Categories
Buku

Mengarifi NU dari Khittohnya

Mengarifi NU dari Khittohnya

Oleh Bayu Tara Wijaya*

Judul : NU dan Keindonesiaan
Penulis : Mohamad Sobary
Penerbit : PT Gramedia Pusat Utama, Jakarta
Tebitan : I, 2010
Tebal : xviii + 258 halaman
ISBN : 978-979-22-5627-7

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi tertua yang baru saja melakukan muktamar ke-32 di Makassar tanggal 22-27 Maret 2010. Lanjut, pembentukan pengurus oleh tim formatur terpilih yang akhir-akhir ini membawa banyak perdebatan polemik atas susunan kepengurusan Pengurus Besar Nahhdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015.

Ungkapan bijak dalam menyikapi polemik yang sempat dilontarkan oleh anggota formatur mewakili Indonesia timur yang juga Ketua Pengurus Wilayah NU Nusa Tenggara Timur Abdul Kadir Makarim di Jakarta. Beliau menegaskan untuk berupaya menjaga keutuhan NU itu harus dilakukan dengan menegakkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga atau AD/ART NU yang telah mengatur secara jelas soal kepengurusan NU (KOMPAS.com, 22/4/2010).

Kendati demikian, isu-isu yang tercatat langsung ke raut NU bukan sebuah tinta hitam menetes ke dalam bak air yang karena tinta tersebut perlu adanya pergantian isi. Melainkan adalah polemik penyubur atas kebesaran NU dengan identitasnya sebagai organisasi tertua di Indonesia. Maka, sangatlah perlu untuk mengetahui jalan cerita gerak NU yang mencitra di Indonesia hingga saat ini. Mengapa demikian?

Patut dibanggakan dan diapresiasi, sebuah pernyataan tentang harapan besar terhadap peran ideal NU yang merupakan alur cerita NU di bidang kebudayaan, keagamaan, politik, dan juga ekonomi kerakyatan yang diolahdatakan dan terumuskan dalam sebuah rangkuman pendapat NU dan Keindonesian karya Mohamad Sobary, seorang kolumnis yang mengulas persoalan-persoalan kebudayaan dan pembelaan terhadap kaum tertindas dan lemah.
Dorongan Kritis
Beberapa aspirasi yang terkumpul dalam buku ini memberikan dorongan kritis kepada para pemimpin baru NU—terpilih melalui muktamar ke-32—untuk dapat dijadikan landasan perumusan kebijakan publik dalam satu periode kepemimpinan.

Meskipun rambu-rambu kuning bertanda, “tanaman belum berbuah tetapi sudah diserang benalu; kepemimpinan belum berjalan tetapi sudah diuji kesabaran—seperti isu-isu yang tercatat dibeberapa pekan lalu”. Berpikir kritis konstruktif dengan langkah-langkah arif sesuai AD/ART NU kiranya dipupuk dan dijadikan pijakan sebelum lama kepengurusan satu periode dari mandataris muktamar ke-32 berjalan.

Dorongan, NU sejatinya harus kembali ke khittoh-nya lagi. Ungkapan apik yang beberapa tahun lalu Cak Nur, asal Jombang secara tajam pemikirannya: “Islam yes, partai Islam no”. Mbok yo NU tetap menjadi organisasi sosial keagamaan yang kiprah utamanya mempererat ukhuwah islamiah umat, terutama di bidang pendidikan dan sosial-ekonomi.

Hal senada harapan seorang romo “Mudji Sutrisno”, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara berpendapat, semogalah NU yang rahmatan lil ‘alamin terus mewujud dan menemukan aktualisasi seturut perkembangan zaman. Maka pemimpin NU yang mendalam dan kuat dalam tradisi kitabnya, sekaligus pengayom, pemberi ruang-ruang hidup bagi para nahdliyin, serta perekat untuk Indonesia yang majemuk menjadi dambaan.

Seperti dahulu, keperpihakan NU sebagai salah satu jalan raya menggapai pemikiran dan nurani rakyat. Realita, para kiai dan satri menjadi tumpuan masyarakat dari kegundahan, kepahitan, dan kepedihan sebagai rakyat jajahan. Sebab, kiai dan santri yang memahami apa artinya belenggu feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme yang mencederai kemanusiaan.

Masa itulah, NU berperan besar dalam perjuangan pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia dalam mematahkan artinya belenggu feodalisme, kolonialisme, dan imperialisme, serta menjadi pelopor Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terbukti, perjuangan NU tersebut kita ketahui dipimpin oleh ulama besar Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan K.H. A. Wahid Hasyim, yang semangat perjuangan kedua ulama besar NU itu diteruskan oleh K.H. Abdurrahman Wahid (pangilan akrabnya Gus Dur) dalam ruang dan dimensi yang berbeda saat beberapa kiprah Gus Dur.

Berbeda saat ini, setelah tokoh fenomenal Gus Dur yang pemikirannya menyatukan loyalitas intuisi (naqliyah), keterbukaan rasional (aqliyah), dan otentisitas empiris, siapakah tokoh representatif penganti Gus Dur? Sebagaimana kegundahan Giripurwa, staf pengajar Fisipol Universitas Bengkulu, beliau mencoba mempopulerkan Gus Mus (Mustofa Bisri) dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang berasal dari golongan nadhliyin, sebab soal spirit dasarnya dalam menyikapi dan menindaki kebajikan cukup bagus, meski tidak sereplika pribadi Gus Dur.

Kembali ke Khittoh
Adalah khittoh, Prof. Dr. M. Bambang Pranomo, dosen Sosiologi Agama UIN, Ciputat-Jakarta dalam NU dan Keindonesiaan, menyebutkan, ketika isu terorisme menjadi perhatian dunia dan Islam menjadi tertuduh, sebetulnya tugas NU sangat besar untuk menetralkan tuduhan Islam sebagai agama teroris tersebut. Sebab, prinsip umum ajaran sosial-politik NU yang mengambil pola Sunni, yakni sikap tawassuth, tawazun, dan tasamuh serta al-mukhafadhoh bi al-qodim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah, kiranya sangat penting dalam upaya membendung gerakan terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Tesis berbeda, ketika Benny Subinto, peneliti dalam sumber yang sama, ia mengutip tulisan Clifford Geertz, 1958, berjudul “The Javanese Kijaji: the Changing Role of a Cultural Broker”, dikatakan bahwa sekarang para kiai—tidak lain salah satunya adalah kiai NU dan santri NU—berperan secara instrumental menuju masyakat Indonesia baru. Berbeda dengan masa sebelumnya, masa kolonialisme Hindia Belanda, para kiai menjalankan fungsi sebagai cultural broker untuk menjembatani komunitas NU yang agraris-tradisional dengan elite nasional yang modern.

Geertz membayangkan, jika saja para kiai NU, khususnya di Jawa, tidak menjalankan fungsi kiai sebagai cultural broker, sangat boleh jadi Islam di Indonesia akan mengikuti kecenderungan politik negara-negara Timur Tengah yang penuh dengan korupsi, tidak ada tanggung jawab, dengan pemimpin yang sekuler tetapi hipokrit secara agama.

Benar, ketika NU harus kembali ke ruh yang dahulu. Khittoh yang lama juga tidak dikatakan jadul (kuno), bahkan fungsi kiai dahulu juga tidak tertinggal dengan yang namanya modernitas.
Pasalnya, khittoh NU tidak diragukan lagi dalam kenegaraan NKRI, kiranya sudah final. Tak pelak dengan keteguhan dasar kemasyarakatan NU terhadap nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, toleransi, dan hidup berdampingan secara aman, nyaman dan damai dalam pluralisme kehidupan.

Cukup lama, gagasan “NU kembali ke Khittoh 1926”. Pada muktamar ke-27 di Situbondo (Jatim) saja diputuskan NU kembali ke Khittoh 1926, Keputusan Muktamar XXVII NU No. 02/MNU-27/1984 yang keputusan tersebut juga berangkat dari hasil muktamar ke-26 di Semarang tahun 1979. Kemudian, dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta 1989, keputusan kembali ke Khittoh 1926 semakin dipertegas, dan semakin dimantapkan.

Dengan adanya Muktamar NU ke-32 kemarin, kiranya para pemimpin NU pada periode 2010-2015 menjadi tumpuan atas harapan-harapan masyarakat dan umat nahdliyin khususnya. Sebuah harapan, kritikan, aspirasi, dan realita yang terangkup dalam NU dan Keindonesian cukup menjadi catatan dan tugas kepada kepemimpinan NU pada satu periode saat ini.

Mudah-mudahan cita-cita NU dan nahdliyin-nya dapat tercapai yang berimplikasi pada keamanan dan kenyamanan hidup di masyarakat yang notabene negara Pancasila ini. Semoga.[]

Categories
Thinker

Becoming Angel Anti-Corruptor

Menjadi Malaikat Antikoruptor
oleh Bayu Tara Wijaya

Pasca pemberhentian Antasari Azhar dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga saat ini banyak yang melakukan perdebatan terhadap kriteria para calon pimpinan KPK. Seperti, Sabtu (29/5) di Jakarta digelar diskusi mengenai seleksi pimpinan KPK di Trijaya Network yang dihadiri Panitia Seleksi Pimpinan KPK Rhenald Kasali; Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana; dan Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi Fadjroel Rachman.

Sempat besar, KPK dijuluki sebagai malaikat maut bagi para koruptor di Indonesia ini. Akankah KPK akan selalu menjadi malaikat dalam mengadili para koruptor setelah beberapa kasus-kasus miris di tubuh KPK kemarin.

Meski demikian, KPK sebagai malaikat yang mengadili para koruptor hendaknya kembali konsisten dan keeksistensinya tetap terjaga. Memang benar, sebagai wakil orang yang membela keadilan tidaklah mudah. Sebab, setiap orang yang benar akan dimusuhi oleh orang yang tidak benar, dan orang benar lebih sedikit daripada orang tidak benar. Benarkah? Semoga pimpinan yang datang lebih baik.(bersambung…)

Categories
Thinker

Save the Mental and Character of Our Students

Selamatkan Mental dan Karakter Anak Didik
Oleh Bayu Tara Wijaya

Ada sebuah perbincangan di media massa pada beberapa minggu lalu yang membincangkan topik “Pembelajaran dari Konkret ke Abstrak” yang diusung dari pakar pendidikan Jean Piaget dan Montessori. Seperti yang dicontohkan pada kasus pembelajaran Matematika pada anak usia dini, yakni menggunakan alat peraga untuk mengenalkan berhitung. Layaknya perlu dikaji kembali, mengingat pentingnya penanaman konsep pada anak didik seusia dini.

Merujuk tentang anak usia dini pada pasal 28 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 ayat 1, yang termasuk anak usia dini adalah anak yang masuk dalam rentang usia 0–6 tahun. Pada umur ini, anak memasuki tahap pra pendidikan dasar. Usia dini ini adalah rentang penentu anak didik, ketika penanaman konsep diri anak didik sejak awal (input) sudah tidak bagus, selanjutnya dipastikan menghasilkan hasil (output) kemungkinan tidak bagus pula, dan begitu sebaliknya.

Fase usia dini, anak didik dapat ibaratkan sebuah kertas putih yang akan digambarkan dan dirumuskan mental dan karakter kedewasaan anak didik ke depan. Sejak lahir, orangtua menjadi peran pertama atas tangungan dan hak untuk membentuk mental dan karakter anak didiknya. Seperti, sifat traumatis yang berkelanjutan adalah sifat normal anak usia dini. Tatkala anak didik mengalami traumatis, misalnya salah satu yang terceritakan dibeberapa isu-isu tentang gagalnya siswa-siswi dalam ulangan Matematika atau kekerasan fisik yang mengakibatkan kerusakan mental dan karakter.

Bukan salah anak didik untuk tidak gagal dalam belajar, namun pembelajarannyalah yang perlu kita runtun kembali, apakah sudah sesuai dengan penanaman konsep anak usia dini? Sebuah referensi, anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan suatu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur dan perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Sebagai makhluk sosio-kultural, ia perlu tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan sosial tempat ia hidup dan perlu diasuh dan dididik sesuai dengan nilai-nilai sosio-kultural yang sesuai dengan harapan masyarakatnya (orangtua nomor satunya).

Dalam pembelajaran anak didik seusia dini, pemberian motivasi menjadi bagian terpenting dalam pengembangan mental anak didik. Pasalnya, ketika seorang pendidik (orangtua) memberikan sebuah penghargaan sebagai apresiasi dari kreativitas anak didiknya, hal ini akan membuat anak didik lebih bersemangat dan percaya diri dalam mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Namun berbeda, ketika anak didik melakukan kesalahan dan pendidik seketika langsung melakukan tindakan bersifat tidak humanis (membentak, memarahi dan sebagainya) yang malah akan memberi efek pada kegagalan membangun mental dan karakter anak didik seusia dini.

Usia dini menjadi usia bermain bagi anak didik, jadi seluruh kegiatan pembelajaran harusnya bersifat menyenangkan dan harus dihindarkan dari sifat tidak humanis, apalagi sampai pada kekerasan fisik dan nonfisik. Sebab, anak dalam rentang usia dini cara berpikirnya sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Kecenderungan anak usia dini selalu berpikir convergent dalam menghadapi suatu problem. Jauh sekali dengan orang dewasa yang nalar pikirnya divergent. Ketika anak menghadapi suatu masalah, misalnya anak usia dini sedi ditandakan menangis, anak usia dini ketika senang maka tertawa, dimarahi maka menangis, dan seterusnya.

Kekerasan di Usia Dini
Dalam masa-masa dini seperti ini, pendidik atau orangtua harus menghindari beberapa kekerasan terhadap anak. Kekerasan di sini, bukan hanya kekerasan fisik, tetapi nonfisik yang paling berbahaya daripada kekerasan fisik. Kekerasan fisik akan membekas luka kecil dan dibawa ke doctor masih bias disembuhkan asalkan tidak keterlaluan. Namun, apabila kekerasan nonfisik, seperti menjatuhkan mental anak didik, mentraumatiskan anak didik dengan sesuatu hal, dan contoh lainnya akan memberikan bekas yang sangat susah disembuhkan. Sebab, kekerasan nonfisik menyerang karakter dan mental anak didik bukan fisik yang mudah terobati.

Andaikata mau mencermati pola pikir anak usia dini yang convergent, pendidik atau orangtua perlu hati-hati dalam penanaman konsep pada anak didik seusia dini. Praktik yang menjalar di penghujung tahun 2009 berdasarkan data yang dihimpun oleh Samitra Abhaya Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Jatim, terdapat 224 kasus kekerasan terhadap anak, dan untuk Kota Surabaya terdapat 163 kasus yang terhitung kota terbanyak terjadinya kekerasan anak.

Kegagalan membangun konsep pada anak usia dini adalah sama halnya kegagalan pembangunan nasional bangsa, khususnya di dunia pendidikan yang menjadi media penanaman konsep pada anak didik seusia dini. Dari sumber yang sama, KPPD Jatim memberikan data kekerasan anak di lingkungan pendidikan, yakni pendidikan formal 24 kasus dan pendidikan informal 2 kasus pada tahun 2009.

Singkatnya, pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini, masih belum bisa dikatakan berhasil. Meskipun dalam informasi Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini tercatat sekitar 1528 Satuan PAUD Sejenis (SPS) di Jatim. Dari segi ketenagaan pendidik, sebagaimana KPPD Jatim kekerasan lebih banyak terjadi lingkungan formal ketimbang di lingkungan informal. Sebagai pendidik atau calon pendidik, tidak lain orangtua menjadi bagian dari pendidikan informal anak didik perlu melakukan transformasi sikap dalam mendidik anak khususnya mereka yang di usia dini.

Kesalahan penanaman konsep anak usia dini menjadi poin terpenting dalam pengawasan pendidik untuk menuju kematangan anak didik ke tahap berikutnya. Setelah tahap ini, juga sangat penting bagi para pendidik untuk tidak melalaikan tahap setelah anak keluar dari fase usia dini. Tugas pendidik bukan sekadar pada usia dini saja, melainkan hingga akhir hayat anak didik. Salah konsep bisa berakibat fatal di masa datang mengingat masa depan anak didik adalah masa depan orangtua, nusa, dan bangsa.

Categories
Buku

Imitation in Social-Islam Learning

Imitasi dalam Pembelajaran Sosial-Islam

Judul Buku : Islam dan Pembelajaran Sosial
Penulis : Muhammad Amin Nur, M.A
Penerbit : UIN Malang Press
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : viii + 112 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya

Pembelajaran adalah suatu proses yang setiap manusia pasti akan melawatinya. Melalui proses ini manusia dapat menjadi dewasa secara umum, dan khususnya dewasa pada bidang keilmuwan tertentu. Proses ini mau tidak mau harus diupayakan bagi manusia yang normal. Jadi, manusia yang ingin sampai pada suatu tujuan tanpa proses pembelajaran tidaklah mungkin. Kisah manusia yang dalam Islam, manusia pertama adalah nabi Adam, semenjak diciptakanlah nabi Adam, Allah swt juga menerapkan konsep pembelajaran pada Nabi Adam.

Karenanya, manusia haruslah menjadi manusia yang pembelajar, melalui beberapa pembelajaran-pembelajaran ilmu pengetahuan melalui realitas alam sekitar. Minimal ketika perkembangan intelektual semakin berkembang, dan kita sendiri yang secara percaya dirinya mengakukan sebagai manusia tentu harus menyeimbangi perkembangan tersebut dengan ilmu pengetahuan, tidak lain dengan beberapa proses pembelajaran.

Sebagai manusia normal minimal harus memiliki usaha untuk memahami minat, bakat dan potensi yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada kita. Sehingga dari proses pemahaman ini kita dapat mengaktualisasikan minat, bakat dan potensi diri untuk kemaslahatan diri, masyarakat, dan alam ini.

Rujukan Islam dan Pembelajaran Sosial yanga ditulis oleh Muhammad Amin Nur menawarkan konseptual sebagai salah satu usaha untuk menyumbangkan tesis berupa pembelajaran sosial melalui contoh-contoh dan kisah-kisah natural-historis ala sosial-Islam sebagai referensi kematangan manusia pada umumnya.

Amin Nur meningatkan, bahwa kata kunci dari proses pembelajaran adalah proses perubahan. Karena melaui proses pembelajaranlah manusia dapat berkembang lebih baik dan sempurna yang kalau kita mengaku biar tidak seperti makhluk lainya.

Tanpa adanya proses pembelajaran yang memadahi, mustahil diri manusia dalam kehidupannya dapat berkembang ke arah lebih baik. Perkembangan kecakapan bicara, misalnya, setiap bayi yang normal memiliki potensi untuk cakap berbicara seperti ayah bundanya, namun kecakapan anak tersebut tidak akan pernah terwujud dengan baik tanpa upaya belajar walaupun proses kematangan organ-organ mulutnya telah selesai.

Hal ini pernah dilakukan percobaan oleh Kingsley Davis dalam Soekanto (2005), bahwa ia menyekap seorang bayi bernama Anna di sebuah loteng rumah petani di Pennsylvania. Alhasil, anak tersebut menunjukkan sifat-sifat berlainan sama sekali dengan anak lain yang seusianya; Anna tidak dapat berjalan, mendengar, bahkan tidak dapat makan seperti manusia pada umumnya.

Contoh lain juga pernah diungkapkan oleh Muhibbin Syah dalam Amin Nur, bahwa seorang anak normal pasti memiliki bakat untuk bias berdiri tegak di atas kedua kakinya. Namun, karena anak tidak hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat social, misalnya diasingkan/dibuang ke tengah hutan belantara bersama hewan, maka bakat berdiri yang ia miliki secara turun-temurun dari dari orangtuanya itu akan sulit diwujudkan. Sehingga, ketika ia belajar dengan lingkungan sosial hutan tentu ia belajar berjalan di atas kedua kakinya, dan tangannya serta merangkak seperti serigala misal.
Imitasi (niru)
Dalam pembelajaran manusia sejak lahir hingga tumbuh dan berkembang menjadi dewasa pasti melalui proses imitasi (meniru) perilaku orang-orang di sekitarnya. Sejak saat itulah ia dipengaruhi lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun sosial (masyarakat). Proses imitasi ini juga sepadanan dengan al-Quran dalam surat al-Hasyar ayat 7, yang artinya: “Dan apa yang diberikan rasul pada kalian maka ambil/ikutilah dan apa yang dilarang Rasul pada kalian maka jahuilah.”

Sama halnya ketika Rasulullah saw mengajarkan agama Islam kepada masyarakatnya maka Rasulullah mengutamakan pendekatan imitasi terlebih dahulu sebelum melakukan pendekatan-pendekatan lainnya. Oleh karena itu, sebelum pengangkatan sebagai Nabi, Rasulullah sudah menjadi contoh atau teladan masyarakatnya sehingga ia telah dikenal sebagai al-amin, yaitu orang yang jujur. Kalau dalam istilah Jawa, imitasi adalah niru, yang urutan kedua dari proses pembelajaran Jawa, yakni niteni, niru, lan nambahi.

Dengan begitu berarti kepribadian seseorang merupakan gabungan antara hereditas atau potensi bawaan (intrinsik) dengan pengaruh lingkungannya (ekstrinsik). Jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang baik, maka atas pengaruh lingkungan tersebut anak akan cenderung berkepribadian baik. Sebaliknya, jika seorang dibesarkan dalam lingkungan yang buruk, maka kemungkinan besar ia akan berkepribadian buruk.

Sebutan lain, tesis kecil tipis ini berhamburan referensi penting bagi kita untuk menjadikan diri kita sebagai manusia sempurna, dan rujukan tips dalam mengekstinsikkan masa depan anak bangsa untuk menjadi pribadi yang baik.[]

Categories
Matematika

Zeros Become Victims of non-Math

Angka Nol Menjadi Korban Non-Matematikawan
oleh Bayu Tara Wijaya

Telaah Angka
Singkat dari sebuah cerita munculnya angka yang dimulai dengan munculnya angka satu. Angka satu ini muncul dari bangsa Barat, yang konon ceritanya dalam perhitungan jumlah hanya ada dua pilihan, yakni jumlah sesuatu dengan jumlah satu atau jumlah sesuatu dengan jumlah banyak. Jadi, dahulu ketika sesuatu itu lebih dari satu, maka dikatakan berjumlah banyak.

Seiring perkembangan, muncullah angka dua. Dalam praktiknya, penjumlahan dengan angka dua ini sedikit memelik kejelasan. Misalkan, ketika seseorang memiliki barang yang berjumlah lima, maka cara menyebutkannya yakni dengan faktor kelipan dua, sehingan untuk jumlah lima cara mengucapkannya dua, dua, dan satu.

Terus berkembang di dunia Barat, dari angka satu hingga angka 9. Historisnya, ada satu angka yang muncul dari dunia Timur, yakni angka nol. Kebetulan angka ini di-release oleh tokoh Islam, yakni al-Khawarizmi. Berkat beliau, bangsa Barat yang awalnya benar-benar jaim dengan orang timur, akhirnya secara terpaksa angka nol pun diterima oleh mereka. Sebab, angka ini memiliki keunikan. Salah satunya, berkat angka nol dapat mempermudah perhitungan dalam jumlah banyak.

Angka pada Realita
Terusalah berkembang, angka-angka berkembang sesuai strukstur social budaya negara masing-masing. Sehingga muncullah banyak gaya penulisan angka-angka, seperti angka romawi, angka arab, dan lain sebagainya.

Pada abad kini, penulisan angka yang sering kali kita gunakan adalah angka arab (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0). Angka ini sangat akrab dengan masyarakat. Tetapi perlu kita cermati, pertama, dari susunan angka arab tersebut, semisal dalam keyboard sebuah komputer, kalkulator, atau dalam mesin-mesin apapun. Angka nol berada diurutan terakhir. Padahal kenyataanya, dalam urutan yang sebenarnya angka nol ada di depan. Tugas kita untuk mencermati kenapa hal itu terjadi?

Kedua, dalam pengucapan angka nol, kebanyakan masyarakat Indonesia (khususnya), sehingga mengucapkan dengan sebutan ‘nol’ dengan ‘kosong’. Padahal perlu digarisbawahi, ‘kosong’ tidak mempunyai nilai. Berbeda dengan nol, ia masih ada nilai. Macopat dari penulis, jangan-jangan masyarakat kita terkonstruk dengan teori Tong Sam Cong dalam film Kera Sakti, “Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.” Sehingga kita mengartikan kosong itu ada nilainya.

Sedikit perlu saya sampaikan pada para pembaca tulisan ini, untuk memulai meluruskan kesalahan publik ini, biar kita tidak ditertawakan oleh orang luar. Walaupun kita bukanlah sarjana Matematika yang tidak menengal teori bilangan, tetapi minimal kita tidak salah kaprah yang terus-menerus.

Mungkin inilah budaya, sehingga nasib angka nol menjadi korban oleh orang-orang non-matematika, dan bahkan juga masih ada orang matematika yang juga salah. Cerita ini sama halnya dengan teori bahasa Indonesia. Banyak contoh kata yang tidak baku, tetapi masih dianggap benar, dan lebih parahnya ditingkat pendidikan pula, juga masih salah kaprah dalam mengunakan kebakuan bahasa dalam tulisan maupun perkataan.

Sebagai para pemerhati, atau orang pengangguran sekalipun. Usaha melakukan hal baik dengan cara yang baik, untuk kepentingan baik, perlu diperjuangkan dan wajib dilakukan. Terima Kasih…!

Categories
Paper

Arts of Learning Math

Seni Belajar Matematika
Oleh Bayu Tara Wijaya

A. Prolog
Berbica matematika memang membuat kening berkerut. Apalagi melihat banyaknya simbol-simbol dan model perhitungan matematika. Percaya atau tidak, mempelajari matematika tidak semuda membaca buku-buku sosial. Terlebih, ketika literatur yang digunakan berbahasa asing. Tentunya akan lebih sulit lagi bagi kita untuk mudah akrab belajar matematika.

Banyak orang yang memandang matematika sebagai ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambang-lambang dan rumus-rumus yang rumit dan membingungkan. Mereka mungkin mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika belajar matematika di sekolah; akibatnya, mereka tidak menyukai matematika. Bagi mereka matematika merupakan ilmu yang tidak banyak berhubungannya dengan dunia nyata dan manusia, serta tidak banyak gunanya kecuali untuk menghitung hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari (Frans, 2003: 224).

Maka dari itu, ada sebuah pepatah umum yang mengatakan: “Tidak kenal maka tidak sayang.” Mungkin pernyataan ini sangat cocok diberikan pada mereka yang memandang matematika secara miris. Sebab, mereka tidak begitu kenal dengan matematika hingga menganggap matematika tidak ada gunannya.

Untuk itulah sangat diperlukan seni belajar matematika secara mandiri. Sebab, proses belajar matematika adalah rekreasi yang sesungguhnya. Artinya belajar adalah proses penyegaran diri kita menjadi diri yang baru lagi, segar lagi. Rekreasi sendiri memiliki paradigma kenyamanan pada apa-apa yang nyaman buat indera dan seleranya (Evawati dan Eko, 2007: 129). Sehingga untuk belajar matematikan pun dibutuhkan kenyamanan, kesegaran seraya bermain di dunia rekreasi.

Oleh karena itu, guna optimalisasi keprofesional lulusan matematikawan perlu diungkap beberapa teori terkait seni belajar matematika yang dapat digunakan pelajar atau mahasiswa. Apalagi, akhir-akhir ini ada banyak kesalahan pembelajaran matematika yang membuat para pelajar atau mahasiswa matematika ketakutan.

B. Apa Itu Matematika?
1. Defenisi Matematika

Secara mutlak, pengertian matematika tidak bisa dipatoki dan tidak bisa ditetapkan ‘inilah pengertian dari matematika’, tanpa adanya pembahasan ulang mengenai pengertian itu. Sampai saat ini, belum ada satu pun orang atau kelompok yang bisa menetapkan pengetian matematika dengan paten. Memang matematika bersifat universal, dia akan mempunyai pengertian yang berbeda-beda jika pengaplikasiannya berbeda pula.

Beberapa paparan, ketika matematika berada pada kelompok pedagang, matematika adalah ilmu hitung uang. Ketika matematika berada pada tukang kayu, matematika adalah ilmu ukuran. Dan masih banyak lainnya yang menafsirkan pengertiaan dari matematika (Abdussakir, 2007: Seminar Integrasi Matematika dan Islam).

Secara bahasa, kata “Matematika” berasal dari bahasa Yunani yaitu “mathema” atau mungkin juga “mathematikos” yang artinya hal-hal yang dipelajari. Bagi orang Yunani, metamatika tidak hanya meliputi pengetahuan mengenai angka dan ruang, tetapi juga mengenai musik dan ilmu falak (Abdussakir, 2007: 5). Sedangkan menurut Nasoetion (1980: 12) menyatakan bahwa matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathein” atau “Manthenein” yang artinya “mempelajari”. Orang Belanda, menyebut matematika dengan wiskunde, yang artinya ilmu pasti. Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ‘ilmu al hisab’, artinya ilmu berhitung.

Selain itu, menurut Bertrand (1872-1970) matematikawan pemenang nobel internasional, menyatakan bahwa “Matematika adalah satu-satunya ilmu pengetahuan dimana tak seorang pun mengetahui apa yang dikatakan begitu pula jika apa pun yang dikatakan itu adalah benar”. Sehingga di sini matematika merupakan dasar dari segala disiplin ilmu. Yang secara epistemologi, materi matematika itu sungguh tersusun rapi, ada urutan-urutannya mulai yang rendah sampai ke yang tinggi atau mulai yang tinggi baru ke yang rendah. Tepatnya, matematika itu bersifat hirarkis. Implikasi dari sifat hirarkis ini adalah pemahaman pada suatu konsep akan mempengaruhi pemahaman pada konsep berikutnya yang berkaitan (Abdussakir, 2007: 13).

2. Hakekat Matematika
Banyak mitos yang keliru tentang matematika yang beredar dalam masyarakat sampai saat ini sering kali mengamburkan hakikat matematika yang sebenarnya. Beberapa ciri matematika (Frans, 2003: 227):

Matematika bukanlah ilmu yang memiliki kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika adalah kebenaran nisbi.
– Matematika bukanlah ilmu yang tidak bisa salah.
– Matematika bukanlah kumpulan angka, simbol, dan rumus yang tak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya matematika itu tumbuh dari dan berakar dalam dunia nyata.
– Matematika bukanlah kumpulan teknik pengerjaan yang hanya perlu dihafal hingga siap pakai dalam soal-soal matematika.

Objek matematika adalah unsur-unsur yang bersifat sosial-kultural-historis.
Matematika merupakan pemikiran. Untuk mengkomunikasikannya, matematika telah mengembangkan suatu sistem labang yang rumit. Dalam matematika, seperti juga dalam kegiatan komunikasi lainnya, kita menartikan sebuah amban sebagai sesuatu pengertian yang tertangkap oleh panca indera kita, di mana lambang tersebut dipergunakan untuk menyampaikan arti dari kesadaran satu kepada kesadaran yang lain (Abdussakir, 2006: 87).

Oleh karena itu, semestinya dalam belajar matematika tidak ada tuntutan untuk menghafalkan rumus-rumus dan teorema-teorema, karena hal ini akan membuat jenuh. Biarkan matematika mengalir dalam diri seorang, dengan rasa tanpa beban hal ini akan lebih mudah dalam mempelajarinya. Maman Djauhari, guru besar ITB Jurusan Matematika pada Seminar tentang Integrasi Matematika dengan Islam, 2008, yang diselenggarakan oleh para Dosen Jurusan Matematika UIN Malang. Dalam pidatonya beliau menyampaikan, bahwa dalam belajar matematika tidak diperlukan hafalan, tapi yang diperlukan adalah ketekunan untuk mempelajari, artinya dengan seringnnya bergaul dengan simbol-simbol, rumus-rumus, dengan sendirinya kita akan mampu untuk ingat tanpa menghafalkan. Juga dikatan, seorang yang belajar matematika adalah orang pilihan, kenapa dikatan orang pilihan. Sebab kita masih sabar dan menekuni dalam bergaul dengan matematika. Matematikawan tidak butuh kepandaian, tapi ketekunan.

C. Seni belajar matematika a. Defenisi Belajar
Sampai sejauh ini kita sudah sering menggunakan istilah “belajar”, namun kita belum memberikan pembatasan apa belajar itu. Memang sebenarnya sangat sulit memberikan arti “belajar”. Karena “belajar” itu menyangkut psikologi kognitif yang dalam dan luas tidak sepatutnya dibicarakan oleh matematika. Walaupun demikian, kita berusaha sekadar memberikan pembatasan sederhana sehingga mempermudah menguraikan “belajar”. Belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku (Herman, 2005: 71).

Proses belajar tidak semudah memberi makan ayam. Maka perlu diketahui hal yang berhubungan dengan belajar adalah tahap proses belajar, suasana belajar, jenis belajar, cara belajar, ciri-ciri belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar (Supriyanto, 2007: 39).

Ada enam tahapan belajar yang dijelasakan oleh Rooijakkers (1980) dalam buku karangan Supriyatno (2007) adalah sebagai berikut:


Tidak Tahu

||
||
V
Proses Belajar:
1. Motivasi
2. Perhatian pada pelajaran/materi
3. Menerima dan mengingat
4. Reproduksi
5. Generalisasi
6. Melaksanakan tugas belajar dan umpan balik
||
||
V
Tahu


Gambar 1 Proses Belajar

b. Seni dalam Belajar Matematika
Matematika adalah ilmu yang menarik dan memiliki nilai seni tinggi menurut Amanto, M.Si., dosen Matematika UNILA. Ia juga mengatakan selama ini guru matematika lebih banyak mengajarkan matematika dengan cara didaktif. Padahal, pembelajaran matematika secara induktif dan problem solving atau penyelesaian masalah akan jauh lebih menarik dan membekas di kepala (baca: Lampung Post, 20/9/08). Tak kalah menariknya, pemecahan masalah matematika juga didefinisikan oleh Polya (1975) sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapai. Karena itu pemecahan masalah merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual yang tinggi (Herman, 2005: 74).

1. Seni Diskusi
Metode ini merupakan bentuk belajar di mana terjadi interaksi antara pemberi pengetahuan dan penerima pengetahuan. Diskusi dapat dilakukan pula dalam membentuk kelompok-kelompok kecil dan kelompok-kelompok ini melakukan pembahasan terkait materi-materi yang belum dapat dipahami serta kemudian informan utama atau pengajar sebagai pelurus bila terjadi pelencengan diskusi (Herman, 2005: 85).

Beberapa manfaat diskusi (Suprijanto, 2007: 97):

– Diskusi memberi kesempatan kepada setiap peserta untuk menyampaikan pendapatnya , dan mendorong setiap individu untuk mengambil sebuah keputusan.
– Diskusi mendorong partisipasi peserta. Mereka yang aktif secara fisik dan mental dalam diskusi belajar lebih banyak daripada mereka yang hanya duduk dan mendengarkan.
– Diskusi cenderung membuat peserta lebih toleren dan berwawsan luas.
– Diskusi dapat membantu kesalahpahaman dan mendorong untuk mendengarkan argumen.

2. Seni Belajar Sendiri
Kita akan tahu beberapa keanehan dalam belajar matematika. Terkadang kita melihat teman disamping bangku kita yang pada waktu belajar atau kuliah sering tidur dan tidak serius, tetapi ketika ujian ia bisa mengerjakan dengan baik. Dan ketika ditanya ia lebih mengerti belajar sendiri daripada diterangkan pengajar. Seni-seni belajar seperti inilah yang perlu kita kaji, apa yang membuat keanehan itu terjadi?
Di sisi lain, sudut agama Islam dalam Ta’limu Muta’alim dijelaskan, menuntut ilmu ada enam syarat, yakni cerdas, rajin, petunjuk guru, biaya, waktunya panjang. Dari keenam syarat tersebut tidak lain ada pentunjuk guru, jadi ketika belajar tidak ada penuntun dari seorang guru akan mengakibatkan proses belajar tersebut tidak sempurna yang akhirnya banyak menimbulkan kesesatan berpikir.

3. Seni Demonstrasi
Demonstrasi adalah cara menunjukkan bagaimana mengerjakan sesuatu. Isinya bermaksud memperlihatkan apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, erta menjelaskan langkah pengerjaanya (Suprijanto, 2007: 144). Semisal ketika kita dalam belajar matematika yaitu dengan seni demo seperti dalam mempresentasikan sebuah hasil kerja kita. Jadi bukan hanya individu yang memahami tetapi semuanya juga paham.
Selain itu, seni demo ini juga terkadang tertransformasi ke dalam media audio-visual yang di dalamnya berupaya memberikan kesan yang menarik sekaligus dengan dukungan audio-visual. Jadi seni demontrasi merupakan kegiatan yang bersifat ekspresi dan gerak, baik ekspresi perbuatan ataupun ekspresi ucapan (Asnawir dan Usman, 2002: 108).

4. Seni Laboratorium
Seni belajar ini, berkaitan dengan seni belajar sendiri. Sebenarnya matematika itu tiak sekedar membaca, tetapi belajar bekerja. Bagi kita belajar matematika semestinya sambil “ngelitis” atau sambil mempraktekkan dan mencoba untuk menemukan konsep-konsep sambil mengobservasi dan mencoba berjalan dari dunia kongkret ke abstrak (Herman, 2005: 89). “Ngelitis” biasanya dapat dilakukan pada waktu kita mencoba bermain-main dengan benda-benda dilikungan sekitar kita. Secara umum, kita misalkan pada sebuah konsep geometri, konsep ini yang sering kita jumpai atau bahkan pada tataran logika matematika yang membawa “ngelitis” pada dunia berfilsafat matematika.

Sebuah buku “biografi angka nol” menjelaskan bahwa tidak semua ahli matematika pandai dalam menyelesaikan soal matematika, pandai hitung atau lainnya. Tetapi ahli matematika juga terkadang pandai dalam satra dan seni matematika, atau filsafat matematikanya.

Tetapi, dalam kehidupan kita masih banyak para matematikawan yang hanya paham di tataran teoritis tidak pada hakekat. Jadi pada seni laboratorium ini mencoba para pelajar matematika mengkonstruksi pola-pola matematika (Herman, 2005: 89).

Seni laboratorium memang berkaitan erat dengan dunia riset, jadi matematika akan sedikit kita pahami melalui praktek matematika dan katakan saja praktek adalah membuktikan tentang konstruksi-konstruksi terkait matematika (Soeharso, 2003: 201). Tetapi sekarang lebih muda lagi, sebab dalam seni laboratorium sekarang berkembang ke arus global, sehingga seni laboratorium biasanya bernampak pada model belajar di laboratorium semisal uji rumus-rumus dengan software-software. Hal ini wajar, sebab prinsip realitas; matematika tumbuh dari dunia realitas oleh karena itu belajar matematika jangan lepas dari dunia realitas, baik pemahamannya maupun aplikasinya supaya lebih dihayati secara bermakna (Mumun, 2009).

D. Daftar Pustaka
Abdussakir. 2007. Makalah Seminar Tentang Integrasi Matematika dan Islam pada acara “Buka Bersama di bulan Ramadhan” yang diselenggarakan oleh HMJ tahun 2007
________. 2007. Ketika Kyai Mengajar Matematika. Malang: UIN Press.
Alisah, Evawati dan Dharmawan, Eko Prasetyo. 2007. Filsafat Dunia Matematika. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Asnawir dan Usman, Basyiruddin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers.
Aziz, Abdul dan Abdussakir. 2006. Analisis Matematika terhadap Filsafat al-Qur’an. Malang: UIN Press.
Dharma, Surya. 2006. Penelitian Gender. Malang: UMM Pers.
Hudojo, Herman. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: UM Press.
Lampung Post. “Matematika Bernilai Seni Tinggi”. www.lampungpost.com/cetak/berita Edisi, 20 Semptember 2008.
Mardalis. 2003. Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara.
Sedarmayanti dan Hidayat, Syarifudin. 2002. Metodologi Penelitian. Bandung: CV. Mandar Maju.
Sumaji, dkk. Cet ke-6. 2003. Pendidikan Sanis Yang Humanistis. Yogyakarta: Kanisus.
Suprijanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Bumi Aksara.
Syaban, Mumun. Educare: Jurnal Pendidikan dan Budaya. “Matematika dalam Era Globalisasi”. http://educare.e-fkipunla.net. Generated: 21 Januari 2009.

Categories
Thinker

The Role of Mathematics in the World of Work

Peran Matematika dalam Dunia Kerja
Oleh Bayu Tara Wijaya

Pada akhir tahun 2009 ini, Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Maliki Malang kembali menyempatkan untuk mengadakan kegiatan Studi Aplikatif dan Komparatif. Pada kegiatan Aplikatif, sengaja bertempat di Parbik Gula Toelangan Sidoarjo. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa mahasiswa matematika, dengan tujuan dari studi Aplikatif ini, yakni guna melihat peluang kerja matematika di dunia nyata. Sebab selama ini, banyak para mahasiswa yang hanya berpikiran bagaimana peran matematika di dunia kerja?

Selain studi aplikatif, pula diruntut kegiatan Studi Komparatif yang bertempat di Kampus Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Kegiatan ini merupakan studi keorganisasian oleh HMJ Matematika UIN Maliki Malang dengan Himpunan Mahasiswa Matematika ITS, dengan harapan didapatkan literatur untuk memanajemen kemajuan kepengurusan HMJ Matematika UIN Maliki Malang ke depan.

Pada studi aplikatif kali ini, diupayakan memberikan sedikit gambaran matematika di dunia kerja khususnya di pabrik gula yang diadakan HMJ Matematika UIN Maliki Malang pada tanggal 12 Desember 2009 lalu. Dari hasil analisis penulis, memang matematika meliki peran terpenting disegala bidang. Namun, peran matematika terlalu samar, tidak spesifik ke satu bidang keilmuan, sebagaimana yang disampaikan salah satu bagian pengelolaan PG Toelangan Sidoarjo, bahwa banyak matematika yang sering diaplikasikan para karyawan khususnya pada sistem kontrol pengelolaan guna.

Sayangnya, PG Toelangan tidak ada pegawai ahli yang lulusan dari Sarjana Matematika. Realitanya demikian, lebih banyak pegawai yang lulusan Teknik Industri, Pertanian, Ekonomi, juga Psikologi. Padahal hampir diseluruh pengelolaan gula di PG Toelangan Sidoarjo mengandung unsur matematika.

Matematika adalah Mother of Science, sepertinya mengalami nasib buruk di Indonesia, khususnya sempit dalam mendapatkan ruang aplikasi di dunia kerja. Sehingga wajar, lulusan matematika bekerja yang tak linier dengan lulusannya. Umumnya, lulusan matematika ruang kerja sebagai dosen saja. Seyogyanya, lulusan matematika bisa menjadi matematikawan, yakni sebagai ilmuan yang kerjanya mengembangkan ilmu matematika, tentunya disebuah laboratorium penelitian.

Untuk itu, tugas kita sebagai calon cendikiawan Indonesia, harusnya berusaha mengembangkan keilmuan masing-masing secara linier, meskipun kita juga ahli dibidang lain yang tak linier. Sebab, ilmu yang kita miliki adalah identitas kita sebagai bangsa yang maju. Marilah kita mencari dan mengaplikasikan peran kita (keilmuan kita) baik di masyarakat, di dunia kerja maupun yang lainnya guna meningkatkan keutuhan bangsa dan negara kita. Usaha yang baik menghasilkan hal yang baik pula. Semoga!!!

Categories
Buku

Jurisprudence formulation for Women

Formulasi Fikih untuk Perempuan

Judul Buku : Sosiologi Fikih Perempuan
Penulis : Zaenul Mahmudi, M.A
Penerbit : UIN Malang Press
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : x + 175 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya*

Berkata perempuan, layaknya sudah sangat akrab kita mendengar bahwa adanya perempuan salah satu sebab, karena adanya lelaki. Keberadaanya setara barang komplemen, mereka akan berharga apabila dikonsumsi oleh konsumen dalam hal ini lelaki. Dalam dominasi sistem seperti ini, kodrat perempuan akan tertindas dan tersempitkan ruang-geraknya dalam hal mendapatkan keadilan hidup, spesial Indonesia tanah airku.

Kemudian kisah gender dan feminisme di Indonesia yang diperankan perempuan dengan bernama R.A Kartini memperjuangkan kesetaran gender khususnya pihak perempuan dalam memperoleh keadilan untuk bisa belajar di bangku sekolah (berpendidikan). Dilanjutkan pula oleh keperpihakan bung Karno terhadap perempuan (ibunya bung Karno, yang diceritakan dalam buku kecil Sarinah).

Segaris dengan catatan di atas, perempuan patut diberi keadilan yang relevan dengan ajaran agama umat manusia dalam hal ini dari perspektif Islam. Di Indonesia sendiri, kepasrahan para perempuan sebagaimana menurut pesan-pesan para kiai kampung dalam ceramah-ceramahnya adalah “ibadah”. Namun pesan-pesan ini didefiniskan masyarakat awwam bahwa perempuan tidak diperbolehkan bertingkah laku sebagaimana tingkah lelaki.

Sosiologi Fikih Perempuan adalah hasil kajian dari penelitian yang membahas horizon pemahaman fikih perempuan yang disesuaikan dengan kondisi dalam pandangan Imam Syafi’i. Harapannya, gender, pesan-pesan kiai kampung tentang perempuan, ketersudutan perempuan dalam ruang-gerak memperoleh keadilan hidup mengalami pemahaman kontektual yang lebih mempertimbangkan rasio-sosiologisnya.

Di dalam kitab-kitab fikih Syafi’i yang ditulis pada zaman klasik dan pertengahan tersebut ada produk hukum yang menunjukkan bahwa gerak langkah perempuan mendapat lebih banyak pembatasan daripada lelaki. Misalnya dalam hal ubudiyah, perempuan harus menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan lelaki cukup menutupi antara pusar dan lutut. Contoh lain dalam berjamaah di Masjid lelaki lebih dianjurkan daripada perempuan, sehingga kesempatan perempuan untuk memperoleh pahala yang lebih besar selalu hanya diperuntukkan lelaki. Masih banyak contoh dan lagi-lagi perempuan selalu kalah dengan lelaki, tanpa terkecuali bidang apapun.

Beberapa pemahaman tentang fikih perempuan seperti dicontohkan, merupakan hasil pemahaman para ulama klasik yang merujuk pada kitab-kitab Imam Syafi’i. Namun, sayangnya kitab-kitab yang banyak dipercayai ulama-ulama klasik bahwa kitab tersebut adalah pedoman hukum fikih yang benar-benar autentik dan tidak perlu dilakukan penafsiran-penafsiran baru. Padahal ilmu fikih sejatinya adalah ilmu sosial-budaya yang ijtihadnya selalu bergantung dengan kondisi dan masanya.

Kita perlu mengakui bahwa fikih hasil ijtihad Imam Syafi’i adalah fikih yang terbaik di masanya, tetapi tidak berarti hasil ijtihadnya akan senantiasa baik untuk masa sekarang khususnya di Indonesia. Itulah mengapa Imam Syafi’i mempunyai dua pendapat qaul qadim dan qaul jadid, dan alasan mengapa antara Imam Syafi’i dan para pengikutnya masih ada perbedaan pendapat adalah karena permasalahan yang berkembang di sekitanya berbeda dan juga karena perbedaan masa dan faktor sosial budaya antara keduanya.

Kiprah Perempuan
Pada masa ini tidak banyak informasi yang jelas dari buku-buku yang ditulis oleh para sejarawan mengenai sikap dan kiprah para perempuan serta posisinya dalam masyarakat. Seperti masa Abbasiyah tidak ada perempuan yang berkiprah dalam urusan sentral masyarakat, hanya perempuan-perempuan elite yang memiliki nilai tawar lebih di mata lelaki. Itupun tidak banyak yang menceritakan kiprah perempuan yang ditulis sejarahwan tentang kiprah keppemimpinan perempuan sukses.

Berbeda dengan masa sekarang, kiprah perempuan sudah mulai perkembangan walaupun dalam buku-buku sejarah masih jarang diceritakan tentang kiprah perempuan di masyarakat. Perempuan sudah mulai banyak yang duduk menjadi seorang pimpinan organisasi bahwa negara. Sampai akhirnya sempat diperdebatkan oleh para ulama Indonesia tentang kepemimpinan seorang perempuan. Beberapa dalil-dalil fikih pun dibuka kemballi akhirnya muncul pendapat baru perempuan diperbolehkan menjadi seorang pemimpin atau berkarir.

Inilah pertarungan pemahaman fikih, lagi-lagi fikih berkembang dan berubah berdasarkan kondisi dan masanya. Kiprah perempuan memang sekarang ini sudah membanyak diseluruh penjuru kota bahkan dunia, namun perlu diingat bahwa perempuan tetaplah perempuan, kodrat sebagai perempuan tidak bisa ditinggalkan, karenanya boleh perempuan menjadi pemimpin, menjadi pegawai, dan lain sebagainya asalakan perempuan tidak berlebihan dalam berkiprah. Sekadar memperoleh keadilan semestinya sudahlah cukup, dikhawatirkan perempuan yang berkiprah berlebihan, akan terjadi ibu yang bekerja di kantor, bapak yang mengurusi rumah dan anak. Sehingga pekerjaan (kewajiban) lelaki dilakukan perempuan, sedangkan pekerjaan (kewajiban) perempuan dilakukan lelaki.

Sebagai kata akhir, seyogyanya pemikiran-pemikiran fikih klasik hendaknya kita dudukan secara proporsional dengan memberikan penilaian terhadapnya sesuai dengan masanya, bukan dengan menggunakan parameter sekarang karena pengarang fikih klasik adalah “anak” di zaman mereka sendiri. Dengan catatan formulasi dan ijtihad fikih yang baru harus tidak menyimpang dari nash-nash al-Quran dan al-Hadis.[]

Categories
Thinker

Mathematics, Make a Intelligent Generation

Matematika, Mencetak Generasi Cerdas
Oleh Bayu Tara Wijaya*

Usai sudah babak penyisihan Kompetisi Matematika IX tingkat SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur dan Bali di dua belas distrik pada tanggal 1 November 2009 yang diselennggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Maliki Malang. Setelah tahap pertama ini, kompetisi matematika dilanjutkan ke babak seperemapat final, semifinal dan final pada tanggal 15 November 2009 yang pesertanya adalah beberapa perwakilan daerah yang sudah terseleksi pada babak penyisihan.

Pada kompetisi matematika saat ini juga cukup mengagetkan panitia pelaksana, sebab dari dua belas distrik yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan Bali, ada sekitar 1500 peserta yang antusias mengikuti kompetisi matematika. Pasalnya, tahun 2008 lalu hanya sekitar 900 peserta yang mendaftar, ini menunjukkan perserta kompetisi mengalami peningkatan.

Padahal pada kompetisi matematika kali ini hanya memperebutkan tropi Gubenur Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Jawa Timur saja, tetapi semangat para generasi muda maasih tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa generasi kita bukanlah generasi-generasi yang “bego”, melainkan generasi-generasi cerdas.

Inilah bukti konkret bahwa bangsa kita sekarang ini mengalami peningkatan kualitas generasi mudanya dalam bidang ilmu pengetahuan. Bukan hanya terdapat pada realita sebuah kompetisi matematika saja, tetapi juga pada beberapa kompetisi lain yang mengalami peningkatan minat dalam mengikuti kompetisi-kompetisi baik di tingkat lokal sampai international.

Melalui salah satu wadah inilah kita bisa mencetak generasi cerdas, yang harapannya adalah sebagaimana dalam tema kompetisi matematika saat ini, yakni “Membudayakan Berpikir Matematis, Kritis, dan Transformatif”. Sebab, bangsa kita butuh generasi yang memiliki pemikiran matematis, kritis sekaligus transformatif. Hanya kritis saja, maka tidak ada wujud upaya yang bisa diperbuat dalam mempertanggungjawabkan gagasan kritisnya. Begitu juga, matematis saja, maka generasi kita hanya akan menjadi generasi spekulatif saja. Oleh karenanya, transformatif dalam gagasan ini adalah mengkonversikan antara kecerdasan dan kreativitas harus juga diikutsertakan.

Kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia bukan lagi bangsa yang tertinggal atau bangsa yang jauh dari peradaban atas perkembangan ilmu pengetahuan. Berbangga diri sudah sedikit pantas kita lakukan sebagai salah satu upaya untuk diri kita agar tidak merasa rendah di hadapan negara-negara lainnya. Banyak hal yang dapat kita lakukan, dan masih banyak hal yang belum bisa kita lakukan. Begitu juga, banyak hal yang dapat dilakukan negara lain, dan masih banyak hal yang belum bisa dilakukan bangsa lain.

Artinya, masih banyak kesempatan untuk kita menjadi pribadi yang maju, bangsa yang maju, dan negara yang maju. Tinggal bagimanakah pilihan kita sekarang ini, tetap menjadi bangsa yang masa dahulu atau bangsa masa sekarang atau bahkan bangsa masa mendatang.

Dengan demikian, usaha yang terbaik adalah melakukan apa yang kita pilih atau kita rencanakan. Sebab, untuk menjadi generasi yang cedas saja tidaklah cukup. Kita masih membutuhkan kecerdasan apakah yang dapat kita berikan pada negeri tercinta ini. Mungkin inilah yang pantas dinamakan generasi cerdas, generasi yang memberikan kemanfaatan terbaik pada bangsanya.

Walhasil, segala daya usaha dan upaya yang kita lakukan demi bangsa ini semoga membuahkan hasil yang dapat dinikmati seluruh dunia khususnya bangsa kita sendiri.

Categories
Thinker

Being the Ideal Teacher

Menjadi Guru Ideal
Oleh Bayu Tara Wijaya

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Salah satu jendela melihat dunia bagi anak-anak selain peran orangtua, fasilitas modern seperti televisi, internet dan lainnya adalah guru. Tugas seorang pegawai jasa (guru) adalah mengarahkan anak didiknya ke arah kedewasaan melalui beberapa proses development of good values. Banyak beberapa tips agar seorang guru dapat memberikan main process dengan baik dalam menfasilitasi anak didiknya.

Dalam hal ini, guru bagaikan seorang ahli mekanika yang bekerja di dalam bengkel kendaraan. Setiap harinya diberi amanat untuk menstabilkan masa depan anak didik. Sehingga rasa tanggung jawab guru yang dibantu dengan tanggung jawab pengelola sekolah harus bisa melayani pelanggan dengan baik, yakni dalam rangka menjalankan amanat sebagai educator, leader, facilitator, motivator, administrator dan evaluator.

Begitulah fungsi dan tugas seorang guru sebagaimana yang ditulis oleh Jamal Ma’mur Asmani. Tentu masih banyak fungsi dan tugas selain yang disebutkan Asmani, tetapi minimal fungsi-fungsi itu haruslah ada pada seorang guru selain syarat-syarat administratif untuk menjadi seorang guru.

Ada istilah profesionalitas seorang guru, namun istilah tersebut hanya berlaku pada penikmat (siswa). Ketika yang menikmati tidak nyaman dengan guru tersebut, dikatakan bahwa “beliau bukan guru yang professional”, dan pada penikmat (siswa) lain juga ada yang bilang “guru tersebut sangat professional dalam mengajar”. Dengan demikian, berdasarkan kacamata publik ukuran profesionalitas guru ada pada kriteria guru seorang.

Termuat dalam Asmani penulis buku Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif menyimpulkan kriteria guru berdasarkan pendapat beberapa pakar pendidikan, seperti Prof. Herawati Susilo M.Sc, Ph.D dari Universitas Negeri Malang, Husnul Chotimah (2008), dan Wijaya Kusumah (2009). Pertama, guru ideal adalah guru yang memahmi profesinya sangat mulia. Sehingga ketulusan dalam mendidika anak didiknya dengan wajah selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan salam, sapa, sopan, senyum dan sabar.

Sehingga, dari kriteria pertama tersebut peserta didik pun akan selalu nyaman dalam belajar, tidak seperti beberapa guru yang sering diceritakan oleh para siswa yakni seperti guru matematika yang umumnya terkenal keras, tidak mudah senyum, mudah menghukum, dan membosankan.

Kedua, guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Selaras dengan fungsi guru yakni sebagai fasilitator peserta didiknya. Jadi, guru harus dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, ibaratnya mesin penyari “Google” di internet. Membaca dan menulis pada seorang orang guru juga diibatkan dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan.

Ketiga, guru yang ideal adalah guru yang sangat menghargai waktu “time is money”. Keempat, guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. Menciptakan suasana belajar yang variatif menunjukkan guru tersebut kreatif, tidak monoton dari hari ke hari, hingga tahun ke tahun mengajarnya itu-itu saja. Tidak beda jauh dengan copy and paste, gaya belajarnya selalu sama dari selamanya. Guru yang tidak kreatif tentu ditandakan guru tersebut kurang membaca dan menulis, guru yang malas-malasan, tidak pernah menghargai waktu dengan baik. Hingga mengisi laporan penilaian hasil belajar siswa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) yang ala kadarnya, tidak memperhitungkan aspek proses dalam belajar peserta didik.

Terakhir, guru yang ideal adalah guru yang memiliki lima kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan social, kecerdasan emosional, dan kecerdasan motorik. Kelima kecerdasan tersebut harus seimbang, kesemuaanya saling terkait dalam dunia pendidikan. Baca realita kita, berapa banyak orang berintelektual tinggi yang masuk penjara karena korupsi? Bukti bahwa lima kecerdasannya tidak seimbang.

Kita sebagai guru atas diri kita sendiri, sudah seharusnya juga menerapkan kriteria guru sebagaimana yang di atas. Apalagi, kita yang nantinya sebagai seorang orangtua harus mampu menjadi guru dari anak kita. Jadilah guru yang ideal penuh dengan kejujuran.