Categories
Buku

Arkoun, Perspectives in Interpreting al-Quran

Arkoun, Perspektif dalam Menafsirkan al-Quran

Judul Buku : Antropologi Al-Quran
Penulis : Baedhowi, M.Ag
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan I : April 2009
Tebal : xx + 256 halaman
Peresensi : Bayu Tara Wijaya *

Al-Quran adalah kitab umat manusia (khususnya Islam), kitab tersebut memiliki sakralitas mitologi dalam setiap pesan-pesan yang terceritakan dalam al-Quran. Bahasa-bahasa simbolis yang banyak terdapat dalam al-Quran memberikan petunjuk kepada umat manusia. Namun, penafsiran-penafsiran al-Quran selama ini terkesan mengabaikan kedalaman makna kandungan dan justru mengikuti arus ideologi yang berkembang.

Malam Nuzulul Qur’an adalah salah satu peringantan umat muslim dalam rangka memperingati turunnya al-Quran. Kegiatan sakralitas keagamaan dikemas dalam serangkaian peringatan malam Nuzulul Qur’an. Dalam ceritanya, kisah turunnya al-Quran pun juga sudah dipaparkan dalam al-Quran itu sendiri sebagaimana dalam surat al-Baqoroh ayat 185.

Dari contoh kegiatan Nuzulul Qur’an tersebut, terbukti bahwa al-Quran memiliki keunikan, yakni adanya al-Quran, ada dalam al-Quran itu sendiri. Sayangnya, banyak umat manusia yang tidak menalar kembali kisah tersebut. Sehingga, beberapa kegiatan peringatan turunya al-Quran hanya diisi oleh khutbah yang menjelaskan cerita turunya saja, hal demikian terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang khutbah normatif tidak pernah berkembang.

Antropologi Al-Qur’an banyak mengupas pemikiran Mohammed Arkoun, yakni ilmuan Islam yang beberapa dekade ini banyak diperbincangkan di dunia Islam pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Arkoun salah satu pemikir yang mengkhutbahkan metode baru dalam studi al-Quran secara kontekstual-multidisipliner berdasarkan ilmu pengetahuan modern.

Pertama, metode Penjelajahan Sinkronis yang dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan logis dan psikologis yang menghubungkan term-term yang ada dan membentuk sistem dan nilai berdasarkan kesadaran kolektif. Metode ini sebenarnya digunakan untuk mengukur dampak yang ditimbulkan al-Quran terhadap umat manusia yang bersifat rasional, logis, imaginer, imani, dan ukhrowi (hal. 168-170).

Kedua, metode Penjelajahan Diakronis yang hanya memperlajari term-term yang dapat atau tidak dapat ditampakkan oleh kesadaran kolektif. Lewat penjelajahan ini, Arkoun ingin melampaui kajian yang dilakukan oleh kalangan muslim tradisional maupun kaum orientalis dengan beberapa tawaran metodenya bermaksud untuk menerobos berbagai hambatan ideologis, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan teologi (hal. 172-174).

Ketiga, perspektif antropologis adalah turunan dari metode kedua, yakni penjelajahan diakronis. Namun yang sedikit berbeda adalah cara mengkaji al-Quran dari sifat antropologisnya. Jadi, metode ini mencoba untuk menemukan hubungan al-Quran dan masyarakat dalam mengungkap nalar wahyu yang bertradisi semitis.

Dalam usulan antropoligis ini, Arkoun ingin mengali faktor-faktor umum sosial-kemanusiaan, budaya, dan agama mayarakat Timu Tengah dan Mediteranian Kuno, yang telah melahirkan tiga wahyu monoteisme dan agama besar –Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal ini dalam rangka mempertemukan kendala dan kekuragan dalam studi al-Quran dari aspek strategis, metodologis, maupun filosofis. Sehingga, kita sebut ini adalah metode perspektif filsafat dari fakta religius.

Memahami al-Quran, memang tidak semudah orang mengucapkan membalikkan telapak tangan. Teks al-Quran yang isinya memuat sejumlah makna, yang tidak sekadar nya kita memahami arti teks secara sempit. Seperti yang diusahakan sejak dulu hingga sekarang ini, yakni pembacaan al-Quran hingga mengungkap makna yang terpendam dalam teks tersebut.

Arkoun sebagaimana yang diuraikan oleh Baedhowi dalam buku Antropologi Al-Qur’an, yakni Arkoun menawarkan metode linguistik atau lebih tepatnya semiotika. Sehingga, ketika seseorang ingin menerjemahkan al-Quran bisa dipastikan tidak terjadinya kesalahpahaman. Meskipun orang yang memahami al-Quran berasal dari berbagai bidang keilmuan.

Betul apa yang dikatakanArkoun, memahami al-Quran sangat sah bila multidisiplener kailmuan yang dimiliki seseorang tersebut. Terbukti, sejak dahulu banyak beberapa kitab klasik atau kitab kuning (sebutan para santri) yang menafsirkan al-Quran dari berbagai perspektif bidang keilmuan, seperti kitab Tafsir Jalalain, kitab Tafsir al-Misbah, kitab Tafsir Munir, dan banyak lainnya.

Dari beragam kitab tafsir tersebut, cukup menjadi bukti bahwa Arkoun yang meminjam istilah Roland Barthen “mennghidupkan solidaritas sejarah, dengan cara berpikir secara bebas”, yang mana hal itu, menurutnya, merupakan tradisi yang terbaik dalam berijtihad.

Salah satu yang dimunculkan oleh penulis buku ini, yakni memahami al-Quran dalam perspektif antropologis (antropologi agama, sosial, dan budaya), yang mana dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai zamannya.

Secara umum, al-Quran dan wacana keagamaan memang penuh bahasa-bahasa simbol. Al-Quran sendiri yang mengkisahkan Nuzulul Qur’ah, sehingga sangat perlu apabila mengkaji al-Quran dari berbagai perspektif dalam rangka mengungkap makna atau tafsir yang belum tergali.

Walhasil, karya ilamiah yang terangkum dalam buku kecil dan memiliki bobot yang sebanding dengan buku-buku terkenal lainnya. Sangatlah patut bagi kita semua sebagai penerus umat muslim untuk memberikan apresiasi terhadap karya ini dalam wujud membacanya serta mengkaji ulang dalam rangka penambahan referensi terkait metode tafsir al-Quran.

Patutlah kita berbangga diri bagi kita yang memiliki kitab pedoman hidup, yakni al-Quran. Bukti dari kepemilikan kita bukan hanya kemampuan kita untuk mengadakan al-Quran di meja baca, melainkan kepemilikan pemahaman isi teks dan kontekstual berdasarkan multidisipliner tafsiran kita. Inilah sebagian dari ijtihad terbaik.[]

Categories
Matematika

Fuzzy: Wise Logic Mathematics

Fuzzy: Logika Bijak Matematika
Oleh Bayu Tara Wijaya*

Ruang yang terbuka klaim abstrak menjadi karakter utama pandangan orang kaum awwam terkait hakekat matematika. Lahirnya para pakar matematika yang memberikan sumbangsi ilmu matematika di mulai sejak masa Archimedes (287 SM) hingga matematikawan asal Indonesia Andi Hakim Nasution yang dilahirkan di jakarta 30 Maret 1932 M masih saja misterius di muka publik. Sifat logika matematika yang hanya dikenal dengan sebutan masuk akal atau rasional dan menjadi tidak masuk akal disalahgunakan orang nonmatematika.

Banyak pemikiran beralasan bahwa mereka yang berpikir matematik adalah sebagaimana ukuran logika matemtis yang memiliki kaedah benar atau salah dan tidak keduanya. Ini memang sebuah kelemahan matematika yang tidak bisa melindunggi keilmuannya, sekaligus keistimewaan matematika yang dapat koheren dengan semua apa yang mendekatinya. Sehingga tidak ada salahnya jika ada beberapa orang hanya berkata sebagaimana logika matematis yang mereka kenal.

Realita umum, logika matematika mengarahkan kita pada kemanfaatan matematika. Sebab, dengan berpikir logika, kita dapat memutuskan beberapa perkara. Hemat kata, hanya cabang matematika yang berupa logika matematika menjadi anggapan salah satu cabang matematika yang dapat teruji dikehidupan sehari-hari. Terkait dalam berpikir logis.

Fuzzy dan Matematika
Pengenalan mereka –yang tidak memahami dan mempelajari matematika pada hakekat– sebatas knowledge yang tidak memiliki intusi berpikiran memperdalam matematika dalam rangka mengembangkan ilmu. Pada akhirnya, sebuah pengetahuan hanya sebatas pada umumnya. Sehingga pengenalan logika matematika yang hanya berpikir bahwa matematika sangat “egois”. Artinya kebenaran matematika hanya kebenaran stagnan –benar atau salah dan tidak keduanya– tidak berkembang sebab lemahnya pengajian mendalam terhadap matematika.

Sebenarnya, matematika bukanlah sebuah ilmu yang paten. Matematika hidup memiliki nilai yang sepadanan dengan objeknya. Maka ketika seorang anak SD ditanya berapa nilai “3 x 4”? dan dijawabnya dengan 12. Sedangkan berbeda dengan seorang tukang cetak foto ketika ditanya berapa “3 x 4”? dan tukang tersebut menjawab pula dengan sebutan Rp.1.000,-. Masih banyak contoh lainya yang mengaburkan ketidakpastian dalam matematika dan membantahkan teori matematika ilmu paten.

Terkait dengan logika, di dalam matematika bukan hanya mengenal matematika yang bermakna benar atau salah dan tidak keduanya. Tetapi dalam matematika ada logika yang mengenalkan antara benar dan salah, artinya logika ini masih menghargai sebuah nilai yang berada di antara benar atau salah baik dalam nilai numerik ataupun nilai sosial. Umumnya, logika seperti ini dikenalkan dengan logika fuzzy. Fuzzy sangat jarang dipelajari orang, dan fuzzy jarang disadari orang, serta fuzzy jarang dianggap logika bagi orang. Pada akhirnya fuzzy yang tak dikenal orang menjadikan salah makna pada orang yang tak memahami logika.

Contoh lain, sebagaimana yang dilontarkan oleh Abdul Halim Fathani penulis buku al-Quran dalam Fuzzy Clustering menyatakan bahwa hukum Islam pada umumnya memakai logika fuzzy. Termaktup pada sebuah hukum Islam yang terkenal yakni hukum haram dan halal, dan di antara halal dan haram ada hukum makruh –mendekati halal dan mendekati haram. Jelas bahwa hukum ini memakai logika fuzzy. Sebab fuzzy, bersifat menghargai nilai antara benar atau salah.

Mungkin saja, logika fuzzy adalah logika bijak matematika yang umum dikatakan matemtika bersifat egois yang tidak kenal dengan perasaan. Tetapi, pernyataan tersebut hanya pantas dipukulkan pada mereka yang tidak mengenali perkembangan matematika.

Hal “tolol” sekali ketika sebagai calon matematikawan menerima penghinaan terhadap matematika. Hinaan yang dilontarkan kaum buta hakekat metamatika yang berkata beda dari satu orang dengan orang yang lain. Kaum buta yang hanya kenal bahwa matematika tidak lain ilmu abstak, ilmu pasti, ilmu logika, ilmu hitung, ilmu simbol, dan lainya. Memang semua sebutan itu benar, tetapi mereka tidak tahun bahwa matematika juga memiliki karakter etnomatematika. Sebagaimana salah satu contoh pada logika fuzzy.

Dari adanya etnomatematika, dan pemahaman terhadap etnomatematika dapat membuka tabir kesalahpahaman yang digagas para awwam buta hakekat matematika. Coba Anda pahami, matematika begitu indah. Adanya bisa tumbuh dimana saja terinterprestasikan pada sebuah pohon kelapa yang dipakai simbol atau lambang dalam kepramukaan.

Kiranya, berpikir yang bijak bukan saja berpikir matematika. Tetapi sebenarnya berpikir matematika berarti berpiir bijak. Sehingga tidak ada ilmu yang diciptakan tidak ada manfaatnya. Betulnya, kita yang masih rendah dengan pengetahuan. Apapun yang kita pelajari belum tentu kita mendapatkan hal itu, tetapi bisa jadi Anda mendapatkan hal lain karena mempelajari hal itu. Maka, apapun usaha kita, tetaplah sebuah usaha.[]

Categories
Uncategorized

Kompetisi Matematika se-Jawa dan Bali 2009

KOMPETISI MATEMATIKA (KOMET) IX 2009

Ikutilah Kompetisi Matematika Tingkat SMA dan sederajat, se-Jawa Timur dan Bali yang diselenggarakan oleh HMJ Matematika Universitas Islam Negeri Malang. Komet akan dilaksanakan serentak di 12 Distrik pada tanggal 1 November 2009.

Informasi lebih lanjut silahkan donwload Panduan Komet IX 2009 berikut:

PANDUAN KOMPETISI MATEMATIKA (KOMET) IX 2009 HMJ MATEMATIKA UIN MALIKI MALANG __ DOWNLOAD

Categories
Buku

Theology of Human Change

Teologi Perubahan Manusia

Judul Buku:

Revolusi Sejarah Manusia; Peran Rasul sebagai Agen Perubahan
Penulis:
Munzir Hitami
Penerbit:
LKiS, Yogyakarta
Cetakan:
I, Januari 2009
Tebal :
xii + 286 halaman

Sebuah pepatah bahwa sesuatu yang paling abadi di dunia adalah perubahan. Semuanya tidak ada yang bertahan statis, begitu pula manusia. Oleh karena itu, hanya perubahan itu sendirilah yang akan abadi.

Revolusi atau yang memiliki kedekatan arti dengan perubahan adalah hal biasa sering kita jumpai, sehingga revolusi adalah tema yang sudah tua untuk dibahas kembali. Namun, kali ini sedikit berbeda dengan revolusi yang sudah kita perbincangkan dahulu. Revolusi Sejarah Manusia adalah buku yang ditulis oleh Dr. Mundzir Hitami. Buku rintisan dari hasil disestasi beliu membuat isi kajiannya lebih mendalam untuk dinikmati para pembaca.

Kajian secara detil mengenai konsep perubahan umat manusia dalam al-Quran dan peran penting para rasul sebagai agen perubahan menjadi topik utama dalam Revolusi Sejarah Manusia. Komparasi hasil penelitian yang ia gali dari kitab suci umat Islam yakni al-Quran dengan postulat-postulat barat, seperti Oswald Spengler yang menerjemahkan arti dari perubahan yang pada intinya merupakan siklus kehidupan yang cenderung bersifat biologis dan repetitif.

Perubahan telah menjadi pusat perhatian dan kajian manusia sejak dahulu sampai sekarang. Al-Quran meskipun bukan kitab sejarah, banyak memuat informasi mengenai dinamika perubahan umat manusia. Sebab, perubahan adalah hukum alam yang terjadi di sepanjang sejarah manusia.

Sebagaimana kisah-kisah rasul, seperti kisah Adam diceritakan dalam Bibel pada Kitab Kejadian hingga dilanjutkan dengan cerita tentang keturunan Adam sampai Isra’il. Di luar Bibel, banyak legenda-legenda yang mengambarkan kemunculan alam semesta dan makhluk hidup. Tentu, Bibel juga memiliki kesamaan cerita yang dikisahkan oleh al-Quran terkait konsep penciptaan manusia secara bertahap-tahap.

Kisah lain informasi tentang Nuh dan banjir, selain mitos kuno, hanya terdapat dalam kitab suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam al-Quran. Cerita Nuh dan banjir bukan merupakan salinan langsung kisah epik bangsa Gilgamesh—bangsa Israel.

Sehubungan dengan beberapa kisah-kisah rasul yang diceritakan dalam al-Quran maupun kitab-kitab lain yang ada pada zaman rasul tersebut memenuhi ketiga fungsi pengisahan, yakni sebagai konfirmasi, pelajaran dan pengungkapan suatu konsep tertentu.

Dari perjalanan zaman, kisah-kisah rasul yang muncul dalam sejarah manusia, menjadi perdebatan tanpa henti, penafisran-penafsiran baru muncul berbeda-beda menyebabkan sebuah perubahan pada karakter manusia. Sehingga banyaklah muncul beberapa kelompok sosial manusia yang melakukan infastruktur masyarakat dalam rangka pembangunan dan penyelamanatan masyarakat.

Gagasan-gagasan tersebut, tidak lain disebabkan adanya kisah-kisah rasul. Dari kecil hingga dewasa, kita dikenalkan dengan konsep terbentuknya manusia. Berbagai teori-teori saling timpang-tindi untuk menjatuhkan teori-teori lain. Dalam pelajaran biologi, kita dikenalkan materi tentang manusia yang dijelaskan berasal dari hasil evolusi kera kesekian tahun sehingga menjadilah manusia purba hingga manusia sempurna. Di lain pihak, dalam al-Quran kita dijelaskan manusia berawal dari keturunan Nabi Adam hingga turun-temurun sampai sekarang ini.

Masih banyak lagi, beberapa penafsiran yang menjadikan manusia mengalami perubahan sosial. Bukan hanya kisah rasul saja, seluruh kisah yang dialami manusia akan memunculkan penafsiran-penafsiran baru, sehingga lahirlah ide-ide baru yang berkembang. Inilah perubahan, tidak lain perubahan merupakan konsep turunan dari kisah rasul, seperti nabi Adam dan seterusnya. Perubahan yang menjadikan manusia lebih berkembang, tidak dapat kita pungkiri. Semoga perubahan membawa kebaikkan masyarakat sedunia.

Teologi
Berbicara masalah teologi perubahan, hal yang paling urgent dalam hal ini adalah ilmu. Tidak lain, semua semua perubahan tentu dilatarbelakangi oleh ilmu. Baik, buruk perubahan tersebut tergantung orang yang membawanya. Ketika seseorang hanya dibekali pengatahuan saja, tanpa ilmu, maka perubahan sudah dipastikan ke arah yang negatif, begitu pula sebaliknya.

Para rasul, meskipun beliau-beliau tidak sekaya, sepandai, secerdas, setampan seperti kita saat ini. Namun mereka memeliki leimanan, ketaqwaan dan kelimuan yang tidak ada bandingannya. Sehingga, apapun yang beliau cetuskan menjadikan sebuah awal perubahan manusia yang lebih baik.

Rasul, selain menjadi utusan dari Allah swt, beliau juga menjadi pemimpin umat. Sikap kharismatik, partisipatorik dan prophertik mereka miliki. Beliau-beliau adalah para figur umat yang baik, meskipun beberapa kaum lainnya banyak yang memusuhi. Khususnya dari kaum-kaum nonmuslim.

Seperti yang terungkap dibeberapa kisah 25 para rasul. Banyak terjadi perubahan-perubahan hebat yang terjadi di masa kepemimpinannya. Mulai kisah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Setiap masa kepemimpinan beliau-beliau, pasti membawa perubahan yang lebih baik.

Sebagai umat yang masih sejalan dengan perjuangan para rasul, tentunya patutlah kita renungkan sebagai bahan percontohan dan bahan pedoman kita untuk melangkah dalam perubahan hidup kita yang lebih baik. Termasuk yang diinginkan penulis buku Revolusi Sejarah Manusia, yakni dengan buku ini, dapat membantu kita untuk lebih mengatur revolusi atas sejarah yang kita bangun dari kecil hingga dewasa.

Walhasil, segala perubahan baik atau buruk bukanlah tergantung pada bahan referensi yang kita dapatkan. Melainkan perubahan yang sejati ada pada diri kita seorang. Yang membawa kepada kebaikan adalah kita, yang membawa kepada keburukan adalah kita. Sebagaimana suara yang dituangkan penulis, sebagai upaya kemajuan bangsa dan Negara yang tercinta.[]

Categories
Thinker

Education for Human humanise

Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia
Oleh Bayu Tara Wijaya

Sebuah realita yang sudah mentradisi dikalangan pendidikan kita. Ketika seorang guru menginginkan nilai matematikanya tinggi. Di sisi lain, guru bahasa inggris juga menginginkan nilai bahasa inggrisnya tinggi, begitu pula guru-guru mata pelajaran lainnya.

Suatu kewajar, guru menginginkan muridnya untuk mendapatkan nilai tinggi. Namun sangat disayangkan, apabila seorang guru memaksakan muridnya untuk mendapatkan nilai tinggi. Sedangkan, paksaan tersebut tidak dilandasi dengan kemampuan seorang guru untuk memahami atas kemapuan muridnya. Akhirnya, ketika salah satu muridnya tidak menuruti kemauan gurunya, giliran guru memarahi dan menghukum murid. Sudahkan guru mengevaluasi, kenapa murid-muridnya tidak menuruti kemauannya (guru)? Sudahkan guru mengetahui keinginan dan kemampuan muridnya?

Perlu disadari, perkembangan seorang murid jelas memiliki kapabilitas yang berbeda antara sesama murid lainnya. Ada kalanya murid suka dengan suasana belajar yang penuh dengan puzzle, café-café learning, describing picture, atau lain sebagainya dan ada yang tidak suka dengan hal itu semua.

Bukan hanya kesukaan murid terhadap suasana belajar saja, tetapi terhadap mata pelajaran pun akan sama. Contoh, ada murid yang lebih suka mata pelajaran matematika, tetapi tidak suka mata pelajaran bahasa inggris, ataupun lainnya. Nah, hal seperti ini, tentu guru harus benar-benar menyadari dan menevaluasi atas tipe murid seperti contoh tersebut. Tugas guru, yang notabene sebagai seorang pendidik (educatif), pembimbing, dan pengajar (transfer of knowledge) serta pengawas (keeping) atas kondisi jiwa muridnya.

Seperti inilah guru yang sewajarnya (ideal). Tidak akan ada murid yang merasa takut dengan salah satu atau bahkan semua guru yang mengajarnya. Dan guru pun akan menyadari bahwa murid-muridnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Kekerasan, pemaksaan atau sikap lain yang tidak sepantasnya dilakukan di dunia pendidikan akan lebih terminimalisir untuk terulang.

Sebagai pihak yang lebih dahulu dalam mengenyam pendidikan. Tentu kita merasakan bagaimana pendidikan kita saat ini? Dunia pendidikan sudah melupakan bahwa yang menikmati pendidikan adalah manusia. Sadar atau tidak, pendidikan selain untuk mencerdaskan bangsa, juga membatu untuk mendewasakan bangsa, sehingga bangsa bisa memiliki karakter yang berpendidikan moral.

Secara mendasar, pendidikan ada, karena ada manusia. Oleh karena itu, pendidikan ada hanya untuk manusia, bukan untuk hewan atau sejenisnya. Hal mendasar seperti inilah yang perlu kita catat besar-besar di kepala kita, khususnya bagi mereka yang menjadi seorang guru dan umumnya adalah kita. Sebab, kita sering kali melupakan bahwa orang yang menjadi amanat kita adalah manusia yang memiliki keragam dan keseragaman yang begitu kompleks.

Robot Pendidikan
Realita yang terjadi, murid dianggap sebagai sebuah robot. Murid yang masuk pada salah satu sekolah yang sudah memiliki visi, misi dan tujuan. Seketika itu, pemilik lembaga langsung men-set up semau lembaga mereka. Murid adalah manusia, ia bukanlah robot yang terbuat dari bahan-bahan mekanik yang mudah di-setting untuk mengerjakan perintah-perintah, diarahkan semaunnya dan sebagainya.

Pendidikan adalah untuk manusia, begitu juga sekolah adalah sekolahnya manusia. Jadi, lembaga pendidikan seharusnya mengantarkan kemauan atau cita-cita muridnya, bukan sebaliknya murid mengantarkan kemauan atau cita-cita sekolah. Pada akhirnya, semua murid yang masuk pada lembaganya, langsung di-make up lembaga untuk siap tanding melawan pesaing-pesaing dari lembaga pendidikan lainnya atau untuk menjadi jagoan di bidang mata pelajatan agar citra lembaga pendidikan terangkat.

Boleh saja suatu lembaga memiliki cita-cita seperti itu, namun yang patut diketahui oleh pengelola lembaga bahwa lembaga pendidikan harus dapat memberikan konstribusi dalam menghantarkan cita-cita muridnya. Sebab, tidak semuanya murid dapat nyaman dan bisa untuk menuruti kemauan lembaga.

Sudahkah kita memahami karakter seorang murid kita? Itu adalah pertanyaan yang sering saya munculkan ketika semasa saya sekolah. Otoritas seorang guru memaksakan murid untuk menjadi pandai adalah kewajiban ke nomor sekian, melainkan kewajiban seorang guru adalah bagaimana guru dapat menyampaikan pengetahuannya dengan baik, sehingga murid yang mereka hadapi memahami pelajaran-pelajaran yang ia sampaikan.
Seorang guru tidak selalu dibutuhkan, ia yang pandai dalam bidang keilmuan, ia yang juara semasa studinya dan lainya. Tetapi juga, guru harus bisa memandaikan, mencerdaskan dan mendewasakan muridnya. Tidak jarang, guru yang lulusan luar negeri dan berpengatahuan banyak tetapi ketika ia mengajar di sekolah tetap saja tidak disukai murid-muridnya, karena tidak dapat mengajar dengan baik.

Realita kongkret, pada hasil UN tahun ini, sekolah-sekolah yang bertaraf lokal—katakan saja tidak sekolah bertaraf internasional atau SBI—masih dapat menduduki peringkat terbaik. Seperti, salah satu SD yang berada di pedesaan, muridnya mendapatkan hasil UASBN terbaik kedua se-Jawa Timur. Tatkala pentingnya kapabilitas mengajar seorang guru sangat dinomorsatukan dalam pendidikan, sebab ketidakmampuan guru dalam mengajar sama halnya membodohkan murid, atau kata lainya adalah pembodohan.

Walhasil, cermatan-cermatan sebagai bahan referensi berpijak lebih jauh yang akan lebih baik semoga tetap tercapai. Sebagai upaya mencerdaskan dan mendewasakan penerus bangsa, peran lembaga pendidikan yang baik dan benar berdasarkan landasan filsafat pendidikan perlu kita ulas kembali, guna kebenaran atas pendidikan untuk manusia. Majulah pendidikan kita.[]

Categories
Thinker

Learning from Life

Belajar dari Kehidupan
Oleh Bayu Tara Wijaya

Sebuah pertanyaan, Kenapa kita hidup seperti ini? Dari satu orang dengan yang lainnya tentu memiliki perbedaan yang mendasar. Sering kali kita hidup mengalami berbagai macam kejadian, entah kejadian yang kita anggap menyenangkan atau tidak. Sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yaitu, “Experience is the best teacher.” Namun kita tidak pernah menganggap hal itu benar.

Terbukti, masih sering terjadi frustasi hidup. Tidak menyadari bahwa pengalamannya adalah guru terbaik. Selalu putus asa, tidak mau mempelajari segala pengalaman yang ia dapatkan. Perlu diingat, sekecil apapun kejadian yang menimpah kita, sekecil itu pula hikmah yang terkandung. Semakin kita membiarkan hikmah yang terkandung semakin bias adanya.

Stepen R. Covey berpendapat “Dengan hanya mencoba mengubah sikap dan perilaku saja, akan sedikit memberi arti pada jangka panjang.” Oleh karena itu, jika kita tidak pernah mencoba untuk meraih hikmah dari kehidupan kita, maka jangan harapkan perubahan pada diri Anda.

Berpikirlah seolah engkau akan hidup selamanya, ketika engkau bekerja dan berpikirlah seolah engkau akan mati besok, ketika engkau beribadah. Maka tidak akan sia-sia hidup Anda. Mungkin, kalimat ini tidak ada artinya bila Anda menganggap bukanlah pengalaman. Perlu diketahui, pengalaman hidup adalah segala sesuatu yang kita jalani, kita temui, kita sentu dan sebagainya. Jadi, pengalaman adalah segala yang berkomunikasi dengan kita, baik secara akal maupun perbuatan.

Dengan demikian, alasan yang disugukan pada saat ini adalah pembahasan mengenai arti sebuah kehidupan. Maka, dari pengalaman dan aktivitas keseharian kami, terseliplah ide untuk memunculkan gagasan dan menjadi sebuah nama majalah kecil ini yakni DelviE. Kata ini diambil dari bahasa prancis yang memiliki makna kata dasar apprendre yang artinya “belajar dari” dan de la vie yang artinya kehidupan. Jadi delvie dapat diartikan “belajar dari sebuah kehidupan.

Harapan besar, dengan munculnya bacaan kecil ini dapat membuka lebar hati kita untuk menelusuri kembali kehidupan kita. Apa yang kita dapatkan dari kehidupan kita? Sebab, tanpa mempelajari kehidupan kita tidak akan mampu bertahan hidup kita. Semoga sukses hidup Anda.[]

Categories
Thinker

Menyelamatkan Kali-kali Surabaya

Satu kasus lagi yang muncul di kota pahlawan, Surabaya, yakni penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar khususnya di bantaran Kali Jagir yang digawangi langsung oleh Polisi Pamong Praja Utama (Satpol PP). Bukan hanya Kali Jagir saja, Kali Wonokromo dan Kali Surabaya juga menjadi titik sentral penertiban tatanan kota Surabaya pada periode terakhir ini.

Sempat terdengar pahit nama Satpol PP, kinerja mereka dinilai tidak becus dan dehumanis. Khususnya di kalangan masyarakat —Jagir, pemerhati sosial dan mereka yang tidak memiliki informasi jelas —tindakan pemerintah kota Surabaya— tentang penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya.

Serba salah, apabila menghakimi Satpol PP. Di sisi lain mereka bertugas menjalankan tugas, tanpa tahu alasan jelas mereka ditugaskan. Lagipula Satpol PP adalah robot pemerintah. Namun anehnya mereka selalu menjadi terdepan dari segala urusan berat pemerintah. Asumsinya, Satpol PP adalah prajurit terdepan pada sebuah pertempuran. Wajar apabila mereka mendapatkan kritik dan tuntutan lebih dahulu daripada atasannya, sebab mereka yang bersentuhan langsung dengan objek, dalam hal ini penggusuran dan pengusiran paksa bangunan liar.

Cermat kita, proyek penggusuran dan pengusiran yang digalang pemerintahan kota Surabaya memang sangat bagus. Mungkin ini adalah sikap tegas pemerintahan kota Surabaya, selain membangun sumber daya manusia yang baik, perlu juga membangun suasana yang sehat dan teratur. Salah satunya yakni proyek penertiban tatanan kota.

Lebih baik sakit sekarang daripada nanti, pernyataan pas untuk mendinginkan amarah para pemilik bangunan yang terkena penggusuran. Kita baca, ketika bangunan liar bermunculan di bantaran kali-kali Surabaya, semakin hari, semakin meluap jumlahnya. Apalagi, kebanyakan bangunan liar tersebut adalah tempat tinggal sementara para urbanisasi pedesaan. Pantas jika di sekitar bangunan liar tersebut terlihat kumuh, kotor dan tidak teratur serta merusak tatanan kota.

Penggusuran adalah langkah strategis pemerintahan kota Surabaya. Relitanya, kali-kali Surabaya, ketika musim penghujan tidak jarang menjadi sebab terjadinya banjir. Hal ini tidak lain dari pembuangan sampah sembarangan oleh para warga di bantaran kali.

Berdasarkan laporan kepala dinas kesehatan kota Surabaya pada acara penyambutan hari kesehatan nasional tahun 2008. Perlu diketahui selama 5 tahun terakhir 31 Kecamatan di Surabaya merupakan daerah endemis DBD. Dari tahun ke tahun meningkat, misalnya pada tahun 2007, kasus DBD mencapai 3.214 kasus, tahun 2006 mencapai 4.187, dengan jumlah kematian yang meningkat pula. Diungkapkan pula oleh Dr. Ina Aniati, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Surabaya, bahwa jumlah DBD dari tahun 2008 sampai tahun 2009 dimungkinkan relatif sama.

Dari data peningkatan penderita DBD menunjukkan bahwa wilayah di Surabaya sudah tercemar penyakit dan sudah sepantasnya pemerintah kota Surabaya terjun untuk memerhatikan kali-kali Surabaya sebagai salah satu sumber wabah penyakit. Salah satu kinerja pemerintah kota Surabaya dalam memerhatikan kali-kali Surabaya adalah penggusuran bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya. Meskipun dalam hal ini yang terlibat langsung adalah Satpol PP yang terlihat arogan dan cenderung represif terhadap pemilik bangunan liar di bantaran kali-kali di Surabaya.

Represif Satpol PP
Sikap arogan dan represif petugas Satpol PP merupakan tindakan wajar terjadi. Sebagai manusia yang beradab, sebagai penduduk atau pemerintah tentu sama dalam keberadabannya. Semestinya penggusuran tidak akan terjadi, apabila warga memerhatikan peraturan daerah pemerintah kota Surabaya nomor 2 tahun 2005 tentang izin perencana bangunan gedung, yang kemudian diperjelas pada ketentuan perizinan bab II pasal 2 poin 3d, yakni perizinan dilakukan berkaitan tentang tata lingkungan bangunan gedung. Jadi, memanusiakan manusia antara penduduk dan pemerintah selayaknya digalangkan di masyarakat kita. Sehingga, penggusuran dan pengusiran secara represif oleh Satpol PP tentu tidak akan pernah terjadi.

Nyatanya, sekian bangunan liar di bantaran kali-kali Surabaya seluruhnya tidak memiliki izin pendidirian. Ini jelas bukti kongkret pemerintahan kota Surabaya untuk dapat melakukan penggusuran dan pengusiran terhadap warga yang melanggar. Meskipun demikian ada yang mengatakan, menggusur atau mengusir hendaknya mempertimbangkan nilai-nilai humanis. Sayangnya, yang berkata demikian tidak berhumanis terlebih dahulu kepada pemerintah, baru kemudian menuntut hak humanisnya.

Dengan adanya penggusuran dan pengusiran yang beberapa dekade terakhir ini terjadi, cukup menjadi bahan evaluasi bagi kita. Tidak lain, proyek pengusuran tersebut adalah salah satu usaha pemerintahan kota Surabaya dalam menjalankan roda pemerintahan dengan baik.

Singkat penulis, proyek-proyek pemerintah kota Surabaya tidak lain adalah usaha pemerintah untuk kebaikan kita bersama. Salah satu proyek yang membuat guming yakni proyek penggusuran bagunanan liar di banataran kali-kali Surabaya yang sedikit memiliki ‘cacat’ dalam pelaksanaannya. Sehingga, perlu sekali untuk kita kaji ulang atas catatan hitam terhadap pemerintah.

Gagasan yang sempat muncul oleh penulis adalah perlunya mengadakan keterlibatan seluruh warga, khususnya kepada kepala rukun tetangga (RT) untuk kerja sama langsung dengan pemerintah kota Surabaya untuk melakukan kontrol-sosial terhadap bangunan-bangunan liar yang berdiri. Baik keterlibatan dalam menegur atau menyangsi berat terhadap pendiri banggunan liar secara kultural maupun struktural. Dengan keterlibatan kepala RT akan terciptakan komunikasi yang lebih baik, dan suasana tertib, tentram dan aman.

Dengan demikian, kinerja dari Satpol PP hanya akan dimulai apabila pihak kepala RT sudah tidak lagi sanggup untuk menindak para pemilik bangunan liar. Sehingga, akan terlihat keterdukungan warga setempat bila terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan daerah kota Surabaya. Bahkan keterlibatan kepala RT, tidak hanya dalam hal penggusuran saja, melaikan dalam semua peraturan daerah yang ditetapkan pemerintah kota Surabaya.

Akibatnya, berbagai peraturan daerah akan berjalan secara kondusif dan tidak akan muncul lagi represif pemerintah terhadap warga. Kemudian, kota Surabaya akan terselamatkan dari musibah-musibah yang disebabkan oleh warga kota Surabaya sendiri, khususnya kali-kali Surabaya yang menjadi poros penyebab banjir dan wabah penyakit.[]

Oleh Bayu Tara Wijaya*
Categories
Buku

Antithesis Pioneer of Village

Antitesis Pelopor Kampung

Judul Novel : Sang Pelopor
Penulis : Alang-Alang Timur
Penerbit : Diva Press, Yogyakarta
Cetakan : Januari 2009
Tebal : 354 halaman
Peresensi: Bayu Tara Wijaya*

Sukar adalah nama yang cocok dengan kondisi fisik tubuh bocah lelaki lugu yang setiap usai sekolah bermain cangkul, bajak dan panas matahari. Tidak salah jika kulit Sukar terpanggang hitam oleh terik matahari.

Sosok bocah yang dimunculkan oleh penulis novel motivasi. Peran yang menggambarkan perjuangan anak kampung yang memiliki semangat baja untuk menjadi seorang yang sukses dalam meraih cita-cita. Usaha-usaha yang ia perankan sebagai pelopor anak orang miskin, tetapi bisa sukses dalam pendidikan. Ambisi, aksi dan ijtihad ala Islam yang kuat, yakni selain belajar sambil bekerja, ia juga masih sempat meraih mustajab illahirobbi di sepertiga malam sebagai penyeimbang usaha Sukar.

Lugas dan renyah, judul novel Sang Pelopor, mengisahkan perubahan dari pergerakan anak kampung. Cerita yang diiringi motivasi-motivasi sukses cukup mengelitik telinga para pembaca untuk terbangun dan menyelami kembali kisah dan usaha sukses dalam novel Sang Pelopor.

Novel rintisan yang ditulis oleh Alang-Alang Timur, nama pena dari Sugeng yang mengadakan lompatan besar dan berguru di universitas ‘kehidupan’. Keterpurukan dan kepedulian pada atas pendidikan adik-adiknya membuat penulis sabar akan pentingnya sebuah pendidikan. Sebab, pendidikan bukan masalah sepele. Sehingga pantas, ia dapat merampungkan novel motivasi yang tidak kalah menariknya dengan novel Laskar Pelangi dan ini harus serta patut dibaca oleh para guru, orangtua, juga birokrasi sebagai bagian penting dalam mengawal pendidikan kita.

Kemasan sastra tulisan yang dikemas Sugeng dalam 30 bagian, seraya lengkap al-Quran 30 juz. Bermula dari cerita carut-marut kehidupan dan perjuangan tokoh utama dalam memahat ukiran di bangku sekolah, terceritakan pada bagian pertama hingga bagian ketujuh.

Pada bagian tersebut, menjadi bagian intergral ketika membincang pendidikan. Lamunkan, dalam cerita novel telah dikisahkan ada sekolah di perkampungan, yang menyebalkan, suasana ruangan yang tidak nyaman, membuat bosan, ngantuk dan lain sebagainya, apalagi ketika mendengarkan pelajaran. Sebut dalam cerita adalah sekolah di Klaten Jawa Tengah yang setiap ruang hanya memiliki dua guru dalam mengajar satu minggu. Sehingga, banyak guru yang mengarap pelajaran-pelajaran lain yang non bidang akademik guru tersebut.

Wajah lesu, loyo, tak bersemangat, ketika hanya itu saja guru yang mereka hadapi. Namun, sosok pelopor yang diperankan oleh tokoh utama Sukar dalam novel bernuasa motivasi ini, sanggup mendobrak gerbang kemalasan. Sukar, sanggup mengalahkan tuduhan “yang pintar hanya yang kaya, karena bersekolah di tempat yang favorit.” Ia sanggup meraih prestasi di bangku sekolahnya, walaupun ketika belajar di sekolah ia juga malas, dikarenakan gaya dan model pembelajaran yang tidak menyenangkan.

Terlepas dari suksesnya Sukar, bahwa ia sering kali mendapatkan pengetahuan di luar sekolah dan kebetulan pelajaran yang ia dapat di luar sekolah mirip dengan pelajaran sekolah.

Sekedar pujian dari pembaca, novel Sang Pelopor memiliki alur cerita mirip dengan film Slumdog Millionaire (2008) yang meraih penghargaan tujuh piala Oscar kategori film terbaik. Dalam film ini diceritakan bahwa ada seorang anak yang sukses meraih kekayaan miliyaran rupih pada acara Who Wants To Be A Millionaire. Tokoh Salim adalah anak peraih uang milayaran tersebut. Berbagai pertanyaan yang ia terima, banyak ia temukan jawabannya dalam perjalanan hidup Salim. Alur yang mirip dengan Sang Pelopor, yakni mendapat pengetahuan bukan di bangku sekolah melainkan di luar sekolah. Bedanya, Sukar adalah orang yang sukses dalam mencari ilmu, sedangkan Salim sukses dalam meraih kekayaan.

Kampung Sawah
Hal yang sangat menakjubkan, cerita yang sedikit beda pada novel ini, ketika sekolah Kampung Sawah tidak disukai para siswa, namun sekolah ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Tentu, keistimewaan tersebut bukan datang dengan sendirinya.

Pak Hadi, salah satu yang membantu kesuksesan tokoh utama dalam novel motivasi ini. Beliau menjadi aset paling berharga di Kampung Sawah. Selain menjadi sosok pendidik ia juga menjadi orangtua bagi murid-murid beliau. Sang pelopor itu pun bekerja tanpa gaji negara. Beliau merubah sekolah bukan hanya sekedar sebagai tempat transfer of knowledge, tetapi bagaimana siswa-siswanya dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Bahkan standar kelulusan sekolah Kampung Sawah pun tak sama dengan sekolah lain. Siswa belum dianggap lulus kalau mereka hanya bisa mengerjakan soal ujian akhir. Melainkan mereka harus dapat meninggalkan karya sebelum meninggalkan sekolah. Mereka dapat menyerahkan karya tulis, kumplan puisi, novel, atau penemuan-penemuan yang dianggap bermanfaat.

Hemat kata, novel ini menceritakan antitesis ideologi penulis tentang kepeduliannya terhadap pendidikan, gerakan yang keluar dari sistem pengekangan. Membuatnya sukses dan dikenal oleh masyarakat. Desa Negahan yang masih sama seperti dulu adalah tempat tinggalnya. Desa pinggiran yang terdiri dari sebelas kampung dengan 960 kepala keluarga yang tercatat sebagai desa mandiri energi.
Sederet cerita yang dipaparkan memberikan penyegaran terhadap para pembaca yang mau berusaha mandiri dalam hal pengembangan kepribadian dalam proses pendidikan yang menyenangkan. Model-model pendidikan yang diceritakan dalam kisah sekolah Kampung Sawah menjadi bukti bahwa kesuksesan pendidikan bukan berada pada hasil nilai ujian akhir, melaikan bagaiaman lulusannya dapat mmberikan manfaat pada masyarakat bukan untuk dirinya sendiri saja.

Petikan langsung dalam novel tersebut yang dilontarkan kepala sekolah Kampung Sawah, ustadz Fairus berkata, “Biarlah mereka belajar sambil melakukan, bukan sekedar membayangkan, sebab cita-cita meraka lebih tinggi dari cita-cita kita”. Selain itu, masih ada beberapa ungkapan yang lebih mengugah kita akan seberapa pentingnya urusan pendidikan anak. Karena pendidikan bukanlah alat percobaan dalam menguji sebuah sistem baru—termasuk kurikulum baru.

Terlepas dari itu semua, novel yang dianggap sebagai pemberi motivasi, berisi antitesis terhadap sistem pendidikan setelah penerbitannya, bahkan dalam waktu sebulan novel ini sempat terbit kedua kalinya. Oleh karena itu, novel ini sangat layak untuk dibaca. Terlebih sebagai bahan referensi para orangtua, pendidik, birokrasi dan lainnya sebagai wakil masyarakat yang peduli akan hal pendidikan.[]

di muat di Surabaya Post, edisi 27 Juni 2009
Categories
Thinker

Graduate Terms to Search the Job

Sarjana Syarat Mencari Kerja
Oleh: Bayu Tara Wijaya

SNMPTN mulai dibuka pendafaran dari tanggal 15-26 Juni 2009, tentunya berbondong-bondong pendaftar menyerbu loket pendaftaran. Sebab, keinginan untuk mengikuti SNMPTN benar-benar menjadi jalur favorit para siswa SMA yang ingin melanjutkan studi di PTN setelah jalur PMDK yang mereka tempuh.

Keinginan untuk lanjut studi di perguruan tinggi khususnya di PTN menjadi cita-cita para pelajar lulusan SMA sejak dulu hingga sekarang. Siapa yang tidak berbangga diri, ketika dirinya diterima diperguruan yang berlabel internasional—semisal PTN ternama di Indonesia dan menjadi urutan perguruan terbaik di dunia—tetapi tidak memandang apakah dia akan memiliki dalil internasional pula.

Memang, ijasah lulus SMA rasanya tidak ada artinya kalau tidak menambah ijasah minimal strata-1. Apalagi, sekarang ini kebanyakan pendapat bahwa, sarjana syarat utama untuk melamar pekerjaan. Makanya, tidak jarang ketika para lulusan SMA banyak yang merangkap jalur masuk perguruan tinggi. Semisal kemarin ikut jalur PMDK, sebagai umpan kedua mereka juga mendaftar SNMPTN, atau bahkan mendaftar jalur regular yang biayanya cukup lebih mahal dibanding jalur PMDK dan SNMPTN.

Maka, ketika pengumuman kelulusan binggung ketika penguruan tinggi yang dipilih pertama tidak diterima, tetapi pilihan perguruan tinggi kesekian kali yang diterima. Akhirnya, keterpaksaan masuk perguruan tinggi pun dilakukan. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri tetapi pilihan jurusannya tidak sesuai, ada yang kampusnya tidak sesuai, ada yang terpaksa masuk di PTS karena tidak lulus tes seleksi di jalur apapun di PTN.

Akhirnya, ungkapan “Saya sebenarnya salah alamat untuk kuliah di sini.” yang sering dilontarkan mereka sebagai wujud penyesalan ketika ditanyai teman kuliahnya. Penyesalan inilah yang sering terjadi. Kuliah pun tidak serius lagi, pada akhirnya ini berimplikasi pada kelulusannya yang lebih parah tidak sesuai harapan. Maka, yang sebenarnya sarjana sebagai syarat melamar kerja, tetapi sarjana sebagai syarat menjadi penganguran.

Sadar atau tidak, bahwa kemampuan mereka sebenarnya terbatas. Seyogianya, kuliah di manapun sebenarnya tidak menjadi masalah. Sebenarnya yang menjadikan kita sukses bukan hanya label perguruan tinggi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana usaha kita untuk menjadi sukses. Coba Anda hitung, berapa banyak mahasiswa diperguruan tinggi favorit yang sukses. Berapa persen jumlah mahasiswa sekarang ini, dan bandingkan jumlah mahasiswa yang suskes?

Mungkin kita tidak pernah menyadari atau mungkin tidak pernah mengukur seberapa besar kemampuan kita untuk meraih sesuatu. Hingga cita-cita yang kita inginkan tidak tau, Apakah kita akan mampu meraihnya dengan kekuatan segelitir yang kita punyai saat ini? Silakan saja Anda mencoba, asalkan usaha Anda juga maksimal. Sehingga, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika diusahakan dengan maksimal mungkin.

Walhasil, ketika kita sukses menjadi sarjana terbaik. Tentu, pekerjaan tidak akan lagi kita cari, tetapi pekerjaan yang mencari kita. Sarjana bukan lagi menjadi syarat mencari pekerjaan, ketika dicari belum tentu mandapatkan. Melainkan, sarjana dicari oleh pekerjaan.[]

*) Bayu Tara Wijaya
Categories
Paper

Tawasul dan Berziarah dalam Aqidah Aliran Wahabiyah

Tawasul dan Berziarah dalam Aqidah Aliran Wahabiyah
Oleh Bayu Tara Wijaya

a. Permasalahan Dalam Aqidah Wahabiyah
Dalam perjalanannya, aliran Wahabiyah yang terkenal dengan anggapan paham yang mempunyai karakteristik dengan paham purinatisme (pemurnian) Islam. Hal ini yang begitu menonjol dalam doktrinnya adalah “Larangan (haram) bertawasul kepada Ulama; kepada orang yang sudah meninggal, dan berziarah ke makam para wali atau ulama dengan tujuan mencari berkah”. Untuk itu mengenai pendoktrinan ini, sangat perlu sekali untuk dikaji sebagai langkah awal permasalahan dalam kajian teologi.

b. History Singkat Aliran Wahabiyah
Dalam berbagai literaur dinyatakan, Wahabiyah seringkali disebut juga dengan “muwahhidun” atau “unitarianisme” yang kali pertama dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787 M). Istilah ini menunjuk pada gerakan Islam Sunni yang bertujuan pemurnian Islam (purify Islam) dengan bersumber pada praktek-praktek keagamaan yang berlaku umum pada era Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Nama aliran Wahabiyah diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Dia berasal dari keluarga Sunni dari klan Tamim yang menganut madzab Hambali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H./1700 M. Salah satu ajaran yang diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim yang mempraktikkan tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi dan lain-lain.

Wahabiyah juga menunjuk identitasnya sebagai ideologi dan bahkan tradisi. Yang berarti, Wahabiyah bukan hanya merupakan madzab resmi yang diberlakukan di tempat tertentu (Saudi Arabia), dan pada saat yang sama, keberadaannya diakui oleh mayoritas penduduk negara tersebut.

Wahabiyah sejak awal mengklaim hadir ke ruang publik untuk mengudar kebali “Islam asli” yang sebelumnya telah tutup rapat oleh beragam religius penuh bid’ah dan kesesatan. Bagi Wahabiyah, Islam asli menunjuk pada artikulasi religiousitas Islam yang dipercayai, dianut dan dipraktekkan oleh Nabi, Sahabat dan Ttabi’in –yang Islam hidup pada aba ke-3 Hijriyah. Sebaliknya, gerakan ini meyakini bahwa releigiousitas Islam yang hadir sesudah masa tabi’in itu bukanlah Islam asli, dan sebab itu harus ditinggalkan. Selain itu, tidak dibenarkan mengikuti dan patuh kepada pendapat ulama setelah era tabi’in (ijma’u la-ulama), karena pendapat mereka tidak merupakan bagian dari sumber hukum Islam.

c. Ajaran Aqidah Aliran Wahabiyah
Purifikasi Islam atau Islam asli diterjemahkan oleh Wahabiyah ke dalam berbagai ragam doktrin teologi (aqidah) Islam. Nasution menyebut, paling tidak terdapat delapan doktrin yang merupakan prinsip dasar aqidah Wahabiyah.

Pertama, yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan semata, dan oleh sebab itu, setiap orang menyambah selain Tuhan adalah musyrik sehingga sah dibunuh.

Kedua, sebagian besar penganut faham tauhid. Alasannya, mereka telah terjerumus ke dalam lubang meminta pertolongan kepada syekh atau wali dan dari kekuatan ghaib. Muslim yang demikian ini, bagi Wahabiyah juga termasuk dalam golongan musyrik dan tentu saja halal dibunuh.

Ketiga, menyebut nama Nabi, syekh atau malaikat sebagai perantara dalam doa juga dapat dikatagorikan telah berbuat kemusyrikan.

Keempat, meminta syafaat selain kepada Allah juga termasuk syirik.

Kelima, muslim yang bernadzar kepada selain Allah juga termasuk musyrik.

Keenam, memperoleh pengetahuan selain dari al-Qur’an, Hadits dan Analogi (Qiyash) merupakan kekafiran.

Ketujuh, tidak mempercayai Qada’ dan Qadar termasuk dari kekafiran.

Kedelapan, menggunakan ta’wil dalam menafsirkan al-Qur’an termasuk kafir.

Dalam perkembangannya, prinsip aqidah Alian Wahabiyah diterjemahkan ke dalam beragam varian perilaku keagamaan. Abu Zahra’, misalnya, mencatat beragam perilaku keagamaan yang merupakan penjabaran dari prinsip dasar. Di antaranya ada tujuh prinsip:
a). Mereka (Wahabiyah) tidak cukup menjadikan ibadah sebagaimana dalam tuntunan Islam yag terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits atau yang disebutkan Ibnu Taimiyah. Lebih dari itu, mereka menginginkan agar wawasan Islam. Mereka mengharamkan rokok sehingga orang awam dari mereka beranggapan bahwa perokok itu musyrik. Mereka seperti kaum muslim Khawarij yang mengkafirkan kaum muslim yang berbuat dosa besar.
b). Pada mulanya mereka mengharamkan kopi dan sejenisnya, kemudian akhirnya mereka memperingan hal itu.
c). Kaum Wahabiyah tidak terbatas pada da’wah semata, tetapi luas lagi mereka mengasah pedang untuk memerangi para penentangnya dengan alasan memerangi bid’ah-bid’ah adalah suatu kemungkaran yang harus diperangi, harus diluruskan dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan juga untuk melaksanakan firman Allah “Kamu adalah umat yang terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah, sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.
d). Gerakan ini menghancurkan setiap bangunan-bangunan kuburan yang mereka dapatkan, baik di desa maupun di kota.
e). Tidak hanya itu, mereka mendatangi kuburan dan memporakporandakan kuburan. Ketika kekuasaan jatuh ditangan mereka di wilayah Hijaz, mereka menghancurkan kuburan para sahabat dan meratakannya dengan tanah, sehingga tidak tampak hingga kini kecuali tanda penunjuk nisan. Mereka hanya memperbolahkan berziarah ke kuburan dengan mengucapkan salam atas ahli kubur dan mengucapkan assalamu’alaika.
f). Mereka terikat hal-hal kecil yang tidak mengandung keberhalaan, tetapi mereka mengharamkannya, seprti mengharamkan photografi, hal seperti itu dapat kita jumpai dalam fatwa-fatwa dan risalah para ulama’nya meskipun pemerintah tidak mengikui fatwa-fatwa (tersebut).
g). Mereka meluaskan pengertian bid’ah secara aneh, sehingga meletakkan tutup di atas kuburan nabi dianggap bid’ah.

d. Kajian Doktrin Aliran Wahabiyah Tentang Tawasul dan Ziarah
Sebagai penganut setia puritanisme Ibnu Taimiyyah merupakan karaktristik yang begitu lekat di Wahabiyah. Dengan semangat kembali ke aqidah salaf, Taimiyyah merumuskan tiga doktrin utama yang dikemudian hari sangat mempengaruhi aliran Wahabiyah. Secara garis besar doktrin tersebut meliputi larangan (haram), bertawassul kepada ulama’, kepada orang yang sudah meninggal, dan berziarah ke makam para wali atau ulama dengan tujuan mencari berkah. Ketiga doktrin tersebut dapat dijabarkan di sini sebagai berikut:

Pertama, doktrin yang megharamkan mendekatkan diri kepada Allah melalui ulama’, orang sholeh atau muslim lainnya. Ibnu Taimiyyah mengawali argumen dengan pendapat Jurjani bahwa “Jadilah anda yang mencari istiqomah bukan yang mencari karomah. Karena jiwamu akan melebihi karomah. Oleh karena itu, istiqomah sangat perlu bagi kita”. Bagi Taimiyyah, pernyataan Jurjani menunjuk secara tegas bahwa, Karomah itu tidak layak untuk dijadikan oleh seorang sholeh sebagai tawasul kepada Allah. Taimiyyah menunjuk pada perilaku Nabi yang menolak memintakan ampunan bagi kaum musyrik, meskipun mereka adalah kaluarga besarnya.

Kedua, meminta pertolongan kepada Allah (istighatsah) melalui orang masih hidup, bagi Ibnu Taimiyah, mutlak dilarang dan haram hukumnya. Bagi Ibnu Taimiyyah, Nabi SAW melarang beristighatsah kepadanya. Diriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani bahwa seorang munafik menyakiti Nabi SAW. Maka Abu Bakar berkata kepada para sahabat: “Marilah kita berdoa dengan beristighatsah dengan Nabi SAW. Maka Nabi menjawab: “Minta pertolongan bukanlah kepada aku tetapi kepada Allah”.

Tidak hanya itu, meminta pertolongan juga sama haramnya. Ibnu Taimiyyah menegaskan kepada setiap muslim tidak boleh meminta sesuatu kepada nabi-nabi dan orang-orang sholeh sesudah mereka meningal dunia, meskipun seandainya mereka itu sangup mendoakan orang-orang hidup.

Ketiga, Ibnu Taimiyyah juga mengharamkan umat muslim yang berziarah makam nabi, auliya’, ulama dan lainnya dengan tujuan meminta berkah atau mendekatkan diri kepada Allah. Larangan ini didasarkan atas pernyataan nabi yang melarang makamnya dijadikan masjid. Larangan nabi ini dipahami Ibnu Taimiyyah sekaligus mengandaikan larangan berziarah kubur.
Terdapat catatan penting yang mesti diudar dari religipusitas Wahabiyah di atas. Bahwa, begitu mudah memberikan klaim kufur kepada muslim sekalipun yang dipahami berseberangan secara religious dengan Wahabiyah. Mudahnya klaim pengkafiran terhadap sesama muslim diperkuat oleh perilaku keagamaan Wahabiyah yang selalu menarik dirinya ke dalam posisi opisisi biner (berlawan) dengan muslim lainnya. Bahkan, diri Wahabiya selalu diandaikan sebagai arus yang selalu benar dan harus diikuti. Sementara, yang lain –meskipun muslim sekalipun, jika tidak berkesesuaian dengan Wahabiyah, maka masuk dalam kelompok “musyrik”, “kufur” dan pasti, “sesat” dan “menyesatkan”.

e. Kritik terhadap Aliran Wahabiyah
Demikianlah aqidah aliran Wahabiyah, sebagai kelanjutan dari metode aliran salaf, yang mengambil pokok-pokoknya dari al-Qur’an dan Hadits. Dalam rangka purinatisme Islam atau Islam asli, mereka melakukan berbagai ragam varian dalam memerangi masalah bid’ah, tahayul dan kurafat.

Dalam hal kajian ini, yang menjadi pokok inti permasalahan adalah mengenai “larangan tawasul dan berziarah” yang dipakai dalam aqidah aliran Wahabiyah. Masalah bertawasul sangat bersinggungan sekali pendapat Wahabiyah, karena apa yang diharamkan itu tidak mengandung alasan yang kuat argumentative. Kita kembali pada diri kita, apa benar kita berwasilah itu untuk mendapatkan berkah dari hal yang kita tawasuli. Tapi pandangan Wahibiyah kurang mendetailkan tujuan dari tawasul atau bid’ah yang lain. Mereka hanya memandang sebuah perkataan nabi dari arti tekstual saja.

Bahkan, pendapat mereka mengenai tawasul dan berziarah kubur tidak menganalogikan sebuah permisalan antara orang biasa dan seorang pejabat terkenal. Kita andaikan saja, jika kita hendak bertamu untuk menemui seorang pejabat terkenal tentunya sangat kesulitan sekali jika kita sebagai seorang yang biasa. Sehingga seorang sebagai perantara dalam hal ini juga sangat diperlukan sekali. Istilah seperti ini bisa juga digunakan dalam menghadap Tuhan. Bisa saja kita bertamu kepada Tuhan tanpa adanya tawasul (perantara), tapi syarat yang harus dipenuhi adalah kita harus sudah menjadi penjabat. Artinya kita sudah mempunyai tingkat keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.

Sangatlah tidak mungkin sekali adanya tawasul. Jika kita sudah bisa berenang sendiri dan membuat kapal sendiri kenapa harus numpang pada kapal orang lain. Setuju saja tanpa tawasul tapi introspeksi diri juga perlu dilakukan dulu sebelum berenang sendiri.

Tujuan dari adanya tawasul sebenarnya adalah untuk menhantarkan kita untuk sampai pada Tuhan. Karena hal itu sangat perlu sekali, sebab seorang yang kita jadikan wasilah adalah salah satu orang yang dekat dengan Tuhan, dekat dengan Pejabat, sehingga kita bisa cepat sampai pada tujuan yakni bertamu kepada Tuhan. Selain itu juga mengenai berziarah kubur yang dimiliki oleh para peziarah ketika berziarah ke makam para Muslim biasanya memiliki tujuan untuk mengenang saudara mereka atau mengigatkan mereka untuk mensuritauladani apa yang telah dilakukan oleh para saudara atau para wali yang telah meninggal dunia.

Tujuan-tujuan di atas sama sekali tidak bisa dijadikan alasan bagi Wahabiyah untuk mengkafirkan orang lain. Sebab ketika berziarah, orang bodoh pun, apalagi orang alim, tidak mungkin bertujuan untuk menyembah-nyembah kubur, atau berkeyakinan bahwa penghuni kubur tersebut mampu memenuhi hajat mereka, atau bahkan merealisasikan hajat tersebut. Nabi telah bersabda:

كُنْـتُ نَهَيْتُـكُمْ عَنْ زِيَـارَةِ الْقُبُـوْرِ أَلاَّ فَـزُوْرُوهـاَ فَإِنَّـهَا تُزَهِّـد فِي الدُّنْـيَا وَتُـذَكِّـرُ اْلآخِـرَةَ

“Aku telah melarang kalian untuk menziarahi kubur, ingat! Sekarang berziaralah kalian. Sesungguhnya ziarah bisa menjadikan zuhud dunia dan mengingatkan akhirat”.

Selain itu juga dalam melakukan wasilah atau bertawasul yang diterangkan dalam hadits Nabi, yang itu merupakan suatu jalan untuk bertamu kepada Tuhan, yang mana suatu perantara sangat diperlukan sekali bagi orang yang masih dalam kategori belum tinggi tingkat keimanan dan ketaqwaannya sehingga hal itu sangat perlu. Lebih jelasnya dalam keterangan ini, yang mana tidak diragukan lagi, derajat para nabi berada jauh di atas para syuhada. Mereka juga tetap hidup di sisi Tuhan dan diberi riski. Nabi bersabda:

مَـرَرْتُ بِمُوْسَي لَيْلةَ اُسْـرِيَ بِيْ وَهُـوَ قَائِـمٌ يُصَـلِّيِ فِي قَبْـرِهِ

“Ketika aku diisra’kan aku bertemu dengan Musa. Dia sedang berdiri melakukan sholat di kuburnya”.

الأَنْبِـيَاءُ اَحْـياَءٌ فِي قُـبُورِهِـمْ
“Para Nabi hidup dalam kubur mereka”.

وَمَنْ صَـلَّى عَـلَىَّ عِنْـدَ قَـبْرِي سَـمِعْـتُهُ وَمَنْ صَـلَّى عَـلَىَّ نَائِـيًا اَبْـلَغْـتُهُ

“Barang siapa membaca shalawat kepadaku di dekat kuburku, maka aku akna mendengarkannya. Dan barang siapa membaca shalawat kepadaku di tempat yang jauh maka aku akan menyampaikannya”.

Tampak jelas dari keterangan di atas yang menberi penjelasan pada kaum aliran Wahabiyah termasuk aliran yang keras tidak mempunyai karakteristik agama Islam yang toleransi, ramah, dan moderat. Berbagai dalil akurat yang disampaikan Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak dengan menggunakan alasan yang tidak argumentative. Lebih dari itu, dia justru mengkafirkan kaum Muslim sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk gurunya sendiri.

Sebagai penguat bahwa aliran Wahabiyah bersifat dehumanisme, adalah sebuah cerita dimana aksi-aksi yang dilakukan mereka sekitar abah ke-18, yakni mereka menghancurkan tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali. Kubah Sayyidatuna Khadijah, serta merobohkan masjid Abdullah bin Abbas. Bahkan mereka pernah berencana meratakan makam Nabi, tapi hal itu tidak terjadi. Selain itu juga mereka berencana menutup ka’bah karena mereka beranggapan bukan menyembah Tuhan tapi Berhala, yang disama artikan dengan menyembah berhala.

f. Kesimpulan
Dari berbagai argumentative di atas, yang menjelaskan bahwa aliran Wahabiyah adalah aliran yang dehumanisme (tidak kemanusiawian), tidak punya rasa toleransi, tidak ramah, dan hanya bersifat ajaran yang keras. Hal itu muncul dari keinginan dari aliran Wahabiyah mencapai pemurnian Islam. Sehingga berbagai gerakan-gerakan dilakukan tanpa memperdulikan humanisme.

Lebih khususnya, ajaran Wahabiyah yang mengkafirkan orang mukmin yang melakukan tawassul, ziara kubur, dan maulid telah dikupas di atas bahwa alasan Wahabiyah mengkufurkan mukmin yang melakukan tawassul, ziarah kubur, dan maulid tidak argumentative. Terlebih adanya gerakan yang tidak manusiawi dan penghancuran-penghancuran kuburan, masjid, dan lain-lain. Telah memberi konstribusi bagi kaum mukmin yang lain untuk tidak bergitu saja langsung percaya dan mempelajari ajaran dari Wahabiyah ataupun ajalan lainnya.

Memang dari ajaran Wahabiyah tujuan awalnya sangatlah baik, buktinya mereka mengharamkan tawassul, ziara kubur, dan maulid dalam rangka ingin menguak dasar dari bid’ah-bid’ah tersebut. Hal ini bisa kita pahami bahwa tawassul, ziara kubur, dan maulid menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai argumen yang dipaparkan di atas, kegiatan tersebut tidak melanggar agama. Selama mereka yang melakukan tawassul, ziarah kubur, dan maulid serta lain-lainya masih bertujuan yang jelas-jelas tidak mengkufurkan mereka sendiri dan masih sesuai dengan tata ajaran yang di sampaiakan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh karena itu, sebagai mukmin yang Islam moderat melihat berarti memahami, memahami berarti mengerti. Sikap yang profesionallah yang lebih pasti.

g. Bibliografi
Hanafi, A M.A. 2003. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru.

Raubaidi, A. Drs. M.Ag. 2008. Radikalisme Islam Nahdlatul Ulama; Masa Depan Moderatisme Islam di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.

Team Kajian Ilmiah Abituren (Tinta). 2007. Polaritas Sektarian; Rekonstruksi Doktrin ‘Pinggiran’. Kediri: Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo.