Inilah harapan dari penulis, yang melajutkan kajiannya tentang Asma’ul Husna melalui buku Aktivasi Asma’ul Husna. Bukan sekadar bahan referensi saja, melainkan bahan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga, pada bagian terakhir, al-Banjari mencatumkan doa-doa Asma’ul Husna. Dengan demikian, patutlah Quatum Asma’ul Husna yang dilengkapi Aktivasi Asma’ul Husna menjadi satu kesatuan paduan buku yang menjadi pegangan semua umat manusia, khususnya yang beragama Islam.

Alhasil, bahwa karya Ust. Rachmat Ramadhana al-Banjari memberikan kontribusi positif bagi kita. Bukan sekadar karya yang hanya menjadi referensi pustaka saja, tetapi bahan referensi hidup manusia. Dengan demikian, sanjungan terbesar yang patut kita berikan pada penulis adalah dengan mensinergikan apa yang menjadi tujuan karyanya. selamat meraih kedahsyatan energi Allah dalam kehidupan Anda! []

Categories
Buku

Syafa’at Prophet behind the Salawat

Syafa’at Nabi di balik Salawat

Judul Buku : Spiritual Salawat; Kajian Sosio-Sastra Nabi Muhammad SAW

Penulis : Dr. H. Wildana Wargadinata, Lc., M.Ag.

Penerbit : UIN-MALIKI Press, Malang

Terbitan : I, September 2010

Tebal : xiv + 336 halaman

Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Tradisi salawat hingga saat ini masih tetap berkembang, khususnya di dataran pulan jawa. Tradisi ini marak dilakukan oleh para kalangan pesantren. Kemudian, berkembang hingga diikuti oleh kalangan masyarakat sekitarnya. Hingga, tidak asing lagi kegiatan pembacaan salawat.

Salawat menjadi tradisi yang tanpa sengaja merupakan aktivitas spiritual turun temurun. Kepercayaan terhadap pembacaan salawat menurut masyarakat dapat memudahkan kita dalam berdoa atau meminta kepada Allah swt. Karena tradisi inilah, maka wajar apabila ada beberapa masyarakat, ketika membaca salawat lebih lancar–baik segi tajwid maupun pelafalannnya–ketimbang membaca al-Quran.

Tradisi pembacaan salawat dilakukan oleh masyarakat pada berbagai upacara kehidupan. Semisal, pada kegiatan ibadah mendirikan mushalla, dimulai dengan shalat berjamaah. Setelah itu, pembacaan al-Quran dan kegiatan berikutnya adalah tahfilan yang dilengkapi dengan salawatan.

Beberapa tradisi pembacaan salawat yang dilakukan masyarakat, antara lain: upacara sirkulasi kehidupan; tasyakuran perkawinan, tasyakuran menempati rumah baru, tingkeban, aqiqahan, khitanan. Sedangkan upacara lainnya yaitu; menyambut tamu kehormatan, menyambut pengantin, upacara pemberangkatan haji, jam’iyah rutinan masyarakat, dan lain sebagainya.

Salawat memang selalu menjadi pengiring dalam berbagai acara umat muslim di Indonesia. Karena inilah, Wargadinata memberikan kajian secara mendalam tentang salawat dan terrangkum dalam buku yang berjudul Spiritual Salawat: Kajian Sosio-Sastra Nabi Muhammad SAW. Buku ini menjelaskan secara mendalam terkait tradisi salawat menyangkup pertama, aspek ibadah-spiritual yang bertujuan untuk dzikrullah, mencari syafaat di hari kiamat, barakah dan tawassul, shadaqah, ungkapan cinta Rasul, penentraman jiwa, penghormatan kepada Nabi, teladan moral, peningkatan spiritual, memperluas wawasan keagamaan.

Kedua, aspek sosio-kultural yang bertujuan untuk silaturrahim, guyub rukun, seni dan budaya Islam, sarana hiburan, dan tradisi kampung halaman. Jadi, acara pembacaan salawat selain dapat meningkat spiritual, tetapi juga sebagai fasilitator dalam mempertemukan warga untuk hidup bersama yang berwujud silaturrahim.

Salawat yang berkembang sekaranng memang identik dengan Nabi Muhammad SAW, karena saat ini beliau memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam. Di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, kecintaan mereka kepada Nabi diwujudkan dalam tradisi keagamaan yang dikenal dengan tradisi salawat. Memuliakan Nabi, menghormati dan mencintai beliau, tidak dapat dipisahkan dari lubuk hati umat Islam di seluruh dunia.

Apalagi, tradisi pembacaan salawat ini merupakan tradisi yang timbuh dan berkembang secara dinamis di kalangan umat Islam, tidak hanya di perkampungan dan pedesaan, tetapi juga di tingkat RT, RW, maupun perkumpulan organisasi masyarakat Islam. Di samping itu, tradisi pembacaan salawat dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, muali orang kampusng, pejabat, pedagang, makelar, dosen, mahasiswa, santri, dari kalangan orang Jawa sampai orang Arab.

Salawat memiliki nilai spiritual yang tinggi, bagi siapa saja yang membacanya. Bahkan salawat dapat menjadi resep dalam mengatasi kualitas hidup manusia. Selain itu, pembacaan salawat dapat meningkatkan ibadah, ketakwaan, dan kesalehan manusia.

Cerita dalam sejarah yang dijelaskan dalam kitab-kitab klasik, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan satu-satunya nabi dapat memberika syafa’at bagi umatnya. Oleh karena itu, syafa’at menjadi motivasi dan suatu perkara yang luar biasa bagi masyarakat. Keyakinan ini mendorong mereka untuk senantiasa menjalani tradisi bersalawat dan mengikuti majelis pengajian.

Kespiritualan adalah landasan utama salawat, sehingga salawat memiliki keistimewaan tersendiri. Karena keistimewaan tersebut, salawat dapat dibaca siapa saja dalam keadaan apa saja (suci atau tidak suci). Bahkan, ada ulama kuno yang menjelaskan bahwa siapa saja yang membaca atau mendengarkan bacaan salawat akan mendapat pahala dari Yang Maha Kuasa dan akan diberi syafa’at Rasulullah.

Panjang apabila kita mengkaji lebih mendalam tentang salawat. Oleh karena itu, Wargadinata anak dari pengasuh Pondok Pesantren Baitul Arqam Balung Jember yang lulusan Al-Azhar Kairo Mesir menyisipkan beberapa salawat yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Karena menurut beliau, bacaan-bacaan salawat selain bernilai spiritual tinggi, juga merupakan karya sastra yang luar biasa.

Sehingga, kehadiran buku ini juga turut memberikan konstribusi bagi umat Islam khususnya mereka yang ingin mengeluti secara mendalam sisi makna dari salawat. Sebab, kita akan lebih takjub ketika kita memahami arti dari salawat. Mendengarkan bacaannya saja kita merasa terntram dan damai, apalagi bila kita mengetahui arti dan makna yang terkandung di dalam salawat.

Sangat komprehensip memang, karya Wargadinata, sungguh amat rugi apabila kita melewat untuk tidak mengapresiasi hasil karya beliau yang mengungkap salawat yang lebih akrab dalam bahasa Indonesia. Dengan membacanya, adalah bentuk dari apresiasi tertinggi baginya. Semoga, kita mendapatkan syafaat Nabi melalui membaca dan memahami salawat bersama buku ini. Amin!

Categories
Thinker

Realize the Education Independently

Wujudkan Pendidikan yang Me-Mandiri-kan

Oleh Bayu Tara Wijaya

Pengangguran merupakan persoalan fundamental di Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang. Hampir setiap tahun angka pengangguran tidak bisa mendapati angka statis turun secara perhitungan grafik melainkan dinamis (tidak tetap) perubahannya bahkan hampir rata-rata mengalami pernambahan jumlah pengangguran.

Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, masa depan bangsa Indonesia akan semakin dihantui dengan aksi-aksi tak bertanggung jawab yang diakibatkan dari efek masalah ekonomi pribadi (berpengangguran).

Gubenur Jatim Sooekarwo pada Upacara Hari Ulang Tahun ke-65 Pemrov Jatim di Gedung Grahadi sempat mengungkapkan bahwa invertasi dengan teknologi tingkat tinggi hampir tak menyerap tenaga kerja. Karena itu, tahun 2011 Pemrov Jatim akan memperbaiki tempat praktik dan latihan 50 sekolah menengah kejuruan (SMK) yang kurang berkembang.

Sikap arif yang diungkapkan Soekarwo patut kita renungkan kembali. Mengingat jumlah SMK baik status negeri maupun swasta tidak sedikit. Sekitar 1141 SMK di Jatim meluluskan para siswa yang siap untuk dipekerjakan dan didistribusikan di lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan lulusan.

Sayangnya, jumlah lapangan pekerjaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah lulusannya. Meskipun ada peluang kerja, namun sinergis antara profesional lulusan dengan tempat kerja yang akan ditempati tidak sesuai. Artinya, para lulusan khususnya dari kejuruan dinilai belum cukup bekal supaya siap kerja.

Berdasarkan hasil prediksi pakar statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kresnayana Yahya, bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Jatim pada 20111 berkisar 6,5-6,7 persen. Dengan tingkat pertumbuhan itu, diperlukan sekitar 300.000-400.000 tenaga kerja yang dua pertiganya adalah lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Sementara dari data di Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jatim pada bulan Februari 2010 mencapai 1.011.950 orang atau sebesar 4,91 persen. Jumlah ini turun 0,96 persen dibanding TPT di Jatim Agustus 2009 sebanyak 1.033.512 orang atau sebesar 5,08 persen. Angka ini menunjukkan secara statistik pengangguran menurun, namun apabila kita lihat di masyarakat, berapa banyak orang yang dalam usia kerja masih menganggur?

Sehingga, perlu dipikirkan ulang atas rencana Pemprov Jatim untuk perbaikan tempat praktik 50 SMK yang rencananya setiap sekolah mendapat bantuan sebesar 1 milyar. Bentul, fasilitas atau kecangihan teknologi sebagai praktik siswa SMK menjadi pendukung utama dalam profesionalitas para lulusan nanti.

Tak dapat dimungkiri, setiap stakeholder SMK memiliki keinginan untuk mengedepankan profesionalitas para lulusan. Namun yang harus diperhatikan, profesionalitas lulusan saat ini hanya sampai pada profesionalitas kerja. Masih ada aspek-aspek lain yang harus digarap oleh stakeholder SMK, yakni kemandirian para lulusan.

Kemadirian Lulusan

Sebenarnya, tidak perlu memperdebatkan atas adanya perbaikan fasilitas SMK atau rencana Pemrov untuk mengurangi angka pengangguran. Sebab, ini sudah menjadi kewajaran yang harus menjadi standar Pemrov yang sukses dan stakeholder SMK untuk tempat belajar (praktik) siswa yang sesuai.

Di sinilah peran sekolah sangat menentukan profesionalitas lulusan. Siswa yang belajar di SMK harus dituntut untuk bisa mandiri setelah lulus. Agar, lulusan tidak selalu mengantungkan adanya lapangan pekerjaan. Sehingga, setiap SMK tugas utamanya bukan saja mempersiapkan lulusan yang siap kerja, melainkan lulusan yang siap membuat lapangan pekerjaan secara mandiri (berwirausaha).

Sebut saja, jiwa entrepreneurship, ini yang nantinya siswa akan berpikir usaha apa yang bisa saya lakukan setelah lulus, bukan berpikir saya bekerja di mana setelah lulus nanti. Sehingga kita patut berbangga diri dengan para lulusan kita yang sudah siap terjun di dunia wiraswasta dan berwirausaha secara mandiri.

Inilah maksud dari gagasan ini, seyogyanya para stakeholder sekolah khususnya SMK membuat rancangan kurikulum lokal yang mendidik siswa agar semuanya bisa menjadi orang yang mandiri untuk berwirausaha. Meski tidak bisa dipungkiri, bekerja di suatu tempat kerja sesuai dengan profesinya selalu didambakan oleh setiap orang.

Sekadar, “sedia paying sebelum hujan”. Bisa jadi sebuah mimpi untuk menjadi orang sukses tidak selalu ditempuh dengan jalan yang sudah direncanakan. Untuk itulah, menyiapkan siswa yang mandiri dalam berwirausaha menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pengangguran.

Kita lihat, banyak orang yang menganggur bukan berarti tidak adanya lapangan pekerjaan, namun karena tidak punya skill dalam bidang tersebut. Atau bahkan, kemampuan tak linier dengan pendidikan yang pernah mereka dapat hanya setengah matang. Bilangnya, lulusan kejuruan dengan konsentrasi programer, tetapi ketika diuji untuk membuat sebuah program tidak mampu.

Sebab itu, kemampuan di luar bidang konsentrasi, harus juga diimbangi oleh para lulusan. Kemampuan untuk mengasah kreativitas berpikir dalam survive tentunya tidak muncul begitu saja. Nah, lembaga pendidikan adalah salah satu medianya. Maka dari itu, SMK yang menjadi simbol lembaga pendidikan yang mengedepankan “lulus langsung siap kerja,” tentunya membuat bimbingan-bimbingan di luar materi pelajaran formal selain membekali siswa supaya siap kerja, seperti berwirausaha.

Sebuah contoh SMA NU 1 Model Lamongan, para siswa dikenalkan dengan materi dengan kurikulum lokal. Seperti, matapelajaran live skill, siswa yang mengikuti matapelajaran ini, diajak untuk belajar berbagai kerajinan lokal setempat. Dalam pelajaran ini, biasanya siswa putri diajarkan belajar membuat kue, untuk siswa putra diajarkan membuat paving. Selain itu, siswa diajarkan untuk menjadi siswa yang kreatif, bukan sekadar pandai dalam bidang pengetahuan, namun skill yang ada di masyarakat harus dikuasai sebagai bekal berwirausaha dengan jiwa entrepreneurship yang mandiri.

Maksudnya, jiwa-jiwa mandiri untuk menjadi entrepreneurship ini yang harus ditanamkan pada setiap siswa. Sehingga, nantinya para lulusan akan menjadi orang yang mandiri. Sehingga, tidak akan ada yang menyalakan, bahwa sekolah gagal dalam pendidikan karena banyaknya lulusan yang menganggur.

Cukup dengan mandirinya–berwirausaha dan berjiwa entrepreneurship–para lulusan dari lembaga pendidikan, angka pengangguran dapat menurun. Dengan maksud, kota dapat dikatakan sebagai kota sejahtera adalah kota yang sudah mandiri. Kota mandiri akan terwujud apabila angka pengangguran menurun dan angka pengangguran menurun akan bisa dicapai apabila para lulusan (pemuda) dari sebuah lembaga dapat menjadi siswa yang mandiri dalam berwirausaha. Sehingga, sinergitas kota yang mandiri dapat dipandang dari para pemuda yang penuh dengan kemandirian.

Alhasil, dalam rangka mewujudkan sebuah kota yang mandiri, maka tidak luput dari peran sebuah pendidikan yang mewacanakan dan mempraktikkan pendidikan adalah sebuah tempat memandirikan manusia.[]

Categories
Buku

The Mistakes in the Grammar of Indonesian Language

Salah Kaprah dalam Bergramatika

Judul : Salah Kaprah; Racun Pikiran, Racun Tindakan
Penulis : Dr. Maufur & Adi Ekopriyono
Penerbit : Delokomotif, Yogyakarta
Tebitan : I, 2010
Tebal : 336 halaman
ISBN : 978-979-18651-8-0
Rp : 38.000,-

Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa kita
Tanah air, Pasti jaya, Untuk Selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, Nusa bangsa, Dan Bahasa, Kita bela bersama
Kutipan lirik lagu di atas, yang diciptakan oleh L. Manik mengispirasi bahwa Indonesia memiliki satu bahasa, yakni bahasa Indonesia. Dimulai dari tahun 1901, disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. Van Ophuysen dalam Kitab Logat Melayu dijelaskan bahwa cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu.

Berlanjut pada tahun 1928, tepatnya pada pengikraran Sumpah Pemuda bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perkembangan bahasa Indonesia pada saat itu mulai semakin baik, sehingga pada 1945 bahasa Indonesia memperoleh kedudukannya yang lebih pasti sebagai bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa kesatuan dan bahasa negara.

Mensintesis sejarah perkembangan bahasa Indonesia, ternyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk menjaga kemurnian bahasa Indonesia. Apalagi bahasa Indonesia bukan berasal dari bahasa yang sengaja dibuat oleh awak negara, melaikan berasal dari budaya bahasa yang dimatangkan menjadi bahasa negara. Patas, apabila bahasa Indonesia kerap mengalami penyempurnaan dari proses-proses penyerapan bahasa asing atau yang lainnya. 


Akibatnya, bahasa Indonesia dalam proses penyempurnaan mendapat pengaruh-pengaruh bahasa asing, bukan hal yang mudah. Sebab, sampai saat ini bahasa Indonesia masih belum cukup dewasa untuk menjadi bahasa yang kokoh selamanya.

Categories
Thinker

Spiritual or Intellectual?

Berspiritual atau Berintelektual?

Berbagai teori tentang manusia, dari teori yang berasal dari bangsa Barat—manusia yang diterjemahkan tokoh-tokoh Barat, seperti teori Darwin, dan lainnya—hingga teori yang berasal dari bangsa Timur atau yang terkenal teorinya bersumber dari ajaran Islam. Secara sekunder, teori-teori orang Barat kebanyakan dilandasi oleh nalar-rasional sedangkan teori-teori Timur dilandasi oleh nalar-spiritual (agama). Sehingga, dari dua perspektif dan sumber yang berbeda, tentu cara mendefinisikan manusia jelas berbeda, bahkan tidak bisa dibedakan.

Manusia purba (homo sapiens, dan sebagainya) yang mengalami evolusi sehingga berwujud seperti manusia menjadi sumber gagasan tokoh Barat dalam mendefinisikan asal-usul manusia yang dilandasi nalar-rasional (sumber ilmiah, data, dan uji data). Nabi Adam yang dalam ajaran Islam diceritakan berasal dari sari patih tanah pula menjadi gagasan tokoh Timur dalam mendefinisikan manusia yang dilandasai nalar spiritual (agama: al-Qur’an dan al-Hadis).

Pasalnya, perdebatan “manusia” dari sepanjang zaman masih belum menuai titik nadir, bahkan semakin berbeda peradaban dan zaman, berbeda pula cara menterjemahkan “manusia”, siapakah? Perkembangan telah membuat perubahan pula, arti menusia memiliki banyak makna dari aspek-aspek yang berbeda dan tergantung siapa serta darimana yang memaknainya.


Manusia sebagai animal rasional ketika dilihat dari kemampuan berpikir manusia. Sedangkan bila kita simak dalam QS. al-Mu’minum ayat 115 yang artinya: “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” Hal ini mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan sebagaimana surat tersebut. Hal lagi dalam al-Quran surat al-Imron ayat 190-191 yang artinya:


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
 

Bahwa dalam surat di atas, manusia adalah orang-orang yang berakal (ulul albab). Sebab sejatinya, manusia sebagai pribadi dari satu kesatuan tiga unsur: perasaan, akal, dan jasmani. Ketiga unsur tersebut merupakan kemampuan dasar manusia yang dimiliki untuk survival. Namun, dari ketiga unsur tersebut akal menjadi pengendali atas perjalanan matang manusia. Kualitas manusia atau kematangan manusia tetap ditetukan oleh cara berpikir atau cara mengimplementasikan akal. Tidak lain, rendahnya berpikir atau berakal manusia dilatarbelakangi oleh lingkungan dan pengetahuannya (masyarakat, agama, dan pendidikan).

Masyarakat misal, manusia berstatus sebagai makhluk sosial hingga saat ini. Mereka harus bersosialis dengan masyarakat lain untuk mematangkan akalnya, tegasnya ukuran dari keberhasilan manusia adalah produktivitas peradaban pribadi dan masyarakat (sosial). Rendahnya produktivitas sosial sebab karena cara berpikir lama, yang bertitik tolak pada cara pandang tradisional yang mengandalkan spiritual semata. Dalam hal ini, agama dan pendidikan turut berperan dalam produktivitas. Masyarakat, agama, dan pendidikan menjadi kesatuan dalam membentuk manusia, siapa?
 

Terdapat dua hierarki kemasyarakat berbeda yang masih berkembang dipengaruhi lingkungan dan pengetahuan, yakni masyarakat tradisional dan modernitas. Masyarakat tradisional, merupakan penilaian manusia dari aspek spiritualitasnya. Sebab, spiritualitas bagi sebagian masyarakat tradisional, mengalami ketumpulan makna dalam menghadapi perkembangan kehidupan yang kompetitif dan prediktif. Karena cara pandang masyarakt tradisional terhadap kehidupan hanya mengandalkan pada sikap pasrah dan menerima perubahan hidup apa adanya. Sedangkan modernitas, sebagaimana dipahami oleh masyarakat modern, sebagai cara berpikir mengedepankan prakmatis, logis dan praktis. Di satu sisi mendorong terjadinya percepatan dalam peningkatan produktivitas kerja ditandai dengan perubahan sosial. Tapi sisi lain, peningkatan jumlah masyarakat terpelajar tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan sosial. Karena masyarakat modern sifat indvdualistk dan fungsionalistik telah mengaburkn nilai kebersamaan dan kepedulian kelompok. Masing-masing bertanggung jawab atas diri dan lingkungannya sendiri.
 

Itulah dua aspek hirarkis yang berbeda, sehingga ketika kita akan menjadi manusia yang kolot untuk memilih salah satu, menjadi masyarakat tradisional saja atau medernitas saja. Maka, yang akan terjadi fanatisisme yang menyekat kita bersosialis. Padahal dengan bersosialis kita menjadi manusia yang bermanfaat, tahu kenapa menjadi manusia. Untuk itulah, dua hirarkis tersebut harus dimiliki setiap insan yang kamil.
 

Konteks lain, dari hasil sarasehan HUT XXV Kompas (1990) merumuskan, bahwa gambaran normatif-ideal Manusia Baru Indonesia memuat tiga ciri utama, yaitu manusia yang sadar IPTEK dan serba tahu (well informed); manusia kreatif yang mempu mengantisipasi perkembangan zaman; dan manusia yang bermoral serta peka terhadap keadilan dan solidaritas sosial. Pada dasarnya, rumusan tersebut sepadu dengan dua faktor, lingkungan dan pengetahuan, yang dijelaskan di atas.
 

Dari sinilah, manusia berakal dan berpikir (ulul albab), harus mencakup aspek-aspek lingkungan dan pengetahuan, atau berspiritual dan bermodern (intelektual). Berspiritual berarti harus memiliki dua landasan, yakni sosial-religius. Dengan landasan religius, akan menguak sisi batin seseorang untuk menatap Tuhannya. Sedangkan landasan sosial, membuat seseorang untuk menengok dirinya sendiri kemudian menatap dirinya di atas kanvas sosial. Dua pilihan, berspiritual atau berintelektual, namun ketika kita menjadi manusia ulul albab tentu akan memilih kedua-duanya. Tidak berintelektual saja atau berspiritual saja. Sebab, ketika manusia hanya menandalakan spiritualnya saja, maka yang terjadi adalah memunafikkan perkembangan, terlebih perkembangan yang berasal dari Barat, seperti pekembangan teknologi. Nan, ketika manusia hanya berintelektual saja, maka ketegangan dan individualistik akan membawanya menjadi stress.
 

Kembali ke surat al-Imron ayat 190-191 terdapat makna manusia ulul albab adalah yang berkarakter dzikir, pikir, dan amal saleh. Ketiga karakter tersebut engan, bahkan sulit dimiliki manusia. Namun, sebagai manusia yang berbudi mau tidak mau harus berusaha merebut untuk menuai gelar sarjana ulul albab. Tentunya, dengan bekal yang diberikan oleh Tuhan, yakni kecerdasan spiritual (SQ) adalah inti kesadaran kita. Kecerdasan spiritual ini membuat kita mampu menyadari siapa kita sesungguhnya dan bagaimana kita member makna terhadap hidup kita dan seluruh dunia kita. Selain SQ, ada kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam kaitannya dengan hubungan social dan pemenuhan kebutuhan psikofisik. Serta, kecerdasan IQ adalah kemampuan untuk mengerjakan persoalan yang sesuai dengan usia mental (mental age) dan usia kronologis (chronological age).
 

Inilah atau inikah manusia bersarjana ulul albab, paling tidak jika mengutip pilar UIN Maliki Malang bahwa sarjana ulul albab adalah ia harus bias menjadi “ulama’ yang intelek profesional dan intelek yang ulama’ profesional”. Namun, selama ini problema dari istilah Ulul albab masih belum dapat disentuh secara keseluruhan. Dalam hal ini, manusia yang menjadi pemerannya (tokoh utama ulul albab). Sehingga, dalam rangka mencapai cita-cita sarjana yang berspirit atau berkarakter Ulul Albab, maka harus dibentuklah usaha-usaha untuk mencapai hal itu. Tak lain, inilah harapan dari jurnal ilmiah mahasiswa ini, Jurnal LoroNG (journal of social cultural studies) kali ini.

Sebagaimana dalam tema besarnya adalah “manusia dalam kulitas ulul alab”. Untuk itu, sebagai manuskrip dalam pembahasannya, Angga Teguh P, menyuguhkan topik “Tarbiyatul Ulul Albab sebagai Spektrum Peradaban dan Eksistensi Manusia”, dalam kajian penulis mengkaji konsep Tarbiyatul Ulul Albab dalam rangka menelisih gagasan besar yang selama ini masih diwacanakan di sivitas akademik kampus Islam. Akhirnya nanti, ide insan Ulul Albab yang berwajah kontemporer di zaman sekarang saat ini dapat muncul dari memahami ego kekhalifaannya, dari ego perlu belajar (need to study) menjadi ego harus belajar (have to study). Selanjutnya disusul gagasan dari Abdul Aziz Dhamanhuri tentang “Argumentasi Keluhuran Pencitaan Manusia; sebuah telaah Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis terhadap al-Qur’an”, ia berusaha mencari hakikat manusia sebagai pelaku sejarah tak pernah menemukan ujung klimaks. sehingga konsep manusia tersebut perlu dicermati dari al-Qur’an yang menceritakan manusia sebagai al-basyar dan al-insan. Kemudian dari kajian dasar tersebut penulis akan membacakan fungsi dan peran manusia terhadap ekosistem yang digalih dari aspek manusia sebagai Abdullah dan manusia sebagai Khalifatullah. Sehingga nantinya ontologis, epistemologi dan aksiologi manusia dapat dipahami dari perspektif al-Qur’an. Kemudian sebagai kelengkapan tema besar LoroNG, Babur Rahman menambahkan kajian terkait “Manusia Ulul Albab; dari Epistemologi Intelektualitas menuju Spiritualitas Etis”.
 

Selain manuskrip di atas, LoroNG menerima tamu dari Universitas Negeri Malang, Abdul Halim Fathani yang mendiskusikan “Matematikawan Integratif: Membumikan Matematika dalam Dimensi Spiritual, Teoretis, dan Aplikatif”, dalam diskusinya sejarah ilmu pengetahuan menempatkan matematika pada bagian puncak hierarki ilmu pengetahuan. Seperti pada masa kejayaan Islam, ditemui banyak tokoh muslim yang berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk matematika. Selain itu pula, ia juga mengdiskusikan matematika al-Qur’an. Dengan harapan, matematika secara utuh sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, akan dapat mengantarkan seseorang mencapai derajat matematikawan ulul albab, yakni seorang matematikawan integratif, yang selalu memadukan matematika dalam tiga dimensi: spiritual, teoretis, dan aplikatif. Munif Ibnu adalah Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, aktif di LPM Justisia juga mendiskusikan tentang “Menakar Islam Tanpa Identitas” di dalamnya penulis berusaha mengunkap tergusurnya kesadaran akan subtansi beragama, nampaknya menjadi mainstream umat beragama dalam euforia dunia modern saat ini untuk kembali menyadari dan memahami arti sebenarnya beragama menjadi keniscayaan, jika tidak, tak ubahnya beragama tanpa nilai agama. 

Topik lain yang disajikan LoroNG juga berkat Ahmad Dini Hidayatullah yang menyuguhkan perdebatan tentang “Harapan Indonesia Masa Depan”, ia mencoba membaca peluang dan harapan Indonesia pada masa yang akan datang, adalah hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Ia berangkat dari narasi-narasi ilmiah dan sejarah dunia yang sempat menjadi perhatian publik. Semisal buku karangan Michael Backman “Asia Future Shock” yang menceritakan prediksi-prediksi masa yang akan datang dan beberapa futurolog para pakar dunia yang lain juga memprediksi-prediksi dunia. Dari narasi ilmiah dan sejarah dunia, pada kajian ini mencoba memberikan harapan terhadap Indonesia melalui sejarah perkembangan Indonesia dari aspek gerakan sosial dan politik, kondisi bangsa Indonesia pada saat ini. Selanjutnya, Husen Arifin, yang mencoba memberikan motivasi melalui karyanya “Spirit Kewirausahaan Mahasiswa PTAI: Menuju SDM Berbasis Syari’ah dalam Menghadapi Tantangan Global”, ia berusaha mendeskripsikan spirit kewirausahaan (entrepreneurship) mahasiswa PTAI berbasis syari’ah, Membudayakan spirit kewirausahaan (entrepreneurship) mahasiswa PTAI berbasis syari’ah. Juga, meningkatkan strategi sumber daya manusia (SDM) berbasis syari’ah dalam menghadapi era globalisasi. Selain itu, Muhklis Fahruddin juga mengagas pemikirannya tentang “Orientasi Humanis Pendidikan Islam dan Masa Depan Kemanusiaan”, dan Abdul Qodir Muslim tentanng “Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Islam: sebuah Harapan dan Tawaran”. Dalam karya mereka mencoba memberikan tawaran atas masa depan pendidikan Islam.


LoroNG kali ini, menyajikan pula studi hasil penelitian tentang “Studi Morfologi dan Analisis Populasi Kodok Batu (Limnonectes macrodon) di Lingkungan UIN Maliki Malang”, yang merupakan karya Fitroh Sani. Dari hasil penelitiannya kodok batu di lingkungan UIN Maliki Malang mengalami cacat fisik dan populasi yang jauh di bawah kategori untuk dikatakan sebagai lingkungan yang alami. Solusi yang dapat diupayakan adalah penghijauan lingkungan UIN Maliki Malang sebagai langkah penyeimbangan ekosistem. Selanjutnya, tentang “Poligami dalam Pandangan Agamawan dan Budayawan; sebuah Analisis Deskriptif Pemikiran Aa Gym dan Cak Nun” karya hasil penelitian Liza Wahyuninto dan Siti Zulaikha, pada penelitiannya, mereka bermaksud melakukan library research pemikiran Abdullah Gymnastiar dan Emha Ainun Nadjib melalui karya mereka sebagai sumber primernya. “Aa Gym Apa Adanya: sebuah Qolbugrafi”, karya dari Abdullah Gymnastiar dan “Istriku Seribu: Polimonogami, Monopologami…”, karya dari Emha Ainun Nadjib. Selain topik yang diperbincangkan di atas, Indah Rahmawati menambahkan book review dengan judul “Menanamkan Karakter Ulul Albab dalam Jiwa Sivitas Akademik” dari buku Tarbiyah Ulul Albab: Melacak Tradisi Membentuk Pribadi. Ia mencoba memberikan referensi karakter ulul albab, sehingga kita bias menamamkannya pada jiwa kita. 


Cukup lengkap jika membicarakan manusia Ulul Albab, berspiritual atau berintelektual menjadi pilihan yang harus dipilih keduanya untuk memperoleh gelar sarjana ulul albab. Kiranya, LoroNG kali dapat memberikan kontribusi dalam mencapainya. Demikian, maksud kami, semoga bermanfaat. Selamat membaca jurnal LoroNG LKP2M[]

Pemimpin Redaksi LoroNG
Bayu Tara Wijaya

Categories
Thinker

Look for the Truth (1)

Mencari Kebenaran (1)
Oleh  Bayu Tara Wijaya

Kewajiban ber-Ramadhan salah satunya adalah puasa. Berpuasa di bulan Ramadhan haruskan dijalani sesuai prosedur yang sudah ditentukan ulama’ ahli fikih? Ini yang sering muncul dalam otak kecil yang penuh dengan pernak-pernik kenakalan olah otak. Bahkan bukan hanya berpuasa saja, termasuk salat, bersedekah, dan lain sebagainya juga selalu terpikir kenapa demikian.

Kebosanan atas aktivitas yang stagnan, tidak ada inovasi atau model terbaru, lemahnya kemampuan untuk berpikir ke arah pembaharuan menjadi alasan kenakalan berpikir tersebut. Usaha-usaha untuk tidak selalu penat dengan yang namanya ubudiyah sudah banyak dilakukan. Namun, tak semudah menemukan ide-ide kreatif dalam menjalankan sebuah organisasi.

Anggap, urusan ubudiyah yang biasa kita jalani adalah sebuah organisasi. Mestinya, ia harus memiliki visi, misi, tujuan, sekaligus aksi. Program kerja yang terstruktur rapi, sebuah plan B dalam mengatasi problematika berorganisasi menjadi suatu keharusan untuk dimiliki. 

Benarkah demikian, jika memang kita berorganisasi dengan Tuhan, lantas jawaban apa yang pantas untuk menjawab, apa visi, misi, tujuan sekaligus aksi Tuhan dalam organisasinya. Kita sebagai manusia, termasuk dalam struktural manakah? 

Semakin tidak jelas bukan, kita siapa, dan Tuhan itu siapa? Katanya, Tuhan adalah orang kita sembah karena menciptakan kita, dan kita (manusia) adalah orang yang menyembah pencipta (Tuhan). Sama seperti bulan Ramadhan, kenapa kita harus berpuasa, harus begini, begitu, dan lain sebagainya. Adakah program kerja baru yang dibuat Tuhan. Tidakkan Tuhan mengikuti perkembangan zaman. 


Sudahlah, dengan keterpaksaan karena tidak tahu penjelasan detil atas semua. Sebuah kitab (Quran) yang sakral pun malah menjadi ajang berkreasi manusia untuk berpikir kreatif, katanya. Betulkah berpikir kreatif, apa bukan malah berpikir nakal?


Hanya petunjuk nurani diri kitalah yang berkata benar. Semuanya tidak benar, semuanya adalah benar. Terserah ke mana hati kita mengarah, meskipun tidak tahu siapa operator hati kita dan bagaimana cara mengoperasikannya.

Categories
Thinker

Destiny of the Departure the Hajj in Village

Nasib Keberangkatan Haji Wong Ndeso
oleh Bayu Tara Wijaya
 
Alhamdulillah, biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun 2010 sudah disepakati pemerintah dan DPR sebesar USD 3.342. Nasib para warga yang berniat untuk menjadi “pak kaji” atau “bu kaji” sudah sedikit lega, tinggal nasib warga yang menunggu jadwal kapan keberangkatan hajinya tiba?

Para muslim Indonesia—calon “pak kaji” atau “bu kaji”—tiap tahun harus disuruh lebih sabar. Entah ujian menunggu keberangkatan haji atau apapun. Namun ada sedikit yang miris, bahwa warga yang menunggu keberangkatan haji sekitar 5-7 tahun lamanya hanya diperuntukkan bagi warga kalangan bawah (wong ndeso), tidak bagi warga kalangan atas (dosen, anggota DPR, kepala perusahaan kaya, dan lainnya).

Ketidakadilan atau kebijaksanaan (kebijakan) yang membedakan antara kalangan bawah dan kalangan atas. Lagi-lagi, bersabarlah orang kalangan bawah karena harus selalu di bawah (khususnya atrian haji). Tidak seperti kalangan atas, sekarang daftar haji tahun ini berangkat hati jarang yang menunggu 5-7 tahun lagi, bahkan ada yang berhaji setiap tahun tanpa antri. Tetapi, bagaimana lagi uang tidak cukup kalau tidak diimbangi dengan kekuasaan. Ya nasib…!

Categories
Thinker

Guarding the Circulation of LPG 3 Kg

Mengawal Peredaran LPG 3 Kg
Oleh Bayu Tara Wijaya

Tidak sekali ataupun dua kali, namun berkali-kali, yakni meledaknya tabung LPG berat 3 kg yang mengakibatkan meninggalkan beberapa wagra. Banyak praduga yang bermunculan, mulai dari adanya tabung LPG bajakan, hingga ketidakmutunya tabung LPG yang diproduksi pabrik.

Cukup menjadi sebuah koreksi bagi kita semua atas tindakan-tindakan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut. Namun yang aneh, semua LPG berat 3 kg yang beredar di masyarakat adalah tabung LPG produksi PT Pertamina. Kemudian, pendistribusian tabung isi ulang dilakukan oleh agen-agen resmi dan mendapat izin dari PT Pertamina, tentunya.

Inilah realita, modus apa yang menjadi latar belakang dari peristiwa-peristiwa kecelakaan meledaknya tabung LPG 3 kg. Jika memang dari pihak pembuat LPG bajakan adalah pelakunya, maka PT Pertamina harus lebih membuat sistem kontrol dan evaluator tabung LPG dalam rangka pengawalan peredaran LPG. Berbeda ketika dari pihak produksi penyebab utamanya, maka PT Pertamina berhak melakukan penarikan dan pengantian tabung LPG 3 kg yang beredar, pengantian biaya berobat bagi korban kecelakaan dari ledakan tabung LPG dan lain-lain.

Meskipun sikap bijak itu sudah dilakukan PT Pertamina, nyatanya akan masih banyak warga yang tidak tercover atas sikap PT Pertamina. Sehingga, alangkah baiknya dilakukan sosialisasi secara masal. Sebab, kasus ini bukan kepentingan hidup sepihak, tetapi keselamatan hidup bersama.[]